
Jesy berjalan angkuh ke arah ruangan yang dikirimkan Rical kepada dirinya. Gadis itu membuka pintu klub itu secara perlahan, Jesy melotot saat melihat pemandangan menjijikkan dari dalam ruangan itu. 'Brengsek, laki-laki ini benar-benar brengsek,' umpat Jesy di dalam hati.
Jesy melihat aksi panas Rical bersama seorang wanita di atas sofa ruangan gelap itu. Jesy mengepalkan tangannya merasa begitu marah, entahlah … hubungan dirinya dengan Rical belum dimulai. Bahkan ini adalah pertemuan pertama mereka setelah sempat saling berkenalan di pesta pernikahan Cara dan Geo. 'Tenanglah Jesy, bagaimana pun kau harus bisa menaklukkan iblis penggila se*******ngan ini,' lanjut Jesy membatin.
"Ekhmm …." Jesy sengaja berdeham begitu keras untuk memberitahukan kedatangannya kepada sepasang manusia yang sedang saling memacu gerak untuk mencapai sebuah kenikmatan.
Namun, siapa sangka kalau apa yang dilakukan oleh Jesy berakhir sia-sia. Rical hanya menatapnya sejenak tanpa menghentikan permainannya bersama wanita itu. 'Brengsek,' batin Jesy marah.
"Kalau kau ingin ikut … ah … ke sinilah." Rical bersuara bercampur erangan nikmat sambil terus memacu gerakannya.
"S**t," umpat Jesy, "silakan kalian lanjutkan, aku tunggu di luar saja." Setelahnya Jesy menutup pintu itu dengan gerakan kasar.
"Laki-laki brengsek, dia memiliki janji denganku tetapi malah bercinta dengan wanita lain di sana? Lihat saja, akan aku buat kau bertekuk lutut dihadapanku," tutur Jesy kesal.
"Wah … siapa ini?" Suara seseorang mengalihkan perhatian Jesy.
Jesy melotot saat melihat seseorang yang begitu dibencinya. "Cara," gumam Jesy.
"Aku tidak menyangka, apa sebegitu mengerikannya kondisi keuangan keluarga Gerisam? Sampai kau pergi ke sini untuk menjual diri." Cara tersenyum mengejek ke arah Jesy yang sudah mengepalkan tangannya marah.
__ADS_1
"Siapa majikanmu malam ini? Umur berapa dia? Aku sarankan, jangan melebihi angka lima puluh tahun ya. Kasihan wajah cantikmu ini harus dinikmati oleh para om," sambung Cara mengejek.
Jesy menatap tajam Cara isyarat akan kemarahan. "Kau yang wanita murahan, kau sendiri juga sedang berada di sini. Berarti kau juga sedang menjual tubuh bukan? Tidak usah munafik Cara, aku tahu kau tidak sebahagia yang kami lihat bukan? Berbangga hati mendapatkan Tuan Vetro yang anti perempuan itu, aku tahu kalau kau pasti begitu sering diperlakukan kasar olehnya. Siapa yang tidak tahu dengan kekejaman Tuan Vetro yang merupakan pemimpin Death." Jesy tersenyum mengejek ke arah Cara yang dibalas dengan senyum santai oleh Cara.
"Kau membanggakan gelar sebagai istri Tuan Vetro, padahal kau pasti begitu sengsara hidup bersama laki-laki kasar itu," sambung Jesy.
"Tahu apa kau tentang suamiku? Oh … seperti yang kau katakan itu, bahwa semua orang memang mengetahui siapa dan bagaimana suamiku. Namun, kau yang tidak tahu bagaimana Tuan Vetro itu memperlakukan aku. Lagi pula, bukankah jauh lebih baik mendapatkan seorang laki-laki anti perempuan dari pada mencoba mendekat laki-laki … yang sudah jelas iblis penggila wanita." Cara tersenyum licik ke arah Jesy.
