Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 39


__ADS_3

Malam sudah berganti pagi, matahari mulai menampakkan sinarnya.


Saat ini baru jam 06:30 wib.


Diana sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Ken dirawat. Sebenarnya Ken akan pulang hari ini, tapi Diana berinisiatif menjenguknya untuk memastikan bahwa bos keduanya itu benar-benar sudah pulih dari luka yang dideritanya.


Karena Ken selalu bersikap baik kepada semua karyawannya, Diana berpikir mungkin ini saatnya ia membalas kebaikan Ken kepadanya.


Dua puluh menit berlalu akhirnya Diana tiba di rumah sakit yang ia tuju. Diana segera turun dari motor maticnya lalu bergegas menuju ruangan tempat Ken dirawat!


Setelah tiba di depan pintu ruangan dimana didalamnya ada Ken yang terlihat sedang berbaring itu, Diana mengetuk pintu lalu ia masuk tanpa dipersembahkan oleh bosnya itu.


Ken yang sedang memainkan ponselnya menoleh kearah pintu karena ia melihat ada seseorang yang datang, "Diana?" ucap Ken sembari menatap karyawannya yang tengah berjalan menghampirinya.


Diana tersenyum ramah kepada bosnya itu, "iya, Pak. Saya sengaja mampir kesini," ucap Diana.


"Oh, ya Pak. Ini saya bawakan bubur untuk anda sarapan," ucap Diana lagi sambil membuka bubur yang ia bawa dari rumahnya.


"Terimakasih, jadi ngerepotin," ucap Ken dengan senyum ramahnya.


"Sama sekali tidak merepotkan. Sekarang anda sarapan dulu ya," ucap Diana sembari menyodorkan mangkuk berisi bubur yang ia bawa.


Ken menerima bubur itu lalu ia memakannya sedikit demi sedikit.


Melihat pergerakan tangan Ken yang lambat membuat Diana merasa risih.


"Maaf, Pak sepertinya tangan anda masih sakit ya? kalau boleh biar saya aja yang nyuapin anda." Diana menawarkan diri untuk menyuapi bosnya sarapan.


"Tidak perlu. Saya sudah cukup merepotkanmu," ucap Ken yang hanya ditanggapi dengan anggukan oleh Diana.


Selama Kendra makan tidak ada suara yang terucap dari Ken maupun Diana.


Diana duduk dalam diam sembari menunggu bosnya selesai sarapan.


Setelah beberapa menit Ken sudah selesai sarapan, Diana segera menyodorkan air minum untuk bosnya itu.


"Mau pulang jam berapa Pak?" tanya Diana setelah memberi minum bosnya.


"Dokter bilang aku harus istirahat beberapa jam lagi. Mungkin aku pulang pas jam makan siang," ucap Ken dengan mata yang menatap kearah Diana.


Diana melihat jam ditangannya, saat itu jam menunjukkan sudah pukul 07:25 wib. "Oke, kalau gitu saya pamit dulu. Nanti siang saya jemput anda kesini," ucap Diana sembari bangkit dari duduknya.


"J_jangan, Diana. Saya pulang sembari aja." Ken menolak dijemput oleh Diana, ia tidak ingin merepotkan wanita itu dan ia juga tidak ingin berhutang budi kepadanya.

__ADS_1


"Anda tentang saja saya tidak akan meminta bayaran untuk semua ini," ucap Diana dengan senyum selebar senyumannya.


"Bukan gitu ... ."


"Nanti siang saya yang akan jemput anda kesini." Diana memotong ucapan bosnya sembari pergi meninggalkannya, Diana tidak memberi waktu untuk Ken menjawab ucapannya.


Kini diruang itu hanya ada Ken sendiri tanpa adanya seseorang yang menemani.


Ken merebahkan tubuhnya, ia mengingat beberapa gadis yang ia temui lalu ia sukai tapi gadis itu selalu pergi entah kemana.


Di kantor.


Rendy dan Liana baru tiba di kantornya, saat ini waktu sudah menunjukkan jam 09:00 wib.


Semua karyawan sudah memulai pekerjaannya, Rendy dan Liana berjalan beriringan menuju ruangannya saat melewati ruangan Ken, Liana melihat tidak ada sosok Ken didalam ruangannya, karena pintu ruangan Ken terbuka jadi Liana bisa melihat kalau ruangan itu kosong.


