
Malam ini Rendy tidak dapat memejamkan matanya, kejadian yang ia lihat terus terbayang di kepalanya. Semakin besar rasa cemburu yang Rendy rasakan maka semakin besar pula kemarahannya kepada Ken.
"Aarghh!" Rendy berteriak sambil memukul tembok yang ada didepannya.
Rendy menyandarkan keningnya di dinding kamarnya, tangannya yang terkepal mulai mengeluarkan darah akibat terus-terusan menghantam dinding itu.
Liana yang mendengar suara berisik di kamar suaminya langsung masuk ke kamar itu! Liana segera berlari ke arah Rendy saat melihat ada darah yang mengalir dari punggung tangan sang suami.
"Mas, kamu apa-apaan sih? kalau mau marah, marah sama aku, jangan lukai dirimu sendiri," ucap Liana sembari mengelap darah itu dengan bajunya.
Rendy menangkup pipi Liana dengan kedua tangannya, "aku tidak bisa marah kepadamu. Bagaimana bisa aku marah kepada wanita yang kucintai," ucap Rendy, matanya mulai berkaca-kaca.
"Kenapa kamu lakukan ini padaku Liana, kenapa harus Ken yang kamu cintai?" ucap Rendy dengan nada lirih.
"Mas, bisakah kau dengar penjelasan dariku?" ucap Liana sembari mengelus tangan Rendy yang masih menangkup kedua belah pipinya.
"Kejadian tadi siang itu hanyalah kecelakaan aku terpeleset dan akhirnya kami ... ."
"Jangan jelaskan apapun, aku tidak ingin mendengarnya," ucap Rendy memotong ucapan Liana yang belum selesai.
Rendy berjalan menuju balkon kamarnya, ia memandang langit yang terlihat gelap tanpa dihiasi bulan dan bintang, kedua tangannya memegang erat pagar besi yang ada didepannya.
Liana menyusul Rendy ke balkon kamar itu, tanpa ragu ia memeluk sang suami dari belakang.
"Aku tidak mungkin mencintai laki-laki lain sementara aku sudah mencintai suamiku," ucap Liana dengan nada lembut.
"Liana lepaskan aku," ucap Rendy sembari mencoba melepaskan kedua tangan Liana yang melingkar di perutnya.
Bukannya melepaskan pelukannya, Liana malah semakin mempererat pelukannya pada Rendy.
"Sudah lama aku menantikan ungkapan cinta darimu. Setidaknya kejadian tadi siang dapat membuatmu mengakui kalau kamu sudah benar-benar mencintaiku," ucap Liana dengan tangan terus memeluk Rendy.
"Liana tolong lepaskan tanganmu ini," ucap Rendy.
Kini Rendy sudah menurunkan volume suaranya, ia menjadi lebih tenang saat sang istri memeluknya meski ia belum mau mengakui kalau sebenarnya ia sangat nyaman berada dipelukan sang istri.
Liana melepaskan pelukannya lalu ia memutar tubuh Rendy hingga kini keduanya berhadapan.
"Aku bahagia karena kamu sudah mengungkapkan perasaanmu padaku, tapi nasibku ini memang selalu menyedihkan. Jika laki-laki lain mengungkapkan perasaannya dengan sangat romantis, beda halnya dengan suamiku ini, masa mengungkapkan perasaannya dengan cara yang begitu kasar," ucap Liana sembari menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar, "miris memang," sambungnya.
Kali hanya suara Liana yang terdengar, sedangkan Rendy memilih diam dalam seribu bahasa.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak meluk aku lagi Liana?" ucap Rendy dalam hatinya.
Sebenarnya Rendy ingin dipeluk lagi oleh istrinya namun ia terlalu gengsi untuk memintanya.
"Mas, jangan diam aja," ucap Liana lalu ia kembali memeluk suaminya.
"Nah gitu dong peluk lagi," ucap Rendy masih didalam hatinya.
Karena sang suami masih terdiam, Liana mendongakkan kepalanya menatap wajah sang suami, "Berantem yuk!" ucap Liana sembari menatap netra berwana coklat milik sang suami.
Rendy masih terdiam, ia enggan merubah posisi yang sangat membuatnya nyaman itu.
"Mas, kamu percaya kan sama aku? tadi itu hanya kecelakaan," ucap Liana karena sang suami masih terdiam.
