Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba menikah 2 bab 89


__ADS_3

Di temat kerja Biani.


Seperti biasa sebelum kafe itu buka Biani akan membersihkan setiap meja dengan mengelap satu-persatu meja itu.


"Bi, kok kamu kerja sih, bukannya kemarin kamu sudah dipecat sama bos besar?" tanya Indah.


Biani menatap Indah dengan tatapan yang berbinar.


"Aku gak jadi dipecat, aku kan tidak melakukan kesalahan apa pun," ucap Biani.


"Kamu tuh, kenapa gak pernah cerita kalau ternyata kamu adalah kekasihnya, Pak Rio?"


"Ngapain harus cerita? Lagi pula aku gak tahu kalau Rio itu ternyata bos kita."


"Kamu tahu gak kalau Mas Galang itu adiknya Pak Rio?"


"Awalnya tidak tapi sekarang aku udah tahu saat aku diajak ke rumah mereka oleh Rio."


"Pantas kamu selalu menghindari Mas Galang, ternyata kamu mempunyai yang lebih oke dari dia."


"Kalau pun bukan Rio yang menjadi pacar aku, aku pasti menghindari laki-laki lain yang berusaha masuk ke dalam hidupku terkecuali aku tidak punya pacar, itu beda lagi ceritanya."


"Kamu beruntung ya, bisa mendapatkan Pak Rio."


Biani tersenyum pada temannya itu.


"Belum pasti, Ndah. Selama janur kuning belum melengkung belum bisa dipastikan bahwa Rio adalah milikku."


"Setidaknya ada harapan untuk menuju ke sana, Bi."


"Hmm. Udah ah, malah kita ngobrol. Ayo kerja lagi nanti aku benar-benar dipecat lagi dari sini."


Indah dan Biani kembali melakukan pekerjaan mereka yang sempat tertunda beberapa menit.


...****************...


Di kampus tempat Galang kuliah.


Hari itu Galang terlihat tidak bersemangat, dia lebih suka menyendiri dan mengirit pembicaraan nya dengan siapa pun.


"Woi, kenapa kamu gak semangat gitu?" tanya temannya Galang.


"Tidak apa-apa," sahut Galang singkat.


"Jangan bohong, biasanya kamu gak gini."


"Aku butuh waktu untuk sendiri. Tolong tinggalkan aku."


"Lang, kalau ada masalah, cerita sama aku. Siapa tahu aku bisa bantu kamu."


"Tidak. Terimakasih, aku hanya butuh istirahat saja."


"Oke, aku pergi ya. Kalau kamu butuh aku, telpon saja ya."


Galang hanya menanggapi perkataan temannya dengan menganggukkan kepalanya pelan.


Temannya Galang itu pergi meninggalkan Galang sendirian!


...****************...


"Suami ku sayang. Hari ini kamu gak usah ke kantor ya," ucap Shania pada Leon.


"Kenapa?" tanya Leon yang sedang memakai dasi.


"Aku mau bersama dengan kamu saja seharian ini."


"Sayang, aku harus ke kantor. Kasihan Elvan harus kerja sendiri, dia itu mau menikah harusnya dia yang gak usah ke kantor karena harus menyiapkan diri untuk menghadapi hari pernikahannya itu."


"Ya udah aku ikut kamu ke kantor ya."


Leon menatap Shania lalu menghampiri istrinya itu.


"Rupanya anak Papa ingin dimanja ya?" ucap Leon sembari mengelus perut Shania.


Shania meletakkan tangannya di atas tangan Leon yang sedang mengelus perutnya!


"Kapan ya, bayi ini lahir?" ucap Shania.


"Nanti dong kalau udah waktunya."


"Dasi mu miring," ucap Shania.


Shania membetulkan dasi Leon lalu merapikan jas yang dikenakan oleh suaminya tersebut.


"Bersiaplah jika kamu memang ingin ikut aku ke kantor," ucap Leon.


Shania tersenyum bahagia. "Benarkah aku boleh ikut ke kantor?"


"Buat kamu, apa sih yang tidak boleh."


Shania mencium pipi Leon lalu segera mengganti pakaiannya.


"Aku tunggu di bawah ya."


"Iya, aku gak lama kok, sayang."


Leon berjalan ke luar dari kamarnya!


Tak butuh waktu lama, akhirnya Shania selesai dengan urusannya. Dia segera menyusul sang suami yang sedang menunggunya di lantai utama rumahnya!


