Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 18


__ADS_3

Leon membuka rantang berisi makanan yang dimasak oleh Shania!


"Makan gak ya?" gumam Leon sembari menatap makanan itu.


"Ah, ngapain gengsi kan Shania nya gak ada," ucap Leon lagi.


Leon duduk di sofa yang berada di ruangannya lalu mulai menyendok makanan itu.


Pertama Leon menyendok sedikit, niatnya hanya untuk mencicipi saja. Dikunyah nya makanan itu dengan perlahan.


"Enak juga. Ternyata wanita itu pintar masak," ucap Leon.


Secara tidak sengaja, Leon memuji Shania, Leon melanjutkannya makannya hingga makanan itu habis tak bersisa.


Setelah selesai makan, Leon kembali merapikan rantang itu lalu menaruhnya di atas meja kerjanya agar tak lupa dibawa pulang.


...****************...


"Mbak! Mbak! Ponselnya ketinggalan!" ucap Elvan kepada seseorang wanita.


Elvan berlari mengejar wanita itu!


Wanita itu berbalik arah lalu menatap Elvan.


"Anda memanggil saya?" tanya gadis itu kepada Elvan sembari mengarahkan jari telunjuknya ke dadanya.


Elvan menghentikan langkahnya!


"Ya," ucap Elvan.


Elvan menunjukkan sebuah ponsel pada gadis itu!


"Ini ponselmu?" tanya Elvan.


Gadis itu mengambil alih ponsel tersebut dari tangan Elvan!


"Iya, ini ponsel saya. Terimakasih, Mas," ucap gadis itu.


Elvan tersenyum, "sama-sama," ucap Elvan.


"Ponsel ini sangat penting untuk saya, kalau gak ada, Mas pasti ponsel saya akan hilang. Sekali lagi terimakasih," ucap Gadis itu dengan senyuman ramah.


"Saya permisi," ucap gadis itu karena ia merasa sudah selesai dengan pembicaraannya dengan laki-laki yang sudah mengembalikan ponselnya.


Gadis itu mulai melangkahkan kakinya!


"Mbak! Tunggu dulu," ucap Elvan menghentikan langkah gadis itu.


Gadis itu menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" ucap gadis itu.


"Boleh, saya tahu namamu?" tanya Elvan.


Gadis itu tertawa kecil.


"Oh, ya. Dari tadi berbicara tapi kita lupa berkenalan," ucap gadis itu.


"Saya Kayla!" ucap gadis itu sembari mengulurkan tangannya.


Elvan menjabat tangan Kayla! "Elvan," ucapnya.


"Kamu lagi sibuk ya?" tanya Elvan.


"Tidak. Saat ini saya sedang tidak ada kesibukan," sahut Kayla.


"Maaf, bisa kita ngobrol di dalam saja?" ucap Elvan sembari mengarahkan ibu jaringannya ke restoran yang berada di belakangnya.


"Mas belum selesai makan?"


"Jangan panggil, Mas. Panggil Elvan saja," ucap Elvan.


Kayla tersenyum.

__ADS_1


"Lain kali saja ya," ucap Kayla.


Kayla mengambil pulpen dari dalam tasnya lalu meraih tangan Elvan!


Kayla menulis nomor ponselnya pada telapak tangan Elvan.


"Ini nomor ponsel saya. Saya akan menemani Anda makan di lain waktu sebagai tanda terimakasih saya terhadap Anda," ucap Kayla.


Setelah selesai menulis nomor ponselnya Kayla mulai berjalan meninggalkan Elvan!


Setelah melangkah beberapa langkah Kayla berbalik badan!


"Call me!" Kayla menggerakkan tangannya ke dekat telinganya mengisyaratkan agar Elvan menelponnya, nanti sambil menatap Elvan.


Elvan tersenyum bahwa. "Terimakasih," ucap Elvan.


Kayla mulai melanjutkan langkahnya!


Elvan menatap Kayla dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya. Dilihatnya jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 13:25 waktu setempat.


Elvan mengurungkan niatnya untuk melanjutkan makan siangnya yang belum selesai. Setelah membayar makanannya, Elvan segera kembali ke kantornya!


...****************...


Shania sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan, dia sedang membeli keperluan pribadinya tanpa sengaja dia bertemu dengan Biani yang juga sedang berbelanja.


"Oh ternyata di sini ada pelakor!" ucap Biani dengan suara lantang.


Shania bersikap cuek terhadap perkataan Biani terhadapnya meski ada beberapa pengunjung yang menatapnya.


"Cewek j****g seperti lo, gak pantas berada di tempat ini," ucap Biani.


Shania menatap Biani dengan tatapan tajam seperti elang yang sedang mengintai mangsanya.


"Leon kurang beruntung ya, mencintai wanita yang sikapnya buruk bahkan lebih buruk dari seekor anjing. Untungnya orang tuanya Leon lebih memilih aku yang jadi menantu mereka kalau tidak Leon akan merasa tertipu dengan wajah polosmu," ucap Shania dengan senyum sinis di bibirnya.


Shania milih pergi dari tempat itu sebelum dirinya berantem dengan Biani!


