Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 44


__ADS_3

Setelah Rendy selesai dengan ritual mandinya ia segera keluar dari kamar mandi, ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan mencari keberadaan sang istri namun ia tak mendapati sosok istrinya di kamarnya.


Rendy segera mengenakan pakaian lalu bergegas mencari istrinya ke ruangan lain. Saat Rendy membuka pintu kamarnya ia mendapati istrinya sedang berdiri didepan pintu kamarnya.


Liana sudah membersihkan diri di kamarnya ia hendak kembali ke kamar Rendy namun mereka berpapasan saat pintu kamar itu terbuka.


"Dari mana?" tanya Rendy.


"Dari kamarku."


"Sini masuk," ucap Rendy sembari menarik tangan Liana tak lupa ia menutup pintu kamarnya.


"Kebiasaan, main tarik-tarik aja tangan orang," gerutu Liana.


Rendy nyengir, "maaf."


Rendy membawa istrinya ke tempat tidur lalu membaringkan tubuh istrinya itu.


"Kamu istirahat disini. Aku mau ketemu sama Ken dulu," ucap Rendy.


"Mau ngapain ketemu Ken?" ucap Liana yang sudah terbaring di tempat tidur.


"Ada urusan."


"Aku ikut," ucap Liana sembari menggenggam tangan Rendy.


Rendy membungkukkan tubuhnya lalu mengelus kepala Liana, "jangan sayang. Ini urusan laki-laki."


"Kamu mau nyakitin Ken lagi?" ucap Liana.


"Nggak. Aku mau membicarakan tentang pekerjaan," ucap Rendy dengan senyumannya yang manis itu.


"Aku gak percaya. Kalau urusan pekerjaan kenapa tidak besok saja? toh besok juga ketemu di kantor," cerocos Liana yang curiga kepala suaminya.


Dikediaman Ken.


Tok! tok! tok!


Suara pintu yang diketuk dari luar.


Ken membuka pintu kamarnya dan ia melihat sosok Markonah (asisten rumah tangganya)


"Ada apa bik?" tanya Ken karena tak biasanya Markonah mengganggu waktu istrinya.


"Anu Den. Dibawah ada nyonya besar," ucap Markonah.


"Mama?"


"Iya, Den."


Setelah memberitahu tuanya Bik Onah langsung turun ke lantai utama untuk melanjutkan pekerjaannya.


Ken masuk kedalam kamarnya lalu berdiri didepan cermin untuk melihat wajahnya yang masih menyisakan luka lebam.


"Semoga mama tidak bertanya-tanya tentang ini," gumam Ken sembari memperhatikan luka lebam diwajahnya.


Ken segera bergegas untuk menemui mamanya.


"Mama!" ucap Ken sembari terus berjalan menghampiri Elma.

__ADS_1


"Hai, sayang."


"Tumben Mama kesini?"


"Astaga Ken kenapa wajahmu?" Bukannya menjawab pertanyaan Ken, Elma malah bertanya balik kepada putranya itu.


Raut wajah khawatir terlihat jelas di wajah Elma.


Ken menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "sudah kuduga," ucapnya dalam hati.


"Jawab pertanyaan Mama."


"Eum ini ... ini aku ... ."


"Biasa Mam. Pesaing bisnis yang menggunakan cara kotor untuk menyingkirkan kita," ucap Rendy yang baru tiba di rumah Ken.


Ken dan Elma menoleh kearah suara!


"Anak itu datang tepat waktu," ucap Ken didalam hatinya. Senyum tipis terukir dibibirnya.


"Kebetulan banget ada Mama disini," ucap Rendy dengan senyumannya yang tak pernah pudar saat dekat dengan mamanya.


"Rendy wajahmu juga ... ."


"Iya Ma. Kalau Ken diserang aku juga pasti diserang karena kita berdua emang selalu bersama kan Ken?" ucap Rendy memotong perkataan Elma.


Ken nyengir kuda, "betul itu Ma."


"Kebetulan sekali Rendy juga punya luka diwajahnya," ucap Ken namun kata-kata itu hanya tersimpan didalam hati Ken.


"Ada hal penting apa sampai-sampai kalian kesini malam-malam gini?" tanya Ken kepada Rendy dan Elma.


"Ya boleh, boleh banget malah. Aku pikir ada sesuatu yang penting," ucap Ken.


