Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 6


__ADS_3

Leon baru tiba dari kantor, saat itu waktu menunjukkan pukul 20:22 waktu setempat.


Leon berjalan memasuki rumahnya dengan raut wajah lelah!


"Sayang, tumben pulangnya telat?" ucap Liana.


"Abis nongkrong sebentar sama Elvan," ucap Leon.


Leon terus berjalan menuju kamarnya!


Liana membiarkan putranya pergi karena ia tahu putranya sangat lelah.


"Kakak," ucap Rania.


"Apa, manja," sahut Leon.


Leon masih berusaha untuk tetap ceria dihadapan adik tercintanya itu.


"Cepat mandi habis itu aku mau bicara," ucap Rania.


"Bicara apa? Bicara sekarang saja," ucap Leon sembari terus menaiki anak tangga.


Rania mengekor dibelakang Leon!


"Nanti saja," ucap Rania.


Leon masuk ke kamarnya dan Rania juga masuk ke kamarnya yang kebetulan berada disebelah kamar Kakaknya. l


Di ruang keluarga.


"Leon sudah pulang?" tanya Rendy kepada Liana.


"Sudah. Pa, sebaiknya bicarakan perjodohan itu nanti saja," ucap Liana.


"Kenapa? Lebih cepat lebih baik," ucap Rendy.


"Kasihan Leon, Pa. Dia baru saja pulang dari kantor dia pasti lelah," ucap Liana.


"Laki-laki harus kuat. Pulang dari kantor jam segini harusnya sudah menjadi hal biasa buat Leon," jelas Rendy.


Liana menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan. Liana baru tahu kalau suaminya bisa sekeras itu pada anak-anaknya.


"Kenapa Papa selalu ingin menang sendiri?" ucap Liana.


"Sudahlah, Ma. Jangan ngajak berantem terus." Rendy mencolek dagu Liana.


Liana tersenyum tipis, suaminya itu tidak pernah berubah, dari dulu laki-laki itu selalu bisa membuatnya tersenyum.


"Udah tua, Pa."


Rendy semakin mendekati Liana lalu meneluk Liana!


"Memangnya kalau udah tua gak boleh bermesraan?" ucap Rendy.


"Papa, nanti anak-anak melihat kita," ucap Liana.


Liana berusaha melepaskan tangan Rendy yang melingkar di perutnya.


...****************...


Di kediaman Satya.


Shania sedang merajuk kepada mamanya, meminta agar mengundurkan acara pernikahannya dengan Leon.


Sebenarnya Shania ingin meminta agar orang tuanya membatalkan rencana perjodohannya dengan Leon namun ia tidak berani memintanya selain karena takut mengecewakan kedua orang tuanya, Shania juga takut menjadi anak durhaka karena membantah perintah orang tua.

__ADS_1


"Ma, kenapa secepat ini?" ucap Shania.


Alisa tersenyum. "Kamu akan meminta untuk menikah lebih cepat setelah bertemu dan mengenal Leon," ucapnya.


"Memangnya Leon seperti apa?" tanya Shania yang penasaran.


"Seperti pangeran dari negeri dongeng. Dia tampan, gagah dan berani," ucap Alisa.


"Mama, kenal sama dia?" Shania semakin ingin tahu bagaimana laki-laki yang akan dijodohkan dengannya.


"Tidak begitu kenal tapi Mama tahu dan pernah beberapa kali bertemu," ucap Alisa.


"Kamu gak mau nerima perjodohan ini?" ucap Satya yang muncul tiba-tiba.


Shania menatap Papanya. Ingin sekali ia berkata iya, namun ia tidak berani mengucapkannya.


"Kenapa? Tidak mau?" tanya Satya lagi.


Shania terdiam sejenak lalu berkata. "Mmm ... aku ikut apa kemauan Papa sama Mama saja," ucap Shania.


"Seandainya aku berani, ingin sekali aku menolak perjodohan ini," ucap Shania didalam hatinya.


Alisa dan Satya tersenyum bahagia, mereka pikir putri mereka itu akan menolak dan memberontak tapi ternyata dugaan mereka salah karena dengan senang hati putri mereka menerima perjodohan ini.


"Terimakasih, sayang," ucap Satya.


Shania hanya menanggapi permintaan Papanya dengan senyuman kecut.


"Kita tinggal atur rencana pertemuan kamu sama Leon," ucap Alisa.


"Terserah Mama sama Papa saja," ucap Shania. "Aku lelah, boleh aku beristirahat?" ucap Shania lagi.


Tanpa menunggu jawaban dari Papa dan Mamanya, Shania beranjak dari duduknya lalu mulai melangkahkan kakinya menuju kamarnya!


