Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 34


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Leon berpamitan kepada Shania untuk pergi ke kantor.


"Shania, aku berangkat ke kantor dulu, kamu hati-hati di rumah ya jangan lupa kunci pintu dan semua jendela," ucap Leon.


Tidak bosan-bosan setiap hari Leon menginginkan Shania untuk selalu mengunci pintu dan semua jendela rumahnya demi keamanan istrinya itu.


Meski Leon tidak mencintai Shania tapi keselamatan Shania selalu ia utamakan karena kalau Shania terluka keluarganya akan menyalahkan dirinya dan menganggapnya sebagai suami yang tidak bertanggungjawab.


"Iya, setiap hari aku selalu mengikuti perkataan mu. Aku selalu mengunci pintu dan semua jendela," sahut Shania.


Leon tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan Shania! Tak seperti pasangan suami istri lainnya, dalam rumah tangga mereka tidak ada ciuman ataupun perkataan manis saat akan pergi dari rumah.


Setelah Shania mencium punggung tangan Leon, Leon akan berlalu begitu saja dari hadapan Shania.


Setelah Leon pergi, Shania segera mengunci pintu utama rumahnya tanpa menunggu Leon pergi jauh dari rumahnya.


Saat sedang berjalan menuju dapur, Shania mendengar suara orang yang berteriak menyebutkan namanya sembari menggedor pintu rumahnya.


"Shania!"


"Shania buka pintunya!"


Shania terperanjat mendengar suara gebrakan pintu yang begitu keras.


Shania berjalan perlahan mendekati jendela untuk melihat siapa orang yang berteriak-teriak didepan pintu rumahnya!


Meski takut, Shania mencoba untuk melihat orang yang berada di luar rumahnya.


"Biani," gumam Shania.


Shania segera berjalan dengan langkah cepat meninggalkan ruangan utama rumahnya! Membiarkan Biani di luar rumahnya.


Shania masuk kedalam kamarnya dan segera mengunci pintu kamarnya.


Di luar rumah, tepatnya didepan pintu utama rumah Leon dan Shania.


Biani bersama teman-temannya sedang berusaha agar dapat membuka pintu dengan paksa karena Shania tidak mungkin membukakan pintu untuknya.


Biani bersama dua temannya dan dibantu oleh dua orang preman laki-laki, berusaha mendobrak pintu utama rumah Leon.


Dalam pikiran Biani, dia akan memberikan pelajaran kepada Shania dan dia juga akan melampiaskan amarahnya kepada Shania karena Shania sudah berusaha merebut Leon darinya.


Dua preman bayaran itu mendobrak pintu dengan paksa, mereka terus berusaha membuka pintu itu dengan menendang dan menghantam pintu itu dengan tubuh mereka!


Tak lama.


Brak!


Pintu itu terbuka dengan paksa.


Biani dan dua temannya dan dua preman itu memasuki rumah Leon tanpa izin dari sang pemilik!


"Shania! Dimana lo?" teriak Biani.


"Shania, jangan bersembunyi! Gue tahu lo ada di rumah!"


"Shania!"


"Shania!"


Biani terus berteriak sembari berjalan ke semua ruangan di lantai utama rumah milik Leon yang ditempati bersama dengan istrinya.


...****************...


Leon sedang fokus berkendara tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada telepon yang masuk kedalam ponselnya.


Leon mengambil ponselnya dari dalam saku celananya! Untuk melihat siapa yang menelponnya.


"Elvan," gumam Leon setelah melihat layar ponselnya.


Leon segera menerima telepon dari Elvan.


📞 "Halo, Van," ucap Leon.


📞 "Leon kamu di mana?" tanya Elvan.


📞 "Di jalan. Aku baru mau ke kantor."


📞 "Leon berkas untuk kita meeting hari ini kamu bawa kan?"


📞 "Astaga, Van! Aku lupa membawanya."


📞 "Kamu gimana sih, Leon."


📞 "Maaf. Aku balik lagi deh ke rumah buat ngambil berkas itu."


📞 "Jangan lama-lama,udah jam berapa ni."


📞 "Iya, Elvan. Aku tahu kok sekarang udah siang, aku udah telat satu jam."


