
Ken dan Liana memasuki ruangan Rendy bersamaan!
Rendy melihat siapa yang datang! ternyata istrinya.
Rendy tersenyum sembari meraih tangan Liana lalu menciumnya.
"Mas ... ." (Liana)
Rendy menarik tangan Liana membawanya berjalan mendekati Jenny yang sedang berdiri mematung.
"Jenny, maaf ya. Aku memilih Liana untuk jadi teman hidupku," ucap Rendy kepada mantan kekasihnya itu.
Jenny tak berucap sepatah kata pun. Dalam hatinya, Jenny merasa sangat marah namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena takut pistol yang mengarah ke kepalanya akan meletus.
"Shila, giring penjahat ini ke kantor polisi," ucap Rendy kepada Shila.
"Aku sudah menelpon Sam untuk datang kesini bersama beberapa bodyguard lain. Mereka yang akan membawa para penjahat ke kantor polisi," jelas Shila.
"Rendy aku gak mau dipenjara. Aku sedang hamil anakmu," ucap Jenny memohon.
Rendy menatap netra Liana lalu menggelengkan kepalanya pelan seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Liana.
"Hamil? mungkin itu anaknya Bram."
Tak lama Sam datang bersama dengan tiga rekannya!
"Sam, tolong antarkan penjahat ini bersama teman-temannya ke kantor polisi," ucap Shila kepada Sam.
Tanpa banyak bertanya, Sam segera membawa Jenny keluar ruangan itu!
"Nggak! aku gak mau dipenjara. Rendy! aku tahu kamu masih mencintai aku, tolong suruh orang ini melepaskan aku!"
__ADS_1
Jenny terus meronta ingin melepaskan diri dari cengkraman Sam.
Arkhana dan Arkhan mengumpulkan semua preman di depan kantor milik Rendy.
"Selamat menikmati hidup didalam penjara," ucap Arkhana kepada Bram. Tak lupa senyum manis ia suguhkan untuk laki-laki itu.
"Hei?" Arkhan nampak aneh kepada Arkhana yang terlihat seperti mengenal Bram.
"Laki-laki ini begitu manis. Dia pandai merayu hingga aku jadi ingin terbang."
Arkhana tertawa lalu berjalan mendekati saudara kembarnya!
"Malah bercanda," ucap Arkhan.
"Maaf." (Arkhana)
Sam datang sembari menarik Jenny dengan paksa!
Sam menatap Arkhan dan Arkhana sekilas lalu kembali fokus pada tugasnya.
*** *** ***
"Maaf ya, beberapa bulan ini aku sering membuatmu menangis," ucap Rendy pada Liana.
"Aku gak mau maafin kamu. Aku terlanjur jatuh cinta sama Satya," ucap Liana lalu memajukan bibirnya beberapa centi.
"Nggak boleh. Kamu hanya milik aku," ucap Rendy lalu memeluk Liana!
Liana menangis lalu memeluk erat tubuh Rendy!
"Kamu jahat. Aku benci tapi aku cinta," ucap Liana.
__ADS_1
Rendy mencium kening Liana penuh kasih sayang.
"Shil, sepertinya sekarang kita yang jadi penontonnya," ucap Ken.
Rendy melerai pelukannya lalu tersenyum, sedangkan Shila menundukkan kepalanya karena malu.
"Seperti yang sudah kita bicarakan, besok saya akan transfer uangnya," ucap Rendy sembari menatap Shila yang berdiri tak jauh darinya.
"Saya batal meminta uang itu. Saya ingin yang lebih berharga dari uang itu," sahut Shila.
"Oke, kamu minta apa? mobil, rumah, atau apa? asal jangan minta aku untuk ninggalin Liana, karena aku gak mungkin bisa," ucap Rendy sembari terus menggenggam tangan Liana.
"Mobil, rumah, perusahaan atau apalah itu. Saat ini saya tidak membutuhkannya."
"Lalu kamu minta apa?" ucap Rendy penuh tanya.
Ken berjalan mendekati Shila lalu meraih tangannya!
"Restui hubungan kami," ucap Ken.
"Apa? jadi kalian?"
Ken dan Shila tersenyum kearah Rendy lalu saling menatap satu sama lain.
"Gimana dengan janjimu?" ucap Ken.
"Akan aku tepati," sahut Shila.
"Ayo kita pulang, daripada ngeliatin orang yang lagi pacaran. Di rumah kita bisa lebih dari orang pacaran," ucap Rendy kepada Liana.
Shila dan Ken menatap Rendy dan Liana lalu tertawa bersama.
__ADS_1
Bersambung