"Ayo kita berangkat! Aku sudah siap," ucap Shania saat sudah dekat dengan Leon.

__ADS_1


"Gak sarapan dulu?" ucap Leon.


"Astaghfirullah, aku sampai lupa kalau kita belum sarapan. Ya udah kita sarapan dulu."


"Saking bahagianya sampai lupa ngajak suami sarapan."


Shania nyengir, menampakkan giginya yang rapi dan bersih.


"Maaf, suamiku," ucapnya.


Leon dan Shania pun segera sarapan karena mereka sudah sedikit terlambat untuk ke kantor.


...****************...


Di kantor.


Saat itu Elvan baru tiba di kantornya, saat sedang memarkirkan mobilnya, Elvan melihat Kayla sedang duduk di atas motornya.


Elvan segera berjalan menghampiri Kayla!


"Kay, kamu di sini?" tanya Elvan.


"Seperti yang kamu lihat," ucap Kayla.


"Dari kapan dan mau apa?"


"Aku harus jawab yang mana dulu?"


"Terserah kamu mau jawab yang mana dulu."


"Aku di sini sejak sepuluh menit yang lalu dan aku ke sini mau mengobati rasa rindu yang dirasakan oleh kekasih ku agar kekasihku bisa bekerja dengan baik dan fokus," ucap Kayla.


Elvan tersenyum lalu meraih pipi Kayla.


"Kamu bisa saja. Padahal kamu juga rindu kan sama aku?"


"Nggak, aku biasa saja."


"Benarkah? Aku rasa kamu sedang berbohong."


...****************...


Di kediaman keluarga Wijaya.


Hari ini Rio tidak bekerja, ia tidak bisa fokus saat sedang ada masalah, akhirnya ia memutuskan untuk cuti hari ini.


"Tumben belum siap-siap? Udah jam berapa ini?" ucap Athalya


"Hari ini aku gak kerja, Ma," ucap Rio.


"Kenapa?"


Athalya berjalan lebih mendekat lagi pada putra pertamanya!


"Kalau sakit, jangan dibiarkan. Periksa ke dokter dong."


"Aku hanya kecapekan, Ma. Setelah beristirahat seharian juga pasti sembuh."


"Kamu itu seorang dokter, jangan mengabaikan kesehatan."


"Iya, aku tahu."


"Nah itu tahu kenapa pengetahuan mu tidak digunakan?"


Rio terdiam, sebenarnya dia bukan sedang tidak enak badan melainkan sedang tidak enak hati. Dia merasa gundah dibuat cintanya.


"Tolong tinggalkan aku sediri, Ma," ucap Rio.


"Mama juga mau pergi kok."


Athalya berjalan meninggalkan Rio yang terlihat sedang tidak fit itu!


Saat sudah menjauh dari Rio, Athalya menatap putranya yang sedang duduk membelakanginya.


"Ada apa dengan anak itu? Tidak seperti biasanya dia begitu." gumam Athalya.


Athalya berdiri sembari menatap putranya dalam waktu yang cukup lama.


"Kenapa, Biani bisa sejahat itu sama Shania? Apa aku tepat memilih Biani untuk menjadi pasangan hidupku?" ucap Rio didalam hatinya.


Rio menyugar rambutnya dengan tangannya.


"Aku mencintaimu, Bi," gumam Rio.


...****************...


"Lagi pada ngapain nongkrong di sini?" tanya Leon yang baru tiba di kantornya.


"Kamu gak lihat, kami berdua sedang pacaran," ucap Elvan.


Shania turun dari mobilnya!


"Tidak. Kalian tidak terlihat seperti orang yang sedang berpacaran," ucap Shania.


"Shania benar, masa pacaran gak ada mesra-mesranya," ucap Leon lagi.


"Memangnya orang pacaran harus gimana?" tanya Kayla.


"Seperti ini!"


Shania menghampiri Leon lalu mengalungkan tangannya ke leher Leon dan setelah itu mencium pipi Leon.

__ADS_1


"Shania, apa yang kamu lakukan?" ucap Kayla.


"Tadi kamu tanya bagaimana cara berpacaran. Ya, seperti itu lah berpacaran," ucap Shania.


"Itu gaya pacaran orang yang sudah menikah, aku dan Kayla kan belum sah," ucap Elvan.


"Bicaramu kayak orang benar saja. Kalian pernah melakukan ciuman kan?" ucap Leon.


