
Tok!
Tok!
Tok!
"Permisi!"
"Permisi!"
Elvan mengetuk pintu rumah yang terlihat sudah tua tapi terurus karena masih ditinggali oleh pemiliknya.
Seorang gadis remaja membukakan pintu rumah itu dari dalam!
"Maaf, cari siapa ya dan ada perlu apa?" tanya gadis itu.
"Apa benar ini rumahnya, Agus?"
"Oh, cari Kakak ya. Maaf Kakak sedang tidak ada di rumah, dia sedang bekerja. Kalau boleh tahu, Kakak siapanya Kak Agus dan ada perlu apa?" ucap gadis yang masih belia itu.
"Saya temannya. Sebenarnya tidak ada perlu apa-apa, hanya ingin bertemu saja."
Gadis itu tersenyum ranah ke arah Elvan. "Oh gitu. Kakak udah lama gak pulang, saya juga tidak tahu kenapa dia tidak pulang juga sudah beberapa hari ini dia tidak menelpon kami."
"Kalau boleh tahu, kamu siapanya Agus?"
"Saya adiknya, Kak."
"Boleh bertanya lagi?"
"Tentu saja."
"Siapa namamu dan apa pekerjaan Kakakmu?"
"Namaku Kanaya, Kak. Kak Agus bekerja sebagai buruh pabrik di kota."
"Oh gitu." Elvan melihat ke dalam rumah itu mencoba mencari tahu apa yang ada di sana.
"Kamu tinggal sendiri di sini?" tanya Elvan.
"Tidak, aku tinggal berdua sama adikku."
"Orang tua kalian?"
"Mereka sudah tidak ada sejak beberapa tahun lalu, biasanya kami tinggal bertiga sama Kak Agus, tapi karena dia harus bekerja untuk menutupi kebutuhan kami terpaksa dia harus tinggal jauh dari kami," jelas gadis itu.
"Kamu masih sekolah?"
"Tentu saja, Kak Agus selalu mengutamakan pendidikan ku. Katanya agar aku tidak seperti dia."
"Kamu sayang sama dia?"
"Sayang dong. Kak Agus juga sangat menyayangi kami."
"Kanaya, aku gak di ajak masuk?"
"Maaf Kak. Kak Agus bilang agar aku tidak membawa masuk orang lain apalagi orang itu laki-laki, karena bisa menimbulkan fitnah."
Elvan masih berdiri di depan pintu, dia tidak berkata lagi.
"Menurut penjelasan gadis ini, Agus adalah orang yang baik dan sayang sama keluarganya tapi kenapa dia bisa melakukan kejahatan?" Elvan berbicara sendiri didalam hatinya.
"Kak! Kak! Kenapa bengong?" ucap Kanaya sambil menggerak-gerakan tangannya di depan wajah Elvan.
"Ah tidak. Tidak apa-apa, kalau gitu Kakak pulang saja. Lain kali boleh kan Kakak kesini lagi?"
"Tentu saja boleh, semoga nanti pas lagi ada Kak Agus nya ya, Kak."
Elvan langsung pergi meninggalkan Kanaya di rumah itu!
...****************...
Byurr!
Kayla menyiram preman-preman itu dengan air.
__ADS_1
Mereka yang tadinya sudah lemah, kini sedikit lebih segar karena mendapatkan sedikit air.
"Kalian mau minum?" ucap Kayla.
Preman-preman itu tak menjadi pertanyaan Kayla karena mereka yakin, Kayla sudah tahu jawabannya.
Satu-persatu Kayla membuka tali yang mengikat mereka lalu memberikan air minum masing-masing satu botol.
"Cepat minum! Sebelum kalian mati," ucap Kayla dengan nada datar.
Mereka langsung meneguk air minum itu sampai tandas.
Setelah mereka meminum air itu, Kayla memberikan mereka nasi dan lauknya!
"Makan!" ucap Kayla lagi.
Agus dan Karman saling tatap seperti sedang berdiskusi lewat bahasa isyarat.
"Cepat makan! Makanan ini tidak beracun. Jangan mencoba kabur, kalau kalian berusaha kabur, timah panas ini akan bersarang di kepala kalian dan jangan harap kalian bisa pulang selamat."
Preman-preman itu langsung memakan nasi yang diberikan oleh Kayla, karena sangat kelaparan mereka langsung mempercayakan perkataan Kayla.
Kayla duduk di depan mereka dengan terus siaga.
...****************...
"Sial! Udah dua hari gue nungguin tuh cewek tapi gak ada hasil." ucap Jacky dengan nada kesal.
Memang sudah dua hari, setelah dirinya pulang bekerja, Jacky selalu nongkrong di pinggir jalan untuk mencegat Rania.
Sayangnya seperti sudah tahu apa yang akan terjadi, Rania tidak lewat ke jalan itu.
"Gue harus berhasil, gue gak mau Biani terus-terusan kayak gini. Gue takut dia jadi gila gara-gara ini," gumam Jacky.
Jacky duduk di atas motornya, ia memegangi keningnya dan memintanya pelan.
"Berpikir, Jacky, ayo berpikir bagaimana caranya agar Biani bisa menikah dengan Leon."
