
Setelah beberapa bulan berlalu, kini tiba saatnya hari pernikahan Leon dengan Shania.
Acara akad pernikahan sudah selesai, Leon dan Shania sudah sah menjadi pasangan suami istri, kini mereka sedang menjalankan acara resepsi pernikahan.
Leon duduk bersebelahan dengan Shania di atas pelaminan. Leon sama sekali tak menampakkan raut wajah bahagia didepan para tamu undangan, berbeda dengan Shania yang terus mengukir senyum di bibirnya seolah ia bahagia dengan pernikahan mereka.
Para tamu undangan bergantian memberi selamat kepada kedua mempelai!
"Selamat ya."
"Semoga menempuh hidup baru."
"Semoga selalu dalam kebahagiaan."
Kira-kira seperti itulah ucapan-ucapan dari para tamu undangan.
Setelah tamu-tamu undangan mulai pergi meninggalkan gedung itu, kini giliran orang-orang terdekat Leon dan Shania yang mengucapkan selamat kepada pengantin baru itu.
"Selamat ya, Kak semoga kamu bahagia," ucap Elvan.
Leon tak menanggapi ucapan Elvan, dia terus asyik dengan pemikirannya sendiri.
"Kakak ipar, selamat bergabung bersama keluarga kami," ucap Elvan kepada Shania.
Shania tersenyum ramah, "terimakasih," ucapnya.
Elvan turun dari pelaminan dan Rania mulai melangkahkan kakinya menaiki pelaminan!
Rania memeluk Leon! "Kak aku gak tahu harus berkata apa. Satu pintaku, jangan sakiti Kak Shania," bisik Rania ditelinga Leon.
Leon hanya menanggapi permintaan Rania dengan senyum tipis.
Rania beralih memeluk Shania! "Selamat ya, Kak. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah," ucap Rania.
"Amin, terimakasih," ucap Shania.
Setelah Rania turun, Rani dan Della naik ke pelaminan!
Rani melewati Leon begitu saja lalu memeluk Shania!
"Shan, selamat ya," ucap Rani.
Rani memeluk Shania dengan waktu yang cukup lama, gadis itu merasa ada yang disembunyikan oleh Shania karena sikap Leon yang terlihat tidak suka pada Shania.
"Woi, gantian," ucap Della sembari menepuk punggung Rani.
Rani melerai pelukannya! "Ganggu saja," ucap Rani.
"Best friend, selamat ya, semoga selalu dalam kebahagiaan yang berlimpah," ucap Della.
Shania hanya tersenyum tipis.
Rani menjabat tangan Leon! "Selamat ya. Jaga baik-baik temanku itu, kalau tidak ... ."
__ADS_1
Rani menghentikan perkataannya karena Della menginjak kakinya.
"Awh! Sakit Dell." Rani meringis kesakitan.
"Makannya jangan banyak ngomong," ucap Della.
Della tersenyum ramah kepada Leon.
"Maaf ya, teman aku emang gitu," ucap Della.
"Tidak apa-apa," ucapan Leon tanpa senyum yang menghiasi bibirnya.
Para tamu undangan sudah pergi meninggalkan gedung itu, teman-temannya Shania pun sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Kini tinggal ada keluarga saja di tempat itu.
"Sudah malam, kalian istirahat ya," ucap Liana kepada Leon dan Shania.
"Iya, kalian pasti capek," sambung Alisa.
Leon dan Shania hanya diam dalam seribu bahasa.
"Alhamdulillah ya, Pak Rendy. Akhirnya kita jadi besanan," ucap Satya.
"Iya, Alhamdulillah, Pak," sahut Rendy.
Dua laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu terlihat bahagia dihari pernikahan putra dan putrinya tanpa mereka sadari anak-anaknya tidak sebahagia yang mereka pikirkan.
"Papa, Mama, aku pulang duluan ya," ucap Elvan kepada Rendy dan Liana.
"Bukannya, Anda hanya punya satu putra ya, Pak?" ucap Satya kepada Rendy.
"Benar sekali, Pak. Leon putra saya satu-satunya, adapun Rania adiknya Leon dan dia perempuan," jelas Rendy.
"Elvan ini putranya, Ken. Pastinya Anda kenal dengan Ken, adik saya," ucap Rendy lagi.
"Oh, putranya, Pak Kendra. Ternyata sudah dewasa juga ya," ucap Satya yang memang tahu kepada Ken.
