
"Selamat ya, Elvan, Kayla semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmmah. Semoga kebahagiaan selalu bersama kalian," ucap Rio sembari menjabat tangan Elvan.
"Terimakasih, Dokter," sahut Elvan.
Rio tersenyum ramah lalu dia menjabat tangan Kayla.
"Semoga, dokter Rio segera menyusul kami," ucap Kayla.
"Amin, terimakasih," sahut Rio.
"Pak Dokter ke sini sendirian?" tanya Elvan.
"Tidak, saya bersama teman tapi tiba-tiba dia merasa sakit perut sekarang dia sedang ke toilet."
Rio sengaja berbohong karena tidak mungkin dia mengatakan bahwa Biani tidak ingin menemui mereka karena takut menyinggung perasaan mereka.
"Saya gak bisa lama-lama karena saya ada tugas jaga malam di rumah sakit. Semoga bahagia selalu ya," ucap Rio lagi.
"Baik, terimakasih dokter."
Rio turun dari pelaminan lalu mencari Biani. Dia berjalan sembari mengedarkan pandangannya.
Di tempat yang berbeda namun masih didalam gedung yang sama.
"Lo tuh ya, lepas dari kak Leon bisa-bisanya mendekati dokter Rio. Lo pintar banget cari cowok tajir!" ucap Rania kepada Biani dengan nada judesnya.
Biani tak berkata apa pun, dia menundukkan kepalanya, dia tak berani menatap wajah Rania yang menakutkan.
"Rania kamu bicara apa? Tidak boleh seperti itu," ucap Shania.
"Kak Shania kenapa bela perempuan ini? Jelas-jelas dia ini pernah hampir membuat kakak mati tahu gak."
"Rania sudahlah, lagian kakak sudah memaafkan Biani."
"Dia pernah sangat jahat padamu tapi dengan mudahnya kakak memaafkan dia? Aku tidak habis pikir."
"Rania sudahlah, jangan ungkit masa lalu."
Rania berjalan lebih mendekati Biani!
"Lo hanya ingin memanfaatkan Kak dokter saja kan? Karena lo tahu kak dokter itu orang kaya raya," ucap Rania pada Biani.
"Rania!" Leon membentak Rania hingga membuat Rania terperanjat.
"Jaga ucapan mu. Dia adalah tamu kita," ucap Leon.
"Oh, jadi sekarang kakak juga membela wanita ini? Aku tidak mengerti dengan bagaimana cara berpikir kalian berdua."
Rania pergi dari tempat itu meninggalkan mereka bertiga!
"Biani, Maaf ya," ucap Leon.
"Tidak apa-apa. Rania berhak marah dan membenci aku," sahut Biani.
Tak lama Rio datang menghampiri mereka.
"Rupanya kamu di sini, Bi. Aku sudah lelah mencari dirimu," ucap Rio pada Biani.
"Aku di sini ditemani oleh Shania," ucap Biani.
"Terimakasih, Shania kamu sudah menjaga bidadari cintaku."
Shania tersenyum tipis. "Yang lagi kasmaran, lebay banget," ucap Shania.
"Kalau cocok gas dong, bawa dia ke pelaminan," ucap Leon.
"Do'akan saja semoga kami cepat menyusul kalian," sahut Rio.
"Kamu nyusul kita kamu gak akan bisa karena sebentar lagi kami akan memiliki putra," ucap Leon sembari mengusap perut Shania lalu dia memeluk Shania dari belakang.
Rio tertawa kecil. "Kamu bisa saja."
__ADS_1
"Atau kalau mau buat anak dulu baru nikah, kan cepat tuh," ucap Leon.
"Wah, Leon ide kamu bagus juga biar kita punya anaknya barengan," sahut Rio dengan penuh semangat.
Shania dan Biani saling tatap kamu mereka menatap Rio dan Leon secara bergantian.
"Kamu apa sih Leon, ngasih ide kok gak bener," ucap Shania.
Biani hanya tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya.
"Hey, Biani. Kamu mau gak bikin anak dulu baru kita nikah?" ucap Rio.
Biani memukul dada Rio dengan sedikit keras!
"Enak saja! Kamu pikir aku apa?"
"Duh, dipukul saja rasanya seperti dielus-elus," ucap Rio.
Wajah Biani memerah, dia merasa malu kepada Leon dan Shania.
"Dokter juga bisa gitu ya," ucap Leon.
Shania tertawa kecil, "dokter juga laki-laki. Emang kamu saja yang bisa kek gitu."
"Rio kamu udah selesai belum? Kita pulang yuk! Udah hampir jam sepuluh malam nih," uv Biani.
Rio melihat jam di tangannya!
"Oh, iya. Ya udah kita pulang sekarang."
Rio menatap Leon lalu menatap Shania.
"Leon, Shania, kita berdua pulang duluan ya," ucap Rio kepada Leon dan Shania.
