
Setelah Ken mematikan teleponnya ia segera menghubungi semua tim keamanannya agar menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan besok.
"Tidak boleh ada kesalahan, kalau tidak Liana yang akan jadi korban," gumam Ken.
Ken meninggalkan pekerjaannya demi membantu Rendy melindungi istrinya.
Selama ini Ken memang selalu menjadi orang pertama yang dimintai tolong oleh Rendy dan ia juga slalu menjadi orang pertama yang mendukung Rendy dalam semua hal termasuk dalam urusan pribadi Rendy.
Di kediaman Elma.
Shila sedang berjaga di pos satpam, ia mendengus kesal karena bos mudanya terlalu memaksanya.
"Mentang-mentang anak majikan, seenaknya aja maksa-maksa aku," gerutu Shila.
"Kenapa ngedumel, ada masalah," ucap bodyguard Elma yang sedang membersamai Shila di tempat itu.
"Sedikit," sahut Shila dengan nada kesal.
"Masalah apa?" tanyanya.
"Hanya masalah sepele, tidak usah dipikirkan," ucap Shila.
"Hei, Nona Shila sejak kamu datang kesini sepertinya tuan muda Kendra sering datang kesini juga," ucap satpam yang baru tiba di tempat itu.
"Apa maksud Bapak?" ucap Shila.
Memang benar sejak Shila bekerja pada Elma, Ken sering datang ke rumah Elma. Tapi Shila menganggap itu hal biasa karena memang seorang anak seharusnya sering mengunjungi orang tuanya.
"Mungkin tuan muda menyukaimu," ucap bodyguard yang dari tadi sudah bersama Shila.
"Apaan sih, jangan ngaco deh. Itu gak mungkin aku ini siapa dan dia siapa," ucap Shila sembari tertawa kecil.
"Ya kali aja. Kita kan gak tahu isi hati orang," ucap satpam itu.
"Ish, malah pada ngawur. Udah ah aku mau ketemu Ibu dulu," ucap Shila sembari melangkahkan kakinya memasuki rumah majikannya!
Shila tak ingin berharap lebih dari keluarga Elma, dapat bekerja dengan Elma saja sudah dapat membuat Shila bahagia dan yang terpenting Shila dapat membiayai kebutuhan keluarganya.
Shila berjalan melewati ruang tamu dan saat ia hendak memasuki area dapur terdengar suara Elma memanggil namanya.
"Shila!" Elma memanggil nama Shila dengan sedikit kencang.
Shila menghentikan langkahnya lalu nenolih ke arah suara!
"Ibu. Baru saya akan menemui anda," ucap Shila dengan senyum ramahnya.
"Menemui saya? ada apa Shil?" ucap Elma penasaran.
"Itu, Bu. Pak Ken ... ." Shila menggantung ucapannya.
"Oh tentang Ken. Saya juga baru mau ngasih tahu kalau besok Ken ingin mengajakmu makan siang," jelas Elma.
"Iya, Bu. Masalahnya saya ... saya." (Shila)
"Tidak ada masalah, saya membolehkan kamu pergi sama Ken kapan saja," ucap Elma.
Shila terdiam tanpa kata.
"Shil, seandainya Ken menyukaimu. Kamu mau gak menjadi pendamping hidupnya?" tanya Elma pada Shila.
"Saya tidak bisa menolak apapun permintaan, Tuan Muda," sahut Shila.
__ADS_1
"Tidak Shila. Jangan karena Ken anak saya, kamu bersedia menuruti semua keinginannya. Kamu boleh menolak permintaannya," ucap Elma.
"Tapi, Bu." (Shila)
"Sekarang saya tanya. Kamu mau gak nemenin Ken makan siang besok?" ucapan Elma.
Shila mengangguk pelan.
"Kalau gak mau juga tidak apa-apa. Saya yakin Ken tidak akan marah," jelas Elma.
"Jika Ibu mengizinkan, saya bersedia menemaninya makan siang," sahut Shila.
Di rumah Rendy.
Liana mondar-mandir sendiri di kamarnya, ia khawatir kepada suaminya.
Setelah lelah dengan semua prasangka buruknya, Liana memberanikan diri untuk menghubungi suaminya.
Liana mengambil ponselnya dari atas meja lalu segera menelpon Rendy.
Tak lama Rendy menerima panggilan masuk dari Liana
📞 "Halo, sayang," ucap Rendy setelah menerima panggilan masuk dari Liana.
