Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 45


__ADS_3

Pagi itu sebelum Rio berangkat ke rumah sakit tempatnya bekerja, Rio mengantarkan Biani terlebih dahulu.


Saat itu Rio dan Biani sedang dalam perjalanan menuju rumah Biani!


"Terimakasih ya, kamu sudah nolongin aku," ucap Biani.


Matanya menatap Rio sekilas lalu kembali fokus pada jalan yang sedang mereka lalui.


Rio tersenyum tipis. "Sama-sama," ucapnya singkat.


Biani terdiam tanpa kata, ia tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Biani, boleh aku bertanya?" ucap Rio.


"Boleh."


Apa yang terjadi semalam? Kenapa kamu bisa ada di jalanan dalam hujan yang sederas itu?"


Biani tetap diam, ia enggan menjawab pertanyaan Rio.


Mereka baru kenal semalam tidak mungkin Biani akan bercerita yang sesungguhnya terhadap Rio.


"Maaf ya kalau pertanyaan aku membuat dirimu sakit."


"Tidak Rio, tidak apa-apa. Hanya saja aku sedang tidak mood untuk mengobrol, aku merasa tidak enak badan, aku rasa ada yang salah dengan diriku."


"Kondisi kamu memang belum sepenuhnya pulih, wajar saja jika kamu merasa tidak enak badan."


Hampir setengah jam berkendara akhirnya mereka tiba di halaman rumah Biani.


Rio memarkirkan mobilnya lalu membukakan pintu mobilnya untuk Biani keluar dari mobilnya!


"Terimakasih, sudah bersedia mengantarkan aku pulang," ucap Biani setelah ia keluar dari mobil milik Rio.


"Sama-sama. Biani aku langsung pergi ya."


"Gak mampir dulu?"


Rio menatap jam di tangannya!


"Tidak, terimakasih . Lain kali saja ya, sekarang aku harus bekerja," sahut Rio.


Rio langsung pergi meninggalkan Biani di halaman rumahnya!


"Siapa itu?" tanya Jacky yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


Biani menoleh ke arah suara.


"Dia Rio, laki-laki yang baru aku kenal semalam," jelas Biani.


"Semalam kamu dari mana?"


"Semalam aku sakit dan Rio lah yang menolong aku karena hari sudah semakin larut akhirnya dia mengajak aku menginap di rumahnya."


"Menginap di rumah seorang laki-laki? Biani kamu sadar gak sih, menginap di rumah seorang laki-laki yang baru kamu kenal, bisa saja dia itu orang jahat."


"Dia tidak jahat Kak, buktinya aku masih utuh kan tidak ada sesuatu apapun yang kurang dariku."


"Bukan begitu, Biani."


"Kak, aku lelah badanku juga masih tidak enak, aku mau istirahat dulu ya."


Biani meninggalkan Jacky di depan rumahnya.


Jenny menatap putrinya yang berjalan begitu saja melewati dirinya tanpa adanya satu kata yang terucap dari mulut sang putri.


Jenny mulai meneteskan air matanya karena merasa tidak dianggap ada oleh putranya sendiri.


"Mama, jangan menangis. Kenapa Mama menangis?" ucap Jacky.


"Mama sedih karena Bisa sudah tidak menghiraukan Mama lagi."


"Nggak, Ma. Mama salah faham tentang Biani. Biani sayang kok sama Mama, hanya saja tadi dia bilang kalau dia sedang tidak enak badan mungkin dia ingin cepat beristirahat," jelas Jacky.


Jacky merangkul Jenny lalu mengarahkan Jenny untuk duduk di ruang keluarga rumahnya!


"Mama jangan berpikir yang tidak-tidak terhadap Biani. Biani sayang kok sama Mama sama aku, aku tahu Biani sangat menyayangi kita, Ma."

__ADS_1


...****************...


Plak!


Plak!


Kayla menampar seorang laki-laki yang sedap ia interogasi.


"Siapa yang sudah menyuruhmu merusak rem mobil milik Leon?" tanya Kayla untuk yang kesekian kalinya.


Laki-laki itu tetap menutup mulutnya meski Kayla sudah menampar nya berkali-kali.


"Cepat katakan siapa orang yang sudah menyuruhmu!" Kayla berucap dengan menaikan nada bicaranya.


Karena laki-laki itu tidak mau berucap, Kayla merasa bosan lalu ia pergi meninggalkan laki-laki itu di gudang yang beralih fungsi menjadi tempat penyekapan!


"Mau kemana, Kay?" tanya rekannya.


"Keluar sebentar," sahut Kayla sembari terus berjalan.


"Gimana dengan tawanan itu?"


"Dia tidak mau berbicara. Biarkan saja dia dulu, tolong lakukan penjagaan terhadapnya agar dia tidak bisa kabur."


Kayla terus berjalan keluar dari area persembunyiannya!


Rekannya Kayla hanya menatap kepergian Kayla, dia membiarkan gadis itu pergi dari tempat itu.


...****************...


"Shania, aku ke kantor dulu ya, kamu hati-hati di rumah," ucap Leon kepada Shania.


Shania hanya diam tak bersuara.


"Kalau mau pergi, pergi saja," ucap Shania didalam hatinya.


Leon mulai berjalan keluar dari rumahnya, namun setelah ia melangkah beberapa langkah, Leon menghentikan pergerakannya kakinya lalu ia berbalik badan!


"Shania, nanti kita makan siang bareng di luar ya, aku jemput kamu jam 11:30 aku harap kamu sudah bersiap-siap sebelum aku datang," ucap Leon.


"Aku tidak mau," sahut Shania.