Karena hari sudah semakin malam akhirnya Jacky segera pulang ke rumahnya ia tidak ingin membuat Mamanya khawatir kepadanya!
...****************...
"Aku gak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Aku gak sabar ingin hari cepat pagi."
"Kenapa, ada apa dengan besok?"
"Besok kan aku mau pulang. Aku kangen sama suasana rumah."
"Coba kamu tidur, pasti malam ini akan terasa jauh lebih singkat."
"Iya, bawel."
Shania memejamkan matanya berharap ia bisa cepat tertidur.
Leon terus menatap wajah Shania meski Shania sudah menutup matanya.
Merasa terus diperhatikan, Shania membuka matanya. "Jangan ngeliatin aku terus," ucap Shania.
"Kenapa? Aku hanya menatap wajah istriku."
"Aku jadi semakin tidak bisa tidur."
Leon berdiri lalu naik ke atas hospital badan yang sedang Shania tiduri!
"Leon, kamu mau ngapain?"
"Geser! Aku mau tidur sama kamu," ucap Leon.
Mau tidak mau Shania harus menggeser tubuhnya karena Leon sudah berada di atas ranjangnya.
Shania berbaring dengan posisi miring membelakangi Leon.
__ADS_1
"Gak baik, membelakangi suami," ucap Leon.
Tanpa berkata apa-apa, Shania mengubah posisinya menjadi menghadap Leon!
"Gitu dong." Leon tersenyum tipis lalu meletakkan tangannya di atas pinggang Shania.
"Jangan macam-macam," ucap Shania.
"Nggak, tenang saja aku tidak akan berbuat apa-apa. Ayo tidur agar besok kita bisa pulang dengan tubuh fresh," ucap Leon dengan mata yang sudah tertutup.
Shania juga meletakkan tangannya di atas tubuh Leon lalu mulai menutup matanya.
"I love you," ucap Leon berbisik.
"Aku juga cinta kamu," sahut Shania.
Pasangan suami istri itu langsung tertidur pulas.
...****************...
"Jacky, kamu baru pulang, Nak?" ucap Jenny.
"Iya, Mam," sahut Jacky.
"Sudah dua hari kamu selalu pulang telat. Kenapa, Nak?"
"Aku lembur, Ma biar bisa mengumpulkan uang yang banyak."
"Jangan terlalu memaksakan diri. Hidup seperti ini, Mama sudah bahagia asalkan ada kamu dan adikmu, Mama rasa hidup Mama sudah sempurna."
"Iya, Ma. Besok-besok aku gak akan lembur lagi, o ya, Biani ada gak?" tanya Jacky.
"Ada di kamarnya, kalau ada keperluan samperin saja ke kamarnya."
"Nanti saja setelah aku membersihkan diri."
Jacky memasuki kamarnya untuk segera membersihkan dirinya yang sudah merasa gerah setelah seharian bekerja!
Jenny menatap kepergian putranya dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya. Jenny merasa sangat bersyukur karena Jacky dapat mengertikan dirinya dan Jacky juga tidak membencinya meski sudah tahu tentang masa lalunya bersama orang tuanya Leon.
Berbeda dengan Biani yang sampai saat ini masih membencinya meski dirinya sudah berkali-kali meminta maaf kepada putri yang sangat dia cintai dan dia sayangi.
...****************...
Kayla langsung mengikat preman-preman itu lagi saat mereka telah selesai memakan makanan yang ia berikan pada mereka.
"Selama kalian belum berkata jujur, gue gak akan menyerahkan kalian ke polisi ala lagi sampai melepaskan kalian dari tawanan ku," ucap Kayla.
"Kami sudah berkata jujur sejujur jujurnya," ucap Karman.
"Gue tahu dan faham betul dengan orang yang sedang berbohong ataupun tidak berbohong. Jangan coba-coba membohongiku lagi," ucap Kayla.
Setelah berhasil mengikat mereka, Kayla meninggalkan mereka di dalam ruangan itu tak lupa ia mengunci pintu ruangan itu.
Kayla berjalan ke halaman gubug tua itu! Ia mengedarkan pandangannya ke semua arah tidak ada satu manusia pun yang terlihat di sana, hanya ada gelapnya malam dan rimbunnya pepohonan.
Tempat itu sangat jauh dari pemukiman warga hingga saat malam hari tiba kesunyian pun mulai menyapa.
Tidak ada suara manusia dan juga tidak ada gemuruh nya suara kendaraan yang berlalu-lalang, di sana hanya ada suara-suara hewan liar yang biasa aktif dimalam hari.
Kayla duduk di atas bangku yang ada di halaman gubug tersebut lalu ia mengambil ponselnya dari dalam saku celananya!
Kayla menggerak-gerakan jempolnya di atas layar ponselnya lalu menelpon seseorang.
📞 "Halo," ucap seseorang yang Kayla telpon.
📞 "Lepaskan Irwan!" ucap Kayla to the poin.
📞 "Kenapa?"
📞 "Aku sudah menyelidiki kasusnya."
📞 "Baik."
Rekannya Kayla langsung mengerti dengan perintah dari Kayla.
__ADS_1
Kayla langsung menutup teleponnya setelah memastikan rekannya itu sudah mengerti dengan semua perkataannya.
Bersambung