Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 50


__ADS_3

"Leon!"


Biani syok saat melihat berita di televisi yang memberitakan bahwa pengusaha muda yang bernama Leon telah menjadi korban tabrak lari oleh orang yang tidak bertanggung jawab.


Biani semakin syok saat tahu Leon sedang kritis di rumah sakit, namun media tidak memberitahukan di rumah sakit mana Leon dirawat.


"Bi, kamu kenapa tiba-tiba teriak manggil nama Leon?" tanya Jenny.


"Ma, Leon kritis," ucap Biani dalam tangisnya.


"Kritis?"


Jenny duduk di samping Biani sambil terus menatap layar televisi!


"Astaga, siapa yang tega melakukan itu pada Leon," ucap Jenny.


Biani tidak menanggapi perkataan Mamanya, ia terus menangis karena takut terjadi sesuatu yg tidak diinginkan terhadap Leon.


Meski Leon sudah memilih untuk hidup dengan Shania tapi cintanya untuk Leon masih sama seperti semula.


Jacky datang lalu langsung mematikan televisinya.


"Untuk apa mengasihani orang yang tidak memperdulikan kita," ucap Jacky.


"Kamu, Biani. Kakak harap jangan pernah kamu berpikir untuk bisa bersama dengan laki-laki itu," ucap Jacky kepada Biani.


"Kakak gak tahu perasaanku, Kakak gak akan mengerti dengan apa yang aku rasakan. Aku mencintai Leon."


"Biani! Buka matamu, Leon tidak mencintaimu dia hanya ingin membuat kamu tersiksa karena dia ingin membalas dendam atas perbuatan orang tua kita di masa lalu!"


"Kenapa aku yang harus menanggung dosa masa lalu yang Mama lakukan? Kenapa?" Biani pergi meninggalkan Jenny dan Jacky di ruang keluarga!


"Biani! Maafkan, Mama!"


"Biani!"


Jenny terus berteriak memanggil Biani namun Biani tidak menghiraukannya.


Jacky mendekati Jenny lalu berlutut di hadapan Mamanya itu!


"Mama, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaan Mama," ucap Jacky.


Jenny meraih kedua bahu Jacky lalu mengarahkannya agar berdiri.


"Kamu tidak salah, Nak. Semua ini memang salah Mama, yang kamu katakan pada adikmu memang benar. Mungkin saja Leon ingin membalaskan dendam orang tuanya pada Mama," ucap Jenny dengan berurai air mata.


"Aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti keluarga kita, Ma."


Jacky memeluk Jenny dengan erat!


...****************...


Dua hari kemudian.


Leon mulai tersadar setelah dua hari tak sadarkan diri.


"Shania," ucap Leon dengan nada yang hampir tidak terdengar.


Nama pertama yang Leon ucapkan adalah Shania karena memang saat kejadian itu ia sedang bersama Shania.


Liana menatap Leon lalu menggenggam tangan sang putra!


"Leon, kamu sudah sadar, Nak."


Liana segera menekan tombol darurat yang ada di ruangan itu untuk memanggil dokter.


Tak lama seorang dokter dan suster datang ke ruangan itu.


"Dokter, anak saya sudah sadar, dia sudah siuman," ucap Liana dengan raut wajah bahagia.


"Syukurlah. Saya periksa dulu ya, Bu."


Dokter itu pun langsung melakukan pemeriksaan terhadap pasiennya.


Liana keluar dari ruangan itu membiarkan dokter memeriksa kondisinya putranya.


Di luar ruangan tempat Leon di rawat, Liana segera memberi kabar bahagia itu kepada sang suami yang sedang mengurus kantornya.


...****************...


Shila sudah mengetahui dimana keberadaan Shania, kini ia dengan dibantu oleh Kayla sedang mempersiapkan rencana untuk menangkap para preman itu dan membebaskan Shania dari genggaman mereka.

__ADS_1


"Tante, apa Tante yakin kita akan melakukan ini berdua saja?"


