
Shila terus berusaha melarikan diri hingga di pertigaan ia mencoba memilih jalan yang lebih ramai dilewati orang-orang.
"Ya Tuhan, tolong lindungi hambamu ini," ucap Shila sambil terus fokus ada medan jalan yang tengah dilaluinya.
Beberapa pemotor itu mulai ketinggalan jauh oleh Shila karena motor milik Shila sudah dimodifikasi untuk bisa lebih cepat dari motor pada umumnya.
"Aaah! kita kehilangan jejak orang itu!" ucap salah satu pemotor yang mengejar Shila.
"Bos pasti marah besar," sahut salah satu preman itu.
"Sepertinya orang itu sudah menyiapkan segalanya. Sepertinya orang itu memang sengaja mencari tahu tentang kita," ucap orang itu.
"Kita dalam bahaya," sahut preman yang satu lagi.
Setelah merasa lebih aman, Shila menurunkan laju kecepatan kendaraannya.
"Sepertinya mereka sudah tak mengejarku lagi," ucap Shila didalam hatinya.
Shila terus melajukan motornya namun kini dengan kecepatan sedang!
Setelah berkendara selama tiga puluh menit, Shila menepikan motornya didepan sebuah bangunan yang terlihat seperti rumah namun ukurannya lebih kecil.
__ADS_1
Shila memasuki bangunan tersebut! nampak beberapa orang menyapanya dengan ramah.
Shila tersenyum kepada mereka tapi tak menghentikan langkahnya.
"Shila, ada keperluan apa sehingga kamu datang kemari?" tanya Wildan pada Liana.
"Aku butuh tim khusus untuk menangkap gerombolan penjahat," ucap Shila to the point.
"Kamu sedang bekerja?" tanya laki-laki itu.
"Ya, tapi ini rahasia karena aku kerja untuk orang lain. Ibu Elma dan keluarganya tidak mengetahui hal ini," jelas Shila.
"Kamu sudah terikat kontrak dengan Ibu Elma. Kita juga sudah menerima sejumlah uang darinya, aku tidak bisa memberimu bantuan." Laki-laki itu menolak permintaan Shila.
"Siapa Ken?" tanya Wildan.
"Dia putranya Ibu Elma," sahut Shila.
"Lalu siapa orang yang sedang kamu perjuangkan? sehingga kamu rela bekerja sampai sekeras ini?" tanya Wildan lagi dengan raut wajah penuh penasaran.
"Aku tidak bisa memberitahukan siapa orang itu sebelum aku berhasil dalam misi yang sedang aku kerjakan. Aku tidak sedang salah jalan keutuhan rumah tangga sedang dipertaruhkan dalam misi ini," jelas Shila.
__ADS_1
"Kamu nekat Shila," ucap Wildan dengan wajah terkejut.
"Aku tidak punya banyak waktu jika kamu tidak bisa membantu, aku akan berusaha sendiri," ucap Shila.
Rendy dan Liana sudah tiba di rumah mereka.
Liana langsung masuk ke kamar yang berada di sebelah kamar Rendy dan dirinya. Kamar itu pernah dia tempati dahulu sebelum dirinya dengan Rendy saling mencintai.
Rendy membiarkan istrinya masuk ke kamar sebelah karena dia tak ingin berdebat dengan Liana.
Rendy masuk ke kamarnya lalu duduk di sofa! Rendy mengambil ponselnya dari dalam saku celananya lalu mengetik sebuah pesan yang akan dia kirim kepada seseorang.
Setelah memastikan pesan itu sudah dibaca oleh orang itu, Rendy segera menghapus pesan itu dari ponselnya.
"Aku harus segera menyusun rencana," ucap Rendy sembari memainkan ponselnya.
Di kamar Liana.
Liana duduk di tempat tidurnya dengan posisi punggung yang disandarkan pada kepala ranjang.
Liana mengelus perutnya yang masih terlihat rata!
__ADS_1
"Kenapa kamu datang disaat seperti ini, Nak? bukannya, Mama tidak menginginkan kehadiranmu tapi keadaan yang memaksa Mama untuk menolak kehadiran dirimu dalam rumah tangga yang sudah hancur ini," ucap Liana sambil terus mengusap perutnya.
Bersambung