
Tim yang dipimpin oleh Shila itu sudah tiba di jalan yang tidak bisa di lalui oleh kendaraan roda empat, karena mereka tidak membawa motor terpaksa mereka harus berjalan kaki untuk sampai ke tempat penyekapan Shania.
Di tempat itu juga terdapat satu mobil yang kemungkinan besar milik para preman itu yang digunakan untuk menculik Shania.
Mereka langsung berjalan mengikuti jalan setapak menuju gubug tua itu.
"Ini akan menjadi tantangan untuk Mama, Van," ucap Shila kepada putranya.
Setelah lama meninggalkan pekerjaannya, Shila merasa sedikit ragu dengan apa yang ia lakukan saat ini, namun keraguan itu ia buang jauh-jauh demi menyelamatkan Shania.
"Buatku juga, Ma. Tapi aku akan terus berusaha demi Shania," sahut Elvan.
"Untuk orang-orang seperti tante, jalanan ini tidak terlalu menantang," ucap Kayla.
"Iya sih, sebenarnya bukan jalanan nya yang menantang tapi aksi kita yang menantang."
Saat mereka sedang berjalan tiba-tiba ada dua orang laki-laki yang lewat di jalan itu.
Dua laki-laki itu menatap mereka dengan tatapan aneh.
Karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan, Shila berpura-pura menanyakan sebuah perkebunan.
"Bang mau tanya, jalan menuju kebun teh yang mau dijual itu dimana ya?" Tanya Shila kepada dua laki-laki itu.
Shila asal bertanya saja, karena ia melihat banyak perkebunan teh jadinya ia bertanya seputar perkebunan teh yang akan dijual oleh pemiliknya.
"Oh itu, ikuti saja jalan ini terus di depan ada pertigaan belok kanan," sahut salah satu laki-laki itu.
Shila tersenyum ramah, sedikitpun ia tidak menampakkan sisi ganasnya.
"Terimakasih, Bang."
Shila langsung melanjutkan perjalanannya dengan dibuntuti oleh Kayla dan Elvan.
"Jadi begitu cara kalian menghilangkan kecurigaan warga?" tanya Elvan.
"Kami yang bekerja dalam keheningan dan secara rahasia, tentunya mempunyai banyak cara untuk terlepas dari segala bentuk kecurigaan," jelas Kayla.
Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka, hanya ada suara derap langkah kaki yang terdengar mengusik telinga.
Hari mulai sore namun mereka belum kunjung tiba di gubug tempat Shania disekap.
...****************...
Di kediaman Jenny dan keluarganya.
Biani baru pulang setelah seharian mendatangi beberapa rumah sakit untuk mencari Leon.
Usahanya untuk menemui Leon tidak membuahkan hasil karena semua rumah sakit yang ia datangi mengaku tidak menangani pasien kecelakaan atas nama Leon.
Biani berjalan memasuki rumahnya dengan langkah lemas dalam hatinya ia merasa kecewa karena ia tidak berhasil menemui Leon.
"Baru pulang, Bi. Dari mana saja?" tanya Jenny kepada Biani.
Meski Biani selalu mengucapkan kata-kata yang membuatnya kesakitan, Jenny selalu menyayangi Biani seperti sebelumnya. Ia tahu bahwa ia salah, wajar saja jika putrinya itu membencinya.
Biani menatap Jenny sekilas namun tak mengucapkan sesuatu kepada Mamanya itu Biani terus berjalan menuju kamarnya! Saat itu Biani merasa lelah, ia tidak ingin berdebat dengan Mamanya.
Di halaman rumah.
Jacky baru pulang bekerja, saat ia hendak memasuki rumah tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk.
Jacky segera melihat siapa yang menelponnya! Tertera nama preman yang ia bayar untuk menculik Shania.
Jacky menghentikan langkahnya lalu berjalan menjauhi pintu utama rumahnya sembari menerima telepon dari preman itu!
📞 "Halo," ucap Jacky.
📞 "Bos, wanita ini sudah hampir mati. Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?"
📞 "Buang saja dia ke hutan agar dia dimakan hewan buas."
📞 "Baik. Jangan lupa transfer sisa pembayarannya karena setelah kami membuang wanita ini, tugas kami selesai."
📞 "Kalian tenang saja, selama ini gue gak pernah mengingkari janji kan."
__ADS_1
📞 "Gue akan mengirim bukti dalam bentuk foto setelah pekerjaan kami selesai," ucap preman itu.
Jacky langsung mematikan sambungan teleponnya saat tahu Mamanya sedang berjalan ke arahnya.
"Lagi telponan sama siapa? Serius banget?" tanya Jenny.
Jacky membalikkan tubuhnya menjadi menghadap Mamanya!
"Mama," ucap Jacky lalu mencium punggung tangan Mamanya.
"Teman, Ma."
"Semoga Mama tidak mendengar percakapan aku tadi," ucap Jacky didalam hatinya.
"Kamu pasti capek, ayo masuk! Mandi habis itu istirahat.
Jacky tersenyum ke arah Jenny, dirinya sudah dewasa tapi Mamanya selalu memperlakukan dirinya seperti anak kecil.
Jacky masuk kedalam rumahnya menuruti perkataan Mamanya tanpa adanya protes!
...****************...
"Selamat sore," ucap Rendy yang baru tiba di ruang rawat Leon.
"Papa, kirain siapa?" sahut Liana.
Rendy berjalan mendekati Leon yang sedang terbaring di atas hospital bad!
"Gimana keadaanmu, Nak?" tanya Rendy kepada Leon.
"Aku sudah baik-baik saja, Pa."
"Syukurlah."
"Pa, apa sudah ada kabar dari Elvan?"