...****************...


"Leon, Papa mau bicara!" ucap Rendy.


Baru Rania ingin bercerita dengan Kakaknya, Papanya mengajak Kakaknya berbicara.


"Baik, Pa."


"Ngobrolnya lain kali saja, Kakak dipanggil Papa," ucap Leon kepada Rania.


Rania mengerucutkan bibirnya beberapa centi. "Baru mau curhat," ucapnya.


"Maaf." Leon mengelus kepala Rania lalu pergi meninggalkan adiknya di kamarnya!


Leon berjalan menuju ruang keluarga! Dalam hatinya ia sudah tahu kalau Papanya pasti mengajaknya berdebat lagi.


"Sini, sayang," ucap Liana sembari menepuk-nepuk kursi di sebelahnya!


Wanita itu memang selalu bersikap lembut


kepada putra dan putrinya.


Tanpa kata, Leon langsung duduk di samping Mamanya!


"Ada apa, Pa?" ucap Leon.


"Papa harap kamu turuti keinginan Papa," ucap Rendy.


"Apa?"


Liana mulai merasa tidak enak, ia tahu Leon pasti menolak.

__ADS_1


"Papa ingin menjodohkan kamu sama putrinya Om Satya," ucap Rendy tanpa basa-basi.


"Apa! Dijodohkan?"


"Sayang, dengar dulu ... ," ucap Liana.


"Nggak! Aku gak mau. Aku cinta sama Biani," ucap Rendy memotong perkataan Liana.


"Leon! Papa tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mau menikah dengan Shania," ucap Rendy dengan menaikan nada bicaranya.


Rania yang mendengar ucapan Papanya merasa kasihan kepada Kakaknya. Rania berjalan menghampiri keluarganya yang sedang berbicara di ruang keluarga!


"Pa, ini bukan zaman Siti Nurbaya. Kenapa masih ada perjodohan?" ucap Rania secara tidak langsung dia membela Kakaknya.


"Aku gak bisa, aku hanya akan menikahi Biani," sahut Leon.


"Tidak ada penolakan! Semua perkataan Papa harus dituruti!" Rendy berucap seolah membentak Leon.


"Dan kamu Rania! Jangan pernah bela Kakak kamu. Jangan ikut campur urusan orang dewasa urus saja sekolahmu."


Rendy pergi meninggalkan mereka di tempat itu karena tak ingin berdebat dengan Leon yang nantinya akan menimbulkan permasalahan lain dalam keluarganya.


"Pa! Pa tunggu!" ucap Leon.


Rendy tak menghiraukan Leon yang berteriak memanggilnya, ia terus berjalan menjauhi Leon!


"Ma, tolong jelaskan sama Papa," ucap Leon kepada Mamanya.


"Sayang, Mama tidak bisa melakukan apapun, Papamu sangat keras kepala," ucap Liana.


"Kakak, sabar ya. Pasti ada jalan keluar dari masalah ini," ucap Rania.


Leon berdiri lalu berjalan menuju halaman rumahnya!


"Leon! Kamu mau kemana, Nak?" ucap Liana.


"Aku mau menemui Biani!" ucap Leon.


Leon terus berjalan menuju mobilnya! Sayangnya pintu gerbang sudah dikunci dan Rendy menyembunyikan kuncinya agar Leon tidak bisa keluar dari rumah.


"Aargh!" Leon berteriak sembari mengacak rambutnya.


"Leon, tenang, Nak." Liana berusaha menenangkan putranya.


"Di rumah ini tidak ada yang mengerti perasaanku." Leon berjalan memasuki rumah!


"Kakak!" ucap Rania.


Rania berlari mengejar Leon yang sedang berjalan menaiki anak tangga!


"Sudahlah Rania, jangan ganggu Kakak dulu," ucap Leon lalu menutup pintu kamarnya dengan kasar!


Rania terperanjat saat mendengar suara pintu yang tertutup begitu keras.


Ada rasa khawatir kepada Kakaknya itu, namun Rania tidak bisa berbuat apa-apa. Rania yang mulai mengerti dengan apa itu cinta, merasa kasihan saat tahu Kakaknya akan dijodohkan dengan wanita yang tidak dikenal.


"Rania, istirahatlah," ucap Liana.


"Ma, Kakak ... ."


"Jangan pikirkan Kakakmu nanti juga dia bisa menerima semua ini," ucap Liana.


Rania tak berucap lagi, ia segera masuk ke kamarnya meski dalam hatinya ia ingin sekali melakukan protes kepada mamanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2