
Galang membuka pintu kamarnya dan langsung nampak sosok Rio sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kakak," ucap Galang.
"Kakak mau bicara," sahut Rio.
"Baik. Silahkan masuk!" Rio mempersilahkan Rio untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Tidak di sini. Kita bicara di luar saja."
Rio berjalan menuruni anak tangga dengan diikuti oleh Galang di belakangnya!
"Mau pada ke mana, anak-anak Mama? Kompak banget," ucap Athalya.
"Kita mau ke taman, Ma. Biasa cari angin," ucap Rio dengan senyuman manis di bibirnya tentunya.
Athalya mengangguk-anggukan kepalanya. Dia menyunggingkan senyum pada kedua putranya itu.
Rio dan Galang terus berjalan menuju taman yang terdapat di halaman rumahnya!
Setelah tiba di taman itu, Rio menghentikan langkahnya, dia berdiri tegak membelakangi Galang dengan kedua tangannya yang ia masukan ke dalam saku celananya.
"Kenapa kamu tidak jujur perihal Biani?" tanya Rio.
"Maksud kakak gimana?" Galang bertanya balik kepada kakaknya itu.
"Jangan pura-pura bodoh, Galang!" Rio berucap dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.
Galang terdiam sembari menundukkan kepalanya.
"Sudah hampir dua minggu, Biani bekerja di kafe tapi dengan santainya kamu mengatakan bahwa kamu tidak mengenali Biani. Apa maksudmu, Galang?"
"Aku hanya tidak ingin kakak dan kedua orang tua kita berpikir yang tidak-tidak terhadap aku dan Biani."
"Dari tatapan kamu ke Biani, ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan ada sesuatu yang sebenarnya ingin kamu katakan kepada Biani."
"Tidak. Tidak ada, itu hanya perasaan kakak saja. Seharusnya kakak tidak menghukum Biani dengan memecatnya dari pekerjaannya."
...****************...
"Ternyata makanan dipinggir jalan enak juga ya," ucap Shania pada Leon.
"Iya, aku juga baru tahu kalau ternyata makanan yang jualannya di pinggir jalan ternyata enak-enak. Rasanya gak kalah dari restoran yang harganya mahal bahkan tiga kali lipat dari harga di sini," sahut Leon.
"Kenapa gak dari dulu saja kita coba makan di tempat seperti ini."
"Kamu ada benarnya juga, sayang. Kamu mau nambah gak satenya?"
"Tidak, aku sudah merasa kenyang."
Shania meminum air yang sudah ia bayar satu paket dengan makanannya.
"Makan di sini, udah enak dapat gratis minum lagi," ucap Leon.
"Pulang yuk!" ajak Shania.
"Ayo kita pulang. Sudah malam juga kayaknya."
Mereka berdua bersiap-siap untuk pulang.
Leon membayar makan yang mereka makan sedangkan Shania tetap diam di tempat semula untuk menunggu Leon yang sedang menyelesaikan pembayarannya.
Shania duduk sambil mengedarkan pandangannya.
"Di sini terlihat ramai dan tempatnya juga nyaman," gumam Shania.
"Sayang ayo kita pulang!" seru Leon sembari berjalan ke arah Shania.
Shania beranjak dari duduknya lalu berjalan menghampiri Leon!
Mereka berdua berjalan menuju mobil mereka terparkir!
...****************...
__ADS_1
Di kamar Rio.
Rio merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, pandangannya menatap langit-langit kamarnya. Perkataan Shania terus terngiang-ngiang di telinganya.
"Biani adalah mantan kekasihnya Leon," gumam Rio.
Rio menanamkan matanya berharap dia bisa melupakan semua tentang Biani yang dia ketahui lewat Shania.
"Dulu aku sangat mencintai kamu Shania tapi cinta itu perlahan hilang sejak aku kenal sama Biani. Aku mulai mencintai Biani dan melupakan kamu Shania, tapi aku ...." Rio menghentikan perkataannya saat menyadari bahwa ada seseorang yang tengah berdiri memperhatikan dirinya.
Rio berjalan menghampiri orang yang berdirinya di depan pintu kamarnya itu!
Leon dapat melihat orang itu karena pintu kamarnya tidak tertutup rapat jadi dia bisa dengan mudahnya melihat orang yang berada di luar kamarnya.
"Mama!"
Rio terkejut saat tahu Mamanya yang berdiri di depan pintu kamarnya itu.
"Rio, tadinya Mama mau bicara sama kamu tapi gak jadi deh," ucap Athalya.
"Bicara apa? Katakan saja."
"Tidak, nanti saja, Mama bicaranya."
"Tapi kenapa harus nanti, kenapa tidak sekarang saja?"
"Mama lihat kamu sedang ada masalah, jadi lain kali saja. Lagi pula pembicaraan, Mama ini gak terlalu penting."
Athalya menatap wajah sang putra dengan tatapan dalam.
"Ada apa, Nak? Kamu sama Biani baik-baik saja kan?" tanya Athalya.
"Aku baik-baik saja, Ma. Kami tidak sedang bertengkar."
Athalya tersenyum tipis. Meski putranya itu berkata bahwa dia baik-baik saja tapi sebagai seorang ibu, Athalya tahu bahwa putranya itu sedang ada masalah tapi ia juga tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi kepada putranya itu.
Di kamar Galang.
Galang duduk di sofa yang berada di samping tempat tidurnya.
