Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
bab 50


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit Ken dan Shila tiba di kafe tempat mereka akan bertemu dengan Rendy.


Ken dan Shila menunggu Rendy di tempat duduk yang sudah Ken pesan sebelumnya.


Sepuluh menit menunggu akhirnya Rendy menampakkan batang hidungnya.


"Udah nunggu lama?" tanya Rendy.


"Lumayan," saut Ken.


"Maaf." Rendy segera duduk di samping Ken.


"Ayo Ren mau tanya apa sama Shila," ucap Ken karena Rendy tak kunjung membuka suaranya.


"Tanya apa?" ucap Shila.


"Tenang Jenny dan Bram," ucap Rendy.


Shila terdiam ia tak mengerti kenapa Rendy ingin bertanya tentang dua orang itu.


"Saya kekasihnya Jenny," jelas Rendy.


"Bukanya Jenny itu kekasihnya Pak Kendra?" tanya Shila.


"Bukan. Jenny kekasihnya kakak saya," ucap Ken.


"Owh." Dalam pikirannya Shila merasa aneh kenapa Ken yang menyuruhnya untuk mencari tahu tentang Jenny.


"Kamu yakin mereka berdua berpacaran?" tanya Rendy kepada Shila.


"Yakin seratus persen," ucap Shila.


"Kamu tidak berbohong kan?" ucap Rendy lagi.


"Saya tidak pernah mengkhianati pekerjaan saya. Lagipula untuk apa saya berbohong toh tidak ada untungnya juga buat saya," ucap Shila.


"Kamu tahu sudah berapa lama mereka berhubungan?"


"Tidak begitu pasti, tapi saya dengar mereka sudah lama berpacaran," saut Shila.


"Apa kamu mendengar mereka ada membicarakan tentang saya?"


"Ya."


"Apa kata mereka?"


"Akan terasa menyakitkan untuk anda. Apa anda siap untuk mendengarnya?" Shila bertanya balik kepada Rendy.


Saat Rendy dan Shila berada dalam sesi tanya jawab, Ken hanya menjadi pendengar dan penonton setia.


"Katakan saja." Rendy semakin penasaran dengan apa saja yang Jenny dan Bram bicarakan tentangnya.


"Katanya anda adalah pria bodoh ... ," Shila menggantung ucapannya, "maaf, sepertinya saya tidak bisa menjawab semuanya," sambung Shila.


Rendy tersenyum tipis. "Tidak masalah," ucapnya singkat.


"Udah gak ada pertanyaan lagi?" tanya Ken kepada Rendy.


"Tidak," sahut Rendy singkat.


"Ada satu hal lagi yang harus anda tahu," ucap Shila.

__ADS_1


"Apa?" tanya Ken dan Rendy bersamaan.


Shila mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal ini. Sebenarnya ia tak ingin mengatakannya tapi Rendy harus tahu soal ini.


Shila menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan.


"Jenny sudah memberikan kehormatannya kepada Bram," ucap Shila tanpa menatap Rendy.


Rendy mengepalkan tangannya tanda saat ini Rendy sedang dalam kemarahan.


"Tolong kendalikan diri anda, Pak Rendy." Shila mengingatkan Rendy karena ia melihat Rendy sudah bersiap untuk mengeluarkan emosinya.


"Ren minum dulu," ucap Ken sembari menyodorkan gelas berisi air minum.


Rendy memejamkan matanya beberapa saat ia mencoba menetralkan otaknya yang kini tengah dikuasai amarah.


Rendy meraih gelas itu dari tangan Ken lalu menenggak air minum itu sampai tandas tak bersisa.


"Lo harus bisa mengendalikan diri saat seperti ini," ucap Ken.


"Salah apa gue Ken? sehingga aku dikhianati habis-habisan seperti ini,? lirih Rendy.


"Anda tidak salah. Yang salah adalah orang yang tidak melihat ketulusan cinta yang suci," ucapan Shila.


"Boleh saya bertanya satu kali lagi?" tanya Rendy kepada Shila.


"Dengan senang hati saya akan menjawab pertanyaan dari anda," sahut Shila.


"Sebagai wanita, apa kamu akan memberikan apapun yang kamu punya untuk oleh yang kamu cinta?"


"Tidak," sahut Shila singkat.


"Cinta yang tulus tidak meminta dan tidak memerlukan syarat dari pasangannya," jawab Shila mantap.


