
Cara menatap dingin Sasdia yang sedang berlutut tidak jauh dari tempatnya. "Itu bukan urusanku, kalian berurusan dengan Kak Rical. Maka hanya dia yang bisa menarik gugatan itu. Lagi pula, ini semua juga berawal dari kelakuan Jesy yang tidak punya hati. Ingin membunuh orang lain, apa dia masih waras?" ucap Cara datar.
"Maafkan Jesy, dia pasti saat itu sedang khilaf. Hormon ibu hamil membuatnya susah mengontrol emosi," tutur Sasdia membela Jesy.
"Khilaf? Sampai berkali-kali? Sudahlah, aku lelah. Minggir, aku ingin melihat adikku," pungkas Cara.
"Jesy adalah adikmu, Cara," balas Sasdia.
"Maaf, aku tidak pernah menganggapnya."
...*****...
"Farel, bantu Mama. Katakan kepada Geo untuk mengembalikan keadaan perusahaan. Perusahaan itu sebentar lagi akan berubah menjadi milik kamu," bujuk Patricia.
"Lebih baik Mama kembali ke Amerika dan berusaha sendiri. Aku tidak ada waktu untuk itu," tutur Farel.
__ADS_1
Mata Patricia menggelap mendengar perkataan Farel. "Kamu memang anak tidak berguna. Kamu sama saja seperti Papamu itu. Seharusnya aku dulu memang tidak perlu melahirkan kamu. Anak tidak tahu diuntung!" murka Patricia.
Farel mengepalkan tangannya mendengar perkataan Patricia yang begitu menusuk jantung dan hatinya sebagai seorang anak. Laki-laki itu tersenyum miring dan menatap Patricia dengan pandangan dingin. "Aku memang sedari dulu tidak pernah berharga di depan mata Mama. Sebab Mama sibuk dengan perusahaan dan menelantarkan anak. Bahkan suka melampiaskan rasa tertekan kepada anak kandung sendiri. Orang tua gila," desis Farel.
Patricia menatap tajam ke arah Farel. Dengan langkah penuh amarah, Patricia mendekat ke arah Farel. "Anak bangsat! Mati saja kau, seharusnya kau memang sudah mati sedari dulu!"
Tangan Patricia yang hampir menggapai tubuh Farel ditepis kasar oleh Geo yang baru saja sampai. "Masih berani kau menyentuh adikku?" desis Geo tajam.
"Minggir kau, aku tidak ada urusan denganmu. Kalian memang sama saja, tidak berguna. Memiliki keluarga yang berkuasa malah membuat aku semakin terpuruk. Aku menyesal tidak jadi melenyapkan anak tidak tahu diuntung ini."
Geo dan Farel sempat terkejut dengan aksi tiba-tiba wanita hamil itu. "Kau berani menamparku? Manusia rendahan!"
Plak …. Cara kembali menampar pipi Patricia dengan aura menggelap. Geo yang melihat perubahan aura istrinya sedikit merinding. 'Benar dugaanku, sepertinya putraku nanti akan jauh lebih ganas dari pada aku,' batin Geo kagum.
"Siapa pun yang berani mengusik aku dan orang-orang di sekitarku. Maka, mati adalah hadiah yang tepat," desis Cara.
__ADS_1
Farel tertegun mendengar perkataan Cara. 'Yang berbicara saat ini bukan adikku, tapi keponakanku,' ucap Farel di dalam hati.
"Wanita brengsek!"
Grep …. Tangan Patricia yang ingin meraih tubuh Cara ditahan oleh Geo. Pemimpin Death itu menatap dingin Patricia yang sudah memucat. "Sepertinya kau memang sudah bosan hidup senang. Bawa dia, urus pengiriman ke Mesir. Blok akses keluarnya, buat dia tidak bisa pergi dari kota itu."
Geo menoleh ke arah salah satu tangan kanannya di Death. "Baik, Ketua," sahut laki-laki itu sopan.
"Tidak, jangan kirim aku ke Mesir. Jangan! Jangan!" Patricia berteriak histeris, tubuhnya dibawa paksa oleh dua anggota Death. Kenapa Mesir? Karena Patricia begitu anti dengan panas.
Bruk …. Farel menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa ruangannya. Laki-laki itu mengusap pelan wajahnya. Cara dan Geo menoleh ke arah laki-laki itu. "Kakak tidak apa-apa?" tanya Cara yang kembali berucap lembut.
Farel menatap wajah Cara dan tersenyum hangat kepada wanita hamil itu. "Aku baik, sekarang aku merasa lebih lega. Tidak akan ada lagi yang membuat aku tertekan," tutur Farel.
"Kalau kau mengizinkan aku melakukan itu sedari dulu, kau sudah lama bebas," ucap Geo.
__ADS_1
"Dulu aku masih berharap dia sadar, tapi … malah semakin menjadi," sahut Farel.