Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 70


__ADS_3

Pagi itu, Kayla sudah ada di depan rumahnya Jacky. Setelah melakukan penyelidikan selama beberapa hari, akhirnya Kayla memutuskan untuk menangkap Jacky pada hari itu.


Tok!


Tok!


Tok!


"Permisi!" ucap Kayla.


Tak lama Jenny membukakan pintu itu!


"Selamat pagi, Bu," ucap Kayla.


"Pagi, maaf mencari siapa ya?" ucap Jenny dengan raut wajah kebingungan.


"Saya datang untuk menjemput saudara Jacky."


"Siapa kamu?" tanya Jacky yang sudah berpakaian ala kantor.


"Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan mu. Mari ikut saya ke kantor polisi," ucap Kayla.


"Siapa kamu? Jangan sembarangan menuduh orang, aku tidak mengerti dengan apa maksudmu," ucap Jacky dengan nada tinggi.


Mendengar keributan, Biani datang menghampiri mereka!


"Ada apa ini? Pagi-pagi sudah ribut-ribut," ucap Biani.


"Sekarang saya minta, pergi dari sini!" ucap Jacky sembari mengarahkan jari telunjuknya ke jalan didepan rumahnya.


"Tolong bersikap kooperatif, di sini saya sedang bertugas. Jangan mempersulit pekerjaan saya," ucap Kayla.


"Ada apa ini, Nak?" ucap Jenny kepada Jacky.


"Gak ada apa-apa, Ma. Mungkin orang ini salah orang."


"Siapa kamu?" tanya Biani.


Kayla memperlihatkan identitas aslinya.


"Saya sudah melakukan penyelidikan terhadap saudara Jacky selama beberapa hari. Saya minta jangan menghalangi tugas saya."


Biani terdiam mematung, lidahnya terasa kelu hingga membuatnya sulit berucap.


"Orang-orang yang kamu suruh untuk mencelakai Leon dan keluarganya sudah mendekam dipenjara sejak dua hari lalu. Sekarang aku ingin menjemputmu."


"Ah." lirih Jenny sembari memegangi dadanya.


Jenny merasakan sakit yang luar biasa di bagian dadanya.


"Mama!" ucap Biani dan Jacky berbarengan.


Tiba-tiba Jenny terjatuh untungnya ada Jacky yang sigap menangkap tubuh Jenny.


"Mama!" ucap Biani dengan sedikit menaikan nada bicaranya.


Kayla masih berdiri di tempat semula sembari menatap Jacky dan Biani yang tengah panik.


"Kak, ayo kita bawa Mama ke rumah sakit!" seru Biani.


Jacky menatap Kayla dengan matanya yang memerah.


"Aku akui aku salah, tapi tolong biarkan aku mengantarkan Mamaku ke rumah sakit dulu," ucap Jacky kepada Kayla.


Biani semakin sedih mendengar pernyataan Kakak, tangisnya semakin pecah, ia merasa tertusuk duri sampai berkali-kali.


"Bawa Ibumu ke dalam mobilku!" ucap Kayla.


Tanpa penolakan, Jacky langsung memangku tubuh Jenny lalu membawanya masuk kedalam mobil milik Kayla!


Biani berlari untuk membukakan pintu mobil itu!


Setelah Jenny berada didalam mobil, Biani segera masuk untuk mendampingi Mamanya itu!


"Tolong, cepat ya. Aku janji tidak akan lari dari tanggungjawab ku," ucap Jacky kepada Kayla.


Kayla langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak boleh telat tiba di rumah sakit karena ia Jenny harus segera mendapatkan pertolongan medis.

__ADS_1


Biani terus menangis sembari memeluk Mamanya. Saat itu terlihat wajah penuh kekhawatiran pada Jacky dan Biani.


Jacky yang duduk di bangku depan, terus menengok kebelakang melihat Mamanya yang sudah tak sadarkan diri.


"Maafkan aku, Ma. Maafkan Kakak, Bi," ucap Jacky.


Biani tak menanggapi perkataan Jacky, dia hanya menangis sembari terus memeluk Mamanya.


Tak lama, mobil yang Kayla kemudikan tiba di depan rumah sakit.


Jacky langsung membawa Jenny kedalam rumah sakit itu.


