
Saat jam makan siang, Shania datang ke kantor Leon untuk mengantarkan makanan yang ia masak untuk Leon makan siang.
Dengan percaya diri Shania terus berjalan memasuki area kantor Leon.
"Dimana ruangan Pak Leon?" tanya Shania kepada salah satu karyawan perempuan.
Karyawan perempuan itu memperhatikan Shania dari ujung kaki hingga kepala.
"Anda siapa?" tanya karyawan itu.
"Saya ist ... ." Shania tak melanjutkan ucapannya.
"Shania," ucap Elvan.
Shania menoleh ke arah suara! Senyum mengembang di bibirnya saat tahu, Elvan yang menyebut namanya.
"Mmm?" (Shania)
"Elvan. Namaku Elvan," ucap Shania.
Shania memang kenal sama Elvan tapi ia tidak tahu namanya karena memang Leon tidak pernah mengenalkan dirinya kepada Elvan.
"Aku mau ketemu sama Leon," ucap Shania.
"Mari aku antar ke ruangan Leon," ucap Elvan.
"Terimakasih."
Shania berjalan membuntuti Elvan!
"Siapa wanita itu?"
"Mau apa dia bertemu dengan, Pak Leon?"
"Sepertinya dia kekasih batunya, Pak Leon."
"Tidak mungkin, tadi pagi aku melihat Biani datang ke sini."
"Lalu siapa dia?"
Beberapa karyawan wanita terus menatap kepergian Shania dengan pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk di otak mereka.
Tok!
Tok!
Tok!
Elvan mengetuk pintu ruangan Leon!
Pintu itu terbuka, nampak Leon yang sudah siap untuk pergi keluar.
"Shania?" ucap Leon.
"Maaf kalau aku mengganggumu. Aku hanya ingin mengantarkan ini!" ucap Shania sembari memperlihatkan rantang kecil yang ia bawa.
"Shania ...."
"Aku permisi," ucap Elvan.
"Shania, silahkan masuk," ucap Elvan lagi.
Elvan mempersilahkan Shania untuk masuk kedalam ruangan Leon karena Leon tak juga menyuruh Shania masuk kedalam ruangannya.
Shania tersenyum namun tak mengucapkan sepatah kata pun.
Elvan segera pergi meninggalkan Shania dan Leon di tempat itu!
"Leon, ini makanan untuk kamu makan siang!" Shania memberikan rantang itu kepada Leon.
Leon menerima rantang itu tanpa berkata apapun.
"Aku, langsung pulang ya," ucap Shania.
"Shania, tunggu. Ayo kita makan bersama," ucap Leon.
__ADS_1
"Tidak, itu makanan khusus buat kamu lagian makanannya cuma sedikit, gak cukup kalau buat kita berdua," ucap Shania.
"Kamu masuk kedalam saja dulu! Kalau kamu gak mau makan setidaknya kamu temani aku menghabiskan makan ini," ucap Leon.
Shania masuk kedalam ruangan Leon lalu duduk di sofa dengan posisi bersebelahan dengan Leon.
Di lobby kantor, Biani sedang berjalan menuju ruangan Leon! Dia ingin mengajak Leon makan siang bersama di restoran favorit Leon.
"Leon dimana?" tanya Biani kepada seorang karyawan perempuan.
"Ada di ruangannya," sahut perempuan itu.
Tanpa berkata-kata lagi, Biani langsung melanjutkan langkahnya menuju ruangan Leon.
"Itu, Biani?" tanya karyawan lainnya.
"Iya."
Rata-rata karyawan di kantornya Leon sudah mengenal Biani karena Biani sering mampir ke kantor itu untuk menemui Leon.
"Sebentar lagi bakal ada perang dunia ke tiga," ucap salah satu karyawan perempuan.
"Maksud kamu?"
"Di ruangan, Pak Leon ada seorang wanita cantik dan dia terlihat lebih berkelas dibandingkan Biani," ucap karyawan perempuan itu.
"Benarkah?" ucapnya.
"Jangan ngegosip, mending kalian makan karena sebentar lagi waktu istirahat habis," ucap Karyawan laki-laki yang mendengar pembicaraan mereka.
Para karyawan itu pun bubar dari tempat itu!
Biani masuk kedalam ruangan Leon tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Biani terkejut saat melihat Leon dan Shania sedang duduk bersama dengan kursi yang sama.
"Leon!" ucap Biani.
Shania dan Leon menoleh ke arah suara secara bersamaan!
"Tega ya, kamu. Saat aku gak ada kamu bermesraan dengan pelakor itu," ucap Biani.
"Ini tidak seperti yang kamu lihat, Bi. Aku sama Shania hanya ...." Leon menghentikan perkataannya karena Biani berjalan meninggalkan Leon.
Leon menarik tangan Biani agar Biani masuk kedalam ruangannya!
Shania hanya menonton pertunjukan yang dipersembahkan oleh Leon dan Biani.
