
Biani berjalan cepat menghampiri Leon yang tengah berjalan santai di area kantornya!
"Leon!" Biani memanggil Leon dengan sedikit berteriak.
Leon melihat kebelakang! "Biani, kamu disini?" ucap Leon.
Leon berbalik arah kini ia berjalan menghampiri Biani!
"Sayang, kenapa gak bilang kalau mau kesini?" tanya Leon tak lupa sebuah senyuman ia suguhkan untuk sang kekasih.
"Jelaskan, ini apa!" ucap Biani sembari menunjukkan surat undangan pernikahan Leon dengan Shania.
Leon meraih surat undangan pernikahan itu dari tangan Biani! Lalu ia membaca nama yang tertulis pada surat undangan itu.
"Papa," ucap Leon didalam hatinya.
Leon yang tidak tahu bahwa surat undangan pernikahannya sudah disebarkan merasa terkejut dan kesal karena Papanya mengundang Biani juga.
"Bi, aku bisa jelasin ini semua," ucap Leon.
Leon meraih tangan Biani lalu membawanya ke taman yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka berada!
Biani mengekor dibelakang Leon tanpa protes, ia memang membutuhkan penjelasan dari kekasihnya itu!
Setelah tiba di taman tersebut, Leon mengajak Biani di kursi taman.
"Duduklah," ucap Leon.
Biani sudah tak bisa menahan air matanya lagi, dia menangis sebelum tahu kenapa Leon memilih menikah dengan wanita lain.
"Bi, aku terpaksa menikah dengan gadis pilihan Papa," ucap Leon.
"Kenapa, Leon? Kenapa kamu menyetujui perjodohan itu? Kalau benar kamu mencintaiku kamu akan memperjuangkan cinta kita bukankan kamu sendiri yang bilang kalau kita akan berjuang sama-sama untuk mempertahankan cinta kita?" ucap Biani dengan berurai air mata.
"Aku tahu itu, tapi aku tidak bisa melawan Papaku. Biar bagaimana pun juga dia orang yang sudah berjasa padaku," ucap Leon.
Biani mengusap air matanya yang mengalir di pipinya!
"Aku menyesal karena sudah mencintaimu," ucapan Biani.
"Tidak Biani, jangan berkata seperti itu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," ucap Leon sembari menggenggam erat tangan Biani.
"Aku tidak percaya lagi sama kamu Leon. Surat undangan pernikahan itu yang menjadi bukti kalau sebenarnya cinta kamu ke aku hanyalah permainan," ucap Biani.
"Biani, aku berani bersumpah demi apapun, aku tulus sama kamu, aku benar-benar mencintaimu."
Air mata Biani terus mengalir meski Biani sudah berusaha keras untuk tidak menangis lagi dihadapan Leon.
"Aku tulus sama kamu Leon, tapi apa balasan yang aku dapat? Aku hanya mendapat pengkhianatan dan penghinaan dari keluarga kamu," ucap Biani.
Biani berlari meninggalkan Leon dengan air mata yang tak pernah surut!
"Bi! Biani!" teriak Leon sembari berlari mengejar Biani.
__ADS_1
Hujan turun dengan sangat deras seolah langit ikut menangis menyaksikan sepasang kekasihnya yang saling mencintai akan berpisah karena terhalang restu orang tua.
Biani terus berlari secepat yang ia bisa, karena tahu ia pasti terkejar oleh Leon, Biani bersembunyi dibalik pohon besar agar Leon tidak menemukannya.
"Biani! Kamu dimana?" Leon mengedarkan pandangannya ke semua arah namun tak menemukan sosok Biani.
Leon berlari lagi untuk mencari Biani sambil terus memanggil nama Biani!
Ditengah derasnya hujan, Biani berdiri dibalik pohon besar itu. Perlahan tubuhnya merosot hingga ia terduduk di atas rumput yang sudah digenangi air hujan!
"Leon, kenapa jadi seperti ini? Kenapa kamu melakukan ini padaku?" ucap Biani.
Biani sangat terpukul dengan pernikahan Leon dengan Shania.
Biani menangis sampai bahunya terguncang-guncang.
"Aaaaa!" Biani berteriak sekeras suara yang ia punya berharap ia bisa lebih tenang.
