
Saat Jacky pulang kerja, Kayla membuntutinya dari kejauhan.
Menurut pernyataan ibu pemilik warung itu, Jacky adalah orang yang baik, jadi Kayla harus memastikan kebenaran tentang pengakuan para preman itu dan juga Irwan.
Jacky melajukan motornya dengan kecepatan sedang!
Kayla terus membuntuti kemana arah motor Jacky pergi.
Setelah setengah jam membuntuti Jacky akhirnya Jacky menepikan motornya didepan sebuah rumah yang tidak besar namun cukup mewah.
Jacky turun dari motornya lalu berjalan memasuki rumahnya!
Kayla menepikan mobilnya di pinggir jalan yang agak jauh dari rumah Jacky.
"Apa ini rumahnya, Jacky?" gumam Kayla.
Saat Kayla sedang memperhatikan keadaan rumah itu, Biani datang lalu langsung masuk ke dalam rumah itu.
"Biani? Kenapa Biani juga masuk ke dalam rumah itu?" ucap Kayla.
Kayla masih stay di tempat itu, lama tidak ada aktivitas di depan rumah itu. Jacky dan Biani pun tidak keluar lagi dari rumah itu.
Merasa penasaran, Kayla turun dari mobilnya lalu berjalan lebih dekat lagi ke rumah itu!
"Apa mereka ada hubungan atau Biani membayar Jacky untuk membalas dendam kepada Leon?"
Kayla terus bertanya-tanya tentang Jacky dan Biani, ia memang tidak mengetahui bahwa Jacky dan Biani adalah adik dan Kakak.
Saat Kayla akan melangkah untuk lebih mendekat lagi ke rumah itu, tiba-tiba Jacky keluar dari rumah itu!
Kayla segera menyelinap, bersembunyi di balik tembok.
Jacky berjalan sedikit jauh dari pintu utama rumahnya sembari merogoh ponselnya yang ia taruh di dalam saku celananya.
Jacky segera mengangkat telepon dari seseorang setelah lumayan jauh dari pintu rumahnya.
📞 "Halo," ucap Jacky.
📞 "Orang tuanya Rania mencari pelaku yang melakukan pemukulan terhadap Rania," ucap seseorang dari sebrang telepon.
📞 "Apa? Lo tahu dari mana?"
📞 "Dari berita di televisi."
Jacky mematikan sambungan teleponnya, tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi gelisah.
"Ada apa, siapa yang menelpon Jacky? Kenapa tiba-tiba dia menjadi gelisah," ucap Kayla didalam hatinya.
Kayla terus memperhatikan Jacky.
"Abis telponan sama siapa? Rahasia banget," ucap Biani yang baru tiba di halaman rumahnya.
Jacky yang terkejut saat mendengar suara Biani langsung membalikkan tubuhnya menjadi menghadap Biani.
"Biani, sejak kapan kamu di situ?" ucap Jacky.
"Baru saja. Pertanyaan ku belum Kakak jawab."
"Dion yang menelpon Kakak," jelas Jacky.
"Kak Dion? Kenapa sampai menjauh dariku kalau memang benar Kak Dion yang menelpon Kakak?" ucap Biani.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Biani lagi.
"Soal pekerjaan, kamu gak perlu tahu karena kalau tahu pun kamu gak akan ngerti."
"Rupanya mereka adalah seorang Kakak beradik," ucap Kayla didalam hatinya.
"Bi, Kakak ada urusan sebentar. Bilang sama Mama kalau Kakak pergi ya!" ucap Jacky sembari menaiki motornya.
"Pergi ke mana?"
"Rahasia, kamu gak perlu tahu."
Jacky langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
"Aneh banget," ucap Biani.
__ADS_1
Biani langsung masuk ke dalam rumahnya setelah Jacky pergi.
Setelah Biani masuk ke dalam rumahnya, Kayla segera berlari menuju mobilnya dan langsung masuk kedalamnya!
Dengan cepat Kayla menyalakan mesin mobilnya dan langsung melaju untuk mengejar Jacky yang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
"Aku gak boleh kehilangan laki-laki itu," ucap Kayla sembari terus menyetir.
Saat itu jalanan sedang ramai karena bertepatan dengan jam pulang kerja. Kayla terjebak macet kala itu.
"Sial!" ucap Kayla sembari memukul stir mobilnya.
Tin!
Tin!
Tin!
Kayla membunyikan klakson mobilnya berkali-kali agar mobil didalamnya memberinya jalan.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya jalanan itu kembali lancar namun Kayla sudah tak melihat Jacky lagi.
Kayla melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berharap ia bisa mengejar Jacky yang sudah meninggalkannya jauh.
"Kemana dia?" ucap Kayla.
Setelah berusaha mencari Jacky akhirnya Kayla melihat motor Jacky memasuki perkampungan.
"Itu dia," ucap Kayla.
Kayla segera mengikuti Jacky lagi.
...****************...
Elvan baru tiba di rumahnya, dia masuk ke dalam rumahnya dengan langkah cepat.
"Van, udah pulang?" ucap Shila.
"Iya, Ma."
Elvan duduk di kursi ruang keluarga!
"Di kantor lagi banyak kerjaan, Ma."
"Memangnya Leon kemana?" tanya Kendra.
"Ada. Kerjaan aku sama Kak Leon kan beda Pa."