"Satu perangkap dua sasaran masuk," ucap Shania didalam hatinya.
Senyum tipis terukir di bibir Shania lalu Shania berjalan menghampiri Leon dan Biani yang sedang berdebat!
"Biani, kamu salah faham," ucap Shania.
"Diam kamu, pelakor!" ucap Biani dengan menaikan nada bicaranya. "Kamu bersikap baik hanya untuk cari perhatian dari Leon kan!" sambung Biani.
"Bi, kamu dengerin aku dulu," ucap Leon.
...****************...
Elvan sedang duduk di ruangannya sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba dia teringat dengan wanita yang memberikan nomor telepon kepadanya.
"Kayla, ya namanya Kayla," gumam Elvan.
Elvan menggerakkan jarinya mencari kontak bernama Kayla!
Setelah menemukan nomor ponsel Kayla, Elvan terdiam sejenak, jarinya berhenti bergerak dan tatapannya terus tertuju pada layar ponselnya.
"Telpon gak ya?" tanya Elvan pada dirinya sendiri.
Elvan masih berpikir dan beberapa menit kemudian Elvan menggerakkan ibu jarinya menelpon Kayla.
Satu kali mencoba menelpon Kayla namun tak ada respon dari gadis itu. Elvan mencoba untuk yang kedua kalinya dan baru ia akan mematikan panggilan teleponnya, Kayla sudah lebih dulu menerima telepon darinya.
📞 "Halo," ucap Kayla dari sebrang telepon.
__ADS_1
📞 "Halo," sahut Elvan.
📞 "Dengan siapa ya dan ada perlu apa?" tanya Kayla.
📞 "Aku Elvan. Kamu masih ingat aku kan?"
📞 "Oh, Elvan. Saya pasti mengingat Anda," ucap Kayla.
📞 "Ada yang bisa aku bantu atau ada sesuatu yang harus aku lakukan untuk berterimakasih kepadamu?" ucap Kayla lagi karena Elvan masih terdiam dibalik teleponnya.
📞 "Besok hari minggu. Kamu sibuk gak?"
📞 "Sebenarnya setiap hari aku punya kesibukan tapi khusus untuk kamu, besok aku luangkan waktu seharian penuh," ucap Kayla.
📞 "Kalau kamu sibuk tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa," ucap Elvan.
📞 "Ada apa dan mau apa? Besok aku libur dalam melakukan aktivitas apa pun. Tadi aku hanya bercanda," ucap Kayla dengan tawa renyah.
📞 "Kita jalan bareng, mau gak?"
📞 "Boleh. Mau ketemuan dimana?" tanya Kayla.
📞 "Aku jemput kamu ke rumahmu, boleh kan? Aku tidak mau menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab karena membawa pergi anak orang tanpa izin orang tuanya," ucap Elvan.
📞 "Boleh, nanti aku kirim alamat rumahku."
📞 "Oke."
Elvan memutuskan sambungan teleponnya karena merasa sudah selesai berbicara.
...****************...
Di ruangan Leon.
Biani dan Leon terus berdebat karena merasa sudah tidak ada lagi yang harus di lakukan, Shania memilih pergi dari tempat itu!
"Sepertinya kehadiranku membuat hubungan kalian berantakan. Leon aku pulang, maaf sudah membuatmu jadi berantem dengan kekasihmu," ucap Shania.
Shania segera keluar dari ruangan Elvan tanpa menunggu jawaban dari Elvan ataupun Biani!
Melihat Elvan yang sedang berjalan di depan pintu ruangannya, Shania berjalan cepat sambil menundukkan kepalanya!
"Shania!" ucap Elvan yang melihat Shania berjalan melewatinya.
Shania tak menghiraukan Elvan, dia terus berjalan bahkan sedikit berlari untuk keluar dari kantor itu!
"Shania!"
Elvan mengejar Shania sampai ke halaman kantor! Elvan menarik tangan Shania agar Shania menghentikan langkahnya.
"Shania, ada apa?" ucap Elvan.
Shania menatap Elvan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu kenapa?" tanya Elvan.
Shania masih terdiam dalam seribu bahasa.
"Leon menyakitimu? Apa yang Leon lakukan padamu?" tanya Elvan lagi.
Shania menggelengkan kepalanya! "Ada Biani di ruangan Elvan," ucapan Shania.
"Biani, kapan dia datang?"
"Aku membuat mereka bertengkar. Biani salah faham kepada Leon karena aku berada didalam satu ruangan yang sama berdua bersama Leon," ucap Shania.
Shania mulai meneteskan air matanya.
"Shania, jangan menangis nanti orang berprasangka buruk padaku," ucap Elvan.
"Aku sedih Karena sudah merusak hubungan mereka. Aku gak bermaksud mengganggu hubungan mereka, aku hanya menuruti permintaan orang tuaku," ucap Shania.
Elvan berdiri mematung, ia tidak tahu harus berkata apa.
Bersambung
__ADS_1