
"Van, kapan, Mama punya menantu?" tanya Shila kepada Elvan.
"Mama, ada pertanyaan lain gak? Selain pertanyaan itu?" ucap Elvan yang sedang duduk di teras rumahnya.
"Ada, tapi Mama maunya nanyain itu," ucap Shila lagi.
"Kalau udah ada yang cocok, nanti aku kenalin sama Mama," ucap Elvan sembari terus menatap layar ponselnya.
"Selalu itu jawabanmu."
"Selama aku belum nemu yang cocok, jawabanku ya seperti itu," sahut Elvan.
"Atau kamu mau di jodohkan dengan anaknya teman Mama?" ucap Shila.
Elvan menatap Shila dengan tatapan tajam.
"Ma, tolong jangan lakukan itu padaku. Lagipula mencari istri itu susah, Ma gak kayak cari pacar yang tinggal ngucapin kata cinta langsung dapat pacar," ucap Elvan.
"Sebelum menjadi istri kan jadi pacar dulu, lah kamu punya pacar saja belum pernah," ucap Shila.
"Mama sok tahu," ucap Ken sembari berjalan menghampiri Shila dan Elvan!
"Memang Elvan belum pernah punya pacar," ucap Shila.
"Mama sok tahu. Memangnya kalau aku punya pacar harus bilang sama Mama gitu?"
"Sudah-sudah, kalian berantem terus," ucap Kendra.
"Ma, katanya putrinya Arkhana cantik dan dia baru pulang dari Jerman," ucap Kendra.
Elvan menatap Papanya.
"Pasti ujung-ujungnya perjodohan," ucap Elvan ketus.
"Dengar dulu Van. Papa belum selesai bicara," ucap Kendra.
"Kalau membahas perempuan dan dia adalah putrinya teman Mama atau Papa apa lagi dia gadis, jurusannya pasti ke arah perjodohan. Udah deh Pa, Ma, aku gak mau dijodoh-jodohkan. Sekarang bukan zamannya Siti Nurbaya lagi," ucap Elvan.
"Elvan, maksud Papa kamu kenalan dulu sama dia, kalau cocok lanjutkan kalau tidak, Papa gak maksa," ucap Ken.
"Terserah!" Elvan berdiri lalu berjalan meninggalkan Shila dan Ken!
"Tuh kan, Papa sih. Elvan jadi marah kan," ucap Shila.
"Mama kok jadi nyalahin, Papa?" sahut Ken.
"Sudah malam, ayo kita istirahat!" ucap Shila.
Shila dan Ken berjalan beriringan menuju kamarnya!
"Ma, gimana kalau nambah anggota keluarga lagi? Kita bikin adiknya Elvan yuk!" ucap Ken dengan senyum tipis di bibirnya.
Shila memukul lengan Ken! "Udah tua, malu sama anak," ucap Shila.
Di dalam kamarnya Elvan.
Elvan duduk di bibir ranjang sembari memainkan ponselnya!
Elvan memilih bermain game daripada memikirkan perkataan Papa dan Makanannya yang menyarankannya untuk berkenalan dengan putri dari teman Mamanya.
Setelah lama bermain game, Elvan terus kalah karena dia tidak bisa fokus.
__ADS_1
Elvan berdecak kesal.
"Kenapa aku jadi gak tentang," gumam Elvan.
Elvan merasa tidak tentang karena takut orang tuanya akan menjodohkannya apalagi setelah melihat kejadian di rumah Leon membuat Elvan semakin takut.
"Aku harus gerak cepat sebelum, Mama sama Papa menjodohkan aku," gumam Elvan.
"Tapi dimana aku bisa menemukan gadis yang cocok yang mau menjadi kekasihku," ucap Elvan lagi.
Elvan mengacak rambutnya frustasi!
"Aaah! Mama sama Papa bikin aku pusing saja."
Elvan merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya!
...****************...
Shania sedang melahap makan yang ia masak sendiri tanpa menghiraukan Leon yang mungkin saja kelaparan karena belum makan dari tadi siang.
Leon berjalan melewati Shania yang sedang makan sambil menatap makan yang tertata di atas meja makan.
"Kalau lapar, makan saja. Gak usah gengsi, kalau nanti kamu sakit, siapa yang mau ngurusin. Aku sih ogah banget," ucap Shania tanpa senyum sedikitpun.
Leon tak menanggapi perkataan Shania, ia mengambil segelas air minum lalu membawanya kedalam kamarnya.
Shania terus melanjutkan makannya tanpa menghiraukan Leon yang pergi begitu saja tanpa menjawab perkataannya.
Setelah selesai makan, Shania segera memasuki kamarnya untuk beristirahat!
"Aku harus mulai menyusun rencana untuk mendapatkan hati Leon. Bagaimana pun caranya, aku harus bisa membalas semua perlakuan Leon kepadaku," ucap Shania didalam hatinya.
