Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 7


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu setelah perdebatan terakhir, hari ini Leon memenuhi permintaan Papanya untuk menemui Shania.


Di salah satu restoran Shania sedang duduk di salah satu meja yang sudah Leon pesan sebelumnya.


Shania duduk manis sembari memainkan ponselnya. Dia terlihat cantik dengan dress berwarna biru yang ia kenakan.


Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Leon tidak kunjung tiba hingga Shania mulai merasa bosan.


"Nyebelin banget sih nih orang. Janji jam satu siang udah mau setengah dua belum datang juga," ucap Shania didalam hatinya.


Shania masih sabar menunggu hingga lima menit kemudian Shania melihat seorang laki-laki yang tampan datang menghampirinya! Tubuhnya tinggi kulitnya putih gaya berjalannya tegap terlihat sangat berwibawa.


Shania mengalihkan pandangannya pada layar ponselnya, ia telah ingin terlihat seperti wanita murahan pada umumnya.


"Shania?" ucap Leon setelah tiba di dekat Shania.


Shania mendongakkan kepalanya! Laki-laki tampan itu berdiri tepat dihadapannya.


"Leon ya?" tanya Shania.


"Saya yakin kamu sudah tahu, siapa saya," ucap Leon datar.


Shania tersenyum kecut. Dalam hatinya ia kesal karena sikap Leon yang seolah tidak suka padanya.


Leon duduk di kursi yang berada didepan Shania!


"Jadi kamu, orang yang Papa pilih untuk menjadi istriku," ucap Leon tanpa menatap Shania.


Shania tidak menjawab, karena menurutnya perkataan Leon tidak perlu dijawab.


"Shania, kamu cantik tapi kenapa kamu mau dijodohkan? Saya yakin diluar sana banyak laki-laki yang lebih dari saya berlomba-lomba ingin mendapatkan kamu," ucap Leon.


"Anda sendiri, kenapa mau dijodohkan?" Shania bertanya balik.


"Saya tidak ingin melanjutkan perjodohan ini karena saya memiliki seorang kekasih yang tak pernah mungkin bisa saya lupakan."


"Batalkan saja. Saya lebih bahagia jika Anda membatalkan perjodohan ini, Tuan CEO kulkas," ucap Shania dengan tatapan tajamnya.


Leon menatap Shania dengan tatapan tajam bak elang yang sedang mengintai mangsanya.


Hari ini pertama kalinya ada seorang gadis yang menyebut namanya dengan panggilan CEO kulkas.


"Apa maksudmu?" tanya Leon yang sudah mulai marah.


"Tidak ada. Saya hanya mengatakan apa yang ada dalam isi hati saya," ucap Shania.


Gaya bicara Leon datar dan sikapnya yang dingin membuat Shania menyebutnya Tuan kulkas.

__ADS_1


"Pertemuan kita cukup sampai disini," ucap Leon.


Selama pertemuan Leon tidak menampakkan senyumnya sedikitpun berbeda dengan Shania yang masih bisa bersikap ramah meski sebenarnya ia tidak suka dengan perjodohan ini.


"Baiklah Tuan kulkas, saya permisi," ucap Shania.


Shania berjalan meninggalkan Leon ditempat itu!


Setelah jauh dari laki-laki yang akan dijodohkan dengannya, Shania berbalik badan dan menatap laki-laki itu sekilas sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya.


"Dia memang tampan tapi tidak pantas untuk menjadi suamiku," gumam Shania.


Karena terus menggerutu Shania bertabrakan dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah Elvan.


Bruk!


Shania dan Elvan saling bertabrakan.


"Sorry-sorry! Saya gak sengaja," ucap Elvan.


"Nggak-nggak, nggakpapa saya juga salah karena tidak terlalu fokus," ucap Shania.


Elvan sengaja datang ke restoran itu karena Leon yang memintanya.


"Emm, apa ada yang terluka atau terasa sakit?" ucap Elvan.


"Saya lagi buru-buru. Permisi," ucap Shania lagi.


Shania berjalan menuju tempat mobilnya diparkirkan!


Elvan menatap Shania sedikit lama hingga beberapa detik kemudian ia baru ingat kalau ia harus menemui Leon.


Elvan berjalan menuju meja yang sudah diberitahukan oleh Leon sebelumnya!


"Gimana, Pertemuan pertamanya?" tanya Elvan.


Leon masih duduk ditempat semula. "Gadis itu menyebalkan," ucap Leon.


"Menyebalkan bagaimana?"


"Dia lumayan cantik tapi ... ." Leon menggantung ucapannya, "ah yasudah lah, jangan pikirkan dia," sambung Leon.


Elvan tersenyum tipis, ia tahu Leon masih belum bisa menerima gadis itu.


"Terus kita mau ngapain disini?" ucap Elvan.


Leon menatap Elvan. Bisa-bisanya adik sepupunya itu bercanda pada saat seperti ini.

__ADS_1


Elvan tersenyum lagi. "Sorry," ucapnya.


...****************...


Di kediaman Shania.


Shania berjalan memasuki rumahnya dengan langkah yang lebar dan cepat!


Saat Shania hendak menaiki anak tangga, Alisa memanggilnya!


"Shania!"


Shania menghentikan langkahnya.


"Iya, Mam," sahut Shania.


"Udah ketemu sama Leon?" tanya Alisa.


"Udah. Dia lebih cocok menjadi seorang bodyguard dibandingkan menjadi seorang CEO apalagi seorang suami," ucap Shania lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Alisa mengernyitkan dahinya, ia tak mengerti dengan ucapan putrinya barusan.


"Shania sudah pulang?" tanya Satya.


"Sudah, mungkin dia lelah, dia langsung masuk ke kamarnya," ucap Alisa.


"Semoga mereka saling menyukai ya, Ma."


"Semoga saja," sahut Alisa.


...****************...


Biani selalu murung sejak setelah pertemuan keluarganya dengan keluarga Leon. Biani tidak pernah berpikir kalau orang tuanya Leon akan bersikap seperti ini padanya.


Jangankan untuk memiliki Leon seutuhnya untuk sekedar bertemu saja, ia tidak diperbolehkan oleh keluarga Leon terutama Papanya.


Jacky yang melihat Biani hanya berdiam diri dan bersedih disetiap harinya semakin ingin menghancurkan keluarganya Leon.


Jacky mulai memikirkan dengan cara apa agar keluarganya Leon hancur yang paling utama baginya adalah membuat Papanya Leon bersedih dan merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang disayanginya.


Jacky masih berdiri dibelakang Biani sembari terus menatap adiknya itu dengan tatapan sendu.


"Mereka pasti akan merasakan apa yang kamu rasakan Bi," ucap Jacky didalam hatinya.


Jacky mengepalkan tangannya, rahangnya pun mengerat. "*Kakak janji, Kakak akan membuat mereka menyesal karena sudah membuatmu terluka, Bi," ucap Jacky lagi masih didalam hatinya.


Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2