Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 106


__ADS_3

Jenny tak menghiraukan perkataan Satya. Jenny meraih gelas berisi air milik Liana lalu menyiram tubuh Liana dengan air itu!


"Itu peringatan buat lo karena lo sudah merebut Rendy dari gue!" ucap Jenny dengan suara lantang.


Satya dan beberapa pengunjung merasa terkejut dengan perlakuan Jenny terhadap Liana. Sedangkan Liana terdiam tanpa kata sembari menatap bajunya yang basah akibat ulah Jenny.


"Lo apa-apaan si!" ucap Satya sembari membantu Liana membersihkan bajunya.


Tanpa aba-aba Liana meraih gelas Satya lalu membalas perlakuan Jenny terhadapnya.


Liana menyiram wajah Jenny dengan air minum milik Satya.


"Lo pikir gue gak bisa membalas perlakuan lo ke gue?" ucap Liana.


Jenny berdiri sembari mengangkat tangannya yang terkepal.


"Iiih! awas lo ya." (Jenny)


Jenny pergi meninggalkan Liana ditempat itu dengan perasaan marah sekaligus malu.


Setelah Jenny pergi, Liana duduk ditempat semula dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.


Satya merasa serba salah, ia tak tahu harus berbuat apa. Satya menjadi canggung saat tahu Liana sudah bersuami apalagi pedebatanya dengan Jenny mengatakan bahwa Liana adalah istri dari Rendy.


"Hei, sudah jangan menangis. Aku tahu kamu bukan wanita yang lemah," ucap Satya sembari mengusap bahu Liana.

__ADS_1


"Aku lemah. Aku adalah wanita yang sangat lemah," ucap Liana sembari menangis sesenggukan.


"Tidak. Kamu pasti bisa melawan semua rintangan yang datang ke kehidupan kamu," ucap Satya.


Liana menggelengkan kepalanya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Aku sakit, saat melihat wajah perempuan itu," lirih Liana disela tangisnya.


"Rendy suamimu?" tanya Satya dengan nada pelan.


Liana menganggukkan kepalanya.


"Ya, dia suamiku dan wanita yang barusan melabrakku, dia kekasihnya Rendy," ucap Liana jujur.


Satya tak bisa berkata apa-apa. Sebenarnya ia kecewa dengan pernyataan Liana yang mengakui bahwa dirinya sudah memiliki suami.


Satya mengusap-usap bahu Liana agar perempuan itu bisa lebih tenang.


"Maaf, karena aku sudah membohongi dirimu," lirih Liana disela tangisnya.


"Tak apa. Kamu jangan nangis jangan buang air matamu untuk hal yang tak berguna," ucap Satya.


Liana terus menangis, sisi rapuhnya mulai terlihat. Sosok wanita yang tangguh penuh keberanian tenggelam dalam air mata yang terus mengalir dari pelupuk mata Liana.


Di kantor.

__ADS_1


Rendy sedang fokus pada berkas-berkas yang harus ia periksa untuk kemudian ia tandatangani.


Brakk!


Jenny membuka pintu ruangan Rendy dengan kasar.


Rendy terperanjat karena mendengar suara gebrakan yang begitu keras.


"Jenny?" ucap Rendy saat melihat Jenny berdiri didepan pintu ruangannya dengan penampilan yang acak-acakan dan baju yang terlihat sedikit basah dan kotor.


"Lihatlah, si wanita kesayanganmu membuat aku malu didepan umum," ucap Jenny sambil menangis.


"Jenny, aku sudah melarang kamu kesini dan lagi Liana gak mungkin melakukan hal seperti ini," ucap Rendy.


Bukannya mendapatkan perhatian lebih dari Rendy, justru Jenny mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari Rendy.


"Ini buktinya, Rendy. Wanita itu sangat kasar, tadi dia melabrak aku didepan umum dia mempermalukan aku habis-habisan," ucap Jenny dengan air mata kepalsuan.


Jenny memutar balikkan fakta,ia terus berusaha membuat Rendy percaya padanya.


"Kamu percaya sama aku. Tadi aku lihat istrimu itu jalan sama laki-laki lain," ucap Jenny mengadu kepada kekasihnya.


"Sudahlah Jenny. Sekarang kamu pergi bersihkan dirimu dan jangan temui aku disini, nanti aku temui kamu di kafe tempat biasa kita bertemu," ucap Rendy sembari menyodorkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2