"Aku cantik, Bahkan lebih cantik diriku jika dibandingkan dengan wanita pilihan Leon," ucap Shania sembari terus memperhatikan wajahnya.
"Jangan kamu pikir, aku akan diam saja setelah menerima perlakuan tidak menyenangkan darimu, Leon. Lihat saja aku juga akan membuat gadis itu merasakan hal yang sama saat aku menyaksikan kemesraannya dengan Leon," gumam Shania.
Shania yang awalnya akan menjalani pernikahan seperti layaknya sepasang suami istri yang menikah dengan cinta berubah menjadi dendam karena mendapatkan penghinaan dan perlakuan yang kurang menyenangkan dari Leon.
Di kamar Leon.
Leon sedang berbaring di tempat tidurnya sambil mengingat kebersamaannya dengan Biani tadi siang. Seolah tanpa dosa, Leon tak menghiraukan Shania yang sudah berstatus sebagai istrinya.
Leon mengukir senyuman di bibirnya saat mengingat ciuman panas yang ia lakukan bersama Biani tepat dihadapan Shania.
"Aku yakin kamu gak akan bertahan lama menjadi istriku karena aku akan membuatmu tidak merasa nyaman dan akhirnya kamu yang akan minta cerai padaku," ucap Leon didalam hatinya.
Leon memang sengaja melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukannya, untuk membuat Shania marah dan tidak dapat mempertahankan rumah tangga yang mereka jalani.
"Shania, maaf aku harus melakukan ini padamu karena aku tidak bisa berpisah dari Jenny, aku sangat mencintai Jenny. Kalau bukan karena orang tua, aku tidak mungkin menikahi dirimu," gumam Leon.
Leon menutup matanya, perlahan ia pergi ke alam mimpi.
...****************...
Keesokan harinya.
Leon terbang dari tidurnya, ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 09:20 waktu setempat.
"Astaga! Aku kesiangan."
Leon terkejut dan langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri!
__ADS_1
Shania sudah bersiap untuk pergi ke suatu tempat.
Leon turun dari lantai dua rumahnya dengan sedikit berlari!
"Jangan terburu-buru, nanti kamu terjatuh," ucap Shania yang sedang berdiri di samping tangga.
"Kenapa tidak membangunkan aku? Aku kesiangan," ucap Leon tanpa menghentikan langkahnya.
"Ini, aku buatkan bekal untuk nanti kamu sarapan di kantor," ucap Shania sembari menyodorkan sebuah rantang kecil.
Leon menatap Shania.
"Tidak ada racunnya kok. Dari kemarin siang kamu belum makan, aku takut kamu sakit," ucap Shania dengan ramah.
Karena sudah kesiangan, Leon meraih rantang itu dari tangan Shania lalu segera pergi.
Shania tersenyum setelah Leon menerima rantang berisi makanan yang ia buatkan untuk Leon.
"Rencana pertama berhasil, tinggal siapin rencana selanjutnya," gumam Shania.
Leon melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata! Hari ini ada pertemuan penting dengan pihak perusahaan yang baru akan membicarakan tentang kontrak kerja sama dengan perusahaannya.
"Elvan, kenapa kamu gak telpon aku, tadi pagi," gerutu Leon sambil terus berkendara.
Leon tiba di kantor hampir jam 12 siang.
Leon berlari menuju ruang rapat, namun tempat itu sudah sepi tidak ada seorang pun yang berada di sana.
Pertemuan antar perusahaan itu sudah selesai, mereka sudah pergi dari kantornya sejak setelah jam yang lalu.
"Dari mana saja, jam segini baru datang?" ucap Elvan.
"Van, aku ... ."
"Mereka sudah pergi sejak setelah jam yang lalu," ucap Elvan.
"Lalu bagaimana dengan kontrak kerja sama nya?" tanya Leon.
"Semua sudah beres," ucap Elvan.
Leon menarik nafas lega. "Syukurlah," ucapnya.
"Untung aku orangnya bisa diandalkan," ucap Elvan sembari berjalan menuju ruangannya!
"Van, maaf ya," ucap Leon.
"Tidak masalah," ucap Elvan.
beberapa menit kemudian Elvan keluar dari ruangannya dengan kunci mobil di tangannya!
"Mau kemana?" tanya Leon.
"Makan siang. Ini udah jam 12 lewat banyak," ucap Elvan sembari terus berjalan.
Leon teringat dengan bekal yang Shania buatkan untuknya.
Leon berjalan menuju mobilnya untuk mengambil bekal itu, sebenarnya dari semalam ia sangat lapar namun merasa malu jika harus memakan makanan yang Shania masak.
Leon mengambil rantang itu lalu membawanya ke ruangannya!
Bersambung
__ADS_1