
Pagi telah tiba, matahari mulai menyinari dunia. Seperti biasa setiap hari Liana selalu ikut suaminya ke kantor, hanya untuk menemani suaminya dan juga untuk saling mengenal satu sama lain.
Rendy dan Liana sudah siap untuk berangkat ke kantor, kali ini mereka diantar oleh supir pribadi Rendy, karena kondisi Rendy yang belum sepenuhnya pulih.
Sebenarnya Liana sudah menawarkan diri untuk mengemudikan mobil, tapi Rendy melarangnya karena ia tak mau istrinya kecapean nantinya.
Selama diperjalanan tak ada sedikitpun pembicaraan baik dari Rendy maupun Liana, keduanya asyik dengan pemikirannya masing-masing.
Setelah sampai di kantor Rendy dan Liana berjalan beriringan menuju dimana ruangan Rendy berada.
Sementara itu Ken yang sudah tiba di kantor lebih dulu, sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya meski belum waktunya memulai pekerjaan.
Rendy yang melihat Ken sedang sibuk dengan pekerjaannya, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Rendy langsung menerobos masuk ke ruangan Kendra.
Ken yang sedang fokus pada layar laptopnya mengalihkan pandangannya kearah Rendy lalu kembali fokus pada laptopnya.
"Masih pagi, belum waktunya kerja. Udah saran belum? " ucap Rendy yang masih berdiri di depan meja kerjanya Ken.
Tanpa disuruh Rendy duduk disofa yang ada diruangan Kendra.
"Aku udah saran kok," saut Ken sambil terus fokus pada laptopnya.
Liana berjalan menghampiri Kendra! ditatapnya layar laptop yang berada didepan Ken dengan tumpukan berkas di samping laptop itu.
"Kerja mulu, gimana mau ngerasain tidur dipangkuan istri," ucap Liana, "sebanyak inikah kerjaanmu?" sambungnya lagi.
Seperti biasa, kalau Liana sedang tidak kesal, ia selalu bersikap ramah terhadap siapapun termasuk terhadap Ken.
"Iya," jawab Ken singkat pandangannya tak pernah lepas dari layar laptopnya.
"Jangan ngurusin kerjaan terus. Kamu juga harus memikirkan tentang dirimu tentang kebutuhan pribadimu," ucap Liana yang masih berdiri disamping Kendra.
Rendy berjalan menghampiri wanita yang kini telah menjadi istrinya itu!
"Maksud, kamu?" tanya Rendy kepada istrinya.
"Baru mau nanya, eh sudah ada yang mewakili," ucap Ken dengan tangan yang masih sibuk mengutak-atik laptopnya.
"Katanya pengen ngerasain tidur dipangkuan seorang istri, kalau kamu gak nyari wanita untuk dijadikan istri, sampai kapanpun kamu gak akan ngerasain bagaimana rasanya berada diposisi Rendy waktu malam itu," jelas Liana panjang lebar.
Ken mengarahkan pandangannya kearah Liana, ia baru ingat kalau semalam ia menolong seorang wanita.
"Aduh lupa nanya lagi, siapa namanya." Ken memukul kepalanya sendiri dengan perlahan.
Liana dan Rendy saling pandang satu sama lain, mereka tidak mengerti dengan ucapan yang terlontar dari mulut Ken.
"Maksudnya?" tanya Rendy dan Liana secara bersamaan.
__ADS_1
"Kompak banget kalian berdua," ucap Ken dengan pandangan yang tak pernah lepas dari laptopnya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Kamu lupa nanya nama siapa?" ucap Rendy yang merasa penasaran.
"Ken, apa kamu sudah menemukan seorang wanita untuk jadi kekasihmu?" Liana yang tak suka basa-basi langsung bertanya pada intinya.
Ken memandang Liana dan Rendy secara bergantian.
"Kalian kenapa menyersngku dengan pertanyaan seperti itu?" ucap Ken yang mulai salah tingkah.
"Mencurigakan," ucap Rendy sembari menutup laptop yang dari tadi tidak pernah lepas dari pandangan Kendra.
Kendra menarik nafas perlahan lalu membuangnya kasar.
"Semalam aku menolong seorang wanita yang diganggu oleh preman, dan aku juga mengantarkan wanita itu pulang kerumahnya. Sayangnya aku lupa menanyakan siapa namanya," jelas Ken panjang lebar.
"Dadar bodoh." Rendy memukul lengan Ken dengan berkas yang dipegangnya! "wanita itu cantik tidak?" tanya Rendy.