Rendy terdiam dalam seribu bahasa. Ia tak pernah memikirkan tentang apa yang sudah dikatakan Shila barusan.


"Udah selesai?" tanya Ken yang dari awal hanya menjadi pendengar setia.


"Udah," sahut Rendy singkat.


"Shila, kamu mau makan apa?" tanya Ken yang baru akan memesan makanan.


"Apa aja yang penting bisa dimakan," ucap Shila.


Dari dahulu Shila memang tak pernah memilih-milih makanan, apapun yang disuguhkan ia pasti akan memakannya.


Ken segera memesan makanan ia menyamakan makanannya dengan makanan Shila.


"Lo mau makan gak?" Ken bertanya kepada Rendy.


"Gue gak lapar."


"Kalau lo sakit, gue gak tanggungjawab," ucap Ken.


"Gak masalah. Ada Liana yang jagain aku," sahut Rendy.


"Liana?" ucap Shila penuh tanya.


"Ya. Istrinya Rendy," ucap Ken.


"Lalu Jenny?" Shila semakin bingung.

__ADS_1


"Ceritanya panjang, kalau kamu mau tahu silakan minta Ken untuk menjelaskannya karena akan butuh waktu lama untuk menceritakan siapa Liana dan siapa Jenny. Kalau aku yang menceritakan semua itu, aku gak bakal kuat karena keburu rindu sama istriku," ucap Rendy panjang lebar.


"Tidak perlu, saya tidak terlalu tertarik dengan urusan pribadi orang lain terkecuali orang yang membutuhkan jasa saya," ucap Shila dengan santainya.


"Kalau begitu kenapa kamu tidak tahu siapa Liana?" tanya Rendy.


"Pak Ken meminta saya untuk mencari informasi tentang Jenny bukan Liana. Saya tahu Jenny itu kekasih kakaknya Pak Ken tapi saya tidak tahu kalau Liana adalah istri dari kakaknya Pak Ken," jelas Liana.


"Kamu tahu kalau saya adalah kakaknya Ken?" tanya Rendy.


"Ya. Tepatnya setelah saya bekerja untuk ibu Elma," ucap Shila.


"Bagaimana kamu bisa bekerja untuk mama saya?" tanya Ken.


Shila mengambil ponselnya dari dalam tas yang ia bawa! ia mengotak-atik ponselnya lalu memperlihatkan kepada Ken.


"Lihat ini!" ucap Shila sembari menyodorkan ponselnya ke hadapan Ken.


"Dari situlah saya bisa bertemu dan bekerja dengan mama anda," jelas Shila.


"Mama pasang iklan di sosial media?" ucap Ken.


"Seperti yang anda lihat," sahut Shila.


Karena asyik mengobrol tak terasa waktu makan siang sudah habis.


Ketiganya segera bergegas pergi meninggalkan tempat itu!


"Ken gue duluan ya," ucap Rendy.


"Oke," sahut Kendra singkat.


"Kalau sudah terlambat, biar saya pulang naik taksi aja," ucap Shila.


"Tidak-tidak. Saya gak mau kena marah mama karena saya tidak bertanggungjawab mengantar kamu pulang," ucap Ken.


"Baiklah." Shila masuk ke mobil milik Ken.


Setelah keduanya berada di dalam mobil, Ken melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.


Selama di perjalanan tak ada pembicaraan diantara Shila dan Ken. Keduanya sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


Setelah dua puluh menit mobil yang dikendarai oleh Ken tiba di depan rumah Elma.


Ken menghentikan mobilnya didepan gerbang rumah mamanya.


"Saya antar kamu sampai sini aja," ucap Ken setelah mobilnya benar-benar berhenti.


"Oke. Terimakasih," ucap Shila lalu ia keluar dari mobil Ken.


"Aku pergi dulu ya. Salam sama mama," ucap Ken.


Tanpa menunggu jawaban dari Shila, Ken segera melajukan kendaraannya menuju kantor!


Ken mengemudi dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia ingin cepat sampai ke kantor karena pekerjaannya sudah menumpuk.


Tak butuh waktu lama, hanya dua belas menit Ken sudah tiba di area kantor.


Setelah memarkirkan mobilnya, Ken segera masuk ke kantor untuk menyapa tumpukan berkas yang berada diatas meja kerjanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2