Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
164. Tante? (lb)


__ADS_3

"Ya, dia adikmu dan dia anakku," ucap Patricia.


Geo tersenyum miring. "Anak? Anak atau barang tukaran untuk penyokong perusahaan?" sindir Geo.


"Aku ini Tante kamu, Geo. Tidak bisakah kamu berbicara lebih sopan?" tutur Patricia.


"Lebih baik kalian pergi dari sini, sebelum aku hilang kesabaran," balas Geo datar.


"Aku tidak akan pergi sebelum perempuan rendahan ini menjauh dari putraku, dan kamu Farel. Zena sudah datang ke sini jauh-jauh, kamu hargai dia," papar Patricia.


Farel menatap wajah Zena yang sedang menatapnya dengan senyum menggoda. "Aku tidak menyuruhnya ke sini," sahut Farel datar.


Cara tertawa melihat wajah cemberut Zena. Sedangkan Zena dan Patricia yang mendengar suara tawa Cara, menoleh tajam. "Kalian sudah bosan dengan mata itu? Ingin aku bantu mengeluarkannya?" desis Geo.


Patricia dan Zena terkejut mendengar perkataan Geo. "Kamu sopan lah, apa pantas kamu berbicara sekasar itu kepada Tantemu sendiri?" ucap Patricia.


"Aku tidak memiliki tante. Sudahlah, tidak usah membuang waktuku. Pergi, aku beri kalian waktu dua hari untuk mempersiapkan kepergian kalian dari Indonesia ini. Jika dalam dua hari kalian masih di sini, jangan menyesal dengan sesuatu yang akan aku lakukan nanti," tekan Geo.


"Jangan mentang-mentang kamu berkuasa, dengan seenaknya mengatur keberadaan orang lain," geram Patricia.


"Cukup, Ma," sela Farel cepat.

__ADS_1


Sedangkan Geo sudah tersenyum miring mendengar perkataan itu. "Bukannya itu silsilah keluarga Vetro? Berkuasa menekan … yang di bawah diinjak," desis Geo.


"Tapi kita keluarga, kamu masih menyandang marga Vetro. Jadi tidak usah seakan mengasingkan diri," sindir Patricia.


"Ma!" Farel menegur Patricia sambil melirik wajah Geo yang sudah menggelap. Sepertinya pemimpin Death itu mulai terpancing emosi.


Geo menatap tajam Patricia. Farel yang melihat itu hanya bisa menghela napas berat. "Mengasingkan diri? Apa kau masih punya malu untuk mengucapkan itu?" desis Geo begitu dingin.


Patricia terdiam melihat perubahan aura laki-laki itu. Sedangkan Cara mendongak menatap wajah suaminya yang sudah menggelap. "Kalian memang tidak tahu malu, sekarang menuduh aku mengasingkan diri? Tidak ingat bagaimana kalian mengusir Papaku bahkan mengeluarkannya dari daftar keluarga Vetro, hanya karena menikahi wanita Indonesia. Aku dengan bangga menggunakan marga Vetro karena Papaku, bukan karena kalian."


"Tetap saja, marga besar Vetro berawal dari Kakekmu," balas Patricia tidak bisa membaca situasi.


Mata Patricia membola mendengar perkataan Geo. "Jangan sok berkuasa kamu," teriak Patricia.


Tring … tring … tring …


Jantung Patricia berdetak cepat saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya. Dengan ragu wanita paruh baya itu mengangkat panggilan telepon itu. "Halo," sapa Patricia ragu.


"Nyonya, harga saham Vetro Company menurun drastis. Pembukuan dibekukan oleh VT Group, kita tidak bisa menarik saham. Kerugian mencapai sembilan puluh lima persen."


Prang …. Patricia menjatuhkan telepon genggamnya dengan wajah pucat menatap Geo. "Kau, kenapa kau melakukan ini?" ucap Patricia menahan emosi.

__ADS_1


"Sebab aku mau," balas Geo tanpa beban.


"Itu adalah perusahaan turunan Vetro. Kenapa kau buat hancur?" teriak Patricia.


"Kembalikan, kembalikan sahamku. Aku sudah berusaha keras selama ini, kembalikan!" murka Patricia kesetanan.


Farel menatap kelakuan mamanya dengan pandangan miris. Patricia memang gila harta, sampai tega menelantarkan putranya sendiri. "Aku sudah baik dengan memperingatkan kalian sedari awal. Tapi, kalian terlalu meremehkan aku. Kalau seandainya kalian pergi sedari tadi, ini semua tidak akan terjadi. Aku … tidak pernah menarik sesuatu yang sudah aku lakukan. Ini belum seberapa Tante, dan kau … bersiap-siap menghuni markas Death."


Napas Zena tercekat saat Geo menatapnya dingin dengan kalimat mengerikan itu. "Aku salah apa? Aku tidak salah, Tante Patricia yang mengajakku ke sini. Hukum dia saja, aku tidak mau ikut campur."


Patricia yang mendengar perkataan Zena, melotot tajam. "Apa maksud kamu, Zena?" tanya Patricia.


"Ini semua karena Tante yang mengajakku, aku tidak ingin terkena getahnya," protes Zena.


"Kau sendiri juga mendesakku ingin dinikahkan dengan putraku. Kenapa kau menyalahkan aku sekarang?" murka Patricia.


"Aku tidak mau tahu, aku akan pergi dari sini. Aku tidak ingin berurusan lagi degan Tante."


"Zena brengsek!" teriak Patricia. Namun, langkah kaki Zena terhenti saat dua anggota Death menghadang jalannya.


"Lepaskan aku!" Zena berteriak saat dua laki-laki menarik paksa tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2