Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 61


__ADS_3

Shania menyusupkan wajahnya ke dada Leon, entah kenapa dia suka mencium aroma wangi tubuh suaminya.


Leon tersenyum lalu memeluk Shania!


"Tidurlah, aku janji gak akan ninggalin kamu," ucap Leon.


Shania mendongakkan kepalanya agar ia bisa menatap wajah Leon!


"Janji ya," ucap Shania.


"Iya."


Shania menutup matanya namun ia tidak tertidur. Dengan lembut, Leon terus mengelus kepala Shania!


Setelah merasa Shania sudah tidur, Leon menghentikan pergerakan tangannya lalu perlahan beranjak dari tempat tidur itu!


Leon meraih ponselnya yang ia letakan di atas meja, ia ingin melihat siapa yang mengirim pesan padanya sampai berkali-kali!


"Biani," ucap Leon didalam hatinya setelah melihat siapa yang mengirim pesan padanya.


Karena penasaran, Leon segera membaca pesan dari Biani.


📩 "Leon, aku ingin bertemu."


📩 "Kamu tenang saja, aku tidak akan memintamu untuk meninggalkan istrimu."


📩 "Aku hanya ingin membicarakan hubungan kita yang belum selesai."


📩 "Aku tunggu kamu di tepi danau tempat kita biasa bertemu."


Leon memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya lalu menatap Shania yang sedang tertidur.


Leon mendekati Shania lalu mengelus pucuk kepalanya.


"Shania, aku harus pergi sekarang. Maaf aku tidak bisa menepati janjiku untuk tidak meninggalkanmu di sini sendirian," ucap Leon dengan nada rendah.


Leon mengecup kening Shania dengan lembut lalu meninggalkan Shania di kamar itu!


Setelah Shania memastikan Leon sudah keluar dari kamarnya, perlahan ia membuka matanya.


Shania memang tidak tertidur, ia hanya menikmati kebersamaannya dengan Leon saat itu.


"Mau pergi ke mana dia?" gumam Shania.


Shania turun dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju pintu kamarnya!


Perlahan ia membuka pintu kamarnya lalu berjalan menuju lantai utama rumahnya!


"Bik, Leon kemana?" tanya Shania kepada asisten rumah tangganya.


"Tidak tahu, Den Leon tidak mengatakan apa pun tapi dia pergi dengan tergesa-gesa," jelas asisten rumah tangga itu.


"Bik, aku mau bertemu dengan temanku," ucap Shania kepada asisten rumah tangganya.


Shania segera keluar rumah untuk membuntuti suaminya itu!


"Kamu mau kemana, Leon?" gumam Shania sembari menyetir.


Shania terus mengikuti kemana arah mobil Leon melaju dari jarak yang lumayan jauh dari mobil yang Leon kendarai.


...****************...


"Makan!" ucap Kayla kepada para preman yang masih ia sekap.


"Untuk apa kamu memberi kami makan? Bukankah kamu akan merasa rugi karena memberi makan orang yang tida ada gunanya seperti kami," ucap preman yang bernama Kamal.

__ADS_1


Kayla tersenyum sinis. "Turuti saja apa yang aku suruh. Selama kalian tidak memberi tahu siapa orang yang sudah menyuruh kalian untuk menculik Shania, jangan harap kalian bisa bebas dari tempat ini," ucap Kayla.


"Kami sudah bilang kalau tidak ada yang menyuruh kami. Kami melakukan penculikan itu, murni karena keinginan kami."


"Kamu pikir, aku percaya? Dari gayamu bicara saja sudah terlihat kalau kamu berbohong. Aku akan tinggu sampai kalian bicara jujur padaku."


Kayla duduk di kursi tempat biasa ia duduk kala sedang berada di ruang penyekapan itu.


Kayla terus memperhatikan mereka saat sedang makan.


...****************...


"Danau? Ngapain Leon mendatangi danau di siang bolong gini?" gumam Shania.


Shania menepikan mobilnya di tempat yang jauh dari mobil Leon terparkir, Shania segera turun dari mobilnya karena ia tidak ingin kehilangan jejak Leon.


Karena tak ingin ketahuan membuntuti Leon, Shania memakai sweater yang baru ia beli agar Leon tidak mengenali baju yang ia pakai tak lupa ia juga menggunakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya.


Shania berjalan cepat karena ia sudah tertinggal jauh oleh Leon!


"Sebenarnya Leon mau bertemu dengan siapa? Kenapa dia tidak izin sama aku saat mau pergi?" gumam Shania sembari terus berjalan.


Leon terus berjalan menuju pohon besar yang berada di tepi danau tersebut! Terlihat ada seseorang yang duduk membelakangi Leon yang sedang berjalan ke tempat itu.


Shania berdiri sambil terus menatap Leon yang sedang berjalan menghampiri orang yang sedang duduk di bawah pohon besar itu.