"Pernah tapi di tempat sepi bukan di tempat seperti ini," ucap Elvan.


Kayla mencubit Elvan dari belakang!


"Kamu bicara apa sih, Van!" seru Kayla.


"Aduh! Sakit, Kay," ucap Elvan.


"Makanya kalau ngomong hati-hati."


Shania dan Leon saling bertatapan lalu tertawa bersama.


"Kay, kalian belum menikah, udah melakukan KDRT," ucap Leon menggoda Kayla.


"Memangnya mencubit termasuk KDRT?" tanya Kayla.


"Gak tahu juga tapi mungkin termasuk, karena kan dicubit juga terasa sakit," sahut Leon.


"Sudah-sudah. Kalian mau bekerja atau tidak?" ucap Shania.


"Ya kerja lah," ucap Elvan.


"Udah jam delapan lewat empat puluh lima menit, waktu mulai bekerja jam delapan pas, itu artinya kalian sudah telat selama empat puluh lima menit. Cepat bekerja atau kalian akan merugi," ucap Shania.


Elvan dan Leon saling menatap satu sama lain lalu menatap Shania secara bersamaan.


"Kenapa menatap ku seperti itu?" ucap Shania.


"Ibu Bos, Anda sangat membuat kami terkagum-kagum. Ternyata Anda sangat menghargai waktu ya," ucap Leon.


"Punya Bos baru nih. Makin berat saja kerjaan ku nanti," ucap Elvan.


"Van ayo kita masuk kantor! sebelum kita dipecat," ucap Leon.


Elvan dan Leon pun segera bergegas memasuki kantornya!


Shania dan Kayla menatap kepergian mereka berdua tanpa kata.


"Mereka memang suka bercanda," ucap Shania pada Kayla.


Kayla tersenyum. "Aku tahu," ucap Kayla.


"Kay, daripada bosan, kita jalan yuk! Kamu sibuk gak hari ini?"


"Boleh, kebetulan aku sedang tidak sibuk. Jalan ke mana?"


"Ke mana saja, ke mall misalnya."


"Boleh, sepertinya nonton lebih asyik."


"Ide bagus, ayo kita berangkat!"


"Izin dulu dong sama suamimu. Aku masih bebas gak izin juga gak masalah," ucap Kayla.


"Tentu saja aku mau izin dulu. Kamu juga harus izin dulu kalau tidak, kekasihmu itu akan merasa khawatir."


Kayla tersenyum tipis. "Oke."


Dua wanita cantik itu berjalan memasuki kantor untuk menemui pasangan masing-masing!


...****************...


"Tumben, Mas Galang gak ke sini?" ucap temannya Indah.


"Mungkin dia lagi ada keperluan lain selain nongkrong di sini," ucap Biani.


"Bisa saja dia patah hati karena kamu ternyata sudah dimiliki oleh orang lain," ucap Indah.


"Iya, betul itu."


"Kalian bicara apa sih. Galang tidak mungkin suka sama aku."


"Kok tidak mungkin? Jelas-jelas kemarin-kemarin dia berusaha mendekati kamu."


"Tidak, itu hanya perasaan kalian saja."


"Aku sih yakin banget kalau, Mas Galang sedang patah hati."


"Terserah kalian mau bilang apa? Aku gak mau ikutan."


Biani pergi meninggalkan dua temannya yang sedang membiarkannya dengan Galang!


Sebenarnya Biani tahu bahwa sebenarnya Galang memang menyukai nya karena Galang sudah mengutarakan perasaannya lewat pesan whtsap, yang dikirim oleh Galang padanya. Tapi Biani tidak ingin ada orang yang tahu tentang itu karena takut akan menimbulkan masalah dalam hubungannya dengan Rio dan juga hubungan keluarga mereka.


"Biani, aneh banget. Masa dia gak merasa kalau Mas Galang suka sama dia," ucap Indah.


"Itu karena dia sudah sangat mencintai Pak Rio, jadinya pintu hatinya sudah tertutup untuk laki-laki lain," sahut tamannya Indah.


"Iya kali ya. Maklum aku jomblo akut, jadinya gak tahu soal perasaan seperti itu."


Indah dan temannya tertawa renyah.


Biani yang berada tak jauh dari mereka menatap mereka dengan tatapan aneh.

__ADS_1


"Mereka menertawakan apa?" gumam Biani.


Bersambung


__ADS_2