"Belum. Malam ini Tante Shila akan mengabari kita tentang perkembangan pencariannya terhadap Shania," jelas Rendy.
"Kenapa tidak coba menelpon mereka? Aku sangat mengkhawatirkan Shania."
Liana mengelus lengan Leon dengan lembut!
"Iya sayang, kita do'akan saja mereka semoga berhasil menyelamatkan Shania dan pulang dengan keadaan selamat. Biarkan mereka melakukan pekerjaannya."
Leon tak berucap lagi, ia mengerti dan paham betul dengan apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya.
...****************...
Shila dan timnya sudah tiba di dekat gubug tua itu, terlihat dua orang sedang berjaga didepan gubug tua itu.
"Sepertinya tempat itu dijaga ketat, kita cari jalan masuk lain," ucap Shila.
Tanpa menjawab perkataan Shila, Elvan dan Kayla berjalan ke tempat lain, mereka akan mencoba masuk ke gubug itu lewat pintu belakang!
Setelah menemukan pintu masuk yang lain mereka mengatur posisi masing-masing agar lebih mudah melancarkan aksinya.
"Di sini tidak ada penjagaan. Kita bisa masuk lewat sini," ucap Kayla.
"Kay, Van, kalian tahu kan posisi masing-masing?" tanya Shila.
Sebenarnya Shila sudah menjelaskan posisi mereka masing-masing, ia hanya memastikan bahwa Kayla dan Elvan mengingat rencana yang sudah mereka susun.
"Siap."
Kayla dan Elvan menjawab secara berbarengan.
Mereka mulai masuk ke dalam gubug itu secara perlahan!
Satu ruangan sudah mereka lewati namun tidak ada Shania di ruangan itu. Mereka berpencar untuk mencari di mana Shania disekap.
Di salah satu ruangan Kayla bertemu dengan satu preman tanpa kata dan tanpa suara, Kayla melumpuhkan preman itu dengan satu kali pukulan di lehernya!
Kayla menyeret tubuh preman yang sudah tak sadarkan diri itu ke pinggir agar tidak terlihat oleh preman lainnya lalu ia kembali melanjutkan pencariannya.
Di ruangan lain.
__ADS_1
Elvan melihat Shania yang terikat di kursi dengan tubuh yang sangat lemas tak berdaya.
"Shania," gumam Elvan.
Elvan langsung membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Shania.
Shania membuka matanya, ia melihat Elvan di hadapannya.
"Air," lirih Shania.
"Shania kamu masih sadar," ucap Elvan berbisik.
Elvan terus melepaskan tali yang mengikat tubuh Shania di kursi.
"Van, aku haus," ucap Shania dengan suara rendah yang hampir tidak terdengar.
"Aku akan menyelamatkan dirimu," ucap Elvan lagi.
Belum selesai Elvan membuka semua tali yang mengikat tubuh Shania, seorang preman melihat Elvan yang sedang berusaha melepaskan Shania.
"Woi! Siapa lo?" ucap preman itu dengan suara lantang.
Elvan terkejut mendengar suara preman itu.
Suara teriakan preman itu terdengar oleh preman-preman yang lain hingga mereka berdatangan ke ruangan itu.
Tanpa bertanya, salah satu preman langsung menyerang Elvan dengan kayu yang ada di ruangan itu!
Tak ingin kalah, Elvan melakukan perlawanan terhadap preman itu!
Karena mendengar suara keributan Shila dan Kayla segera berlari ke arah suara itu berasal.
Mereka berdua langsung membantu Elvan untuk mengalahkan preman-preman itu.
"Ma, Shania," ucap Elvan sembari terus menghindari lawannya.
Shila melihat Shania yang sudah tak berdaya, ia segera melepaskan Shania dari tali yang mengikatnya.
"Shania," ucap Shila.
Shania terjatuh ke lantai saat Shila berhasil melepaskan semua tali yang mengikat tubuhnya!
"Shania."
Shila menepuk-nepuk pipi Shania.
"Air, aku kehausan," ucap Shania dengan suara halus.
Shila segera mencari air minum milik para preman itu!
Kayla dan Elvan kewalahan melawan para preman yang jumlahnya lebih banyak dari mereka, namun Elvan dan Kayla tidak bisa menyerah begitu saja sebelum berhasil dengan tujuannya.
Shila kembali dengan membawa satu botol air mineral lalu segera memberi Shania minum.
Shila menopang kepala Shania dengan pahanya lalu memberi Shania minum sedikit demi sedikit.
Karena melihat Elvan dan Kayla diserang oleh preman-preman itu, Shila membaringkan tubuh Shania di pinggir agar tidak terinjak oleh mereka lalu segera membantu Elvan dan Kayla untuk melumpuhkan mereka.
Hampir setengah jam mereka berjibaku dengan para preman itu, akhirnya semua preman berhasil dilumpuhkan.
Mereka mengikat tangan dan kaki preman-preman itu dengan tali untuk selanjutnya dijadikan bahan penyelidikan oleh Kayla.
"Shania, Shania," ucap Elvan yang melihat Shania menutup matanya.
Tanpa pikir panjang Elvan memangku tubuh Shania, untuk segera dibawa ke rumah sakit!
Mereka bertiga meninggalkan para preman itu dalam keadaan kaki dan tangan yang terikat kencang agar mereka tidak bisa melarikan diri.
"Van, pakai motor itu," ucap Kayla yang melihat beberapa motor preman itu terparkir didepan gubug.
Elvan menaikan Shania di bagian depan lalu ia segera melajukan motor itu dengan sangat hati-hati.
Shila dan Kayla mengekor dibelakang Elvan dengan menggunakan motor lain yang terparkir di depan gubug itu.
Bersambung
__ADS_1