Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 bab 57


__ADS_3

Grep!


Elvan memeluk Kayla dari belakang lalu membenamkan wajahnya di bahu Kayla.


"Setiap hari kamu sibuk sama preman-preman itu sampai-sampai kamu gak ada waktu untuk aku," ucap Elvan.


Kayla meraih pipi Elvan lalu mengusap-usapnya dengan lembut!


"Kamu cemburu?" ucap Kayla.


"Tidak. Siapa yang cemburu? Aku hanya rindu."


Kayla memutar tubuhnya hingga kini ia bertatapan dengan Elvan!


Sebuah senyuman manis terukir di bibir Kayla.


"Aku juga rindu, tapi kita bisa apa? Aku harus segera menyelesaikan tugas yang Mamamu berikan. Kalau tidak, nanti aku tidak diterima menjadi menantunya."


Elvan tertawa kecil. "Ada-ada saja. Kalian para wanita memang selalu memiliki sikap yang aneh."


"Aneh? Apanya yang aneh, dimana nya yang aneh?"


"Ada lah, pokoknya ada."


"Apa sih, kamu tuh gak jelas tahu gak."


"Kalau gak jelas, ya dijelaskan dong."


Kayla memanyunkan bibirnya beberapa centi lalu membelakangi Elvan!


"Aneh, wanita itu anehnya di sini. Tadi kamu bilang kamu juga rindu sama aku tapi kamu malah gini."


"Kamu nya yang bikin aku kesal."


Kayla berucap dengan gaya manjanya.


Elvan tersenyum tipis, "ternyata gadis tangguh ini punya sifat manja juga."


Kayla tidak menanggapi perkataan Elvan yang menggodanya, ia terus membelakangi Elvan tanpa pergerakan sedikit pun.


"Iya, aku yang salah. Maaf ya," ucap Elvan.


Elvan memutar tubuh Kayla agar menghadapnya!


"Kita mau pacaran?" ucap Elvan sembari membelai rambut Kayla dengan lembut.


Kayla masih terdiam, sepertinya dia masih kesal kepada Elvan.


Karena merasa gemas kepada Kayla, Elvan mencium bibir Kayla dan sedikit menggigitnya.


Kayla terkejut dengan perlakuan Elvan padanya, spontan ia mendorong dada Elvan hingga Elvan mundur dua langsung.


"Elvan, kenapa menggigit bibirku?" gerutu Kayla.


"Kamu ngegemesin, kalau lagi marah. Jadinya aku pengen gigit deh."


"Belum apa-apa udah gigit-gigitan, gimana kalau udah nikah?"


"Kalau udah nikah, beda lagi ceritanya, Kay."


Kayla mengulum bibirnya yang baru saja digigit oleh Elvan.


"Sakit ya?"


Elvan tersenyum tipis melihat Kayla yang sedang mengulum bibirnya, menurutnya kekasihnya itu terlihat sangat menggoda.


"Digigit, siapa yang tidak sakit," ketus Kayla.


Elvan mengusap bibir bawah Kayla dengan ibu jaringannya! "Maaf ya, aku gak sengaja. Lain kali akan aku ulangi lagi."


"Elvan," ucap Kayla dengan gaya manjanya.


"Nggak-nggak, aku bercanda kok."


Pasangan kekasih itu berpelukan setelah terjadinya perdebatan kecil diantara mereka. keduanya terlihat begitu menikmati kebersamaannya.


"Ngomong-ngomong, gimana dengan preman-preman itu? Mereka bisa mati kalau tidak kamu kasih makan dan minuman," ucap Elvan.

__ADS_1


"Belum genap dua hari mereka tidak makan dan minum, Shania saja tidak mati yang tidak makan dan minum hampir tiga hari. Kamu tahu dulu saat aku melakukan pelatihan aku tidak makan dan tidak minum selama lima hari," ucap Kayla.


"Lima hari!" Elvan terkejut dengan pernyataan Kayla.


"Gak salah, gimana kamu melewati hari-hari tanpa makan dan minum? Kalau aku sih pasti udah mengundurkan diri dari tempat itu. Pendidikan macam apa itu?"


"Waktu itu, rasanya aku hampir mati, tapi karena aku sudah melewati tahap pembelajaran yang cukup lama akhirnya aku selamat."


"Kok bisa? Untung kamu selamat kalau nggak, siapa yang akan jadi jodohku?" ucap Elvan.


Elvan memang tidak terlalu suka berbicara serius, ia selalu menghadirkan candaan dalam pembicaraannya agar sesuatu yang menegangkan berubah menjadi sedikit menenangkan.


"Ish, kamu ini. Bercanda terus."


"Oke sekarang aku serius. Gimana kamu bisa selamat?"


"Jangan bahas itu lagi, Kamu bisa bantu aku?" ucap Kayla.


"Apa? Aku akan melakukan apa pun untuk kamu asal kamu jangan berpaling saja ke hati yang lain."


"Van, aku serius."


"Aku juga serius sama kamu."


"Datangi rumah si Agus!" ucap Kayla ketus.


"Agus? Siapa Agus itu? Jangan bilang kalau dia selingkuhanmu."


"Dia salah satu preman tawanan ku. Menurut keterangan pada KTP nya dia masih lajang, orang nya ganteng, ya lumayanlah buat serep."


Elvan menatap Kayla dengan tatapan tak percaya.


"Cemburu atau marah, kenapa menatapku seperti itu?" ucap Kayla.


