Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
258. Cemburu (lb)


__ADS_3

"Geno, kita pulang dulu ya nanti kita ke sini lagi," bujuk Cara.


"Tapi, Eno macih mau main dengan Ija," balas Geno.


"Iya, Sayang. Nanti kita ke sini lagi, sekarang kita pulang dulu. Bersih-bersih dulu, setelah itu kita ganti baju, makan, terus kita ke sini lagi," tutur Cara.


"Janji?" Geno menyodorkan jari kelingking mungilnya itu ke arah Cara. Melihat itu Cara terkekeh kecil begitu pula dengan yang lainnya. Sedari tadi Geno tidak ingin berpisah dari Riza. Anak laki-laki itu terus berada di samping Riza bahkan ketika bayi itu tertidur pulas.


"Iya, Mommy janji. Benarkan, Dad?" Cara menyambut jari kelingking anak laki-laki itu sambil menoleh ke arah Geo.


"Iya," balas Geo.


"Benal? Daddy tidak akan belbohong kan?" tanya Geno.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak ingin pulang, ya sudah. Biar Daddy saja dengan Mommy yang pulang. Kamu di sini saja, jadi tidak ada yang akan mengganggu waktu Daddy bersama Mommy," ucap Geo dengan nada datarnya.


Mata Geno melotot mendengar perkataan Geo. Nampak anak laki-laki itu bergerak cepat ke arah Cara dan memeluk kaki ibunya itu. Anak laki-laki itu memeluk kaki Cara sambil menatap tajam ke arah Geo yang saat ini sedang tersenyum miring ke arahnya.


Cara yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Berbeda dengan manusia lain yang masih berada di sana, mereka sudah terkekeh melihat aduh tatap antara ayah dan anak itu. Mereka tidak habis pikir kepada Geno, meski masih begitu kecil tetapi tatapan anak laki-laki itu tidak kalah tajam dari bapaknya.


"Astaga, dia benar-benar anak pemimpin Death yang nanti akan melanjutkan memimpin Death," tutur Alex.


"Ya, aku juga berpikir begitu lihat saja dia nampak begitu sensitif dari pada Geo," balas Alex.


"Ayo kita pulang, Mommy. Bialkan caja Daddy di cini," papar Geno.


Cara yang mendengar kalimat Geno, terkekeh kecil menunduk menatap wajah putra tampannya itu. "Kalau Daddy tidak ikut pulang, tidak aman, Sayang. Nanti kalau Mommy diculik bagaimana? Tidak ada yang akan melawannya kalau Daddy tidak ada," sahut Cara lembut.

__ADS_1


"Ada Geno, Eno yang akan menolong Mommy. Al ini laki-laki tangguh. Kata Daddy, jadi laki-laki tangguh itu halus kuat dan belani. Menjadi pelindung untuk Mommy."


Cara terkejut saat mendengar kalimat Geno yang saat ini sedang menatapnya dengan mata polos itu. Setelahnya wanita itu menoleh ke arah Geo yang saat ini sedang tersenyum tipis ke arah sang istri. Hati Cara menghangat mendengar sang putra mengucapkan kalimat itu.


Cara tersenyum dan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil putranya. "Iya, Mommy tahu jika Geno itu adalah laki-laki tangguh. Tapi Geno masih kecil, Sayang. Nanti kalau sudah besar, Geno pasti akan menjadi pelindung Mommy membantu Daddy. Bahkan Mommy yakin Geno akan jauh lebih tangguh daripada Daddy nantinya, bukan begitu Sayang?" ucap Cara lembut.


Geno yang mendengar kalimat Cara mengangguk cepat. "Geno akan cepat besal, cupaya bica melindungi Mommy, cepelti Daddy yang melindungi Mommy," celoteh Geno.


Cara menatap wajah putranya dengan pandangan hangat. Wanita itu tersenyum lembut ke arah Geno yang saat ini juga sedang menatapnya dengan tatapan polos itu. Setelahnya wanita itu memeluk tubuh mungil Geno. "Iya, Sayang. Cepatlah besar," bisik Cara.


"Ekhm … Mommy, ayo kita pulang."


Semua orang menatap ke arah Geo yang saat ini sudah berdiri sambil menatap tidak suka ke arah sepasang ibu dan anak yang tengah berpelukan itu. Mereka semua terkekeh sambil menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan sifat pencemburu Geo. "Bagaimana bisa kau cemburu kepada anakmu sendiri, apalagi dia masih begitu kecil? Ck ck ck, kau benar-benar," celetuk Alex tidak habis pikir.

__ADS_1


__ADS_2