Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 48


__ADS_3

Rio sudah selesai memeriksa keadaan Shania.


"Shania kenapa, apa dia baik-baik saja?" tanya Leon kepada Rio.


"Aku rasa Shania baik-baik saja," sahut Rio.


"Baik-baik saja gimana? Jelas-jelas kepalaku sakit dan pusing, aku juga mual sampai muntah-muntah. Baik-baik dari mana," ucap Shania.


"Sepertinya kamu harus periksa ke dokter kandungan, Shan. Aku tidak menemukan penyakit dalam dirimu dan saat ini penyakit lambung yang kamu derita sedang tidak kambuh, jadi aku rasa kamu perlu memeriksakan diri ke dokter kandungan. Siapa tahu kamu sedang hamil," jelas Rio.


"Kamu kan dokter, masa tidak tahu kalau Shania sedang hamil atau tidak?"


"Aku bukan dokter kandungan, jadi aku tidak begitu faham dengan apa yang bersangkutan dengan kandungan," sahut Rio.


"Hamil? Gak mungkin aku hamil," ucap Shania.


"Gak mungkin gimana? Kamu kan punya suami," ucap Rio.


"Duh, aku lupa kalau ternyata aku sudah punya suami," ucap Shania sembari memukul kepalanya sendiri dengan pelan.


"Sama suami saja bisa lupa, jangan-jangan kamu juga lupa pas kita malam pertama," ucap Leon dengan senyum jahilnya.


Rio menatap Leon lalu menatap Shania. Ia menggelengkan kepalanya pelan mendengar perkataan Leon dan Shania yang menurutnya aneh.


"Kalian ini ada-ada saja," ucap Rio.


"Rio, maafin aku ya," ucap Leon.


"Maaf? Maaf untuk apa?"


"Waktu itu aku pernah memukulmu. Jujur waktu itu aku cemburu melihat kamu pegang-pegang tangan Shania."


Rio tertawa kecil. "Aku ngerti kalau waktu itu kamu sedang cemburu, tapi apa kamu gak bisa gitu dengerin penjelasan dari Shania dan aku?"


"Kalau lagi cemburu, mana bisa tenang."


"Kalau ingat waktu itu, jujur aku gak marah malah aku senang karena sahabatku ini punya suami yang cinta banget sama dia," ucap Rio sembari mengacak rambut Shania.


Leon tersenyum tipis. "Berarti Shania tidak pernah cerita tentang rumah tangganya kepada siapa pun termasuk sahabatnya sendiri," ucap Leon didalam hatinya.


"Sepertinya sudah tidak ada keperluan lagi, kalau gitu, aku pamit ya, Shania, Leon," ucapan Rio.


"Sebentar lagi azan subuh, kamu gak mau nunggu setelah azan subuh saja?" tanya Shania.


"Tidak, terimakasih. Aku pulang sekarang saja."


"Terimakasih ya, Rio. Maaf sudah merepotkan dirimu," ucap Leon.


Awalnya Leon merasa malu kepada Rio karena perbuatannya yang sudah membuat Rio terluka, namun rasa malu itu perlahan hilang karena ternyata Rio tidak seperti yang Leon bayangkan.


"Tidak masalah. Leon, Shania aku pulang sekarang ya."


Rio meninggalkan Shania di kamarnya sedangkan Leon berjalan mengantarkan Rio ke halaman rumahnya.


"Cepat sembuh ya, Shania. Aku tunggu kabar baiknya," ucap Rio sebelum pergi.


Setelah Leon dan Rio sudah tidak ada lagi di kamar itu, kini tinggal Shania sendirian.


Shania memegangi perutnya yang terasa sakit akibat rasa mual dan muntah yang dideritanya.


"Masa sih aku hamil? Rasanya seperti mimpi kalau benar aku sedang hamil," gumam Shania.


Leon datang lagi ke kamarnya setelah mengantarkan Rio ke halaman rumahnya!


Leon berjalan menghampiri Shania yang masih duduk sembari menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidurnya.


"Kamu masih mual?" tanya Leon sembari menggenggam tangan Shania.


"Masih," sahut Shania lirih.