Jesy mengepalkan tangannya marah. Namun, suara gerakan serentak kaki banyak orang mengalihkan perhatian gadis itu. Jesy melotot saat melihat keberadaan Geo yang mendekat ke arah mereka dengan beberapa laki-laki lainnya di belakang laki-laki tampan itu. Cara yang melihat wajah pucat Jesy tertawa kecil. "Kenapa? Takut?" ejek Cara.
Jesy menoleh dan menatap tajam Cara yang baru saja mengejek dirinya. "Diam kau," desis Jesy pelan.
Cara tertawa keras. "Kenapa sekarang malah semakin hilang suaramu yang begitu besar itu?" cemooh Cara. Jesy diam, gadis itu hanya bisa menatap tajam sang saudara tiri tidak berani berurusan dengan Geo.
Cara terkekeh sambil mengusap lembut pipi Geo. "Aku melihat seseorang yang begitu menarik perhatian di sini Kak, jadi … aku datang untuk menyapanya." Cara menatap Jesy dengan senyum miringnya.
Sedangkan Jesy sempat terkejut dan terpana dengan aura lain Geo jika bersama Cara. Jesy merasa begitu iri saat menangkap perasaan tulus Geo kepada Cyra. 'Sepertinya Tuan Vetro ini benar-benar tulus kepada wanita murahan ini. Bagaimana bisa?' batin Jesy iri.
Geo menatap Jesy sejenak, setelahnya laki-laki itu kembali menatap sang istri. "Sudah ayo pulang," ajak Geo.
__ADS_1
"Sudah selesai?" tanya Cara.
"Sudah, lingkungan di sini tidak baik untukmu Sayang. Jika bukan karena keadaan mendadak aku tidak ingin membawamu ke sini," balas Geo.
Cklek …. Pintu ruangan yang tepat berada di belakang Jesy terbuka. Seorang wanita terkejut saat melihat keberadaan sang kembaran malaikat maut bersama beberapa anggotanya sedang berdiri di depan ruangan itu. "Nona Geri …."
Suara Rical terhenti saat melihat keberadaan Geo dan beberapa anggota Death di depan ruangan itu. Rical mengernyit bingung sambil menatap Geo. "Wah … ada Tuan Vetro, kenapa bisa di sini bersama beberapa anggotamu ini?" tanya Rical.
Sedangkan Geo hanya diam menatap Rical datar. Berbeda dengan Cara yang sedang memperhatikan seorang wanita yang masih terdiam kaku di belakang Rical. Cara tersenyum miring saat melihat kondisi wanita itu dan juga kondisi Rical yang bisa ditebak baru saja selesai melakukan adegan panas. "Astaga Nona Gerisam, ternyata Anda menunggu seorang laki-laki yang sedang bercinta dengan wanita lain?"
Suara Cara menarik perhatian mereka. Rical mengernyit saat melihat aura lain dari Cara. 'Aura wanita ini berbeda dari waktu itu,' batin Erick.
"Kau berdiri seperti orang bodoh di sini, ternyata sedang menunggu laki-laki yang akan kau temui selesai bercinta dulu dengan wanita lain? Aku salut kepadamu."
Prok … prok … prok ….
Cara bertepuk tangan sambil tersenyum sinis ke arah Jesy yang sudah mengepalkan tangannya kuat. Cara menoleh ke arah Geo sambil tersenyum manis. "Hubby, ayo kita pulang … di sini auranya lain." Cara memeluk lengan kekar Geo sambil menatap Jesy remeh.
"Akhh …." Jesy berteriak saat dengan sengaja Cara menginjak kaki kirinya.
__ADS_1
"Oh astaga … maaf, aku sengaja. Aku merasa tidak adil saja, waktu itu aku menginjak tanganmu tetapi kakimu malah tidak mendapat jatah." Cara tersenyum manis ke arah Jesy yang sudah meringis kesakitan, setelahnya Cara pergi begitu saja.
Sedangkan Rical yang menatap kejadian itu sudah tersenyum miring. 'Tidak aku sangka, gadis yang kemarin aku kira polos. Ternyata begitu menarik, ck … sifatnya juga benar-benar sama dengan Geo.' Rical menatap kepergian Geo dan Cara dengan pandangan penuh arti.