Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 43


__ADS_3

Rendy menatap tajam tiga laki-laki yang tengah tertawa lepas itu.


"Sayang, kamu manis juga," ucap salah satu dari mereka sambil mencoba meraih dagu Liana.


Liana menepis tangan laki-laki itu! "jaga sikap anda," ucapnya.


Emosinya Rendy semakin memuncak saat salah satu diantara mereka mencoba menyentuh istrinya.


"Jangan sok jual mahal. Kami tahu kalian kesini untuk bercinta kan. Akan lebih seru jika kita bermain ramai-ramai bukan?"


Liana yang dari tadi menahan emosinya melayangkan bogem tepat di wajah laki-laki yang baru saja berkata kotor tentangnya.


"Jaga mulut anda atau saya robek sampai anda tidak dapat berbicara lagi," ucap Liana mengancam laki-laki itu.


Laki-laki itu tidak terima dipukul oleh Liana, dia menyerang balik namun Rendy lebih dulu mencekam tangan laki-laki itu! "jangan coba-coba menyentuh istriku."


Tiga laki-laki yang tak jelas dari mana asalnya itu menyerang Rendy, dan perkelahian pun tak dapat terhindarkan.


Saat Rendy mulai kewalahan menghadapi tiga laki-laki itu, satu diantara mereka menghampiri Liana!


"Mari kita happy-happy cantik," ucap laki-laki itu.


Liana menatap tajam laki-laki itu tangannya mulai terkepal bersiap untuk memberi serangan kepada orang kurangajar itu.


Laki-laki itu mencekal pergelangan tangan Liana dan menariknya dengan paksa. Setelah beberapa langkah Liana mengikuti langkah laki-laki itu, ia mulai melakukan perlawanan.


Liana menarik balik tangan laki-laki yang tak dikenalnya itu lalu memelintirkan tangan laki-laki itu kebelakang, Liana juga menginjak betis laki-laki itu hingga laki-laki itu bertekuk lutut.


"Saya sudah peringatkan anda agar menjaga sikap dan ucapan anda tapi anda tidak menghiraukan peringatan dari saya. Sekarang jangan salahkan saya jika tangan ada tidak dapat berpungsi lagi!" ucap Liana sembari terus menarik dan memelintirkan tangan laki-laki itu.


Sementara itu Rendy belum kalah meski diserang oleh dua orang sekaligus, ia masih terlihat lincah dalam menghindari dan menyerang lawannya.


Setelah beberapa menit Liana berhasil melumpuhkan satu dari mereka tanpa mendapatkan perlawanan karena Liana tidak memberi kesempatan laki-laki itu untuk menyerangnya.


Liana segera berlari menghampiri suaminya tanpa basa-basi Liana menendang salah satu dari dua orang yang menyerang suaminya.


"Sini lo lawan gue!"


Liana memilih melawan laki-laki yang tadi berkata tak sopan padanya.


Laki-laki itu tersenyum meremehkan kemampuan Liana, dia tidak tahu kalau satu temannya sudah tepar ditangan Liana.


"Manis, mau bermain-main denganku?" ucap laki-laki itu dengan mata jelalatan.


"Akan aku sobek mulutmu yang kotor itu!"


Liana mulai menyerang, sesekali laki-laki itu dapat menghindari serangan Liana dia juga berhasil menepuk pinggul Liana.


Liana mulai mengeluarkan tenaga lebih untuk melawan laki-laki itu.

__ADS_1


Laki-laki itu mempunyai kemampuan bela diri yang lumayan apik dan tenaganya juga kuat hingga Liana sedikit kerepotan melawannya.


Tapi bukan Liana namanya jika ia tidak bisa mengalahkan orang-orang yang mencoba mencelakakan dan melecehkannya.


Liana menyerang bagian wajah laki-laki itu tanpa henti meski sesekali ia mendapat pukulan dari laki-laki itu.


Jika Liana sudah berucap maka ia tidak akan menarik ucapannya kembali.


Liana terus menyerang dibagian wajah laki-laki itu bagian bibir menjadi sasaran utama pukulan Liana.


Rendy sudah melumpuhkan lawannya kini ia berlari menghampiri istrinya yang masih sibuk menyerang lawannya!


Rendy memukul punggung laki-laki itu dengan sikutnya hingga laki-laki itu jatuh tersungkur.