📞 "Kalau tahu kenapa gak cepat-cepat datang ke kantor? Kalau bosnya tidak disiplin, karyawannya juga gak akan disiplin."


Leon mematikan sambungan teleponnya secara sepihak karena tidak ingin mendengar ocehan Elvan.

__ADS_1


...****************...


Biani menyeret Shania dengan paksa, membawanya turun ke lantai untuk rumah itu!


"Biani, lepaskan aku!" Shania meronta ingin lepas dari cengkraman Biani.


"Lo sudah berani bermesraan dengan Leon didepan media. Sekarang lo terima akibatnya karena sudah berusaha merebut Leon dari gue," ucap Biani dengan nada bicara yang tinggi.


"Aaa, sakit. Kamu salah paham Biani, itu tidak seperti yang kamu pikirkan."


Biani menjambak rambut Shania dengan sangat keras hingga Shania kesakitan.


Kamila dan Tasya hanya berdiri sambil menyaksikan kejadian itu, mereka membiarkan Biani melampiaskan amarahnya kepada Shania. Sedangkan dua preman yang Biani bayar itu sudah pergi karena tugas mereka sudah selesai.


"Aaaa, Biani lepaskan aku," lirih Shania.


Shania tidak bisa melawan karena Biani tidak memberi kesempatan untuk membela dirinya. Biani mendorong Shania hingga Shania jatuh tersungkur ke lantai!


Bruk!


Shania terjatuh.


Biani ingin menampar Shania namun Shania menangkis tangan Biani lalu menendang kaki Biani hingga Biani terjatuh!


"Kamu pikir aku akan diam saja," ucap Shania.


"Kurangajar!"


Biani segera berdiri lalu berusaha menyerang Shania lagi.


Karena Shania tidak ingin dirinya terluka, ia terus melawan setiap Biani akan memukulnya.


Merasa kalah oleh Shania, Biani meminta dua temannya untuk membantunya menganiaya Shania.


Tasya dan Kamila memegangi kedua belah tangan Shania hingga Shania tidak dapat melakukan perlawanan.


Plak!


Plak!


Biani menampar pipi kanan dan kiri Shania.


"Aah," Shania merintih kesakitan.


"Lo gak akan bisa lolos dari gue, Shania!"


"Biani, kamu salah paham," ucap Shania.


Biani tidak menghiraukan perkataan Shania, dia terus memukul dan menampar Shania!


"Sekarang nikmati setiap perlakuan Biani kepadamu," sambung Kamila.


Kamila dan Tasya terus memegangi kedua tangan Shania meski Shania sudah mulai tak berdaya.


Leon memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumahnya yang terbuka cukup lebar.


Leon turun dari mobilnya lalu berjalan memasuki halaman rumahnya.


"Kenapa Dhuha tidak menutup gerbang setelah dia keluar?" gumam Leon.


Leon terus berjalan menuju pintu utama rumahnya!


Di dalam rumah.


"Biani aku mohon, lepaskan aku," lirih Shania yang sudah mendapatkan banyak luka lebam di sekujur tubuhnya.


"Lo pikir gue akan mengampuni lo!"


Dari luar Leon mendengar suara teriakan dari dalam rumahnya.


"Lo gak akan bisa lolos dari gue. Waktu di rumah sakit gue gagal menghabisi lo karena ada orang tuanya Leon tapi sekarang tidak, gue akan membuat lo pergi dari kehidupan Leon untuk selamanya."


Biani mencekik leher Shania dengan sangat kencang!


"B_biani, l_lepaskan aku. aku mohon," ucap Shania yang mulai kehabisan nafas.


Shania tidak bisa melawan karena tangannya dipegangi oleh Tasya dan Kamila!


"Biani!" teriak Leon dari ambang pintu.


Leon terkejut melihat Biani yang sedang mencekik leher Shania.


Biani melepaskan tangannya yang sedang mencekik leher Shania! Tasya dan Kamila juga melepaskan tangan Shania yang mereka pegang!


Shania yang sudah tak berdaya terjatuh ke lantai.


Leon segera berlari untuk menolong Shania!


"L_Leon?"


Biani merasa takut karena perbuatannya ketahuan oleh Leon.


"Kamu tega ya, Bi. Ternyata selama ini sifat kamu tidak seperti yang aku pikiran," ucap Leon.