Ken dan Shila tak berucap lagi, mereka terdiam sembari memperhatikan sang putra yang terlihat sedang kesal.
"Ma, Pa kenapa kalian tidak memberitahu aku kalau undangan pernikahan aku sama Kayla sudah disebar?"
"Kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu gak mau ikut campur urusan pernikahan kamu," ucap Shila.
"Iya, setidaknya beritahu aku dulu, agar aku bisa mengundang orang-orang terdekat ku."
"Ya gimana lagi, semua udah terlanjur. Maafkan Mama ya."
"Kamu udah ketemu sama Kayla belum?" tanya Kendra.
"Belum. Beberapa hari ini kami belum bertemu ataupun berbicara lewat telepon."
"Hey, kenapa kalian tidak bertemu ataupun saling menelpon?" tanya Shila.
Elvan tak langsung menjawab pertanyaan Mamanya.
"Jangan bilang kalau kalian sedang berantem," ucap Shila lagi.
"Tidak. Hubungan kami baik-baik saja, Mama gak usah khawatir."
"Usahakan kamu bertemu dengan Kayla, karena pernikahan kalian tinggal menghitung hari loh," ucap Ken.
"Ketemu juga mau apa, Pa? Bukannya segala sesuatu yang diperlukan dalam pernikahan kami sudah kalian atur?"
"Memang sudah, tapi kan kamu harus ... ah ya sudahlah terserah kamu saja."
...****************...
__ADS_1
Sejak Leon tiba di rumahnya, Shania terus nempel pada Leon, Shania terus memeluk Leon dengan erat.
"Sayang, mau sampai kapan kamu memeluk aku seperti ini?" tanya Leon.
"Sampai aku puas," sahut Shania.
"Ini sudah hampir setengah jam loh, masa belum puas?"
"Belum. Aku belum puas memelukmu karena aku masih kangen sama kamu."
"Setiap hari bertemu, kenapa kangennya sampai sebanyak ini? Memangnya kamu gak bau apa, aku kan belum mandi."
"Bau? Mana ada suamiku ini bau, kamu kan tidak pernah bau."
Shania terus memeluk Leon dengan erat, dia enggan melepaskan pelukannya dari Leon.
Entah kenapa Shania sangat merindukan Leon padahal mereka berpisah hanya beberapa jam saja.
Saat Leon sedang membelai rambut Shania, Shania meringis kesakitan.
"Shania, kamu kenapa?" tanya Leon panik.
"Aah, perutku sakit," lirih Shania.
"Sakit? Apa kita perlu ke dokter?" Leon semakin khawatir terhadap Shania.
Beberapa saat kemudian Shania tertawa terbahak-bahak. Raut wajah Leon yang panik dan khawatir terlihat sangat menggemaskan hingga Shania tak bisa menahan tawanya.
"Kamu."
"Maaf-maaf, aku hanya bercanda," ucap Shania disela tawanya.
"Kamu harus dihukum karena sudah membuatku khawatir."
"Ampun Leon, maafkan aku."
Leon memangku tubuh Shania lalu membaringkannya di atas tempat tidur!
Leon langsung men*****i Shania tanpa henti.
Setelah beberapa menit, Leon baru menghentikan aksinya.
"Kamu akan mendapatkan hukum yang lebih dari ini, nanti malam," ucap Leon.
"Aku kan sudah minta maaf. Kenapa masih harus dihukum?" ucap Shania sembari mengusap bibirnya yang basah akibat ulah Leon.
Leon tersenyum lalu mencium bibir Shania sekilas.
"Aku mau mandi dulu," ucap Leon.
"Mandi saja sana, lagi pula aku sudah tidak kangen lagi."
...****************...
Di perkampungan, Jacky terus melakukan motornya menuju hutan! Kayla terus mengikuti Jacky dari kejauhan.
Jacky menepikan motornya didepan sebuah rumah tua yang nampak tidak terawat itu!
Kayla turun dari mobilnya lalu berlari ke arah rumah tua itu berada!
"Mau ngapain Jacky ke rumah tua itu?" ucap Kayla sembari terus berlari.
Kayla memperlambat langkahnya setelah dekat dengan rumah itu. Ia tidak ingin ketahuan oleh Jacky.
Kayla mengintip dari salah satu jendela, ia penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Jacky di rumah tua itu.
"Aku harus membuang baju ini," ucap Jacky sembari memegang pakaian yang ia pakai untuk menculik Rania.
Jacky membawa pakaian itu ke luar rumah lalu mulai membakar pakaian itu.
"Aku harus menghilangkan semua barang bukti agar aku tidak ditangkap polisi," ucap Jacky sembari terus memastikan pakaian itu habis terbakar.
"Apa yang sudah dia lakukan sehingga dia berusaha menghilangkan barang bukti? Apa jangan-jangan memang benar perkataan Irwan dan para preman itu? Tapi kenapa pernyataan ibu pemilik warung itu berbeda dengan pernyataan mereka?" ucap Kayla didalam hatinya.
Jacky memasukkan motornya ke dalam rumah tua itu lalu menutupi motornya dengan kain yang terdapat di dalam rumah itu.
"Terpaksa aku harus meninggalkan motorku di sini. Aku gak mau ditangkap polisi," gumam Jacky.
__ADS_1
Kayla terus memperhatikan Jacky sembari terus mendengarkan setiap perkataan yang Jacky ucapkan.
Bersambung