
Shania sudah diperbolehkan pulang oleh dokter karena kondisinya sudah membaik.
"Akhirnya aku bisa pulang dari hotel yang menyebalkan ini," ucap Shania dengan penuh kebahagiaan.
"Shania, kamu mau pulang ke rumah kita atau ke rumah orang tuamu?" tanya Leon yang sudah siap untuk membawa Shania pulang.
"Ke rumah kita saja."
"Tapi kita tidak punya asisten rumah tangga. Siapa yang akan mengurus dirimu, nanti?"
"Aku sudah sehat, aku sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa."
Leon menatap Shania dengan tatapan dalam.
"Baiklah kalau itu mau kamu."
Leon membantu Shania berjalan, ia terus memapah Shania yang masih lemas!
"Leon, terimakasih."
"Terimakasih untuk apa?"
"Kamu sudah mau menjemput aku ke rumah sakit ini."
"Kalau bukan aku, siapa lagi yang akan menjemput kamu? orang tuamu gak bisa jemput karena ada keperluan penting, orang tuaku juga gak bisa jemput kamu karena mereka juga ada keperluan pribadi."
Shania tidak berucap lagi, ia terus berjalan perlahan menuju mobil Leon.
"Kamu sudah memeriksa keamanan mobil ini belum?" ucap Shania setelah mereka berada di dalam mobil.
"Sudah. Aku juga gak mau mengalami kecelakaan yang sama sebanyak dua kali."
"Bagus lah, kalau kamu mengerti."
Leon mulai melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
"Rupanya wanita itu sudah sembuh dan sudah diperbolehkan untuk pulang," ucap Biani yang berada di halaman rumah sakit itu.
Biani menatap mobil yang dikendarai oleh kekasihnya sama mobil itu tidak terlihat lagi.
"Shania, kamu gak boleh terlalu lama hidup satu rumah dengan kekasihku," gumam Biani.
Biani pergi dari halaman rumah sakit itu karena orang yang ia tuju sudah pergi dari rumah sakit itu.
Tadinya Biani ingin mengganggu ketenangan Shania, namun karena Shania sudah pulang dirinya menjadi tidak punya kesempatan lagi untuk mengusik hidup Shania.
...****************...
"Van, tumben masih di rumah?" ucap Shila.
"Iya, Ma. Aku sebentar lagi aku pergi kok."
"Mau kemana?"
"Ke kantor lah, masa ke sekolah." Elvan tertawa renyah.
"Ya sekali-kali ke rumah calon mertua kek."
"Mulai deh." Elvan memutar bola matanya malas.
Shila tersenyum melihat putranya yang mulai kesal.
"Atau kamu coba dulu ketemu sama anaknya teman Mama. Siapa tahu cocok."
"Dah lah, aku berangkat ke kantor dulu," ucap Elvan.
Elvan pergi meninggalkan Mamanya karena dia malas membahas tentang anak dari teman Mamanya itu.
Shila menggelengkan kepalanya. "Dasar anak itu," gumamnya.
Elvan berkendara dengan kecepatan sedang!
"Mama, tiap hari ngebahas tentang anak temannya, dia pikir gampang apa mencintai orang yang sama sekali belum dikenali," gumam Elvan.
Setelah dua puluh menit berkendara, Elvan tiba di kantornya. Dia berjalan memasuki area kantornya beberapa karyawan menyapa nya dengan ramah.
...****************...
Leon dan Shania baru tiba di rumahnya.
__ADS_1
Shania turun dari mobil setelah Leon memarkirkan mobilnya!
"Shania, tunggu. Biar aku bantu."
Leon segera turun dari mobil lalu berlari kecil menghampiri Shania!
"Leon aku bisa sendiri, jangan berlebihan."
"Kamu belum sepenuhnya sembuh. Aku gak mau kami kenapa-napa lagi."
Shania menatap Leon.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku hanya tidak ingin orang tuamu dan orang tuaku mengetahui bahwa aku tidak pernah menganggap dirimu sebagai istriku."
"Leon, aku tidak berharap banyak dari dirimu. Aku hanya minta satu hal darimu."
"Apa itu?"
"Ceraikan aku," ucap Shania tegas.
"Tidak bisa Shania. Aku tidak mungkin menceraikan dirimu secepat ini."
"Lalu untuk apa mempertahankan pernikahan tanpa cinta? Aku juga ingin bahagia seperti wanita yang lainnya."
"Shania, kalau kita bercerai bagaimana dengan hubungan anatar keluargaku dan keluargamu. Aku tidak mau hubungan yang lama terjalin terputus begitu saja hanya karena kita," ucap Leon.
Shania tak berucap lagi, ia pergi meninggalkan Leon di halaman rumahnya!
Leon menatap Shania yang pergi meninggalkan dirinya. Dia mengusap wajahnya kasar karena frustasi.
Leon tidak mungkin menceraikan Shania karena hubungan antara dua keluarga dan dua perusahaan akan terputus. Disisi lain ia juga tidak bisa mencintai Shania dan menerimanya sebagai istrinya karena dalam hatinya ia masih sangat mencintai Biani.