"Dokter itu tidak memberikan obat sedikitpun untuk dirimu. Dia malah menyarankan agar kamu diperiksa ke dokter kandungan. Sahabatmu itu aneh, dia seorang dokter bisa-bisanya dia gak tahu kalau kamu sedang hamil atau tidak," ucap Leon.


"Tadi dia sudah jelaskan, dia bukan dokter kandungan jadi dia gak tahu apa-apa tentang kehamilan," sahut Shania.


"Tapi ya sudahlah, jangan dipikirkan. Shania kalau kamu hamil artinya aku mau jadi Ayah dong."


"Siapa yang hamil, aku gak mungkin hamil."


"Gak mungkin gimana? Kita pernah melakukannya beberapa kali, bisa saja kamu hamil kan."


"Kalau aku beneran hamil, aku bakal nyalahin kamu."


"Maksud kamu?"


"Ya, gara-gara kamu aku jadi harus merasakan mual dan muntah, kepalaku sakit dan pusing."


"Maaf, Shania. Aku kan gak tahu kalau kamu akan seperti ini."


"Aku ngantuk, cepat peluk aku terus usap-usap punggung aku!" titah Shania kepada Leon.


Entah kenapa tiba-tiba Shania ingin tidur didalam pelukan sang suami dan ingin dibelai-belai olehnya.


...****************...


Keesokan harinya.


"Kita jalankan rencana kita hari ini," ucap salah satu preman yang Jacky bayar untuk menculiknya Shania.


"Siap," sahut beberapa rekan preman itu secara berbarengan.


"Kamu segera cek keamanan mobil kita dan kamu awasi dulu rumah Leon dan istrinya, setelah ada kesempatan kamu telpon kita-kita untuk selanjutnya kita selesaikan pekerjaan kita," ucap ketua preman itu.


Tanpa berkata beberapa preman itu langsung mengerjakan tugasnya masing-masing.


Salah satu preman pergi meninggalkan tempat itu untuk mengawasi Shania dan keadaan rumahnya!


...****************...


Di kediaman keluarga Kayla.


"Pagi sayang," ucap Arkhana kepada Kayla.


"Pagi, Mam," sahut Kayla sembari menghempaskan bokongnya di kursi makan!


"Papa mana?" tanya Kayla lagi.

__ADS_1


Kayla mengoles roti yang ia pegang dengan selai.


"Ada, Papa masih di kamar, mungkin sebentar lagi ke sini."


Kayla meneguk susu yang sudah disiapkan oleh Arkhana untuknya.


"Selamat pagi semuanya," ucap Sam yang baru tiba di ruang makan.


"Papa, duduk sini!" ucap Arkhana sembari menarik sebuah kursi untuk suaminya duduk.


Sam duduk di kursi yang sudah istrinya siapkan untuknya!


Mereka mulai sarapan bersama.


"Kay, gimana dengan hubungan kamu dengan Elvan?" tanya Sam.


"Baik-baik saja," sahut Kayla.


"Kapan kalian nikah? Mama gak sabar pengen menimang cucu," ucap Arkhana.


"Setelah misi yang sedang aku jalankan selesai," ucap Kayla.


"Jangan lama-lama, nanti keburu tua loh," ucap Sam dengan tawa kecilnya.


"Papa, aku belum dewasa-dewasa banget kok, umurku masih dua puluh tiga tahun loh," ucap Kayla dengan gaya manjanya.


Meskipun Kayla adalah wanita tangguh tapi wanita tetap lah wanita, dia memiliki sisi manja seperti wanita pada umumnya.


...****************...


Leon dan Shania hendak pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Shania.


Leon membukakan pintu mobil untuk Shania lalu Shania segera masuk kedalam mobil itu.


Setelah keduanya sudah berada di dalam mobil, Leon segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit terdekat.


Seorang laki-laki dengan menggunakan motor terus membuntuti kemana arah perginya mobil yang Leon kendari!


Tak butuh waktu lama Leon dan Shania akhirnya tiba juga di rumah sakit yang mereka tuju.


Mereka segera turun dari mobilnya lalu berjalan memasuki area rumah sakit itu!


Di sebrang jalan rumah sakit itu.


Preman itu mengambil ponselnya dari dalam saku celananya lalu menelpon bosnya.


📞 "Halo, Bos," ucapnya setelah bosnya menerima telepon darinya.


