
Shila kembali mendekati Ken setelah ia mengambil sesuatu dari dalam lemarinya!
"Lihat ini, Pak!" ucap Shila sembari meletakkan beberapa foto di atas meja.
"Rendy," ucap Ken lirih.
Tak terasa tangan Ken terkepal dan spontan ia memukul meja itu!
Shila terkejut karena Ken tiba-tiba memukul mejanya.
"Marah?" ucap Shila sembari menyandarkan bokongnya di meja itu.
"Kapan ini?" tanya Ken yang tengah diselimuti amarah.
"Tidak perlu dipikirkan. Anda baru aja sembuh fokus saja dulu dengan masa pemulihan anda," ucap Shila.
Shila berucap begitu tenang tak ada ketakutan ataupun kemarahan dalam dirinya saat itu.
"Shila ... ." (Ken)
"Saya tahu kalau pak Rendy masih berhubungan dengan wanita itu bahkan saya tahu sejauh mana hubungan mereka. Sebenarnya jika di ingat-ingat semenjak wanita itu kembali ke kehidupan pak Rendy, keluarga anda kalian jadi sering terkena masalah, saya tidak bermaksud menuduh wanita itu karena saya juga tidak punya bukti tapi akan saya usahakan secepatnya untuk membongkar siapa sebenarnya dalang dibalik semua peristiwa membahayakan keluarga anda," jelas Shila panjang lebar.
Ken terdiam, ia tak berucap lagi karena ia tahu bodyguard satu ini sudah menyusun rencana untuk membongkar kebusukan Jenny.
"Oh ya, Pak. Ini hadiah ulang tahun untuk anda!" ucap Shila lagi sembari memberikan sebuah kotak kecil.
Ken menerima dan langsung membuka kotak kecil itu!
"Jam tangan yang bagus. Terimakasih," ucap Ken.
Shila tersenyum, "sama-sama," sahut Shila.
__ADS_1
Di kantor.
Rendy sedang mengotak-atik laptopnya, entah apa yang sedang ia kerjakan yang pasti akhir-akhir ini ia selalu sibuk bahkan sampai lupa waktu makan.
Rendy terlihat stres menangani semua pekerjaan sendiri karena biasanya ia dibantu oleh Ken dalam semua pekerjaannya.
Rendy menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya lalu memijat pelipisnya perlahan.
"Aku rindu belaian tangan kamu Liana," lirih Rendy.
Rendy memejamkan matanya.
"Andai kami tahu, aku sedang berusaha keras untuk membahagiakanmu mungkin kamu gak akan bersikap sedingin ini padaku," ucap Rendy didalam hatinya.
Tok!
Tok!
Tok!
Rendy membuka matanya lalu membenarkan posisi duduknya tak lupa ia merapikan pakaiannya!
"Masuk!" ucap Rendy.
Orang yang mengetuk pintu pun masuk kedalam ruangan Rendy!
"Selamat siang, Pak Rendy," ucapnya.
"Selamat siang, Pak Satya," Rendy terkejut karena kedatangan tamu yang tak terduga.
"Silakan duduk, Pak. Kenapa tidak memberi kabar kalau anda mau kesini," ucap Rendy lagi.
__ADS_1
"Saya kesini ingin membicarakan tentang kontrak kerja sama perusahaan kita. Ternyata pak Kendra sedang tidak di kantor terpaksa saya harus menemui anda," jelas Satya.
"Oh iya, Pak. Jadi bagaimana keputusan anda?" tanya Rendy penuh semangat.
Di tempat lain.
Liana sedang dalam perjalanan menuju kantor, ia hendak mengantar makanan untuk sang suami karena semenjak Ken sakit suaminya itu sering telat makan karena terlalu sibuk dengan pekerjaan.
Kali ini Liana hanya ditemani oleh dua orang bodyguard karena ia lebih memprioritaskan Elma dan Ken untuk mendapatkan penjagaan lebih ketat lagi mengingat akhir-akhir ini banyak orang yang berusaha mencelakai mereka.
Dua puluh menit berlalu kini Liana sudah tiba di lobby kantor.
Di ruangan Rendy.
"Deal kita kerja sama ya, Pak Rendy," ucap Satya.
"Terimakasih sudah mempercayai perusahaan kami, suatu kehormatan bagi kami bisa bekerja sama dengan perusahaan anda," ucap Rendy.
Kedua pebisnis muda itu berjabat tangan.
"Kalau begitu saya permisi," ucap Satya sembari beranjak dari duduknya.
"Silahkan, Pak Satya," ucap Rendy.
Satya mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Rendy.
Satya terus berjalan menuju lobby kantor milik Rendy dan kebetulan Liana juga berada disana.
Karena terus fokus pada handphonenya, Satya tak menyadari bahwa Liana berada di dekatnya hingga saat Liana sudah jauh darinya ia baru melihat Liana.
"Liana? apa dia bekerja disini?" ucap Satya dalam hatinya.
__ADS_1
Tak terasa senyum mengembang di bibirnya, ia merasa memiliki kesempatan untuk mendapatkan Liana
Bersambung