
Rendy dan Ken keluar dari ruangan Rendy!
"Lo gak ngasih tahu Liana kalau besok lo mau ajak dia ketemu sama kakeknya?" tanya Ken setelah jauh dari ruangan Rendy.
"Nggak. Gue takut dia takut duluan sebelum tahu kakeknya mau bicara apa padanya," jelas Rendy.
"Memangnya, kakeknya Liana bilang apa tadi?" tanya Ken penasaran.
"Katanya dia sudah membatalkan perjodohan Liana dengan laki-laki pilihannya dan dia juga mau minta maaf sama Liana," jelas Rendy lagi.
"Terus lo percaya?" tanya Ken.
"Tidak," jawab Rendy singkat.
"Kalau tidak, kenapa lo mau ketemu sama dia?" Ken terus bertanya.
"Gue mau tahu aja laki-laki yang sudah tua seperti kakeknya Liana masih suka berbohong atau tidak. Makannya gue minta sama tolong lo bantuin gue buat ngadain penjagaan yang ketat secara rahasia disana," jelas Rendy panjang lebar.
Ken mengangguk paham. "Gue udah siapkan tim terbaik untuk berjaga disana dan ada satu personel baru yang khusus buat nemenin gue disana," ucap Ken.
"Bagus. Lo atur aja gimana baiknya," ucap Rendy.
"Gue memang selalu memberikan yang terbaik buat lo. Lo nya aja yang gak peka," ucap Ken.
Rendy tertawa kecil, "eh ngomong-ngomong siapa anggota baru yang khusus untuk menemani lo disana?" tanya Rendy penasaran.
"Bodyguardnya, mama," sahut Ken singkat.
"Apa, dia? jangan-jangan lo suka sama dia," ucap Rendy dengan senyum yang sulit diartikan.
"Bukan urusan lo," ucap Ken sembari meninggalkan Rendy di tempat itu.
"Hey lo mau kemana? emang lo udah selesai bicara sama gue?" ucap Rendy yang masih berdiri ditempat semula.
"Udah. Laporan selesai," ucap Ken sembari terus melangkahkan kakinya.
Rendy menatap kepergian Ken dengan tatapan sendu.
"Lo satu-satunya orang yang selalu ngertiin gue," ucap Rendy didalam hatinya.
Rendy melangkahkan kakinya menuju ruangannya!
Rendy membuka pintu ruangannya! pandangannya langsung tertuju pada sang istri.
"Lama banget," ucap Liana.
"Maaf sayang," ucap Rendy sembari berjalan menghampiri Liana.
"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Liana penasaran.
"Rahasia," sahut Rendy.
"Kamu ada cewek lain ya?" ucap Liana spontan.
Pertanyaan Liana berhasil membuat Rendy gelagapan. Permainan baru akan dimulai tapi Liana sudah mengetahuinya duluan.
"K-kamu ada-ada aja deh. Gak mungkin lah aku punya yang lain sementara aku sudah punya kamu yang begitu sempurna," ucap Rendy dengan butiran keringat yang mulai bermunculan di keningnya.
Liana tertawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Aku cuma bercanda. Kenapa kamu sampai keringatan seperti ini," ucap Liana sembari mengelap keringat di kening Rendy dengan tisu.
__ADS_1
"Kamu bercandanya keterlaluan. Aku pikir kamu beneran punya pikiran seperti itu," ucap Rendy dengan hati yang mulai tenang.
"Nggak lah. Hubungan tanpa kepercayaan akan sulit dijalankan," ucap Liana dengan senyuman manisnya.
Rendy terdiam mendengar perkataan Liana barusan.
Ada rasa yang tak bisa diungkapkan dalam hati Rendy.
"Mas! kenapa, ada yang salah dengan ucapanku?" ucap Liana karena sang suami tak kunjung membuka suara.
"Nggak, sayang. Aku cuma lagi mikirin masa depan kita," ucap Rendy berbohong.
"Masa depan seperti apa?" tanya Liana.
"Masa depan yang bahagia dimana ada suara tawa putra dan putri kita didalam rumah kita," jelas Rendy.
"Kamu mikirnya kejauhan," ucap Liana sembari mencubit pipi Rendy.
"Kejauhan gimana?" ucap Rendy tak mengerti.
"Ya, jauh aja gitu. Dalam hubungan pasti ada ujiannya kalau salah satu diantara kita tidak kuat menahannya maka bisa dipastikan kita tidak akan mencapai tujuan kita," jelas Liana.
"Kok kamu mikirnya gitu?" ucap Rendy.
Baru Liana akan menjawab ucapan Rendy, Ken datang dengan tiba-tiba.
