
Setelah melakukan pemeriksaan terhadap Shila dokter itu dan juga Shila keluar dari ruangan tersebut lalu berjalan beriringan menghampiri Rendy dan keluarganya.
"Darahnya tidak cocok dengan pasien," ucap dokter setelah tiba didepan Elma.
Elma menangis karena takut putranya tidak terselamatkan.
"Dimana kami bisa mendapatkan darah yang cocok dengan Ken?" tanya Liana kepada dokter.
Dokter itu menggelengkan kepalanya karena ia sudah menghubungi beberapa rumah sakit, namun mereka juga tak memiliki stok golongan darah yang cocok dengan Ken.
"Cek golongan kami juga, kalau cocok kami bersedia mendonorkan darah kami," ucapan bodyguard yang tiba di rumah sakit bersama Elma.
Dokter itu kembali memeriksa kecocokan darah beberapa bodyguard itu dengan golongan darah Ken.
Rendy mengambil ponselnya dari saku celananya, ia hendak menelpon kepala bodyguard di rumahnya.
📞 "Halo, Sam." Rendy segera membuka suara saat orang yang ia telpon menerima telepon darinya.
📞 "Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" sahut Sam.
📞 "Cepat kesini ajak juga semua anak buahmu," ucap Rendy tanpa basa-basi.
📞 "Siap, Pak," ucap Sam.
Rendy memutuskan sambungan teleponnya setelah bodyguardnya mengatakan bahwa mereka akan datang.
Setelah hampir setengah jam dokter itu keluar ruangan bersama beberapa bodyguard!
"Ada dua orang yang golongan darahnya cocok dan sekarang mereka sedang melakukan transfusi darah," ucap dokter itu.
Elma menghela nafas lega, "syukurlah," ucapnya.
"Dua orang saja tidak cukup untuk menstabilkan pasien karena pasien kehilangan darah hampir delapan puluh persen," ucap dokter itu lagi.
"Orang-orang saya sedang dalam perjalanan menuju kesini untuk mendonorkan darahnya," ucap Rendy.
"Baiklah, kalau bisa secepatnya ya," ucap dokter itu lagi.
Rendy menganggukkan kepalanya.
"Akan diusahakan," ucapnya.
Dokter itu masuk ke ruangan tempat Ken ditangani.
"Semoga keberuntungan menyertaimu pak Ken," ucap Shila didalam hatinya.
Shila yang tahu kondisi Ken yang hanya memiliki sedikit kemungkinan untuk bisa sembuh lagi hanya bisa mendoakan tanpa mengutarakan apa yang ia tahu kepada siapapun karena ia takut Elma akan syok.
Tak lama bodyguard-bodyguardnya Rendy tiba di rumah sakit itu.
"Ada tugas untuk kami, Pak," ucap Sam.
"Saya butuh pertolongan kalian. Siapa saja yang golongan darahnya cocok dengan Ken tolong donorkan darah kalian untuk Ken," ucap Rendy dengan nada lirih.
__ADS_1
Rendy berucap tanpa menatap Sam karena ia tak ingin terlihat rapuh dimata bodyguardnya itu.
"Kami bersedia, pak. Dimana ruangan untuk mengecek golongan darah?" ucap Sam.
"Mari ikut aku," ucap Shila.
Shila mengantarkan bodyguard yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang itu salah satu ruangan yang berada tak jauh dari mereka berdiri!
Bodyguard-bodyguard itu melakukan pengecekan golongan darah secara bergantian dan yang cocok dengan Ken langsung melakukan transfusi darah kepada Ken.
Waktu menunjukkan pukul 21:45 wib.
Kondisi Ken sudah sedikit membaik setelah mendapatkan transfusi darah dari beberapa orang yang bersedia mendonorkan darahnya.
"Dokter, apa boleh kami menemui pasien?" ucap Elma kepada dokter yang berjaga malam itu.
"Pasien masih lemah. Kami harap jangan ada yang mengganggunya dulu," ucap dokter yang baru keluar dari ruangan Ken.
"Mama sabar ya, Ken pasti sembuh," ucap Liana sembari mengelus pundak Elma.
"Kenapa ini terjadi kepada Ken?" ucap Elma dengan tangis yang tak pernah surut.
"Mama, ini musibah kita tidak bisa menolak takdir," ucap Liana.
Kini Liana memeluk Elma penuh kasih sayang.
Rendy ikut memeluk Elma dari sebelah kiri!