"Elo ngapain kesini, Liana mana?" tanya Ken kepada Rendy.


"Tadinya gue ada perlu sama lu tapi gak jadi deh gue pulang lagi aja," ucap Rendy.


"Baru nyampe udah mau pulang aja," ucap Elma.


"Iya Mam. Tiba-tiba aku kangen sama Liana." Rendy mencium punggung tangan Elma lalu segera pergi dari rumah Ken.


"Lo gak mau nyium tangan gue?" tanya Ken karena Rendy tidak berpamitan kepadanya.


Rendy menghentikan langkahnya lalu berbalik badan kini ia menatap ke arah Ken.


"Gak," ucapnya singkat.


Elma menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua putranya yang tidak berubah meski sudah dewasa.


"Kalian ini udah pada dewasa jangan kebanyakan berdebat," ucap Elma.


"Ken yang duluan Mam," ucap Rendy.


"Dih elo juga yang mulai," seru Ken.


"Elo." (Ken)


"Lo yang mulai duluan Ken." (Rendy)

__ADS_1


"Udah! udah! Mama jadi pusing. Rendy katanya kamu mau pulang, udah cepat pulang sana. Ingat hati-hati dijalan," ucap Elma kepada Rendy.


"Ini juga mau pulang," ucap Rendy sembari melangkahkan kakinya keluar dari rumah Ken.


Setelah Rendy pergi Elma mulai bicara serius dengan Ken.


Elma menelpon seseorang, memintanya untuk masuk kedalam rumah Ken.


"Nelpon siapa?" tanya Ken.


"Nanti juga kamu tahu sendiri," saut Elma dengan senyum misterius.


Tak lama seorang wanita masuk kedalam rumah Ken. Wanita itu berjalan menghampiri Elma dan Ken yang sedang duduk diruang tamu.


"Kamu!" ucap Ken dan wanita itu secara bersamaan.


Elma menatap keduanya yang kini tengah beradu pandang, senyum tipis terukir dibibir Elma.


"Ternyata kalian sudah saling kenal," ucap Elma yang membuat tatapan Ken dan wanita itu beralih kepadanya.


"Sebenernya aku pernah ... ."


"Sebelumnya kami pernah bertemu di suatu tempat tapi tidak sempat saling mengenal satu sama lain," ucap wanita itu memotong perkataan Ken.


"Oh, begitu," ucap Elma singkat, "yaudah kalian kenalan biar saling kenal," sambung Elma.


Ken tersenyum kecil lalu mengulur-ulur tangannya, "perkenalkan nama saya Kendra."


Wanita itu membalas senyuman Ken lalu menjabat tangan Ken, "Shilla."


Ken baru tahu kalau wanita pengintai itu bernama Shilla karena saat ia meminta tolong untuk mencari tahu tentang Jenny wanita itu tidak memberitahukan namanya.


"Eh ngomong-ngomong Mama ngapain bawa teman Mama kesini?" tanya Ken kepada mamanya.


"Shilla bukan teman Mama tapi Shilla ini yang jagain Mama kalau pergi keluar rumah, seperti sekarang ini," jelas Elma.


"Maksudnya bodyguard Mama gitu?" tanya Ken penuh rasa penasaran.


"Bisa dibilang seperti itu," ucap Elma.


Saat Elma dan Ken mengobrol wanita itu hanya diam tak mengeluarkan suara sedikitpun.


Di rumah Rendy.


Rendy baru tiba di rumahnya, ia langsung masuk kedatangan kamarnya untuk beristirahat.


Saat Rendy membuka pintu kamarnya ia mendapati istrinya sudah tertidur di tempat tidurnya.


Rendy melangkah perlahan menghampiri wanita yang kini sudah mencintainya. Rendy menatap lekat wajah sang istri sembari mengelus kepala Liana dengan lembut.


"I love you Liana," lirih Rendy lalu ia segera berganti pakaian karena ia juga ingin beristirahat.


Setelah mengganti pakaiannya, Rendy membaringkan tubuhnya disamping Liana baru beberapa menit ia berbaring Liana memeluk tubuhnya entah sengaja atau tidak yang pasti saat ini Rendy merasa bahagia.


ini kali pertama Rendy dan Liana tidur dalam satu kamar dan satu tempat tidur.


"Ternyata begini rasanya tidur bareng istri," ucap Rendy didalam hatinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2