"Tidak, kita akan pergi bersama Elvan," sahut Shila.


"Iya, aku memang harus ikut," ucap Elvan.


"Tante tidak perlu bantuan lebih?"


"Sepertinya tidak. Tante tahu kamu bisa diandalkan."


Kayla tersenyum tipis. "Aku akan berusaha semaksimal mungkin."


Karena sudah tahu tempat persembunyian para preman itu Shila dan Kayla mulai menyusun posisi mereka masing-masing.


...****************...


Dokter itu sudah selesai memeriksa kondisi Leon, saat itu Liana sudah masuk kembali ke ruangan itu atas permintaan dokter.


"Dokter bagaimana kondisi anak saya?" tanya Liana.


"Kondisinya sudah semakin membaik, ini bisa dikatakan sebagai keajaiban. Jarang sekali orang melewati masa kritis langsung seperti ini, maksud saya pasien sudah benar-benar terlepas dari kritisnya dan kondisinya sudah mulai stabil."


Liana tersenyum bahagia, "syukurlah, terimakasih dokter."


Dokter itu langsung pergi setelah merasa selesai dengan pembicaraannya!


Beberapa menit kemudian, Rendy datang ke ruangan itu.


"Leon!"


Rendy langsung menghampiri Leon yg terbaring di hospital bad!


"Shania," ucap Leon.


Liana menatap Rendy, ia menanyakan tentang Shania dengan bahasa isyarat namun Rendy tidak menanggapinya.


Rendy meraih tangan Leon lalu berkata, "Shania baik-baik saja."


Sebenarnya Rendy sudah tahu bahwa Shania sedang disekap oleh orang yang tidak dikenal, namun ia sengaja tidak memberi tahu Liana karena takut istrinya itu akan semakin sedih.


Leon duduk dan berusaha mencabut selang infus yang menempel di tangannya!


"Menolong?" Liana menatap Leon penuh tanya.


"Leon, Leon kamu masih harus mendapatkan perawatan dokter. Elvan dan Tante Shila sedang melakukan yang terbaik untuk menolong Shania," ucap Rendy.


Liana semakin kebingungan dengan perkataan sang suami pada putranya.


"Ada apa ini? Apa yang sedang kalian bicarakan?" ucap Liana.


Leon tidak menanggapi pertanyaan Mamanya, ia terus melakukan apa yang ia mau.


Sementara Rendy terus mencegah agar Leon tidak melakukan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya.


...****************...


Biani sedang berkendara dengan menggunakan motor matic nya, ia melajukan motornya tanpa arah tujuan! Dalam pikirannya, ia akan mendatangi setiap rumah sakit yang mungkin Leon berada di rumah sakit tersebut.


Biani terus berkendara hingga akhirnya ia tiba di salah satu rumah sakit terdekat dari tempat kejadian yang menimpa Leon.


Biani berjalan menuju tempat pendaftaran lalu menanyakan apakah ada pasien atas nama Leon di rumah sakit itu.


"Maaf, saya mau tanya apakah ada pasien yang bernama Leon yang masuk dua hari lalu?" tanya Biani kepada salah satu petugas.


"Sebentar saya cek dulu," ucap petugas itu.


Biani menunggu dengan sabar, ia berharap bisa menemui Leon dalam kondisi apapun.


"Maaf, tidak ada pasien bernama Leon yang masuk dua hari lalu," ucap petugas itu setelah mengecek datanya.


"Tidak ada?"


"Iya, tidak ada."


"Terimakasih."


Biani langsung pergi meninggalkan tempat itu!


Di halaman rumah sakit, Biani berjalan perlahan sembari memikirkan ke rumah sakit mana, ia harus mencari Leon.


"Biani, kamu ngapain di sini?" tanya Rio yang baru akan memasuki rumah sakit itu.

__ADS_1


"Rio?" ucap Biani.