"Terus kalau wanita itu cantik. Kamu mau apa, mau deketin dia juga?" ucap Liana disela percakapan Rendy dengan Ken.
Ken dan Rendy menatap Liana secara bersamaan, tak ada kata yang terlontar dari mulut Ken dan Rendy keduanya masih menatap Liana dengan intens.
Hening tak ada satupun yang bersuara. Beberapa menit kemudian Liana membuka suara, "Kalian kenapa memandangku seperti itu?"
Liana yang tak sadar dengan ucapannya tadi, merasa bingung dengan sikap Rendy dan Ken yang memandangi dirinya.
"M_maksud kamu apa?" Liana bertanya balik kepada Ken dengan terbata-bata.
Liana baru sadar kalau ucapannya tadi seolah ia sedang cemburu kepada Rendy, saat suaminya itu bertanya apakah gadis yang ditolong Ken, cantik atau tidak.
"Cie cie ... ada yang cemburu," ucap Rendy menggoda Liana.
Seketika wajah Liana memerah, ia merasa malu dengan ucapannya sendiri.
"Apaan sih? gak jelas."
Liana berlari kecil menuju ruangan Rendy meninggalkan dua orang yang sedang membicarakan seorang wanita.
Sementara Rendy dan Ken tidak mengerti kenapa sikap Liana jadi seperti itu.
"Dia beneran cemburu?" tanya Ken kepada Rendy.
"Mana kutahu. Memangnya kalau wanita sedang cemburu, seperti itu?" Rendy bertanya balik kepada Kendra.
"Dasar Bodoh. Memangnya dulu Jenny tidak pernah melakukan hal seperti itu?" tanya Ken, "rata-rata kalau wanita sedang cemburu akan marah tanpa sebab. Seperti Liana barusan," jelas Ken.
"Owh, begitu ya."
__ADS_1
Ken tidak mengerti dengan Rendy yang tidak peka dengan keadaan ini.
"Memangnya Jenny tidak pernah cemburu padamu?" tanya Ken karena tidak mungkin Rendy tidak tahu kalau Liana sedang cemburu tadi.
"Jenny tidak pernah bersikap seperti itu," ucap Rendy.
Selama Rendy berpacaran dengan Jenny. Ia tidak pernah melihat Jenny bersikap seperti Liana meskipun ia sedang dekat dengan wanita lain.
"Cepat lu kejar Liana. kalau dia beneran pergi, baru tau rasa lu," ucap Ken kepada Rendy.
Tanpa menjawab ucapan Ken, Rendy segera berlari menyusul Liana.
Rendy membuka pintu ruangannya dengan sedikit kasar! Perasaannya menjadi lega kala ia melihat Liana sedang duduk disofa yang ada di ruangannya dengan posisi membelakanginya.
"Li, kamu marah padaku?" Rendy berjalan menghampiri istrinya.
Liana berbalik menghadap sang suami.
"Tidak. kenapa harus marah?"
"Tadi kamu ... maaf jika tadi aku membuatmu marah," ucap Rendy dengan nada lembut.
"Siapa yang marah? aku tidak marah, lagipula aku tidak bisa melarangmu kan," ucap Liana, ia mulai tenang rasa marah yang tadi melandanya kini sudah tiada.
"Kalaupun kamu cemburu tidak apa, itu hak mu. Kamu istriku jadi tidak ada salahnya jika memang kamu merasa cemburu."
Rendy menggenggam tangan Liana dengan lembut, "maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu marah."
"Aku tidak apa-apa. Sudah kubilang, aku baik-baik saja," ucap Liana sembari memalingkan wajahnya.
Rendy tersenyum, ternyata begini rasanya dicemburui oleh orang yang menyayanginya.
Rendy memegang rahang bawah Liana lalu mengarahkannya untuk menghadap ke wajahnya! "Kamu cantik kalau lagi marah," goda Rendy.
Liana melepaskan tangan Rendy yang masih memegangi rahangnya! "jangan menggodaku," ketuanya.
"Aku serius. Maaf ya." Rendy meminta maaf lagi kepada wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.
Rendy mulai mengetahui kalau saat ini Liana sudah mencintainya. Ada rasa bahagia dihatinya, meski sampai saat ini ia masih mencintai Jenny.
Bersambung.
Rekomendasi novel yang bagus untuk kalian baca.
Judul: Apa salahku tuan?
karya: Muda Anna.
__ADS_1