
Shila tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Sonny yang terkejut sekaligus ketakutan.
"Gimana ... udah tahu gimana rasanya menyambut maut?" ucap Shila sembari mengelus pipi Sonny dengan pistolnya!
"J_jangan, jangan bunuh saya," ucap Sonny memohon kepada Shila.
"Gue gak pernah bunuh orang tanpa perkelahian. Mau bertarung dengan gue? sebelum lo menghembuskan nafas terakhir," ucap Shila dengan tatapan tajamnya.
Sonny terdiam lalu menelan ludahnya, membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering.
"Tidak. Jangan bunuh saya, saya tahu saya salah," ucap Sonny dengan nada lirih.
"Preman seperti lo, ternyata takut mati juga ya. Lo pernah mengampuni orang yang pernah lo celakai?" tanya Shila, namun tidak dijawab oleh Sonny.
"Tidak. Lo tidak pernah mengampuni orang-orang itu. Jangan harap gue akan mengampuni orang seperti lo."
Shila berjalan kebelakang Sonny!
*** *** ***
Satya sedang menunggu Liana yang sedang diperiksa oleh dokter, ia segera meraih ponselnya lalu menelpon Rendy.
*** *** ***
Drrt! drrt! drrt!
Ponsel Rendy bergetar tanda ada telepon masuk. Rendy segera memeriksa ponselnya dan tertera nama Satya.
"Pak Satya. Aku angkat telpon dulu," ucap Rendy kepada Jenny.
__ADS_1
Rendy berjalan menjauh dari Jenny karena takut suara tangisan Jenny terdengar oleh rekan bisnisnya itu!
📞 "Halo," ucap Rendy setelah menjauh dari Jenny.
*** *** ***
📞 "Halo, Pak Rendy. Saya ingin memberitahu bahwa Liana sedang ada di rumah sakit," ucap Satya setelah mendengar suara Rendy.
📞 "Apa! Liana di rumah sakit? Liana kenapa,apa yang terjadi padanya?" ucap Rendy yang merasa terkejut.
📞 "Dia pingsan di jalan. Cepat anda kesini, nanti saya share lock," ucap Satya.
📞 "Baik. Saya segera ke sana." Rendy mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Rendy memasukkan ponselnya kedalam saku celananya lalu berjalan menghampiri Jenny!
"Jenny, aku harus pergi," ucap Rendy sembari berjalan tergesa!
"Nanti aku ceritakan. Kamu pulang sendiri ya, uang dariku masih ada kan?" ucap Rendy sembari terus berjalan menghampiri mobilnya!
Jenny tak berucap lagi, ia menatap kepergian Rendy dengan senyum licik yang terukir di bibirnya.
Rendy melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit!
Lima belas menit melewati jalan perkotaan, akhirnya Rendy tiba di rumah sakit yang ia tuju. Rendy berlari memasuki rumah sakit itu!
"Dimana Liana?" tanya Rendy kepada Satya.
Satya membuka pintu ruangan tempat Liana diperiksa oleh dokter!
__ADS_1
"Silahkan masuk!" ucap Satya.
Liana sedang berbaring di hospital bad dengan wajah yang terlihat pucat.
Rendy segera menghampiri Liana!
"Kamu kenapa? kenapa kamu sendiri dimana bodyguard yang aku tugaskan untuk menjagamu?" tanya Rendy sembari mengelus kepala Liana sesekali Rendy mencium tangan Liana.
"Kondisinya lemah. Usahakan agar ibu Liana tidak terlalu berpikir yang berat ya, Pak. Karena itu dapat mempengaruhi kehamilannya," jelas dokter yang memeriksa Liana.
"Jadi Liana sedang hamil? Rendy bisa-bisanya lo pacaran lagi sedangkan istri lo sedang hamil," ucap Satya didalam hatinya.
Satya mengepalkan tangannya dan rahangnya juga mengerat sampai gemeltuk giginya yang beradu terdengar sangat keras.
Satya merasa geram dengan kelakuan Rendy terhadap Liana.
"Akan saya usahakan," sahut Rendy.
"Ibu Liana boleh pulang. Ingat ya, Bu jaga kandungan Ibu baik-baik," ucap dokter itu lalu dokter itu pergi dari ruangan itu!
"Pak Satya, terimakasih sudah membawa istri saya ke rumah sakit," ucap Rendy kepada Satya.
Satya hanya menanggapi ucapan Rendy dengan senyuman yang dipaksakan.
"Saya permisi!" Satya meninggalkan Rendy dan Liana karena takut tak bisa mengontrol emosinya.
"Ayo kita pulang!" (Rendy)
Rendy memangku Liana yang masih lemah membawanya kedalam mobilnya! lalu segera melajukan kendaraannya menuju rumah mereka!
__ADS_1
Bersambung