Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 114


__ADS_3

Di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk.


Segerombolan preman sedang berkumpul.


"Bodoh! bodoh! kenapa bisa kehilangan jejak?" ucap Sonny dengan nada tinggi.


"Orang itu membawa motor kayak orang kesurupan, Bos," ucap Lucky, anak buahnya Sonny.


Plak!


Plak!


Sonny menampar Lucky beberapa kali.


"Dasar, ngurus yang begitu saja gak becus!" ucap Sonny lagi masih dengan amarah yang memuncak.


Beberapa preman yang melihat perlakuan Sonny kepada Lucky hanya diam sambil menundukkan kepalanya.


"Akhir-akhir ini lo pada bekerja untuk siapa saja?" tanya Sonny kepada semua anak buahnya.


"Tim gue kerja untuk Jenny," sahut Lucky.


"Kalau tim gue kerja untuk, Bos Bram." Arman berucap tanpa menunggu bosnya bertanya.


"Ada yang lain gak?" tanya Sonny lagi.


"Ada, tapi yang lainnya beres tanpa kendala," sahut Lucky.


"Berarti diantara Ken dan si wanita tua itu yang mengirim mata-mata ketempat persembunyian kita," ucap Sonny.


Anak buahnya Sonny hanya menundukkan kepalanya karena takut bos mereka ngamuk-ngamuk.

__ADS_1


"Bos, tenang saja. Mereka gak mungkin menemukan kita," ucap Arman.


Di tempat lain.


Jenny dan Bram sedang duduk disebuah taman.


"Preman-preman itu gagal menghabisi si wanita tua itu padahal aku sudah memberikan uang muka sebanyak sepuluh juta," ucap Jenny dengan nada kesal.


"Mereka pasti melakukan pekerjaannya lagi. Kamu tenang saja," ucap Bram.


"Aku gak bisa tenang selama wanita tua itu masih hidup, aku gak bisa bebas bertemu dengan Rendy," sahut Jenny.


"Selama ini pekerjaan mereka tidak pernah gagal. Tunggu saja beberapa hari lagi, mereka pasti berhasil," ucap Bram dengan senyum liciknya.


"Kamu tidak jatuh cinta beneran kan sama si Rendy?" tanya Bram sambil menatap Jenny.


"Tidak mungkin aku jatuh cinta sama dia, aku cuma cinta sama kamu," sahut Jenny lalu menyandarkan kepalanya di bahu Bram.


Bram membelai lembut rambut Jenny!


"Belum," sahut Jenny, "tadi dia telpon aku katanya dia gak ke kantor. Jadi kami gak bisa bertemu," jelas Jenny.


"Gak dapat duit dong, hari ini?" ucap Bram.


Jenny tak menjawab pertanyaan Bram karena Bram sudah tahu jawabannya.


Di kantor.


Satya datang ke kantor Rendy, namun bukan untuk membicarakan tentang kontrak kerjasama antara perusahaannya dengan perusahaan Rendy namun Satya datang untuk meminta penjelasan dari Rendy tentang pernikahannya dengan Liana dan tentang hubungannya dengan Jenny.


Bukan maksud Satya untuk ikut campur dalam urusan pribadi partner bisnisnya itu karena Satya sudah terlanjur mengagumi Liana, maka Satya siap membahagiakan Liana jika Rendy memang sudah tak menginginkan Liana lagi dan bersedia melepaskan Liana.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Pak Rendy sedang tidak masuk kantor," ucap sekretarisnya Rendy.


Satya nampak kecewa karena orang yang ingin ia temui tidak ada di tempatnya.


"Jika ada hal penting, anda bisa bertemu dengan, Pak Kendra," sambung sekretarisnya Rendy.


"Pak Ken udah kerja lagi? bukannya beliau sedang sakit ya?" tanya Satya yang memang tidak tahu kalau Ken sudah kembali ke kantor.


"Sudah sembuh, Pak. Mari saya antar ke ruangan Pak Kendra," ucap sekretarisnya Rendy lagi.


Sekretarisnya Rendy berjalan menuju ruangan Ken diikuti oleh Satya dibelakangnya!


Tok!


Tok!


Tok!


Sekretarisnya Rendy mengetuk pintu ruangan Ken!


"Masuk!" ucap Ken dari dalam ruangannya.


"Silakan, Pak!" ucap sekretarisnya Rendy kepada Satya lalu ia pergi meninggalkan tempat itu.


"Pak Kendra. Apa kabar?" ucap Satya dengan senyum di bibirnya.


Ken berdiri lalu menjabat tangan Satya!


"Baik. Alhamdulillah saya baik-baik saja. Silahkan duduk," ucap Ken kepada Satya.


"Kalau gitu saya permisi, Pak," ucap Shila kepada Ken.

__ADS_1


Tak ingin menganggu pekerjaan sang kekasih, Shila memilih pergi dari ruangannya Ken.


Bersambung.


__ADS_2