📞 "Ada apa?"


📞 "Leon dan Shania sedang di rumah saki."


📞 "Bagus, terus pantau pergerakan mereka. Setelah mereka selesai gue dan yang lainnya akan mencegat mereka di jalanan yang sepi."


📞 "Siap, Bos, gue akan kabari lagi saat mereka akan pulang."


📞 "Gue tunggu kabar dari lo. Sekarang gue dan yang lainnya akan bersiap di jalan xxx."


📞 "Siap."


Setelah selesai dengan pembicaraannya, laki-laki itu menutup teleponnya lalu kembali memperhatikan mobil milik Leon dan Shania.


Shania sudah selesai diperiksa oleh dokter, kini Leon dan Shania sedang duduk didepan meja kerja seorang dokter.


"Jadi, gimana hasil dari pemeriksaan istri saya dok?" tanya Leon kepada dokter yang duduk di depannya.


Dokter itu tersenyum lebar kearah Leon dan Shania.


"Anda sudah tidak sabar ya, menunggumu hasilnya?"


Shania sangat tegang dan penasaran dengan hasil pemeriksaannya.


"Selamat ya, Bu, Pak sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua," ucap dokter itu.


"Apa! Jadi maksudnya, saya hamil dok?" ucap Shania.


"Iya, Anda sedang hamil dan usia kandungan Anda sudah tujuh minggu," jelas dokter itu.


Leon tersenyum lebar, ia sangat bahagia mendengar kabar dari dokter itu.


"Lalu, dokter apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh ibu hamil?" tanya Leon.


"Di usia kandungan yang masih muda, usahakan agar istri Anda jangan bekerja terlalu berat, misalnya mencuci pakaian yang banyak atau mengangkat sesuatu yang berat-berat dan juga istri Anda harus banyak istirahat."


"Saya pastikan, istri saya tidak akan melakukan pekerjaan-pekerjaan itu."


"Dokter, apa saja makanan yang boleh dan tidak boleh saya konsumsi dimasa kehamilan saya ini?" tanya Shania.


"Nanti saya kasih list makanan untuk Anda konsumsi setiap harinya ya, agar ibu dan bayinya sehat."


Setelah berkonsultasi cukup lama dengan dokter itu, akhirnya mereka selesai dengan pembicaraannya.


Leon dan Shania mulai pergi meninggalkan area rumah sakit itu.


"Shania, tolong jaga bayi kita baik-baik ya," ucap Leon sembari terus menyetir.


"Iya, aku tahu kok."


"Terimakasih ya, kamu sudah menjadi istri yang baik untuk aku."


"Leon, kok aku bisa hamil? Padahal kita baru melakukannya beberapa kali."


"Mungkin kita sudah dipercaya untuk mengurus seorang anak," ucap Leon dengan senyum lebar.


"Aku takut tidak bisa menjadi ibu yang baik, aku takut tidak bisa merawat bayi kita."


"Tenang saja, Shania kita akan merawat bayi kita bersama-sama. Kamu jangan takut, aku akan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk kamu dan anak-anak kita."


Shania tersenyum sembari menatap Leon.


Sesampainya di jalanan yang cukup sepi dua pemotor menggedor kaca mobil Leon, meminta agar Leon menghentikan mobilnya.


Shania terperanjat saat mendengar suara gedoran yang begitu keras.


"Leon, siapa mereka?"

__ADS_1


"Aku gak tahu. Kamu jangan takut Shania,"


Leon terus mengemudikan mobilnya kini ia mulai menambah kecepatan mobilnya.


Shania mulai panik karena pemotor itu terus mengejar mereka!


Sampai di jalanan yang sangat sepi sebuah mobil melintang di tengah jalan hingga Leon tidak bisa melewati jalan itu.


"Leon awas ada mobil," teriak Shania.


Leon yang sedang berkendara dengan kecepatan tinggi langsung menginjak rem mobilnya.


Dengan kemampuan yang Leon miliki akhirnya mereka terhindar dari tabrakan.


"Wio! keluar lo!" ucap seorang laki-laki sambil menggedor kaca mobil Leon.