📞 "Mas, kami gakpapa kan, kamu baik-baik aja kan?" ucap Liana penuh kekhawatiran.
📞 "Aku baik-baik saja, sayang. Kamu tidak usah khawatir," ucap Rendy dari sebrang telepon.
📞 "Aku takut kamu disakiti sama kakek," ucap Liana.
📞 "Tidak, sayang. Aku baik-baik saja sekarang kakekmu sudah pergi," jelas Rendy.
📞 "Boleh. Aku rasa sudah aman." (Rendy)
📞 "Udah dulu ya, mas. Aku mau siap-siap dulu." ucap Liana.
Tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Liana langsung mematikan sambungan teleponnya lalu segera bergegas pergi.
"Nyonya, mau kemana?" tanya bodyguard yang selalu siap siaga di depan pintu rumah Rendy.
"Mau ke kantor," sahut Liana sembari terus melangkahkan kakinya.
"Biar saya antar," ucapnya.
"Tidak perlu, saya pergi sendiri saja," tolak Liana.
"Tapi ... ."
"Saya sudah izin sama suami saya. Dia tidak akan memarahimu," jelas Liana yang sudah duduk di bangku kemudi.
Bodyguard itu tak dapat membantah Liana akhirnya ia membiarkan Liana pergi sendiri walau sebenarnya ia merasa khawatir dengan keselamatan majikannya itu.
Liana melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, Liana tiba di tempat tujuan.
Liana turun dari mobilnya lalu berjalan cepat menuju ruangan suaminya!
"Selamat siang, Bu," ucap salah satu karyawannya.
"Siang," sahut Liana dengan senyum ramah.
__ADS_1
Liana tiba didepan pintu ruangan Rendy, karena khawatir Liana tidak mengetuk pintu terlebih dahulu ia langsung membuka pintu itu dan langsung masuk kedalam ruangan Rendy.
"Mas, kamu gakpapa?" ucap Liana penuh kekhawatiran.
"Tidak, sayang," sahut Rendy.
Grep! Liana memeluk Rendy erat.
"Hei kenapa menangis?" ucap Rendy sembari membalas pelukan Liana!
"Aku takut kamu kenapa-napa," ucap Liana dalam pelukan Rendy.
"Aku baik-baik saja. Kamu jangan khawatir ada Ken yang melindungi aku disini," jelas Rendy sembari mengusap rambut Liana lembut.
Liana mendongakkan kepalanya! lalu tersenyum tipis.
"Tadi nangis, sekarang tersenyum. Mau kamu apa sih?" ucap Rendy menggoda istrinya.
"Iih, mas." (Liana)
"Nggak, sayang. Aku hanya bercanda," ucap Rendy sembari mencubit pipi Liana.
"Aaw! sakit," ucap Liana sembari cemberut.
"Kamu tambah cantik kalau lagi cemberut." Rendy terus menggoda Liana.
"Malah ngegombal," ucap Liana.
Rendy mengecup kening Liana lembut lalu mencium pipi kiri dan kanannya.
"Aku cinta sama kamu. Sampai kapanpun aku gak akan membiarkan kamu diambil sama siapapun termasuk kakekmu," ucap Rendy.
Liana tersenyum lalu kembali memeluk tubuh Rendy.
"Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu," lirih Liana.
Ken masuk ke ruangan Rendy dengan tiba-tiba.
"Kalau mau bercinta jangan disini," ucap Ken yang melihat Rendy dan Liana sedang memadu kasih.
Rendy tertawa kecil.
"Makannya, nikah jangan ngejomlo terus," ucap Rendy.
"Ren, aku sudah ... ." (Kendra)
Rendy memberi isyarat agar Ken tidak membicarakan tentang pertemuan besok.
"Kita perlu bicara berdua," ucap Ken.
"Bicara apa, kalian menyembunyikan apa dariku?" ucap Liana curiga.
"Yaampun, sayang. Jangan curiga gitu dong. Ini urusan laki-laki, kamu gak perlu tahu," ucap Liana.
"Kenapa?" ucap Liana penasaran.
"Kalau kamu tahu, nanti kamu malu sendiri," ucap Rendy berbohong.
"Yasudah, terserah kalian. Aku gak mau keluar dari sini, kalau mau bicara berdua silahkan di tempat lain saja," ucap Liana sembari berjalan menuju kursi kerja Rendy lalu mendudukinya.
Bersambung.
__ADS_1