...****************...
Biani berjalan sendirian di sebuah taman yang lumayan ramai pengunjung!
"Cewek, sendirian aja nih?" ucap seorang laki-laki kepada Shania.
Biani tersenyum kepadanya. "Saya sendirian," sahut Biani.
"Boleh saya temani?"
Biani berjalan lebih cepat untuk menjauh dari laki-laki itu.
"Mbak, saya hanya ingin berkenalan dengan kamu."
Laki-laki itu berlari kecil untuk mensejajarkan langkahnya dengan Biani!
"Mas, tolong jangan ganggu saya. Saya sedang ingin sendiri."
"Biani!"
Dari kejauhan teman-temannya Biani memanggilnya.
Biani menatap ke arah suara.
"Kalian di sini juga?"
"Kita lagi cuci mata," ucap Kamila.
"Pacar baru?" tanya Tasya sembari menatap laki-laki yang berdiri di samping Biani.
"Bukan." Biani berucap dengan nada kesal.
"Lalu?" tanya Kamila.
"Kami baru bertemu dan baru akan kenalan tapi saya sudah tahu kalau nama gadis ini adalah Biani. Perkenalkan nama saya Rio," ucap laki-laki itu.
Kamila dan Tasya tersenyum ramah kepada Rio sedangkan Biani bersikap cuek kepada Rio.
"Namaku Kamila dan ini temanku, namanya Tasya," ucap Kamila.
"Senang berkenalan dengan kalian," ucap Rio.
"Semoga kita bisa bertemu di lain waktu. Biani jangan jutek gitu dong, karena aku suka gadis seperti itu," ucap Rio lagi.
Biani tak menghiraukan perkataan laki-laki yang membuatnya semakin kesal.
Rio dan teman-temannya Biani saling bertukar nomor ponsel untuk memudahkan mereka kalau sewaktu-waktu mereka ada waktu untuk bertemu.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Rio.
"Sama-sama," sahut Tasya.
Rio pergi meninggalkan tiga wanita itu.
"Lo kenapa Bi?" ucap Tasya.
"Gue lagi kesal."
"Kesal kenapa?" tanya Kamila.
"Gue pengen menyingkirkan Shania dari hidup Leon."
"Gampang saja," ucap Kamila.
"Caranya?" tanya Biani.
"Lo suruh orang buat menculik si Shania lalu lo suruh orang itu buat buang Shania ke tempat yang jauh yang tidak mungkin dia bisa kembali lagi ke kehidupan Leon," jelas Kamila.
"Jangan bodoh. Mereka orang kaya, mereka akan sangat mudah menemukan pelaku penculikan terhadap Shania dan akhirnya Biani yang akan mendekam di penjara," ucap Tasya.
"Tahu, ngasih ide kok gak dipikir dulu."
"Terus lo mau ngapain, Biani?" ucap Kamila.
"Nanti gue pikirkan. Kalian mau bantu gue gak?" ucap Biani.
"Kita berdua selalu siap siaga buat membantu lo," ucap Tasya.
"Bi, si Rio ganteng juga. Apa gak sebaiknya lo beralih haluan saja," ucap Kamila.
"Rio belum jelas keadaannya sedangkan Leon sudah jelas, dia kaya, dia ganteng dan yang pastinya dia mencintai gue," ucap Biani.
"Dah lah, terserah lo," ucap Kamila.
"Mending kita jalan biar gak pusing," ucap Tasya.
Tiga gadis itu pergi meninggalkan taman itu.
...****************...
Leon baru tiba di kantornya, dia langsung menuju ruang kerja Elvan!
"Van," ucap Leon.
"Hmm," ucap Elvan tanpa menatap Leon.
"Van, gue–"
"Kenapa?"
"Shania minta cerai," ucap Leon.
Elvan menatap Leon dengan tatapan tak percaya.
"Serius?"
"Aku gak mungkin menceraikan Shania, tapi aku juga gak mungkin mencintai Shania karena aku masih mencintai Biani," ucap Leon.
"Kenapa hidup kamu jadi memusingkan seperti ini?"
"Van, aku harus apa?"
"Mana aku tahu, kenapa kamu tanya sama aku? Aku juga lagi pusing mikirin hidupku," ucap Elvan.
Dua laki-laki yang tak berbeda jauh usianya itu terus membicarakan tentang kehidupannya masing-masing yang tiba-tiba berubah menjadi rumit.
...****************...
Di kediaman Leon dan Shania.
Shania sedang beristirahat di kamarnya. Dia berbaring di tempat tidurnya sambil memainkan ponselnya.
Tiba-tiba dia teringat dengan perlakuan Biani terhadap dirinya yang hampir membuatnya kehilangan nyawanya.
"Gadis itu, benar-benar nekat. Dia berani melakukan hal yang hampir membuat aku mati," gumam Shania.
Shania berpikir keras memikirkan bagaimana cara dirinya membalas dendam kepada Biani.
__ADS_1
Bersambung