"Baru-baru banget? Baru jam segini," ucap Shania.
"Iya, soalnya aku bawa anak orang nih, kalau pulangnya kemalaman nanti aku gak dibolehin ketemu lagi sama bidadari satu ini," ucap Rio.
Rio tertawa kecil, "perempuan suka gitu ya, Shania. Suka malu-malu padahal mau," ucap Rio.
"Nggak tuh. Aku kalau suka ya suka kalau tidak ya tidak."
Rio tersenyum sembari menatap Biani dengan tatapan jahilnya.
"Leon, Shania aku sama Rio pulang dulu ya. Selamat malam dan terimakasih sudah menyediakan yang terbaik untuk kami," ucap Biani pada Leon dan Shania.
Shania hanya menanggapi perkataan Biani dengan senyuman.
"Kita pulang duluan ya." Rio dan Biani melangkahkan kakinya meninggalkan gedung itu!
Shania dan Leon menatap kepergian mereka hingga mereka sudah tak terlihat lagi, baru Shania dan Leon melakukan aktivitasnya lagi.
"Mereka terlihat sangat cocok," gumam Shania.
"Cocok dari mana?" sahut Leon.
"Dari mananya itu gak penting, yang aku lihat mereka sangat-sangat cocok."
"Nggak. Cocok dari mana?"
"Kamu kok gitu. Jangan-jangan kamu masih cinta sama Biani?"
"Astaga, nggak lah Shania. Aku tuh hanya cinta sama kamu, gak ada yang lain lagi."
"Itu buktinya."
"Mereka gak cocok karena mereka belum menikah."
Shania menatap Leon penuh tanya, mengapa Leon berkata seperti itu.
"Maksud kamu?" tanya Shania.
__ADS_1
"Mereka gak cocok tidur bareng karena mereka belum menikah. Mereka baru cocok setelah menikah nanti."
"Dasar mesum." Shania berjalan meninggalkan Leon di tempat itu!
"Shania tunggu! Kenapa kamu malah ninggalin aku?"
Leon berlari mengejar Shania yang sedang berjalan menghampiri Rania!
"Rania, kamu kenal sama Rio?" tanya Shania.
"Rio? Siapa Rio?" ucap Rania.
"Itu tadi, laki-laki yang bersama Biani."
"Oh, Kak dokter. Kenal enggak hanya tahu sedikit saja tentang dia."
"Kamu tahu dari mana kalau dia orang kaya?"
"Tahu dari aku sendiri. Aku pernah ke rumahnya satu kali."
"Hey Rania, kenapa kamu kegenitan gitu? Sampai nyamperin laki-laki kek gitu," ucap Leon yang mendengar pembicaraan mereka.
"Siapa yang kegenitan? Aku ke sana hanya untuk mengantarkan adiknya kak dokter yang terluka karena dibegal di jalan," jelas Rania.
"Apa! Begal?" ucap Shania terkejut.
"Ceritanya panjang, kalau diceritain sekarang gak bakal selesai sampai besok," ucap Rania.
"Rio punya adik?"
"Iya," sahut Rania dan Shania bersamaan.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Leon lagi.
"Laki-laki."
Lagi-lagi Shania dan Rania menjawab pertanyaan Leon secara bersamaan.
"Kalian kompak banget. Awas ya kamu Rania kalau main cinta-cintaan."
"Nggak kok kak, aku gak main cinta-cintaan tapi aku cinta seriusan gak ada main-mainnya."
"Rania." Leon menatap Rania tajam.
Rania dan Shania balik menatap Leon lalu mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
"Kalian kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa," sahut Shania.
"Kenapa kakak marah gitu? Aku hanya bercanda, lagi pula aku sama adiknya kak dokter itu baru kenal beberapa hari lalu."
Di atas pelaminan.
Elvan dan Kayla saling bertatapan keduanya sama-sama mengukir senyuman terbaiknya.
"Akhirnya aku bisa memiliki dirimu seutuhnya," ucap Elvan.
"Akhirnya aku juga mendapatkan kamu yang aku cintai," ucap Kayla.
Elvan menggenggam tangan Kayla dan mengangkatnya sampai batas pinggangnya!
"Aku akan selalu membuat dirimu bahagia, aku tidak akan pernah membiarkan kamu bersedih. Hanya akan ada kebahagiaan dalam rumah tangga kita nanti," ucap Elvan.
Kayla tersenyum saat mendengar perkataan Elvan yang indah itu.
"Amin, semoga kamu tidak akan pernah lupa dengan ucapan mu hari ini."
Saat keduanya sedang asyik mengobrol tanpa mereka sadari orang tua mereka memperhatikan mereka dan ternyata Leon merekam kejadian itu.
"Sosweet banget, jadi pengen muda lagi deh," ucap Shila.
__ADS_1
Bersambung