
"Kak," panggil Cara.
"Iya, Sayang," sahut Geo.
"Badan aku panas rasanya," keluh Cara.
Geo mengernyit dan mendekat khawatir. Laki-laki itu mengecek suhu tubuh Cara dan terkejut merasakan tubuh sang istri begitu panas. "Sayang, tubuh kamu panas sekali. Ayo kita ke rumah sakit," ujar Geo panik.
"Aku maunya tiduran, kepala aku berat," lirih Cara.
Geo panik, laki-laki itu dengan segera menggendong tubuh sang istri dan membawanya keluar kamar. "Siapkan mobil, beri tahu dokter untuk menunggu," titah Geo tegas.
"Siap, Tuan," sahut pengawal.
Cara bergerak gelisah di atas pangkuan Geo. Geo yang melihat itu menatap khawatir ke arah Cara. "Sayang," panggil Geo pelan.
"Panas, Kak," rengek Cara hampir terisak.
"Tenanglah, kita hampir sampai," ujar Geo menenangkan.
Laki-laki itu mengusap peluh Cara yang sudah membanjir. "Kenapa bisa begini, Sayang?" gumam Geo khawatir.
.
.
.
"Bagaimana? Ada apa dengan istri saya?" tanya Geo tidak sabar.
__ADS_1
"Boleh saya tahu, Nyonya Vetro memakan apa sebelum ini, Tuan?" tanya dokter.
Geo terdiam sejenak. "Sate kambing, kenapa? Apa dia keracunan?" desis Geo.
"Bukan begitu, Tuan. Sepertinya istri Anda alergi daging kambing," terang dokter.
Geo mengernyit sambil menatap sang istri yang sedang menatapnya sayu. "Tapi, istri saya biasanya tidak apa-apa selama ini memakan daging kambing. Baru kali ini seperti ini, mungkin saja benar keracunan," tutur Geo.
"Kak, kalau keracunan kepada hanya aku? Kita makan bersama … dan di sana juga banyak pelanggan," sela Cara pelan.
Geo diam, apa yang dikatakan oleh Cara ada benarnya. "Bisa saja mereka memang menargetkan kamu, Sayang. Kamu selama ini tidak apa-apa jika makan daging kambing, kenapa sekarang tiba-tiba jadi begini?" sahut Geo.
"Maaf menyela, Tuan. Supaya tidak ada kecurigaan dan salah paham. Bagaimana kalau kita melakukan uji klinis saja? Di sana akan terdeteksi, apakah Nyonya Vetro alergi atau benar keracunan," usul dokter.
Geo menoleh ke arah Cara yang sedang tersenyum tipis. "Baiklah," sahut Geo setuju.
"Kalau begitu saya akan memanggilkan dokter khususnya dulu, Tuan," pamit dokter itu.
"Sudah berkurang, Kak. Dokternya kan sudah menyuntikkan obat. Hanya saja mataku masih terasa begitu berat," balas Cara.
"Jika benar kamu keracunan, akan aku ratakan kedai sate itu. Yang pasti, mereka tidak akan bisa lepas begitu saja," desis Geo.
"Jangan bertindak dulu ya, Kak. Mana tahu hasilnya nanti salah," papar Cara.
"Aku panik melihat kamu seperti ini, Sayang. Padahal kita sedari tadi bersama, tapi kamu malah menjadi seperti ini. Aku minta maaf, Baby," ucap Geo merasa bersalah.
"Ini bukan salah kamu, Kak. Mungkin saja memang aku yang alergi, entahlah. Kita tunggu hasil dari dokter saja," balas Cara menenangkan.
...*****...
__ADS_1
"Kau sudah menyelesaikannya?" tanya Alex.
"Sudah, aku bahkan sudah mengirimkan lembaran baru kepada mereka," sahut Rical.
"Tidak ada cela bukan?" tanya Alex.
"Aku jamin kali ini tidak, mereka sudah sepakat untuk menunggu," balas Rical.
"Aku hanya takut kau tidak diizinkan lagi untuk kembali," ledek Alex.
"Kenapa? Kau takut aku tidak bisa kembali lagi? Kau pasti merindukan aku bukan?" tutur Rical menggoda Alex.
"Geli bangsat! Aku masih suka lubang, tidak minat dengan pedangmu itu," ujar Alex geli.
Rical tertawa keras di seberang telepon. "Gayamu suka lubang, tapi sampai sekarang kau bahkan belum pernah mencicipi rasanya," ejek Rical.
"Aku menyesal menghubungimu, bedebah." Setelah mengucapkan itu Alex mematikan sambungan teleponnya begitu saja.
"Ekhmm …." Alex menoleh dan memutar bola matanya malas melihat orang yang baru saja berdeham.
"Kenapa kau masih mengikutiku?" geram Alex kesal.
"Emm … itu, aku ingin minta tolong," ujar gadis itu.
Setelah kejadian penabrakan tong sampah tadi. Gadis itu masih saja mengikuti langkah kaki Alex. Hal itu tentu saja membuat Alex kesal. "Apa lagi? Sudah untung aku tidak meminta ganti rugi kepadamu," geram Alex.
Mata gadis itu berbinar kala Alex membahas masalah ganti rugi. "Ide bagus," teriak gadis itu.
Alex mengernyit, menatap gadis di depannya dengan pandangan aneh. "Gadis aneh." Setelah mengatakan itu Alex pergi begitu saja.
__ADS_1
"Bang, tunggu!" teriak gadis itu.