Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
perjodohan


__ADS_3

"Nggak mau bu, aku masih SMA. Ngapain nikah muda? Aku juga pengen bantu ibu sama bapak, terus aku masih mau melanjutkan Novel yang ku buat bu dan aku pengen nikah tu kalau ada yang sama dengan imajinasiku bu" ucap Mita menatap wajah Ibu nya memelas.


Wanita paruh baya itu menatap anak gadisnya dengan tatapan sendu. Dirinya tidak kuasa untuk mempertahankan tangisan, hingga akhirnya air mata itu pun menetes.


    Anak gadisnya itu bernama Almita Syilia Azahra, biasa di panggil Mita, usianya masih terbilang cukup muda, karena masih duduk di bangku SMA kelas 12.


"Ibu sama bapak sudah sepakat Mit, untuk menyerahkan kamu pada teman bapak. Dan disana hidupmu akan terjamin" ucap sang bapak dengan lantang


Mendengar itu Mita langsung menatap bapak nya sendu, dirinya tidak bisa menyalahkan kedua orang tuanya. Mita tak bisa membantah apa yang ibu bapaknya bilang, apalagi untuk lari dari sebuah kenyataan 


Ibu sama bapak hanya ingin anaknya bisa mendapatkan kehidupan yang jauh lebih bahagia,  jika ia menikah dengan anak teman bapaknya karena selain ia orang yang berada ia juga orang yang berbaik hati dan dermawan, maka dari itu bapak percaya bahwa dengan menjodohkan anaknya ia bisa melihat anaknya jauh bahagia nantinya dan juga untuk masa depan mereka. 


"Maafin Bapak Mit, bapak tahu kalau kamu ingin menjadi seorang penulis yang terkenal, mungkin dengan cara ini keinginanmu bisa tercapai" ucap sang Bapak mencoba menjelaskan dengan berhati-hati.


"Lalu, kenapa Mita harus menikah? Mita bisa menjadi penulis tanpa harus menikah Pak, Buk" ucap Mita memandang kedua orang tuanya bergantian.


Sang Ibu tersenyum menatap anak gadisnya itu, membuat Mita menjadi bingung dengan sikap Ibunya.


"Kenapa Bu? Apa Mita mau di Jodohkan?" ucap Mita mencoba menerka-nerka maksud dari Ibu bapaknya itu.


"Ada waktunya nanti Mita menikah bu tapi gak sekarang, nanti kalau udah ada yang seperti di novel yang Mita buat dan pertemuan kami nanti bu." Jelas Mita kepada ibu bapaknya 


"Ada yang menagih janji Bapak dulu, dia adalah sahabat Bapak yang sudah sukses di Jakarta. Ia ingin menikahimu untuk anaknya. Bapak mohon kamu mau ya turuti kemauan kami ini" ucap sang Bapak membuat Mita terdiam 


Melihat kebingungan di wajah anak gadisnya, Ridho selaku Ayah  Langsung menjelaskan semua nya, agar tidak menjadi kesalahpahaman.


"Di sana nanti kamu masih bisa melanjutkan sekolahmu dan bisa membuat novel yang kamu mau kok. Bukan berarti kamu akan putus sekolah" jelas ibunya Mita yaitu Meli


"Mita, jadi begini, Janji Bapak adalah menjodohkanmu dengan anak nya setelah kamu lulus SMA" ucap Ridho membuat Mita sangat terkejut

__ADS_1


Tak ada pilihan lain yang harus Mita pilih. Jika mengatakan tidak maka ia akan mengecewakan ibu dan bapaknya bahkan juga teman bapaknya, jadi jawaban iya lah yang ia pilih saat ini.


 Meli hanya menatap anaknya iba rasa kasihan terlihat dari wajah Mita bahwa ia sangat terpukul atas keputusan kami. Namun, kami tetap akan menepati janji. Karena bagi kami Mita akan berada di keluarga yang berkecukupan dan baik nantinya. Tidak seperti sekarang ini yang selalu hidup berkecukupan. Dan kami akan menyerahkan anak kesayangan kami kepada orang yang paling kami percaya.