__ADS_1


Leon baru tahu kalau saat Shania di rumah sakit, Biani berusaha menghabisi nyawa Shania.


"L_Leon aku cuma ...."


Biani tak melanjutkan perkataannya karena Leon pergi meninggalkan dirinya.


Leon memangku tubuh Shania yang sudah tak berdaya, membawanya masuk ke dalam mobilnya! Secepat mungkin Leon harus membawa Shania ke rumah sakit!


"Shania, bertahanlah," ucap Leon sembari menyetir.


Leon melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa sampai ke rumah sakit tepat waktu!


"Leon, maafkan aku," lirih Shania.


Leon menatap Shania yang terbaring di bangku belakang.


"Kamu gak salah, ini bukan salah kamu."


Shania tidak berucap lagi, matanya tertutup dan tumbuhnya tidak bergerak lagi.


Leon kembali melihat Shania dan ia mendapati Shania yang sudah tak bergerak dengan mata yang terpejam.


"Shania," ucap Leon.


"Shania!" Leon sedikit mengeraskan suaranya.


Leon terus memanggil Shania namun tak ada respon dari istrinya itu.


Leon langsung panik karena Shania sudah tak sadarkan diri, Leon menambah kecepatan mobilnya hingga mencapai batas kecepatan maksimal agar Shania bisa terselamatkan.


"Shania bertahanlah, aku mohon," gumam Leon sembari terus fokus menyetir.


Tak lama Leon tiba di rumah sakit terdekat.


Leon segera menghentikan mobilnya di sembarang tempat lalu memangku tubuh Shania membawanya memasuki rumah sakit tersebut!


"Suster! Dokter! Tolong selamatkan istri saya," ucap Leon.


"Pak kami akan melakukan yang terbaik untuk istri Anda. Silahkan Anda selesaikan administrasinya," ucap salah satu suster yang akan membantu dokter memeriksa Shania.


Lebih membiarkan dokter melakukan tugasnya dan ia segera menyelesaikan administrasi rumah sakit itu.


Leon menunggu dokter keluar dari ruangan tempat Shania diperiksa, ia tidak bisa tentang sebelum mengetahui kondisi Shania.


"Aku gak akan maafin diriku sendiri jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepadamu, Shania," ucapan Leon didalam hatinya.


Drrt!


Drrt!


Drrt!


Ponsel Leon bergetar tanda ada telepon masuk.


Leon melihat ponselnya dan tertera nama Elvan di layar ponselnya.


Leon langsung menerima telepon dari Elvan.


📞 "Kamu di mana? Sebentar lagi waktu meeting," ucap Elvan setelah Leon menerima telepon darinya.


📞 "Di rumah sakit. Batalkan meeting nya."


📞 "Tapi kenapa Leon, sedang apa kamu di rumah sakit?"


📞 "Shania kritis, sekarang sedang ditangani oleh dokter di rumah sakit xxx. Aku gak bisa ke kantor sekarang, tolong kamu handle semua jadwal pertemuanku."


📞 "Baik."


Karena sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, Leon menutup teleponnya.


Tak lama seorangpun dokter keluar dari ruangan tempat Shania diperiksa, Leon segera menghampirimu dokter itu!


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Leon.


Raut wajah yang penuh kekhawatiran terlihat di wajah Leon.


"Pasien sudah melewati masa kritisnya," sahut dokter itu.


"Syukurlah." Leon sedikit merasa tenang setelah mendengar pernyataan dari dokter.


"Boleh saya menemui istri saya?"


"Nanti setelah pasien dipindahkan ke ruang rawat inap, baru Anda bisa menemuinya," ucap dokter itu.


...****************...


Biani dan dua temannya sedang berada di salah satu kafe tempat anak-anak muda nongkrong, mereka mencoba untuk menghilangkan rasa takutnya dengan bersantai di kafe itu.


"Bi, gue takut Leon melaporkan kita ke polisi," ucap Tasya.


"Iya, gue juga takut," sambung Kamila.


"Kalian pikir gue gak takut."

__ADS_1


Biani cemas karena sudah melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan, ia juga merasa takut Mamanya mengetahui perbuatannya.


Bersambung


__ADS_2