"Kamu kenapa, seperti habis menangis? Apa ada keluarga atau saudaramu yang dirawat di rumah sakit ini?"


"Tidak, aku baik-baik saja tadi aku kelilipan."


Rio terdiam sambil menatap Biani, ia menunggu jawab dari pertanyaan keduanya.


"Aku mau jenguk temanku yang sakit tapi ternyata dia udah dipindahkan ke rumah sakit lain," ucap Biani lagi.


"Oh gitu, aku pikir ada keluarga kamu yang dirawat di sini."


"Rio, kamu kerja di sini?" tanya Biani.


"Iya," sahut Rio singkat.


...****************...


"Leon, apa yang kamu lakukan? Kamu gak boleh pergi dari sini, kondisimu belum stabil," ucap Liana.


"Aku harus menyelamatkan Shania, Ma. Dia sedang hamil anakku, aku takut terjadi apa-apa pada Shania dan calon anakku," ucap Leon.


"Menyelamatkan Shania bagaimana? Mama gak ngerti."


Rendy mengarahkan Leon agar kembali ke tempatnya!


"Leon, sabar dulu. Papa sudah bilang, Elvan sedang menyelamatkan Shania," ucap Rendy.


"Ini ada apa? Sebenarnya ada apa? Dari tadi kalian ribut menyelamatkan Shania, memangnya Shania kenapa?" ucap Liana.


"Shania diculik. Leon sampai seperti ini karena berusaha menyelamatkan Shania dari para penculik itu," jelas Rendy.


"Apa, kenapa Papa gak berterus-terang sama, Mama?"


"Papa tidak ingin Mama semakin sedih."


"Pa, Ma aku gak bisa diam di sini sementara istriku sedang dalam bahaya."


"Leon, percayakan penyelamatan ini pada Tante Shila dan Elvan. Papa yakin mereka akan membawa Shania dalam keadaan sehat tanpa ada satupun yang kurang darinya."


"Pa, aku ...."


Belum sempat Leon melanjutkan perkataannya, ia terjatuh tak sadarkan diri. Kondisinya yang belum stabil membuatnya lemah dan akhirnya ia pingsan.


"Leon!"


Liana berteriak histeris.


Dengan sigap Rendy segera mengangkat tubuh putranya lalu membaringkannya di atas ranjang rumah sakit!


Liana segera menekan tombol darurat untuk memanggil dokter, ini kali ke dua Liana menekan tombol darurat itu dalam kurun waktu beberapa jam saja.


Tak lama dokter tiba di ruangan itu.


"Ada apa?" ucap dokter itu.


"Dokter tolong, anak saya pingsan," ucap Liana panik.


Dokter itu menatap Leon yang tengah tak sadarkan diri dengan selang infus yang sudah tidak terpasang di tangannya.


Dokter itu langsung memeriksa keadaan Leon.


"Pasien masih harus mendapatkan penangan medis, saya harap jangan melepaskan selang infus ini sebelum saya perintahkan," ucap dokter itu setelah memeriksa dan memasang kembali selang infus itu.


"Baik, dokter. Saya mengerti," ucap Rendy.


Setelah dokter itu pergi, Liana duduk di kursi yang ada di samping hospital bad tempur Leon terbaring.


Liana menggenggam tangan putranya dengan penuh kasih sayang.


"Kenapa musibah ini harus menimpamu, Nak?"


"Ma, ini cobaan dalam rumah tangga Leon. Kita doa kan saja semoga semuanya selamat."


"Shania sedang mengandung cucu Mama, sekarang dia sedang dalam bahaya. Mama takut Shila tidak bisa menyelamatkan Shania tepat waktu. Kenapa Papa tidak bilang sama Mama kalau Shania diculik?"


"Ma, Shila bukan orang sembarangan, dia pasti berhasil menyelamatkan Shania. Papa melakukan ini demi kebaikan Mama juga."


Liana terus menangis sembari menggenggam tangan Leon sesekali ia mencium tangan putranya itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2