
Setelah mendapatkan penanganan dokter, Elvan langsung diperbolehkan pulang karena tak memerlukan perawatan intensif.
"Sakit, ya," ucap Kayla.
Kayla menatap luka tusukan yang terdapat pada lengan Elvan.
"Sakit, tapi sebenarnya gak seberapa. Dulu aku pernah mengalami luka yang lebih parah dari ini," ucap Elvan.
"Kenapa?" tanya Kayla dengan antusias.
"Karena terjatuh dari bukit yang lumayan tinggi dan aku mendapat luka sobek di kaki karena terkena ranting yang patah," jelas Elvan.
Elvan dan Kayla terus berjalan berdampingan menuju mobilnya!
Saat mereka akan masuk kedalam mobilnya, Leon berlari ke arah mereka sambil berteriak memanggil nama Elvan.
"Van!"
Leon berlari menghampiri Elvan.
"Kamu telat, aku sudah diperbolehkan pulang sama dokter," ucap Elvan setelah Leon tiba didekatnya.
"Maaf, tadi aku ada urusan sebentar," ucap Leon.
Sebelumnya Elvan memang menelpon Leon untuk menjemputnya di rumah sakit karena ia merasa tidak bisa menyetir sendiri namun ternyata lukanya tidak terlalu parah dan ia juga masih bisa mengemudikan mobilnya tanpa bantuan orang lain.
Kayla yang sudah berada di pintu mobil sebelum kanan, mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam mobil tersebut, ia kembali berjalan menghampiri Elvan yang sedang mengobrol dengan seseorang.
"Kamu?" Leon mengarahkan jari telunjuknya ke arah Kayla.
Kayla menatap Leon. "Kamu kenal sama Elvan?" Kayla bertanya kepada Elvan.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu."
"Kalian saling mengenali?" tanya Elvan sembari menatap Kayla lalu menatap Leon.
"Tidak," ucap Kayla.
"Kami pernah bertemu. Gadis ini juga yang menolong aku saat aku dikeroyok oleh orang yang tidak dikenal," jelas Leon.
"Gimana dengan lukanya, Van?" Leon memeriksa luka yang terbalut kain kasa itu.
"Seperti yang kamu lihat."
"Van, aku pulang sendiri saja ya," ucap Kayla.
Leon menatap Kayla dengan tatapan aneh.
"Jadi, kamu juga yang nganterin Elvan ke rumah sakit?"
"Iya." Kayla mengangguk pelan.
"Tidak, Kay. Aku yang nganterin kamu pulang," ucap Elvan.
"Tapi ...."
"Aku membawamu pergi atas izin ibumu dan dari rumahmu masa aku mengembalikan anak orang tampa sepengetahuan orang tuanya dan membiarkan kamu pulang sendiri. Aku tidak mau mendapat gelar sebagai laki-laki tidak bertanggungjawab," ucap Elvan.
"Kelihatannya kalian sudah dekat," ucap Leon.
"Kami baru kenal," ucap Elvan.
"Leon aku pergi untuk mengantarkan gadis yang aku pinjam dari orang tuanya dulu ya."
"Gak sekalian saja kamu beli. Dia manusia masa disamain sama barang?" ucap Leon sembari memukul dada Elvan pelan!
"Kalian terlihat sangat akrab. Sudah berteman lama ya?" Kayla bertanya karena penasaran dengan kedekatan Leon dan Elvan.
"Elvan adik sepupuku," jelas Leon.
"Anda kan putranya Pak Rendy yang sekarang memimpin perusahaannya kan?" ucap Kayla.
"Kamu tahu siapa aku?"
"Siapa yang gak tahu dan gak kenal sama putra pemilik perusahaan ternama di kota ini," ucap Kayla.
__ADS_1
"Kamu berlebihan. ya, udah Van kalau kamu bisa nyetir sendiri, aku mau pulang karena Shania sendirian di rumah."
Leon berjalan meninggalkan Elvan dan Kayla di tempat itu!
Leon menghentikan langkahnya lalu kembalikan menghampiri Elvan dan Kayla!
"Lupa, aku belum berterimakasih sama kamu," ucap Leon kepada Kayla.
Kayla tersenyum. "Tidak perlu berterimakasih."
"Siapa namamu?"
Kayla mengulurkan tangannya! "Kayla," ucapnya.
"Leon," ucap Leon sembari menjabat tangan Kayla.
"Aku sudah tahu," ucap Kayla.
"Ternyata aku begitu terkenal ya." Leon tertawa kecil.
"Pulang sana, aku juga mau pergi nih," ucap Elvan.
"Iya, ini juga mau pergi kok."
Elvan masuk kedalam mobilnya tanpa menunggu Leon pergi dari tempat itu.
"Kay, ayo masuk!"
Elvan mulai melajukan kendaraannya dengan kecepatan rendah, tangan Elvan terasa sakit saat digerakkan.
"Sakit ya?" ucap Kayla.
"Sedikit."
"Kalau gitu, biar aku saja yang nyetir."
"Tidak perlu, aku bisa kok."
Elvan terus mengemudikan mobilnya namun dengan kecepatan rendah!
