Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 53


__ADS_3

Beberapa bulan sudah berlalu, setelah Rendy dan Liana saling menyatukan hati dalam ikatan pernikahan atas nama cinta.


Saat ini Rendy sedang berada di kantor.


Drrt! dret! drrt!


Bunyi notifikasi handphone Rendy tanda ada pesan masuk.


Rendy segera meraih ponselnya dari meja kerjanya lalu melihat siapa yang mengirim pesan itu.


Tertera nomor baru di layar ponselnya, Rendy membuka isi pesan tersebut.


📩 "Temui aku di tempat biasa kita bertemu!"


📩 "Jenny."


"Jenny," lirih Rendy.


Rendy hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya.


Beberapa menit kemudian sebuah pesan kembali masuk dari nomor yang sama, kini nomor itu mengirim sebuah foto.


Didalam foto itu ada gambar Jenny yang penuh luka lebam diwajahnya.


Rendy menatap foto itu lekat perasaannya mulai iba kepada wanita yang dulu pernah mengisi kekosongan hatinya.


Rendy membalas pesan dari Jenny.


📩 "Kamu kenapa?"


Tak lama Jenny membalas pesan dari Rendy.


📩 "Nanti aku ceritakan. Temui aku ditempat biasa kita bertemu."


Setelah membaca pesan itu, Rendy langsung menghapusnya dari ponselnya. Rendy tak ingin Liana tahu tentang ini karena ia tahu Liana pasti tersakiti karena pesan itu.


Rendy bergegas pergi dari kantornya untuk menemui Jenny!


Ren, mau kemana lo?" tanya Ken saat melihat Rendy berjalan tergesa-gesa.


"Ada urusan sebentar!" ucap Rendy sembari terus berjalan.


Ken menatap Rendy penuh tanya, tak biasanya Rendy bersikap seperti itu.


"Ada apa dengan anak itu?" ucap Ken sembari mengambil ponselnya dari saku celananya.


Ken menelpon Liana, takutnya terjadi apa-apa terhadapnya.


Tak lama Liana mengangkat telpon dari Ken.


📞 "Halo, Ken ada apa?" ucap Liana dari sebrang telepon.


📞 "Li, kamu baik-baik aja kan?" tanya Ken.

__ADS_1


📞 "Ya. Memangnya ada apa?"


📞 "Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja," ucap Ken lalu ia memutuskan sambungan teleponnya.


"Liana baik-baik saja. Aku harus telpon mama mungkin ada yang terjadi sama mama," gumam Ken.


Ken langsung menelpon Elma untuk menjawab rasa penasarannya.


Tak perlu menunggu lama suara Elma sudah terdengar dari sebrang telepon.


📞 "Halo, sayang."


📞 "Halo, Mam. Apa kabar?" ucap Ken basa-basi.


📞 "Mama baik-baik aja, sayang. Ada apa, Nak?"


📞 "Tidak ada apa-apa, Mam. Aku kangen sama Mama tapi aku belum bisa pulang untuk menemui Mama," ucap Ken.


📞 "Oh. Mama kira ada apa," ucap Elma.


📞 "Udah dulu ya, Mam aku masih banyak kerjaan," ucap Ken lalu memutuskan sambungan teleponnya.


"Rendy kenapa? sikapnya begitu aneh," gumam Ken.


Ken menghilangkan prasangka buruknya terhadap Rendy, mungkin benar kakaknya itu ada urusan mendadak yang gak bisa ditinggalkan.


Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit Rendy tiba di sebuah kafe tempat biasa ia bertemu dengan Jenny.


Rendy mengedarkan pandangannya kesemua arah namun ia tak melihat Jenny di tempat itu.


Rendy mencium aroma parfume yang tak asing baginya.


Rendy melerai pelukan orang itu dari perutnya lalu ia berbalik badan.


"Aku tahu ini pasti kamu," ucap Rendy.


"Kangen," ucap Jenny dengan gaya sok manjanya sambil memeluk Rendy lagi.


"Untuk apa kamu kembali?" ucap Rendy dingin.


"Sayang, aku diculik. Kenapa kamu gak nyari aku?" ucap Jenny dengan air mata kepalsuan.


"Diculik atau sengaja pergi dengan uang perusahaan?" Rendy masih bersikap dingin terhadap Jenny.


"Sayang, kamu kok bicaranya seperti itu?" ucap Jenny seolah tidak tahu apa-apa.