"Aku tidak percaya kamu bisa melakukan itu."


"Kenapa tidak," ucap Kayla.


"Besok atau lusa, tolong datangi rumahnya dan cari tahu siapa yang sangat laki-laki itu sayangi dan cintai, pastikan kamu temukan kelemahan laki-laki itu," jelas Kayla.


"Baiklah, aku akan melakukan tugasku dengan sebaik-baiknya agar masalah ini cepat selesai dan kita cepat menikah."


Elvan tertawa kecil. "Itu kamu tahu."


...****************...


"Lagi ngapain lo sendirian di sini?" tanya Dion.


"Gue lagi nunggu seseorang," sahut Jacky.


"Siapa?"


"Adiknya Leon," sahut Jacky lagi.


"Rania?"


"Iya, adik yang mana lagi. Leon kan cuma punya satu adik."


"Lo mau ngapain ketemuan sama dia?"


"Bukan ketemuan, gue sengaja cegat dia di sini, biasanya gadis itu lewat sini."


"Lo jangan berbuat yang tidak-tidak ya sama dia."


"Nggak kok, gue cuma mau jadikan dia sebagai umpan agar keluarga mereka merestui hubungan Leon sama Biani."


"Apa yang mau lo lakukan sama dia?"


"Menculiknya lalu menyekapnya setelah itu aku akan menghubungi orang tuanya agar menikahkan Leon dengan Biani kalau mau putri mereka selamat."


"Gila lo Jack."


"Gue gila gara-gara mereka. Lo bayangkan saja, Kakak yang mana yang tega melihat adiknya stres karena memikirkan hubungan percintaannya yang tidak disetujui oleh orang tuanya."


"Gue lihat Biani baik-baik saja, dia masih bisa pergi jalan-jalan sama temen-temennya."


"Itu yang lo lihat jika dia sedang di luar rumah. Beda kalau dia sedang di rumah, melihatnya saja gue gak sanggup. Gue gak tahu apa yang sudah Leon lakukan padanya sehingga Biani sampai seperti itu."

__ADS_1


"Gue gak mau ikut-ikutan masalah ini. Gue takut masuk penjara."


"Terserah lo."


"Kalau gitu gue pulang duluan ya."


Dion segera pergi meninggalkan Jacky di tempat itu, ia tidak ingin terkena masalah karena perbuatan Jacky!


...****************...


Shania masih di rumah sakit, ia harus melewati masa pemulihan selama dua hari, itu berarti dua hari lagi Shania sudah diperbolehkan pulang ke rumahnya.


Kini Shania tengah berbaring sambil memainkan ponselnya, sedangkan Leon duduk di kursi yang ada di samping ranjang yang Shania tiduri.


"Leon, aku mau pulang," ucap Shania setelah bosan main ponsel.


"Aku juga mau pulang tapi kan kamu belum boleh pulang," sahut Leon.


"Bilang apa kek. Aku udah gak betah di ruangan sempit ini."


"Kalau bosan, kita bisa jalan-jalan ke taman depan rumah sakit."


"Sama saja rumah sakit, aku maunya ke tempat lain."


"Nanti setelah kamu pulih, kita pergi ke tempat yang kamu sukai."


Shania terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia memang belum bisa pulang sebelum mendapatkan izin dari dokter.


"Anak, Papa lagi ngapain di dalam?" ucap Leon sembari meletakkan telapak tangannya di atas perut Shania.


Shania tersenyum, rasa kesalnya hilang setelah ia ingat dengan kehamilannya.


Shania meletakkan tangannya di atas tangan Leon.


"Ini gara-gara kamu kan," ucap Shania.


"Gara-gara aku? Maksud kamu apa?" ucap Leon yang tidak mengerti dengan perkataan Shania.


"Ini, ada bayi di dalam sini, itu kan karena kamu. Coba kalau kamu tidak memaksaku waktu itu, mungkin aku gak bakalan hamil."


Leon menatap Shania lalu mengukir senyum di bibirnya.


"Maaf, sengaja."


"Katanya gak cinta tapi mem******a dengan nafsu tinggi."


"Itu dulu, setelah sering bersama aku jadi cinta dan aku cemburu melihat kamu berdua dengan laki-laki itu."


"Dia itu temanku, dia dokter yang sengaja aku panggil ke rumah untuk memeriksa kesehatan aku karena waktu itu aku merasakan pusing dan sakit pada seluruh tubuhku."


"Maaf," ucap Leon lagi.


"Gara-gara kamu juga aku jadi malu sama dokter yang memeriksaku setelah kejadian itu."


"Maaf." Leon hanya berkata 'maaf' karena memang hanya itu yang bisa ia ucapkan.


"Aku sudah memaafkan kamu," ucap Shania.


"Jadi sekarang kita baikkan? Berjanjilah akan mencintaiku selamanya."


"Aku memang sudah mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu dan cintaku semakin bertambah setelah aku tahu kalau sebentar lagi akan ada Leon junior."


"Nggak, bayi ini perempuan."


"Aku mau laki-laki," ucap Leon.


Leon dan Shania sama-sama mengakui perasaan mereka masing-masing, akhirnya mereka berdua saling berjanji untuk hidup bersama selamanya.


Bersambung


Teman-teman, mampir yuk ke karya teman author, ceritanya keren loh.


Judul: Bukan istana impian


Karya: Santi Suki

__ADS_1



__ADS_2