Rendy mencium kening mamanya lalu kembali memeluk mamanya itu!
Shila dan para bodyguard itu berdiri menyaksikan kepedihan sang majikan.
"Kalian boleh pulang," ucapan Shila, "biar saya dan Sam yang jaga disini," sambung Shila.
Para bodyguard yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang itu pergi meninggalkan rumah sakit itu.
Kini tinggal ada Elma beserta keluarganya dengan ditemani dua orang bodyguard andalannya.
*** *** ***
"Kerjaan lo-lo pada emang selau memuaskan," ucap Bram.
Sonny tersenyum penuh kesombongan. "Kalau ada kerjaan lagi, jangan lupa hubungi kita-kita," ucap Sonny.
"Kalau kerjaan lo bener, pasti gue hubungin lo lagi," ucapan Bram.
"Selama ada duit kerjaan lancar," sahut Sonny.
"Sayang, pulang yuk. udah malam nih," ucap Jenny.
Bram merangkul tubuh Jenny!
"Gue balik dulu. Jangan pernah hubungi gue, kalau nanti ada kerjaan buat lo, gue yang akan hubungi lo," ucap Bram.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Sonny, Bram dan Jenny meninggalkan tiga preman yang yang sudah bekerja untuknya.
Malam sudah berganti siang, matahari mulai menampakan sinarnya.
Di rumah sakit Liana dan Elma tertidur di kursi yang ada di ruang tunggu sedangkan Rendy, Shila dan Sam belum menutup matanya mereka berjaga sepanjang malam takutnya terjadi apa-apa terhadap Kendra.
Tak lama dokter yang menangani Ken dan dua suster berlari cepat ke ruangan Ken dirawat setelah mendengar bel darurat yang dinyalakan oleh salah satu suster yang tengah mengecek keadaan Ken!
Rendy dan dua orang bodyguardnya yang sedang berdiri didepan ruangan Ken dirawat seketika ikut panik karena melihat dokter berlari kencang memasuki ruangan Ken dirawat.
"Suster ada apa?" ucap Rendy.
"Nanti kami beritahukan. Kami akan melakukan penanganan lebih lanjut kepada pasien," sahut salah satu suster lalu segera meninggalkan Rendy diluar ruangan.
"Ada apa?" ucap Elma yang terbangun karena mendengar suara kegaduhan.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba dokter dan suster berlarian ke ruangan Ken," sahut Rendy. Wajahnya terlihat masih tegang.
Elma kembali menangis. "Ken," lirihnya.
"Dokter sedang memeriksa keadaan Ken. Mama jangan cemas, mereka akan melakukan yang terbaik untuk Ken," ucap Liana yang juga baru terbangun dari tidurnya.
Dokter keluar dari ruangan Ken dengan raut wajah lesu.
"Dokter, bagaimana keadaan putra saya?" ucap Elma.
"Pasien ... ." Dokter itu menggantung ucapannya.
"Dokter, Ken baik-baik saja kan?" ucap Liana.
"Tidak baik bicara disini. Mari kita bicara di ruangan saya!" ucap dokter itu sembari melangkahkan kakinya menuju ruang pribadinya.
Elma dan Rendy mengikuti langkah dokter itu sedangkan Liana memilih tetap tinggal ditempat semula.
"Anda tidak ikut?" ucap Shila.
Liana menggelengkan kepalanya! "saya disini saja," ucapnya.
"Kenapa? anda keluarganya anda berhak untuk mengetahui semuanya," ucap Shila.
"Tidak. Saya tidak ingin mendengar sesuatu yang saya tidak ingin dengar," sahut Liana lagi.
Selama ini Ken selalu baik dan perhatian terhadap Liana, karena hal itulah Liana lebih memilih untuk tidak ikut ke ruangan dokter itu karena ia tidak ingin mendengar berita buruk dari dokter itu meski sebenarnya Liana tahu bahwa memang dokter itu akan menyampaikan berita tidak menyenangkan tentang Ken.
"Silahkan duduk," ucap dokter itu kepada Rendy dan Elma setelah tiba didalam ruangannya.
Rendy dan Elma duduk di kursi yang berada di depan meja kerja dokter itu!
"Sebenarnya apa yang terjadi kepada adik saya?" tanya Rendy dengan nada lirih.
"Pasien ... ." Dokter itu menggantung ucapannya.
Bersambung.
__ADS_1