Elvan dan Kayla turun dari mobilnya setelah Elvan memarkirkan mobilnya di halaman rumah Kayla.
Mereka berjalan beriringan menuju pintu utama rumah Kayla.
"Assalamu'alaikum," ucap Elvan dan Kayla berbarengan.
"Waalaikumsalam," sahut Mamanya Kayla dari dalam rumah.
Pintu itu terbuka dan langsung nampak Mamanya Kayla berdiri didalam rumahnya.
"Sudah pulang, Nak?" ucap Mamanya Kayla.
"Tante, Kayla, aku langsung pulang ya," ucap Elvan.
"Gak mampir dulu, Nak?"
"Iya, Van. Mampir dulu sebentar saja setidaknya untuk mengistirahatkan tangan kamu yang sakit," ucap Kayla.
"Gak apa-apa kok. Aku baik-baik saja."
"Sakit?" Mamanya Kayla menatap tangan Elvan.
"Kamu kenapa, Nak?"
"Tidak apa-apa Tante."
"Dia kena tusuk oleh orang yang tidak dikenal, Mam saat menolongku dari preman yang menggodaku," jelas Kayla.
Mamanya Kayla menatap Kayla dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Ya Allah, Nak. Kenapa kamu harus mengantarkan Kayla pulang kalau kamu terluka seperti ini."
"Aku menjemput Kayla ke rumah masa aku membiarkan dia pulang sendiri."
Mamanya Kayla dan Kayla terdiam sambil menatap luka di lengan atas Elvan.
__ADS_1
"Aku pulang ya," ucap Elvan. "Permisi, Tante."
Sebelum pergi Elvan mencium punggung tangan Mamanya Kayla.
Elvan masuk kedalam mobilnya lalu mulai melajukan mobilnya!
Saat akan keluar dari halaman rumah Kayla mobil Elvan berpapasan dengan mobil milik Papanya Kayla.
"Siapa yang abis bertamu?" tanya Papanya Kayla setelah turun dari mobilnya.
"Temannya, Kayla," sahut Mamanya Kayla.
Kayla berjalan memasuki rumahnya disusul dengan kedua orang tuanya.
"Kay!" ucap Papanya Kayla.
"Iya, Pa."
"Duduk disini, Nak. Papa mau bicara."
Papanya Kayla menepuk-nepuk kursi disebelahnya!
Kayla yang hendak masuk kedalam kamarnya kini beralih arah menjadi menghampiri Papanya.
"Apa?"
"Tadi, Papa bertemu dengan teman lama, dia memiliki seorang putra dan dia ingin menjadikan kamu sebagai menantunya."
"Perjodohan," sarkas Kayla.
"Dengar dulu, sayang. Papa belum selesai bicara," ucap Mamanya Kayla.
"Mereka orang baik-baik, Nak kenapa tidak mencoba untuk berkenalan dulu dengan anaknya teman Papa itu."
"Ujung-ujungnya juga kalian pasti memaksa. Pa, Ma, aku belum siap menikah," ucap Kayla.
"Papa kan tidak meminta kamu untuk menikah. Papa hanya memintamu untuk berkenalan dengan anaknya teman Papa, kalau cocok ya teruskan kalau gak ya tidak apa-apa," ucap Papanya Kayla.
"Pa, sepertinya Kayla suka sama teman laki-laki nya yang barusan ke sini mengantarkan Kayla," ucap Mamanya Kayla.
"Ini, Mama lebih aneh lagi. Aku belum kenal betul sama Elvan," ucap Kayla.
"Jadi tadi itu laki-laki?"
"Iya, Pa."
"Kenapa tidak dikenakan sama Papa?"
"Mama sama Papa bicara apa sih? Ngebet banget pengen nikahin aku, apa jangan-jangan kalian udah gak mau ngakuin aku sebagai anak ya," ucap Kayla.
"Kayla, tidak seperti itu, Nak."
Kayla pergi meninggalkan Papa dan Mamanya!
"Papa, sih. Marah kan dia," ucap Mamanya Kayla.
"Kok nyalahin Papa."
...****************...
Di kediaman Leon dan Shania.
Shania sedang duduk di kursi ruang keluarga sambil menonton televisi sedangkan Leon memilih bermain game online di teras rumahnya.
Pasangan suami istri itu memang jarang duduk bersama untuk sekedar mengobrol menceritakan hari yang mereka lalui. Menikah karena perjodohan membuat keduanya enggan untuk saling menerima satu sama lain apa lagi sikap Leon diawal pernikahan mereka yang tak pernah ramah kepada Shania membuat Shania merasa tersinggung dan sakit hati karena Leon.
"Udah malam, cepat tidur," ucap Leon kepada Shania.
Shania yang sedang asyik nonton film horor itu menatap Leon yang berdiri di dekatnya.
"Film nya belum selesai. Kalau mau tidur, tidur saja duluan," sahut Shania.
Leon tak berucap lagi, dia langsung pergi ke kamarnya!
Tidak pernah ada keharmonisan dalam rumah tangga pasangan muda itu, mereka tidak pernah saling merayu satu sama lain.
__ADS_1
Bersambung