Biani menyandarkan kepalanya di pohon besar itu, hatinya sakit menerima kenyataan pahit dalam cintanya.
"Biani," ucap Jacky yang kebetulan lewat di jalan yang tak jauh dari taman itu.
Jacky menghentikan motornya lalu berjalan menghampiri seorang gadis yang sedang duduk di bawah pohon besar itu!
"Biani, apa yang kamu lakukan?" ucap Jacky.
Biani menatap Kakaknya.
"Kakak," lirih Biani.
Tubuh Biani menggigil, bibirnya berubah menjadi berwarna keunguan karena kedinginan.
"Ayo, pulang!"
Jacky memapah adiknya menuju motornya!
Setelah Biani duduk di belakangnya Jacky mulai melajukan motornya.
"Pegangan," ucap Jacky.
Setelah Biani berpegangan, Jacky melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar mereka cepat sampai ke rumah untuk segera menghangatkan tubuh adiknya yang kedinginan!
...****************...
Leon mencari Biani ke semua tempat di taman itu, namun tak juga menemukannya.
Leon menghentikan langkahnya lalu bertekuk lutut! ia putus asa karena tak kunjung menemukan Biani.
"Bi, kamu dimana? Kenapa kamu tidak mengerti kan perasaan aku?" ucap Leon.
Leon meneteskan air matanya ditengah derasnya hujan yang menetes membasahi tubuhnya.
Setelah puas menangis dan merasa lebih tenang, Leon kembali ke kantor dalam keadaan basah kuyup.
__ADS_1
...****************...
Di kamar Shania.
Shania sedang berkumpul dengan teman-temannya, tawa palsu terus Shania suguhkan untuk teman-temannya.
"Bagaimana Leon itu?" tanya Rani.
"Mmmm, gimana ya? Kasih tahu gak ya." Shania berpura-pura berpikir.
Rani dan Della semakin penasaran dibuatnya.
"Cepat katakan, jangan bikin aku penasaran," ucap Della.
"Dia Botak, tubuhnya gendut dan pendek kira-kira segini dan matanya juling seperti ini," ucap Shania sembari memperagakan sesuai ucapannya.
Rani dan Della saling pandang lalu sedetik kemudian tiga gadis itu tertawa lepas.
Shania melihat kedua temannya tertawa lepas, dalam hatinya ia merasa sedih karena sebentar lagi ia akan menikah dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai dan sama sekali tidak ia kenali.
"Yang benar saja, masa Om Satya mau punya menantu seperti itu," ucap Della sambil terus tertawa.
"Dasar bodoh, mana mau, Shania yang cantik ini kepada laki-laki seperti itu!" Rani memukul pundak Della.
Shania terus berusaha menyembunyikan kesedihannya dari teman-temannya dan semua orang-orang yang ia kenal terutama orang tuanya.
"Ini foto Leon!" Shania memperlihatkan layar ponselnya.
dua pasang bola mata teman-temannya melotot seolah mau keluar dari tempatnya melihat foto Leon yang tampan dan nampak berkelas.
Shania menarik ponselnya lalu meletakkan ponselnya di meja!
"Jangan lama-lama mandangin nya, nanti kalian jatuh cinta lagi. Dia calon suami aku ya," ucap Shania seakan ia mencintai dan mengenal Leon.
"Wow, ternyata Leon sangat tampan," ucap Della.
"Pantas kamu mau sama dia, Shan," sambung Rani.
Shania tersenyum.
"Kalian gak tahu perasaan aku yang sebenarnya dan aku harap kalian tidak usah tahu," ucap Shania didalam hatinya.
"Lagi pada ngobrolin apa?" ucap Alisa yang masuk ke kamar Shania tanpa permisi.
Alisa datang dengan membawa minuman untuk putrinya dan kedua teman-temannya tak lupa beberapa cemilan juga ia bawa untuk mereka.
"Eh Tante, biasa Tan, urusan anak muda," ucap Della.
Alisa tersenyum ramah. Alisa memang sudah tak asing lagi kepada kedua teman Shania karena mereka sering main ke rumahnya.
"Ini, minum buat kalian," ucap Alisa, "dan ini cemilannya buat kamu Ran," sambung Alisa lagi.
Rani memang suka ngemil, dia tidak pernah memikirkan berat badannya yang terus bertambah.
__ADS_1
Bersambung