Elvan tersenyum. "Aku permisi, Mama sama Papa sudah menunggu di mobil," ucap Elvan.
Elvan mencium punggung tangan Liana dan Rendy secara bergantian lalu mencium tangan Satya dan Alisa.
Elvan menghampiri Leon yang berdiri agak jauh dari para orang tua!
"Aku pulang," ucap Elvan.
"Kalau mau unboxing, jangan lupa kunci pintu," bisik Elvan ditelinga Leon.
Leon memukul perut Elvan pelan! "Tidak akan," ucapnya.
Elvan tertawa kecil. "Yakin?"
Leon mengepalkan tangannya!
Sebelum Leon memukulnya, Elvan segera berlari menjauh dari tempat itu!
__ADS_1
"Aku pulang duluan. Assalamu'alaikum!" ucap Elvan sembari berjalan cepat agar tak kena bogem dari Leon.
Dua keluarga itu segera beristirahat di kamar hotel yang sudah mereka pesan sebelumnya.
Di kamar Leon dan Shania.
Shania duduk di bibir ranjang dengan masih menggunakan pakaian pengantin.
Sedangkan Leon berdiri dibalik pintu. Punggungnya disandarkan di pintu, kakinya menyilang dan kedua tangannya bersedekap dada.
"Jangan harap aku akan melakukan malam pertama denganmu," ucap Leon.
Shania menatap Leon, tangannya terus bergerak membuka aksesoris yang menempel di rambutnya, di telinganya dan di semua anggota tubuhnya.
"Aku tidak mencintaimu, aku tidak akan pernah mencintaimu, aku ... ."
"Aku juga tidak mencintaimu tapi karena kita sudah menikah, aku akan berusaha menjalankan tugasku sebagai seorang istri. Tentang dirimu yang tidak mencintaiku atau kamu tidak mau menjalankan tugasmu sebagai seorang suami, itu hak kamu, aku tidak bisa memaksa," ucap Shania memotong perkataan Leon.
"Kalau kamu tidak mencintai aku, kenapa kamu menyetujui pernikahan ini?" tanya Leon.
"Aku tidak bisa menolak keinginan orang tuaku. Jangan kamu pikir selama di acara resepsi aku terus menebar senyuman karena aku bahagia, nggak ya, Leon. Aku bersikap seperti itu karena aku tidak mau membuat orang tuaku malu, semua aku lakukan demi orang tuaku," ucap Shania panjang lebar.
Leon terdiam ditempat semula, namun kini sudah berubah posisi, kini Leon berdiri tegap sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya!
Karena Leon tak berbicara lagi, Shania beranjak dari duduknya lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah Shania pergi, Leon duduk di sofa lalu mencoba menelpon Biani.
Setelah beberapa kali menelpon Biani tapi Biani tak juga menerima telepon dari Lebih.
Leon melemparkan ponselnya ke sofa yang sedang ia duduki!
"Biani, aku mohon kamu jangan salah faham padaku," gumam Leon.
Leon mengacak rambutnya frustasi lalu menyandarkan punggungnya disandarkan sofa itu.
"Biani, aku ingin sekali menemuimu dan membawamu kesini, andai kamu tahu perasaanku mungkin kamu tidak akan semarah ini padaku," ucap Leon didalam harinya.
Tak lama Shania keluar dari kamar mandi dengan sudah mengenakan pakaian lengkap. Shania berjalan lalu duduk di tempat tidurnya!
"Aku lelah, aku mau istirahatlah. Tuan Leon yang terhormat, Anda mau tidur di mana? Jika Anda mau tidur di sebelahku, dengan senang hati aku akan membagi tempat tidur ini," ucap Shania dengan santainya.
"Jangan coba menggodaku. Dasar ja****," ucap Leon dengan raut wajah datar.
"Aku tidak menggodamu dan lagi kalau kamu tidak mencintai aku, kamu tidak mungkin merasakan sesuatu yang seharusnya tidak kamu rasakan. Aku bukan ja****," ucap Shania.
"Ingat Tuan Leon yang terhormat, aku bukan wanita mu-ra-han," ucap Shania lagi dengan menekan kalimat yang ia ucapkan diakhir untuk memperjelas kata-katanya.
"Selamat malam."
Shania berbaring lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tanpa terkecuali.
Bersambung
__ADS_1