"Mas ... Ken kemana? gak biasanya dia datang terlambat," ucapan Liana sembari terus berjalan membuntuti suaminya.


"Kenapa, kamu kangen sama dia? pagi-pagi udah nanyain dia," ketus Rendy.


Sebenarnya Rendy juga penasaran kenapa Ken belum tiba di kantor biasanya dia selalu tiba lebih dulu darinya.


Tapi sedetik kemudian Rendy membuang rasa penasarannya karena ia harus melanjutkan sandiwaranya.


"Mas, kamu ngeselin ya," ucap Liana sembari melangkah cepat mendahului suaminya.


"Kirain mau meluk lagi," ucap Rendy didalam hatinya.


Waktu terus berjalan kini waktu sudah mendekati jam makan siang, tapi Ken belum juga menampakkan batang hidungnya.


Rendy berjalan keluar dari ruangannya, diam-diam ia akan melihat ke ruangan Ken, ia ingin memastikan apakah Ken sudah ada atau belum di ruangannya.


Perlahan Rendy membuka pintu ruangan Ken yang sudah tertutup, ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan namun tidak mendapati sosok Ken.


"Anak itu kemana? tumben gak masuk kantor gak izin dulu," ucap Rendy namun kata-kata itu hanya terucap didalam hatinya.


Rendy mengambil ponselnya disaku celananya, ia hendak menelpon Ken untuk menanyakan kenapa Ken tidak masuk kantor hari ini.


Saat Rendy mencari kontak Ken di ponselnya ada dua karyawannya yang berjalan melewatinya yang kebetulan salah satunya adalah Diana.


"Kalian liat Ken tidak?" tanya Rendy kepada dua wanita didepannya.


Kedua wanita itu menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Tidak, Pak," ucap salah satu dari mereka.


"Pak Kendra ada di rumah sakit," ucap Diana lalu ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Astaga! keceplosan lagi," ucap Diana didalam hatinya.


Diana lupa kalau ia tidak boleh memberi tahu Rendy atau siapapun tentang keadaan Ken saat ini.


"Di rumah sakit! Ken kenapa?" tanya Rendy kepada Diana.


"Pak Ken terluka parah, sepertinya ada yang memukulinya kemarin," jelas Diana kepada atasannya, "Pak sebenarnya, Pak Kendra melarang saya untuk memberi tahu anda tentang kondisinya sekarang," sambung Diana lagi.


Rendy terdiam mematung sesaat setelah ia mendengar ucapan Diana yang katanya Ken terluka parah.


"Duh, bisa habis gue nanti diomelin sama Pak Ken," ucap Diana didalam hatinya sembari menundukkan kepalanya.


"Di rumah sakit mana, siapa yang membawanya kesana?" tanya Rendy penuh penasaran.


"Di rumah sakit xxx, saya yang mengantarkan Pak Kendra kesana," jawab Diana.


"Kenapa kamu gak kasih tahu saya dari kemarin?" ucap Rendy lagi.


"Maaf Pak. Pak Kendra melarang saya untuk memberi tahu anda atau siapapun," jawab Diana.


Ada rasa takut yang melanda Diana, ia takut kehilangan kepercayaan dari Kendra dan ia juga takut disalahkan oleh Rendy karena tidak memberi tahunya lebih awal tentang keadaan Ken.


"Kapan Ken pulang?" tanya Rendy lagi.


"Sebentar lagi saya akan menjemputnya, Pak. Tapi kalau anda yang mau menjemput Pak Kendra, silakan," ucap Diana.


"Tidak-tidak. Kamu aja yang jemput Ken, saya masih banyak urusan yang harus saya selesaikan," ucap Rendy beralasan.


Rendy tidak ingin Ken tahu kalau sebenarnya ia mengkhawatirkannya. Setelah memastikan Ken baik-baik saja ia akan lanjut dengan sandiwaranya.


Diana kembali ke tempatnya kerja, dan Rendy juga kembali ke ruangannya.


Bersambung.


Rekomendasi novel yang bagus untuk kalian baca.


Judul : Langit jingga mengubah takdir


Karya : EuRo40

__ADS_1



__ADS_2