Shania berdecak kesal karena Leon memaksanya.


"Hhh, untung aku sudah cinta kalau belum aku jewer juga kupingnya," ucap Shania didalam hatinya.


"Aku pergi dulu," ucap Leon.


Leon kembali melanjutkan langkahnya untuk segera berangkat ke kantor!


Sepanjang perjalanan, Leon terus terbayang wajah Shania yang sedang tersenyum manis ke arahnya dia juga terus teringat saat pertama kali ia melakukan hubungan layaknya seperti pasangan suami istri pada umumnya.


Saat ini Leon sedang jatuh cinta kepada istrinya yang ia nikahi lewat jalur perjodohan itu.


"Aku baru sadar kalau ternyata kamu lebih baik dari Biani," gumam Leon.


Tanpa Leon sadari senyum terus mengembang di bibirnya saat mengingat sosok Shania.


"Aku gak akan membiarkan kamu pergi dari hidupku Shania, meski kamu belum mencintai aku tapi akan aku pastikan kamu bisa mencintai dan menerima aku di kehidupanmu," gumam Leon lagi.


Asyik membayangkan wajah Shania, tak disadari, Leon sudah tiba di kantornya, menurut Leon, hari ini perjalanan menuju kantornya terasa begitu sebentar.


Leon turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobil yang ia kendarai itu!


"Wah, sepertinya lagi bahagia nih?" ucap Elvan yang juga baru tiba di area kantornya.


Leon menatap Elvan dengan senyum terbaik yang mengembang di bibirnya.


"Van, baru tiba juga?" tanya Leon.


"Seperti yang kamu lihat."


Elvan dan Leon berjalan beriringan memasuki kantornya.


"Selamat pagi, Pak."


"Pagi, Pak Leon, Pak Elvan."

__ADS_1


Beberapa karyawan menyapa Leon dan Elvan dengan begitu ramah.


"Pagi," sahut Leon.


Elvan menatap Leon penuh rasa tidak percaya. Baru kali ini Leon menyahut saat disapa oleh karyawannya, biasanya Leon hanya menanggapi mereka dengan senyuman saja.


"Tumben," ucap Elvan.


"Kenapa, Van?" ucap Leon.


"Biasanya juga hanya senyum yang terlihat dipaksakan."


"Hari ini aku lagi jatuh cinta jadi mereka dapat bonus suara aku," ucap Leon dengan tawa kecilnya.


Elvan berhenti melangkahkan kakinya, memastikan bahwa ia tidak salah dengan.


"Jatuh cinta?" gumam Elvan.


Elvan kembali berjalan membuntuti Leon yang sudah masuk kedalam ruangan pribadinya!


"Leon, tadi aku gak salah dengar kan?" ucap Elvan.


"Kenapa masuk ke sini? Ruangan kerja kamu bukan disini Van."


"Aku tahu. Aku hanya penasaran kamu sedang jatuh cinta, jatuh cinta sama siapa?"


"Kepo."


"Memangnya kamu sudah move on dari Biani?"


"Kalau sudah jatuh cinta lagi berarti sudah move on dong."


"Kamu jatuh cinta sama siapa?"


Elvan penasaran siapa yang sudah membuat Leon lupa kepada Biani. Selama ini Leon sangat mencintai dan menyayangi Biani meski orang tuanya tidak merestui hubungannya dengan Biani.


"Jatuh cinta sama cewek lah, masa sama kamu."


"Iya, aku tahu kamu pasti suka sama cewek gak mungkin juga kan kamu suka sama kambing? Maksud aku siapa cewek yang membuat kamu jatuh cinta, pastinya cewek itu punya nama kan?"


Leon tertawa kecil. "Nanti juga kamu pasti tahu."


...****************...


Jacky sedang merencanakan sesuatu untuk mencelakai Leon lagi, meski ia sudah tahu apa alasan orang tuanya Leon tidak merestui hubungan Leon dengan Biani tapi sampai saat ini ia masih menyimpan dendam kepada Leon.


Kali ini bukan karena orang tuanya yang tidak merestui hubungan Leon dan Biani, namun karena keputusan Leon yang menyudahi hubungannya dengan Biani yang membuat Biani sedih dan sulit untuk diajak bicara.


Sebelum berangkat ke tempat kerjanya, Jacky menemui seseorang terlebih dahulu.


Di sebuah perkampungan, Jacky berbicara dengan orang yang pernah ia suruh untuk mengeroyok Leon.


"Ada kerjaan lagi buat kalian," ucap Jacky.


"Pekerjaan apa?"


"Lo pada masih ingat kan sama Leon?"


"Masih. Apa pekerjaan kita kali ini?"


"Kalian culik istrinya Leon dan sekap dia, kalau bisa kalian buang wanita itu ke tempat yang jauh dari kota."


"Itu soal gampang, ada fotonya tidak?"


"Tidak ada, gue gak kenal sama wanita itu. Kalian cari tahu dong bagi mana wajah istrinya di Leon itu."


"Tugas kita jadi dobel nih."


"Lo tenang saja, gue akan kasih bonus setengah lo berhasil menjalankan pekerjaan dari gue ini."


"Beres. Ada uang, pekerjaan lancar."


"Nanti gue transfer uang mukanya dulu, setelah kerjaan lo beres, gue lunasin semuanya."


"Siap."


"Kerjakan dengan cepat dan rapi, gue gak mau kalian ketahuan dan akhirnya gue juga yang kena repot."

__ADS_1


Jacky langsung pergi dari tempat itu setelah selesai berbicara dengan para preman yang sudah menjadi langganannya dalam melakukan kejahatannya.


Bersambung


__ADS_2