"Siapa orang itu? Tidak mungkin Elvan, dia seperti seorang wanita," gumam Shania.


Karena penasaran, Shania berjalan mendekati mereka agar dia bisa melihat wajah orang itu dan juga bisa mendengar pembicaraan mereka!


"*Biani," ucap Shania didalam hatinya saat sudah dekat dengan mereka dan dengan jelas melihat siapa orang yang Leon temui.


"Ternyata mereka masih memiliki hubungan. Lalu perhatian Leon padaku selama ini, apa? Mereka benar-benar pembohong berkelas*."


Shania masih berdiri di tempat itu untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan. Dalam hatinya terasa sakit karena merasa ditipu oleh kasih sayang yang Leon berikan padanya.


...****************...


"Van, kamu gak pergi ke luar?" ucap Shila.


"Tidak, Mam."


"Kamu gak mau ketemu sama Kayla gitu? Di hari libur gini."


"Nggak. Dia sibuk sama preman-preman itu."


Shila berjalan mendekati Elvan lalu duduk di sampingnya!


"Kamu cemburu?" ucap Shila.


"Tidak. Untuk apa cemburu, kayak gak ada wanita lain saja di dunia ini."


"Serius?"


"Serius lah, masa bercanda."


"Tapi kok kamu kelihatan kesal gitu."


"Bisa saja, Ma. Lagian Mama ngapain tanya-tanya terus."


Shila tertawa kecil. "Dari nada bicara kamu saja sudah kelihatan banget kalau kamu cemburu. Tapi wajar sih kalau kamu cemburu secara ada satu atau dua preman itu yang tampaknya gak kalah dari kamu."


"Mama kenapa sih, malah manas-manasin anak sendiri."


"Kalau cemburu bilang saja, Papa mu juga dulu gitu suka cemburu kalau Mama lagi bertugas."

__ADS_1


Elvan menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan.


"Sepertinya aku sama Papa memang senasib. Sama-sama punya pasangan yang aneh."


"Dih, aneh katanya."


"Iya, Aneh. Kalian lebih memilih mengurus urusan sendiri dibanding menghabiskan waktu bersama dengan pasangan."


"Hey, kekasih mu itu sedang berusaha menuntaskan masalah yang selalu menimpa Kakak mu. Kalau tidak, mereka akan terus terkena masalah dan kamu juga akan ikut-ikutan ribet kalau mereka terus terkena masalah," jelas Shila.


"Iya, aku ngerti kok."


...****************...


Kayla kembali mengikat preman-preman itu setelah mereka selesai makan dan minum.


"Kapan kamu akan melepaskan kami?" ucap Agus.


Kayla menatap Agus yang tangannya sedang ia ikat.


"Sampai waktu yang tidak terbatas," sahut Kayla.


"Kenapa? Kamu rindu dengan kekasihmu atau rindu kepada keluarga mu? Katakan saja, nanti aku bawa mereka ke sini untuk bertemu dengan mu," ucap Kayla lagi.


Agus terdiam, dia memang rindu kepada adik-adiknya tapi tidak mungkin dia harus bertemu dengan mereka dalam keadaan seperti itu, ia tidak ingin adik-adiknya tahu kalau ternyata dia bukan orang yang baik.


Setelah selesai mengikat mereka semua, Kayla meninggalkan tempat itu, tak lupa ia juga mengunci pintu ruangan itu agar mereka tidak mudah melarikan diri.


Kayla mulai menyalakan mesin motornya untuk melanjutkan pencariannya terhadap orang-orang yang memiliki hubungan dengan para preman yang ia sekap.


...****************...


Jacky menghadang mobil yang Rania kendarai.


Ciiit!


Rania menginjak rem mobilnya agar tidak sampai menabrak pemotor yang tiba-tiba menghalangi jalannya.


Mobil Rania berhenti tepat di hadapan motor Jacky.


Rania turun dari mobilnya!


"Hey! Apa kamu sudah bosan hidup sehingga kamu melakukan percobaan bunuh diri. Kalau mau mati gak gini caranya!" ucap Rania sembari berjalan ke arah Jacky.


Tanpa aba-aba Jacky menarik tangan Rania lalu berusaha membawanya dengan menggunakan motornya.


"Lepaskan! Apa yang kamu lakukan?" Rania memberontak.


"Ikuti saja kemauanku," ucap Jacky.


Rania terus menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Jacky!


Karena Rania terus memberontak, Jacky menampar pipi Rania dengan keras!


Plak!


Rania tersentak, ia menghentikan pergerakannya sambil memegangi pipinya.


Rania menatap Jacky dengan tatapan tajamnya.


Sedetik kemudian Rania menampar balik Jacky dengan tenaga separuh.


"Ternyata punya nyali juga lo!" ucap Jacky sembari memegangi pipinya.


"Lo pikir gue akan diam saja saat ada orang yang mengusik hidup gue?" ucap Rania.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2