Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 126


__ADS_3

"Jangan memikirkan sesuatu yang tidak perlu dipikirkan. Sampai saat ini aku masih suamimu dan sampai saat ini aku masih mencintaimu seperti biasanya, selamanya akan terus seperti itu." Rendy berucap sembari mendudukkan Liana di kursi mobilnya!


Rendy segera masuk kedalam mobilnya, lalu mulai melajukan kendaraannya menuju rumah mereka.


"Kamu bilang jangan memikirkan sesuatu yang tidak perlu dipikirkan? kamu pikir aku apa? ini hati, Rendy bukan tempat rekreasi yang bisa seenaknya kamu datangi dan kamu tinggal pergi setelah puas menikmatinya," ucap Liana dengan pandangan lurus ke depan.


Rendy terdiam tanpa kata.


"Kamu tahu, dulu aku tidak yakin dengan semua kata-kata manis yang terucap dari mulutmu tapi ternyata aku terbuai juga dengan semua janji-janji manismu. Untuk sesaat aku memang merasakan indahnya cinta namun rasa itu tidak bertahan lama karena ternyata kamu masih memiliki hubungan dengan wanita itu," ucap Liana dengan tetes demi tetes air mata yang mulai membasahi pipinya.


"Keluarkan semua kekesalan yang menganggu pikiranmu. Kalau mau, kamu boleh pukul aku sesuka hatimu jika itu bisa membuatmu lebih tenang," ucap Rendy sembari terus fokus berkendara.


"Aku bisa tenang kalau kamu menceraikan aku. Jangan pernah pikirkan tentang kehamilanku, karena setelah anak ini lahir aku tidak akan membiarkannya mengenalimu," ucap Liana lagi.


Rendy tak berucap lagi, ia mengambil ponselnya lalu menelpon Kendra.


📞 "Halo Ken, beritahukan kepada semua karyawan termasuk satpam, besok dan lusa kantor ditutup. Mereka diliburkan," ucap Rendy setelah Ken menerima telepon darinya.


📞 "Apa! libur?" tanya Ken dari sebrang telepon.


📞 "Iya. Jangan banyak bertanya dan jangan banyak protes. Ikuti saja apa yang gue perintahkan," ucap Rendy lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak.


*** *** ***


Ken berdecak kesal lalu melempar ponselnya ke meja kerjanya!


"Mentang-mentang punya kekuasaan, seenaknya saja meliburkan karyawan sampai dua hari tanpa sebab dan alasan yang pasti," gumam Ken dengan nada kesal.

__ADS_1


Ken duduk di kursinya sembari memijat keningnya perlahan.


"Kenapa?" ucap Shila yang baru tiba di ruangan Kendra.


"Tidak apa, kepalaku pusing sedikit," ucap Ken.


"Istirahat saja dulu, kerjaannya lanjutin besok," ucap Shila sembari duduk di kursi yang ada didepan meja kerja Ken.


"Besok libur," sahut Ken singkat.


Shila tak berucap lagi, ia berjalan menghampiri Ken lalu membungkukkan badannya sampai wajahnya sejajar dengan wajah Ken.


"Biar aku bantu!" Shila mulai menekan salah satu tombol laptop yang ada didepan Kendra.


*** *** ***


Rendy memapah Liana untuk masuk kedalam rumah!


Liana tak menolak perlakuan Rendy karena memang ia membutuhkan bantuannya.


Liana merasa lemas hingga kedua kalinya tak dapat menopang berat tubuhnya.


"Antar aku ke kamar," lirih Liana.


Rendy menuruti perkataan Liana tanpa mengatakan sesuatu apapun.


Rendy membaringkan Liana di tempat tidurnya!

__ADS_1


"Istirahat ya," ucap Rendy lalu mencium kening Liana penuh kasih sayang.


Rendy berjalan keluar dari kamar Liana menuju kamarnya!


*** *** ***


Kring! kring!


Bunyi notifikasi pesan masuk ke ponselnya Shila.


Shila segera membaca pesan itu.


"Aku ada urusan. Tinggalkan saja pekerjaanmu jangan sampai kamu sakit karena kalau kamu sakit aku bisa galau parah," ucap Shila setelah membaca pesan yang ia terima.


Kendra tersenyum, lalu menatap wanita yang berada di sampingnya itu.


"Itu termasuk apa? gombalan atau menyemangati?" ucap Ken.


Shila mengulum bibirnya lalu sebuah senyuman terukir di bibirnya.


"Sepertinya aku sudah sembuh," ucap Ken.


"Dah lah. Aku pergi dulu, sampai ketemu nanti," ucap Shila.


Shila melangkahkan kakinya meninggalkan Ken di ruangannya!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2