"Tolong! Suster, Dokter tolong selamatkan Mama saya!" ucap Jacky.


Seorang petugas rumah sakit meminta Jacky untuk menidurkan tubuh pasien ke tandu berjalan di rumah sakit itu.


Mereka segera membawa Jenny ke ruang IGD untuk mendapatkan penanganan dokter.


"Kalian tunggu di luar ya dan tolong selesaikan biaya administrasinya," ucap seorang suster sebelum masuk ke ruangan itu.


"Biani, kamu punya uang simpan?" tanya Jacky.


Biani menggelengkan kepalanya, air matanya terus menetes kesedihannya bertambah saat tahu bahwa Kakaknya tidak memiliki uang untuk biaya rumah sakit Mamanya.


"Gimana ini, Kakak juga sedang tidak ada uang," ucap Jacky.


Kayla berjalan menuju ruang administrasi lalu membayar semua biaya rumah sakit Jenny.


Setelah selesai dengan semua urusan administrasi, Kayla menghampiri Jacky dan Biani!


Kayla memberikan surat pernyataan bahwa biaya rumah sakit atas nama Ibu Jenny sudah lunas.


"Aku sudah membayar semua biaya rumah sakit, Ibumu. Aku harap kamu tidak mempersulit pekerjaanku, kalau kamu tetap tidak ingin bertanggungjawab atas perbuatan yang kamu lakukan aku tidak akan memberi ampun padamu lagi."


"Aku tidak akan pergi tapi aku mohon izinkan aku menunggu sampai Mamaku sadar," ucap Jacky.


"Kakak, apa yang Kakak katakan? Kenapa Kakak harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak Kakak lakukan. Aku tahu Kakak tidak akan berbuat kejahatan seperti itu kan, Kakak hanya berterimakasih sama orang ini karena orang ini sudah membayar biaya rumah sakit Mama kan?" Biani menghujani Jacky dengan berbagai pertanyaan.


"Kakak, memang bersalah, Biani. Kakak sudah menyuruh orang untuk menculik Shania agar Shania pergi jauh dari Leon dan akhirnya Leon kembali kepadamu. Kakak sudah banyak melakukan kesalahan, Bi mungkin sekarang saatnya Kakak mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang Kakak lakukan terhadap Leon," ucap Jacky dengan nada lirih.


Raut wajah penuh penyesalan terpancar di wajah Jacky, betapa ia sangat menyesali perbuatannya.


"Besok aku akan datang ke sini untuk menjemputmu. Jika kamu tidak ada di sini atau di rumahmu dan jika aku tidak dapat menemukanmu dalam waktu satu hari. Ibumu dan adikmu yang akan menggantikan posisimu," ucap Kayla.


"Aku tidak akan melarikan diri aku tidak mungkin mempertaruhkan orang-orang yang aku sayangi," ucap Jacky.


Kayla langsung pergi meninggalkan mereka di ruang tunggu itu!


...****************...


"Rania, kami gak kuliah lagi?" ucap Shania.


"Nggak, Kak. Aku masih mau di sini nemenin Kakak dan juga calon keponakan aku ini," sahut Rania.


"Kamu jangan banyak bermalas-malasan nanti menyesal loh."


"Iya, Kak. Besok aku ngampus deh."


Rania dan Shania memang dekat seperti adik dan kakak kandung, mereka tak pernah memberi jarak dalam hubungan mereka.


"Ran, kita coba-coba bikin kue yuk! Dari pada diam terus, bosan tahu."


"Wah, ide bagus tuh Kak. Come on kita masuk dapur!"


Dengan semangat, Rania beranjak dari duduknya lalu mulai melangkahkan kakinya menuju dapur!


Shania tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rania yang menurutnya lucu.


"Enak juga ada Rania, rumah jadi gak sepi," gumam Shania lalu berjalan menyusul Shania ke dapur.


Sesampainya di dapur, Rania masih berdiri didepan meja makan, dia kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu.


"Kak, kita mau bikin kue apa?" tanya Rania.


"Apa ya, Ran. Kita lihat-lihat resepnya dulu deh."


Shania membuka sebuah laci lalu mengambil buku resep dari dalamnya.

__ADS_1


"Kira-kira kue yang mana yang mau kita coba bikin?" ucap Shania sembari membuka lembar demi lembar buku resep itu.