"Kenapa harus ngomongin kejadian tadi sih?" ucap Rendy kesal.
Rendy terus berbicara dalam hatinya ia menahan diri untuk tidak bicara kepada Liana, walaupun sebenarnya ia sangat ingin berbicara sambil memeluk istrinya.
"Mas, jangan diam aja. Kamu mendengar ucapanku gak sih?" Liana mulai kesal karena sang suami hanya diam tak menanggapi setiap ucapannya.
Liana melepaskan pelukannya, "kalau kamu terus begini, lebih baik aku sama Ken aja," ucap Liana sembari berjalan hendak keluar dari kamar Rendy.
Rendy menarik tangan Liana! "tadi kamu ngajak berantem. ayo kita berantem sekarang," ucap Rendy yang sebenarnya tidak ingin jauh dari Liana.
Rendy menarik tangan Liana kedalam kamarnya lalu mendorong tubuh Liana ke tempat tidurnya. Setelah Liana terhempas ke tempat tidur, Rendy membuka bajunya! "ayo kita mulai pertarungan ini," ucapnya sembari melemparkan bajunya ke sembarang tempat.
Liana meneguk ludahnya membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering lalu ia menarik nafas panjang dan mengeluarkanny secara perlahan untuk menetralkan pikiran yang sudah terlanjur mengarah kepada hal negatif.
"Ngapain buka baju?" ucap Liana yang mulai salah tingkah.
"Bertarung di ranjang memang harus buka baju," ucap Rendy dengan gaya nakalnya.
"Mas, kamu jangan macam-macam ya," ucap Liana.
"Nggak macam-macam, cuma satu macam doang kok," ucap Rendy sembari mengedipkan sebelah matanya.
Liana semakin takut melihat sikap Rendy yang seolah ingin mengambil haknya sebagai suami.
Saat ini ia belum siap untuk melepas mahkota yang selama ini dijaganya.
Wajah Liana mulai berubah pucat ketakutannya semakin terlihat meski ia berusaha menyembunyikan rasa takutnya.
__ADS_1
Melihat wajah sang istri ketakutan, Rendy tertawa lepas seolah ia melihat sesuatu yang lucu.
"Dasar istri mesum, pasti pikiranmu sudah kearah sana?" ucap Rendy sembari terus tertawa.
Wajah Liana berubah kemerahan karena malu, ini kali kedua ia berpikiran seperti itu terhadap suaminya.
"Gimana gak mengarah kearah sana, kalau tadi perlakuanmu seperti itu," ucap Liana dalam hatinya.
"Kamu udah gak marah lagi kan?" tanya Liana mengalihkan pembicaraan.
"Aku gak bisa marah sama kamu. Tapi lihat saja, aku akan buat perhitungan dengan Ken," ucap Rendy.
"Mas, sudahlah."
Rendy menghampiri Liana yang sedang duduk di tempat tidur lalu ia duduk disamping Liana!
"Pasti Ken memelukmu tadi, Kamu kena cium juga gak tadi? awas aja kalau kena cium, akan aku bersihkan bekas ciuman itu pakai sikat kawat" ucap Rendy penuh penasaran dan sedikit amarah.
"Mas, itu hanya kecelakaan mana mungkin kena cium juga," ucap Liana sembari menatap suaminya.
Liana mulai menceritakan semua yang terjadi tadi siang dari awal sampai ia terjatuh.
"Baguslah kalau begitu," ucap Rendy ketus, "awas aja kalau kalian ada main," ancam Rendy penuh penekanan.
Sebenarnya Rendy merasa sedikit tenang setelah mendengar penjelasan dari Liana. Tapi ia akan terus berpura-pura masih marah dan kesal agar bisa mendapat perhatian lebih dari Liana.
Barusan adalah kali pertama Liana memeluknya, seakan Rendy langsung kecanduan pelukan hangat dari istrinya hingga ia berpikir untuk melanjutkan sandiwaranya.
"Mas, masa kamu gak percaya sama adikmu sendiri," ucap Liana.
"Jaman sekarang jangankan adik berselingkuh dengan istri kakaknya, menantu selingkuh sama mertuanya juga ada," ucap Rendy.
Bersambung...
Terimakasih sudah mampir disini.
Sambil menunggu Tiba-tiba menikah up lagi mampir yuk ke karya temanku.
Yang berjudul : Cinta untuk arista
Karya : Hesti Rofiah
__ADS_1