"Kamu pergi sama Bram kan?" ucap Rendy lebih dingin dari sebelumnya.


"Aku tahu kamu liburan ke luar negeri bersama orang tidak tahu diuntung itu," ucap Rendy lagi.


Jenny panik, ia tidak tahu harus beralasan apa untuk bisa masuk kembali ke dalam kehidupannya Rendy.


"S-s-sayang. A-aku, aku ... aku memang diculik dan diancam oleh sahabatmu itu," ucapan Jenny gugup tapi akhirnya ia menemukan alasan lain.

__ADS_1


Jenny memang pintar mencari alasan dia juga pandai memikat hati seorang laki-laki.


"Semoga si bodoh ini percaya dengan ucapanku," ucap Jenny didalam hatinya.


"Jangan berbohong kepadaku. Aku tahu kamu bercumbu mesra dengan penghianat itu. Menjijikkan," ucap Rendy, ia menekan ucapannya yang terakhir.


"Sayang aku diancam sama dia, kalau aku tidak menuruti keinginannya aku akan disiksa sama dia," ucap Jenny, tentu saja dengan air mata palsu yang mengalir di pipinya.


Rendy terdiam dalam seribu bahasa, ia tak menjawab ucapan Jenny.


"Sayang, lihat ini dan semua bekas luka di tubuhku ini. Kamu tahu ini perbuatan siapa? ini perbuatan Bram karena aku sering menolaknya untuk bercumbu, dia sering memukuli aku dia suka menyiksa aku," ucapan Jenny dengan nada lirih.


Rendy menatap wajah Jenny sekilas, memang benar ada luka lebam diwajahnya. Rendy kembali memperhatikan pundak, leher dan tangan Jenny.


Terlihat jelas banyak bekas luka pada tubuh wanita itu bahkan ada beberapa luka yang belum kering.


"Jenny ... ."


"Sayang kamu percaya kan sama aku?" lirih Jenny.


Rendy terdiam ia ingat dengan Liana yang sedang menunggunya pulang.


Setelah beberapa menit tak ada pembicaraan diantara keduanya, Rendy beranjak dari duduknya!


"Aku mau balik ke kantor, kita bertemu lagi nanti jika aku ada waktu senggang," ucap Rendy sembari meraih kunci mobilnya.


Greep! Jenny kembali memeluk Rendy dengan erat dan penuh cinta.


Jenny memeluk Rendy agak lama, wanita itu membenamkan wajahnya di dada Rendy.


"Jenny, tolong lepasin," ucap Rendy sembari melerai pelukan Jenny.


"Biarkan seperti ini dulu, aku masih rindu sama kamu," lirih Jenny.


Rendy hanya diam tanpa kata, ia membiarkan wanita itu memeluknya. Entah apa yang ada dalam pikiran Rendy saat ini.


Setelah lima menit lebih Jenny baru melepaskan tangannya yang melingkar ditubuh Rendy!


"I love you. Aku selalu mencintaimu," bisik Jenny lalu mencium bibir Rendy sekilas.


Jenny memang sudah biasa mencium bibir Rendy, baginya itu adalah hal biasa yang tidak pernah merugikan dirinya.


"Aku pergi," ucap Rendy sembari membelai rambut Jenny.


Rendy pergi meninggalkan Jenny di tempat itu. Setelah Rendy sudah tidak terlihat lagi, Jenny mengusap air matanya lalu tersenyum licik.


"Sebentar lagi kamu akan ada dalam genggamanku lagi, Rendy." Jenny meninggalkan tempat itu dengan perasaan bahagia dan penuh percaya diri.


Rendy sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


Kata-kata Jenny barusan masih terngiang di telinganya, Rendy mulai merasakan kembali getaran cinta yang telah lama terlupakan tapi Rendy mencoba untuk menepis perasaan itu karena sekarang ia sudah memiliki Liana.


Bayangan senyum Jenny terus melintas dipikiran Rendy ditambah lagi wajah cantik Liana juga selalu ada dalam ingatannya, membuat Rendy merasa frustasi.

__ADS_1


"Aaaaaah!" Rendy berteriak didalam mobilnya hingga mobil yang ia kendarai hilang keseimbangan, untungnya Rendy segera mengendalikan emosinya hingga ia terhindar dari kecelakaan.


Bersambung.


__ADS_2