"Ren, gue izin pulang sekarang ya," ucap Kendra meminta izin pada Rendy.
"Ya, pulang aja," sahut Rendy tanpa pikir panjang.
"Eh tunggu! ada kepentingan apa sampai kamu pulang sebelum waktunya?" ucap Liana.
"Aku ada acara pribadi." Ken menjawab pertanyaan Liana sembari terus berjalan meninggalkan Rendy dan Liana.
Ken mengirim pesan kepada ketua tim yang ia percaya dapat melindungi kakak dan kakak iparnya.
📩 "Satu setengah jam lagi kita ketemu di kafe xxx." >kirim.
Tanpa menunggu lama ketua tim khusus itu membalas pesan dari Kendra.
📩 "Siap."
📩 "Bawa semua personel, kita akan mengatur rencana disana!" > kirim.
📩 "Dimengerti," balasannya singkat.
Ken tak membalas pesan itu lagi, ia kembali fokus berkendara. Saat ini tujuannya adalah rumah mamanya, Ken hendak menemui Shila disana.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya Ken tiba juga di rumah Elma. Ken langsung masuk kedalam rumah mamanya.
"Mam, Shila mana?" ucap Ken setelah berada didalam rumah.
"Ada di kamarnya," sahut Elma yang sedang menonton televisi.
"Boleh aku ketemu dia dan boleh aku ajak dia makan siang besok?" tanya Ken.
"Boleh. Ken kamu jangan terlalu memaksa Shila," ucap Elma mengingatkan.
"Iya, Ma aku tahu kok," sahut Ken sembari berjalan menuju kamar Shila!
Setelah tiba didepan pintu kamar Shila, Ken mengetuk pintu itu.
__ADS_1
"Shil!" Ken memanggil Shila sembari mengetuk pintu kamar Shila.
Tanpa menunggu lama, Shila langsung membuka pintu!
"Pak Ken." Shila keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju tempat yang lebih terbuka.
"Kamu mau kan nemenin aku makan siang?" tanya Ken tanpa basa-basi.
"Penting kah?" Shila bertanya balik.
"Ya. Tugas kita disana berjaga-jaga kalau tiba-tiba ada yang mencoba menyerang Rendy dan istrinya," jelas Ken.
Shila menatap Ken. "Ada pertemuan penting kah?" ucap Shila.
"Ya, pertemuan antara Liana dan kakeknya," sahut Shila.
"Oke," sahut Shila singkat.
"Besok aku jemput kamu jam sebelas ya," ucap Kendra.
Shila hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucap Kendra.
"Aku pulang ya," ucap Ken setelah merasa pembicaraannya selesai.
"Ya. Silahkan," ucap Shila.
Ken segera bergegas karena ia masih harus mengurus rencana selanjutnya.
"Mam, aku pulang ya," ucap Ken sembari mengulurkan tangannya hendak mencium tangan Elma.
"Sebentar banget, Nak," ucap Elma.
"Iya, cuma nanya Shila mau atau nggak jadi pacar aku," ucap Ken dengan ekspresi wajah datar.
"Apa!" Elma meninggikan nada bicaranya.
"Bercanda, Mam." Ken nyengir kuda menampakkan giginya yang putih bersih.
"Gak mungkin aku nembak cewek di tempat yang tidak romantis," ucap Ken sembari cengengesan.
"Kamu ini, bercanda saja," ucap Elma sembari memukul lengan atas Kendra pelan.
"Aku pulang ya, Ma." Kendra berjalan menuju mobilnya dan segera melajukan kendaraannya.
Ken berkendara dengan kecepatan diatas rata-rata! tujuannya kini pada kafe tempat yang harus ia jaga dengan ketat atas permintaan Rendy.
Setelah tiba di tempat itu Ken sudah ditunggu oleh tim khusus yang telah ia siapkan.
"Sudah kumpul semua?" tanya Ken setelah turun dari mobilnya.
"Sudah," sahut ketua tim tersebut.
"Baiklah kita mulai menyusun rencana," ucap Ken.
Ken mulai menempatkan orang-orang itu disetiap titik jalan keluar masuk kafe itu. Ken tak ingin ada kesalahan yang akan menyebabkan penyesalan nantinya.
"Ingat, misi ini bersifat rahasia. Kalian tidak boleh bersikap aneh yang akan menimbulkan kecurigaan pengunjung lain," tegas Ken.
Orang-orang itu mengangguk paham dengan rencana yang disusun rapi oleh atasannya.
Setelah merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Ken pamit pulang karena ia sudah merasa lelah dengan hari ini.
__ADS_1
Bersambung.