Galang menatap foto Biani yang masih ia simpan rapi dalam memori ponselnya.
"Aku mencintaimu, Biani tapi aku tidak bisa memiliki dirimu. Seandainya kamu bukan kekasihnya kak Rio, aku akan berusaha untuk memiliki dirimu meski selama ini kamu tidak pernah menganggap diriku ada," ucap Galang sembari terus menatap foto Biani.
"Kamu tahu Bi? aku mencintaimu lebih besar dari aku mencintai diriku sendiri. Senyuman mu, canda-tawamu, tatapan mu dan semua yang kamu miliki dalam diri kamu membuat aku sangat tidak berdaya dalam rasa cinta yang tak seharusnya ini." Galang terus berbicara sendiri seolah dia sedang mengobrol dengan seseorang.
Tak terasa Galang meneteskan air matanya, baru kali ini dia merasakan cinta sampai sebesar itu kepada seorang gadis.
"Galang, kamu gak boleh seperti ini, dia itu milik kakakmu kamu tidak boleh merusak kebhinekaan kakakmu sendiri," ucap Galang didalam hatinya.
Galang mengusap air matanya lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya!
Galang menutup matanya, perlahan ia tertidur dengan ponselnya yang ia letakan di atas dadanya.
...****************...
Elvan berjalan bolak-balik di dalam kamarnya, dia merasa kegelisahan. Entah apa yang membuat dirinya gelisah sampai tidak bisa tertidur dengan lelap.
"Aku ini sebenarnya kenapa? Kenapa gak bisa tidur gini," gumam Elvan.
Entah kenapa malam itu Elvan merasa sulit untuk tertidur. Dia sendiri tidak tahu dan tidak mengerti kenapa dirinya menjadi seperti itu.
Elvan mengambil ponselnya dari atas meja! Dia ingin menelpon Kayla agar dirinya bisa sedikit tenang. Dalam pikirannya dia berharap setelah menelpon kekasihnya itu dirinya dapat tertidur dengan nyenyak.
Elvan menatap jam di dinding kamarnya menunjukan pukul dua puluh tiga lewat empat puluh lima menit. Dia tertegun sesaat sembari memegangi ponselnya.
"Telpon gak ya?" gumam Elvan.
Elvan membuka aplikasi whatsapp di ponselnya dan dia melihat nomor Kayla sedang online, tanpa pikir panjang, Elvan langsung melakukan panggilan video.
Tak butuh waktu lama, Kayla langsung menerima telpon darinya.
Saat panggilan video itu tersambung, Elvan langsung melihat Kayla yang tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"Ada apa, malam-malam menelpon ku?" ucap Kayla dari sebrang telepon.
Elvan menatap wajah Kayla dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.
"Malah diam," ucap Kayla lagi.
"Aku gak bisa tidur, Kay," ucap Elvan.
"Gak bisa tidur kenapa?"
"Gak tahu, mungkin aku kangen sama kamu."
"Baru habis bertemu, masa sudah kangen lagi?"
"Namanya juga orang lagi kasmaran, Kay. Gak ketemu semenit saja rasanya seperti satu hari, kita kan ketemu kemarin wajar saja hari ini aku kangen sama kamu."
Kayla menampakkan senyum terbaiknya.
"Hey, mau ketemuan?" ucap Kayla.
"Tidak. Aku tidak ingin kamu keluar rumah malam-malam gini."
"Kenapa? Aku biasa hidup di luar rumah kok."
"Aku takut kamu diambil orang."
Kayla tertawa kecil.
"Ternyata laki-laki punya rasa takut kehilangan juga ya?"
"Laki-laki juga manusia Kay. Mereka juga punya rasa takut kehilangan."
...****************...
"Rio!"
Seketika Biani terbangun dari tidurnya sembari berteriak menyebutkan nama Rio.
Biani mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamarnya.
"Ternyata hanya mimpi," gumam Biani.
Biani meminum air putih yang ada di atas meja yang selalu ia siapkan setiap sebelum tidur.
Biani menatap jam di dinding kamarnya lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa aku mimpi seperti itu?" tanya Biani kepada dirinya sendiri.
Dalam mimpinya Biani melihat Rio dan Galang berkelahi hingga Rio mengalami luka parah di bagian kepalanya karena terbentur sangat keras.
"Rio, Galang," gumam Biani lagi.
Biani meraih ponselnya dan dia melihat banyak telpon masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Siapa yang menelpon ku sampai berkali-kali seperti ini?"
Biani membuka pesan dari nomor tak dikenal itu lalu membacanya.
["Bi, ini aku, Galang. Aku benar-benar tidak tahu kalau kamu adalah kekasihnya kak Rio, maafkan aku atas perlakuan ku terhadap mu kemarin-kemarin ya."]
["Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku janji tapi aku terlanjur mencintaimu, tolong izinkan aku menyimpan rasa cinta untuk mu."]
["Aku tidak berharap untuk memiliki dirimu, aku bahagia jika kamu bahagia bersama kakakku."]
Setelah membaca rentetan pesan dari Galang, Biani kembali meletakkan ponselnya di atas meja!
"Jadi Galang suka sama aku?" gumam Biani.
Biani menguap, dia mulai merasakan ngantuk lagi setelah beberapa saat terbangun dari tidurnya. Dia kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya lalu menutup sebagian tubuhnya dengan selimut!
Biani mulai tertidur lagi, untuk menjelajahi alam bawah sadarnya.
Bersambung
__ADS_1