Malam ini Mita sangat terpukul mengenai perjodohan nya, tapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Dia harus menuruti semua perintah orang tuanya, karena baginya membuat kedua orang tuanya bahagia itu sudah cukup untuknya.


 


Besok keluarga dari pihak pria yang akan menjadi calon suami Mita  akan datang. Mita sangat terkejut saat sang Ayah memberitahu nya, tentang kedatangan calonnya. Bagi Mita itu sangat cepat. Bahkan dia belum mengenal pria yang akan nanti menjadi suaminya. Lagi dan lagi hanya bisa pasrah, karena sang Ayah begitu memohon nya penuh harapan. Jadi besok Mita akan menikah, dan setelah itu ia akan pindah mengikuti suaminya. Karena calon suami Mita adalah seorang Ceo yang memimpin perusahaan besar walau terbilang masih muda, hanya terpaut 5 tahun lebih tua dengan nya. 


Hujan?


Menjadi pengiring malam gelap yang menjadikan dingin.


Tak ada bintang yang senantiasa berkelip indah.


Tak ada bulan yang senantiasa menerangi .


Kala ini hujan tak sendiri.


Ia ditemani angin yang bertiup, gemuruh yang ingar dan petir yang menyambar.


Pertanda apakah kau hujan? Aku takut


Hanya menatap tanpa melawan


Namun aku harus berjuang 


Akan masa depan yang gemilang

__ADS_1


Bahwa aku memang yang di sayang.


#Pagi hari yang cerah di kediaman Yudi


"Pah apakah gak bisa nunggu aku berumur 26 tahun, lagian yudi bisa mencari pasangan sendiri tanpa harus di jodohkan" ucap yudi memohon pada papanya yang ingin menjodohkannya.


Yudilah yang akan dijodohkan dengan seorang gadis polos dari desa yaitu Almita Syilia Azahra anak dari sahabat ayahnya Ridho dan Meli


"Nunggu umur 26 tahun nanti juga ujung-ujungnya kamu tawar lagi, mau sampai kapan kamu sendiri sampai umur 40 tahunan. Lagian apa salahnya kalau dijodohkan pilihan papa itu yang terbaik ia baik, cantik dan sopan. Kamu juga gak tau selera diri sendiri jadi biar papa aja yang bertindak." Ucap seorang pria paruh baya kepada anaknya.


Sang istri hanya tersenyum simpul, dan segera memasukan semua perlengkapan yang dibutuhkan kedalam mobil untuk perjalanan ke desa.


"Udah lah yudi turuti saja kemauan papamu lagian apa salahnya dijodohkan, ini kamu belum melihatnya, kalau nanti sudah tau sifat luar dalamnya juga kamu pasti gak bakal nolak " ucap Mama Yudi dengan lembut 


Yudi yang mendengar itu hanya terdiam pasrah, karena mama sama papanya gak ada yang mau membantunya untuk membatalkan perjodohannya. Dengan sangat terpaksa Yudi meng-iyakan semua yang di katakan mama dan papanya.


"Lagian kamu pasti suka sama orangnya. Punya istri masih SMA itu seru loh Yud" bujuk Elis mama yudi


"Tuh kan masih SMA juga kok malah dijodohkan sih pa, lebih baik dibatalkan saja" timpalnya balik


"Justru itu masalahnya, biar gak macem-macem. Lebih baik nikah muda, dan dia bentar lagi lulus" ucap Papa tegas


"Sudah! Kamu gak boleh banyak omong! Masuk mobil!" ucap sang papanya kesal


Yudi yang melihat papa nya marah, langsung mematuhi perintah nya. Karena jika papanya sudah marah, tidak ada yang bisa merubah keputusan nya.


"Aku sama Yudi pamit, Assalamualaikum" ucap Hendra berpamitan kepada istrinya.


Elis langsung mencium tangan suaminya sebelum pergi

__ADS_1


"Waalaikumsalam, hati-hati yah Pah, dan kamu yudi tolong bawa mantu mama pulang ya" ucap Elis sedikit tertawa.


"Pasti itu mah" ucap Hendra lalu segera pergi.


__ADS_2