Di parkiran, saat Shania sedang memasukkan belanjaannya kedalam mobilnya! Dia bertemu lagi dengan Biani.


Kali ini Biani tidak sendiri, dia berjalan kearahnya bersamamu dua temannya!


"Guys, kita beri pelajaran wanita ini karena sudah menghina gue," ucap Biani kepada teman-temannya.


"Siapa dia, Bi?" tanya Tasya temannya Biani.


"Dia orang yang merebut Leon dari gue," ucap Biani.


"Oh, jadi ini orang yang lo ceritain," ucap Kamila teman Biani yang satunya lagi.


Shania masih bersikap biasa saja. Tidak ada rasa takut dalam dirinya meski ia diancam oleh tiga wanita yang berada di depannya.


"Aku mau pulang, bisa kalian minggir?" ucap Shania dengan santainya.


Biani menarik tangan Shania dengan kasar!


"Lo mau kemana? Lo gak akan bisa lolos dari kita-kita!" ucap Biani.


"Lepaskan!" ucap Shania.


Setelah berada di tempat yang lumayan luas, Biani melepaskan Shania dari cengkraman nya!


Biani mulai menampar Shania dengan tangannya Kamila dan Tasya pun ikut menganiaya Shania.


Shania hanya diam tak melawan mereka bertiga meski sebenarnya ia bisa melakukan perlawanan.


Setelah beberapa menit, Biani dan dua temannya menghentikan aksinya karena Shania sudah terlihat lemah.


Mereka meninggalkan Shania yang penuh luka lebam karena dipukuli.


"Rasain lo. Ini akibatnya karena lo sudah masuk kedalam hubungan gue dan Leon," ucap Biani sebelum meninggalkan Shania.


Setelah Biani dan teman-temannya pergi, Shania mengusap darah segar yang keluar dari sudut bibirnya lalu mengusap pipinya yang terasa panas dan perih akibat tamparan dari Biani dan teman-temannya.

__ADS_1


Shania berdiri lalu mulai melangkahkan kakinya menuju mobilnya! Sedikitpun Shania tidak meneteskan air matanya meski merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Shania mulai melajukan kendaraannya dengan perlahan, setelah Shania memasuki jalan raya, Shania mulai melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi!


Di jalanan yang tidak terlalu ramai bahkan bisa dikatakan sepi dari lalu-lalang kendaraan, Shania menghentikan mobilnya tepat di tengah jalan yang akan dilalui oleh mobil yang ditumpangi oleh Biani.


Tasya yang menyetir mobilnya merasa panik karena tiba-tiba sebuah mobil berhenti ditengah jalan.


Dengan sigap Tasya menginjak pedal rem mobilnya dan akhirnya mereka terhindar dari kecelakaan.


Tasya dan teman-temannya turun dari mobilnya lalu menghampiri mobil yang berhenti di tengah jalan itu!


Dor!


Dor!


Dor!


Biani menggedor kaca mobil bagian kemudi!


"Shania, gue tahu lo didalam. Keluar lo!" ucap Biani.


Biani memang tahu yang berada di dalam mobil itu adalah Shania karena mobil yang digunakan Shania adalah mobilnya Leon.


Shania turun dari mobilnya!


"Lo cari mati sama kita-kita hah!" ucap Biani.


Tanpa basa-basi, Shania menjambak rambut Biani!


"Gue mau lo ngerasain apa yang gue rasakan," ucap Shania.


"Aawh! Sakit!" ucap Biani.


Tasya dan Kamila mencoba melepaskan cengkraman Shania dari rambut Biani namun mereka tidak berhasil.


Shania menarik paksa membawa Biani ke belakang mobilnya!


"Sakit? Seperti ini lah rasanya yang gue rasakan saat lo menjambak rambut gue di rumah Leon," ucap Shania.


Shania melepaskan cengkraman nya lalu mendorong Biani sampai terjatuh ke aspal! Ingin sekali Shania menampar Biani dengan tamparannya yang paling keras namun ia menahan keinginannya itu karena belum saatnya ia membalas apa yang Biani lakukan padanya saat di parkiran tadi.


Kamila membantu Biani untuk berdiri sedangkan Tasya masih berdiri didepan Shania.


"Berani lo ya sama kita?" ucap Tasya.


"Lo pikir gue takut sama kalian? Gak ya, gue gak pernah takut sama orang-orang seperti kalian," ucap Shania.


Tasya ingin menampar Shania namun tangannya ditangkis oleh Shania.


"Lo pikir lo siapa? Seenaknya lo nampar-nampar gue."


Shania melepaskan tangan Tasya dengan sedikit membantingnya.


Kamila dan Biani berjalan menghampiri Shania dan Tasya! Mereka menyerang Shania secara bersamaan.


Shania berusaha menghindari serangan Biani dan teman-temannya sesekali ia memukul mereka.


Bugh!


Shania menghajar Biani dibagian perutnya!


"Ahh," Biani meringis kesakitan.


Plak!


Plak!


Shania juga menampar Kamila dan Tasya secara bergantian!


Setelah berhasil memukul mereka, Shania segera pergi meninggalkan tiga wanita yang sudah menganiayanya!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2