Shania mulai panik dan ketakutan karena melihat ada lima orang yang mengelilingi mobilnya, sementara Leon mencoba untuk tetap tenang agar Shania tidak semakin ketakutan.


"Leon aku takut."


"Jangan takut, Shania aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melindungi dirimu."


"Keluar lo!"


Leon akan keluar dari mobilnya namun Shania melarangnya.


"Jangan, Leon."


Leon memberikan ponselnya kepada Shania.


"Aku mau keluar untuk berbicara dengan mereka, kamu telpon Elvan agar dia datang kesini secepatnya," ucap Leon.


"Jangan keluar Leon."


Leon tidak mendengarkan permintaan Shania karena orang-orang itu mulai merusak mobilnya, Leon keluar dari mobilnya sementara Shania langsung menelpon Elvan atas permintaan dari Leon.


"Siapa kalian dan mau apa?"


"Kita mau bini lo."


Tanpa basa-basi seorang preman langsung menyerang Leon!


Leon berusaha menghindar lalu menyerang balik.


"Aaa!" teriak Shania saat melihat perkelahian diantara suami dan beberapa preman itu.


📞 "Shania ada apa?" ucap Elvan yang mendengar Shania berteriak ketakutan.


📞 "Van tolong, Leon sedang dikeroyok di jalan xxx."


📞 "Aku ke sana sekarang."


Shania belum sempat mematikan sambungan teleponnya, seorang preman berhasil membuka pintu mobilnya lalu menarik paksa dirinya agar keluar dari mobilnya!


Leon sudah berusaha melawan mereka, namun karena jumlah mereka berkali-kali lipat lebih banyak akhirnya Leon tidak dapat melindungi dirinya dan juga Shania.


Leon terkapar di aspal dengan tubuh yang sudah tidak berdaya namun masih memiliki kesadaran.


"Leon!" teriak Shania.


Para preman itu terus menarik paksa Shania membawanya masuk kedalam mobil mereka!


Shania terus memberontak karena tidak ingin ikut bersama preman-preman itu.


"Shania," lirih Leon sembari menatap Shania yang sedang berusaha lepas dari preman itu sambil menangis.


"Leon!" teriak Shania lagi.


Mendengar teriakan Shania, Leon merasa ada tenaga baru lagi, perlahan Leon bangun dan mulai berjalan menghampiri Shania!


"Shania!" ucap Leon.


Para preman itu sudah berhasil membawa Shania masuk kedalam mobilnya dan segera pergi meninggalkan Leon sebelum Leon berhasil mendekati mereka.


"Leon!"


"Shania!"


Leon berlari mengejar mobil yang membawa Shania! Sesaat kemudian seorang preman yang mengendarai motor dengan sengaja menabrak Leon hingga tubuh Leon terpental jauh dari tempat itu!


"Leon!"


Shania yang melihat kejadian itu berteriak histeris sambil terus menangis.


"Lepaskan aku!"


Shania memukul preman yang duduk di sampingnya!


"Diam lo!" ucap preman itu.


Shania terus memberontak didalam mobil itu, hingga preman itu kewalahan menangani Shania, akhirnya mereka mengikat tangan dan kaki Shania dengan sebuah tali!


Mobil yang dikendarai oleh ketua preman itu sudah melaju jauh dari tempat mereka menculik Shania.


...****************...


Elvan tiba di jalan yang diberitahukan oleh Shania, ia segera keluar dari mobilnya lalu berjalan menghampiri mobil Leon yang terparkir di tengah jalan dalam keadaan tidak terkunci dan pintu yang terbuka!


"Leon, Shania," ucap Elvan sembari melihat kedalam mobil Leon namun ternyata mobil itu kosong.


Elvan melihat darah di tempat yang tidak jauh dari mobil milik Leon.


"Leon."


Elvan mulai merasa khawatir kepada Kakak sepupunya itu.


Elvan berjalan sedikit menjauh dari tempat itu sambil berteriak memanggil nama Leon dan Shania!


"Leon!"


"Shania!"


Setelah berjalan cukup jauh, Elvan melihat seseorang tergeletak di tepi jalan, ia segera berlari menghampiri orang itu!


Elvan langsung panik saat tahu bahwa orang itu adalah Leon.

__ADS_1


"Leon."


Bersambung


__ADS_2