"Gimana kalau yang ini!" ucap Rania sembari menunjuk salah satu gambar dengan jari telunjuknya.


"Brownies? Sepertinya enak."


"Enak kalau yang bikinnya udah ahlinya, gak tahu deh kalau kita yang buat." Rania tersenyum sembari menatap Shania sekilas.


"Bik, tolong bantuin siapkan bahan-bahannya ya!" ucap Shania kepada asisten rumah tangganya.


Asisten rumah tangga itu langsung mengerjakan tugasnya.


"Mau bikin kue apa?" tanya asisten rumah tangga itu.


"Brownies ubi ungu," ucap Shania.


"Bahan yang lain ada di rumah, hanya ubi ungu nya saja yang tidak ada di rumah," ucap asisten rumah tangga itu.


"Brownies coklat saja, Kak. Kita gunakan bahan-bahan yang ada di rumah saja biar kita gak usah ke luar untuk mencari bahan-bahan yang tidak ada."


"Eh, ada mangga kan di kulkas. Gimana kalau kita coba bikin brownies coklat tapi kita masukan buah mangga yang sudah matang dan sudah dikupas tentunya."


"Bikin yang biasa saja belum tentu jadi Kak, masa mau coba-coba menambahkan bahan yang tidak termasuk bahan untuk kue ini," ucap Rania.


"Tapi Kakak ngebayanginnya sepertinya enak gitu Ran."


"Ya udah, kita pakai mangga juga deh coba gimana nanti rasanya."


Mereka berdua memulai pekerjaan masing-masing. Setelah semua bahan tercampur rata, Rania memasuki adonan kedalam loyang lalu mulai mengurusnya.


"Hmmmm, aromanya wangi ya, Ran," ucap Shania.


"Iya, Kak. Sepertinya enak nih," sahut Rania.


Sembari menunggu kue nya matang, Shania mencuci perabotan yang kotor, bekas ia membuat kue nya.


Rania duduk sambil terus memperhatikan Shania.


"Jangan, Bu Shania biar saya saja yang mencuci perabotan," ucap asisten rumah tangga itu.


"Tidak apa-apa, Bik. Bibik kan bisa mengerjakan pekerjaan lain."


Setelah mendengar perkataan majikannya asisten rumah tangga itu pergi ke halaman rumah itu untuk membersihkan tanaman yang tubuh di sana.


"Kakak seperti sudah biasa mencuci piring," ucap Rania setelah asisten rumah tangga itu pergi.


"Memang Kakak sudah bisa mencuci piring," sahut Shania.


"Kakak juga bisa masak sendiri, nyuci sendiri dan semua pekerjaan rumah, Kakak bisa melakukannya sendiri," sambung Shania lagi.


Meski hidup dalam kemewahan dan tak kurang suatu apa pun, Shania selalu belajar mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, semua itu sengaja Shania pelajari agar kelak kalau dia memiliki suami, ia sudah bisa melakukan segalanya tanpa suaminya.


"Wih, ternyata Kakak hebat."


"Kamu juga harus belajar melakukan semuanya, Ran agar kelak setelah kamu punya suami kamu tidak perlu belajar melakukan sesuatu yang menjadi pekerjaan seorang istri," jelas Shania.


"Siap Kak, mulai sekarang aku akan belajar melakukan pekerjaan rumah untuk mempersiapkan diriku agar menjadi istri yang baik."


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kue buatan mereka matang dengan sempurna.


Rania mematikan kompornya setelah memastikan bahwa kue nya telah matang.


Rania mengangkat kue nya lalu menaruhnya di atas piring.


"Wah, sepertinya enak ni, Kak," ucap Rania.


"Iya, wanginya bikin menggugah selera," sahut Shania.


"Cobain Kak!"


"Pastinya dong, markicob. Mari kita coba."


Dua wanita beda usia itu terlihat sangat dekat dan akrab, meski mereka tidak memiliki hubungan darah tapi mereka sama-sama saling melengkapi satu-sama lain.


Shania dan Rania menyendok kue nya lalu mulai mengunyahnya.


"Waw, enak Kak," ucap Rania.

__ADS_1


"Iya, rasa mangga nya terasa banget. Kakak kamu pasti suka ni," ucap Shania.


Bersambung


__ADS_2