"Mas," ucapan Liana.


"Sayang, kamu gakpapa kan?" tanya Rendy sebagai memeriksa tubuh Liana dari ujung kepala hingga ujung rambut.


"Aku baik-baik saja mas."


"Tanganmu berdarah," ucap Rendy setelah melihat ada darah di punggung tangan Liana.


"Ini bukan darahku," ucap Liana.


Rendy melihat laki-laki yang sudah terkapar di tanah, ia melihat ada banyak darah yang keluar dari mulut laki-laki itu.


"Kamu benar-benar membuatnya tidak bisa bicara," ucap Rendy sembari meraih tangan Liana lalu membersihkan darah yang menempel ditangan istrinya.


Rendy mengikuti kemana arah pandangan istrinya dan alangkah terkejutnya ia saat melihat laki-laki bertubuh besar itu terkapar dengan keadaan tangan yang terlihat seperti tidak bertulang.


"Liana, kamu ... ."


"Mereka pantas mendapatkan itu semua," sarkas Liana.


Rendy dan Liana segera pergi dari tempat itu meninggalkan tiga orang yang sudah terkapar tapi belum menghembuskan nafas terakhirnya.


Didalam mobil, Liana sibuk membersihkan darah yang masih tersisa disela-sela jarinya.


"Kamu pernah bunuh orang?" tanya Rendy karena melihat istrinya begitu kejam kepada lawannya.


Liana menoleh kearah suaminya, ia menatap wajah suaminya lalu tertawa kecil.


"Aku bukan malaikat pencabut nyawa," ucapan Liana singkat.


"Lalu, tadi itu apa?" Rendy bertanya lagi.


"Mereka tidak mati kan? aku tidak sekejam itu. Aku hanya memberi mereka pelajaran," ucap Liana dengan santainya.


"Apa kamu akan melakukan hal yang sama kepadaku?"

__ADS_1


"Maksudmu bagaimana?" Liana bertanya balik.


"Kalau aku memaksamu, apa kamu akan mematahkan tanganku juga?"


"Nggak lah mas, kamu kan suamiku," ucap Liana dengan senyum tipis di bibirnya.


Rendy menarik nafas lega, "syukurlah. Aku kira kamu juga akan kejam seperti tadi kepadaku."


"Aku tahu kepada siapa saja aku harus bersikap tegas."


"Terus kenapa waktu itu kamu memelintir tanganku? untung tidak sampai patah," ucap Rendy.


"Karena waktu itu aku lupa kalau kamu adalah suamiku," saut Liana.


"O, ya sayang. Kamu serius mau jadi istriku yang sesungguhnya?" tanya Rendy.


"Iya. Serius, serius banget."


"Berarti nanti malam kita ... ."


"Tidak. Perjanjiannya setelah dua minggu baru kita lakukan itu," sarkas Liana.


"Tadi kamu bilang, kamu mau jadi istriku?"


"Iya itu benar, tapi perjanjian itu sudah terlanjur disetujui jadi tunggu sampai dua minggu kedepan. Lagipula aku perlu menyiapkan mental untuk itu," ucap Liana.


"Kayak mau ngapain aja, pake nyiapin mental segala."


"Kamu gak bakal ngerti perasaan wanita," ucapan Liana.


Karena asyik mengobrol tak terasa ternyata mereka sudah tiba didepan rumah.


Didalam rumah.


Rendy langsung masuk kedalam kamarnya, ia juga menarik tangan Liana membawanya ikut masuk kedalam kamarnya.


Rendy mengajak Liana duduk di sofa yang berada di kamarnya. Liana hanya diam dan menurut saja kepada suaminya itu.


Rendy mengelus pipi Liana yang terdapat luka lebam dengan lembut, "kamu kena pukulan?"


"Sedikit," ucap Liana sembari meraih tangan Rendy yang sedang mengelus pipinya.


"Maaf, aku tidak bisa melindungimu dari serangan orang itu."


Rendy terus mengelus pipi istrinya dengan lembut.


"Kenapa harus minta maaf, tadi kamu sudah berusaha untuk melindungiku bukan?"


Rendy hanya menanggapi ucapan Liana dengan senyuman.

__ADS_1


"Kamu istirahatlah. Aku mau mandi dulu," ucap Rendy sembari mengusap kepala istrinya lalu pergi untuk membersihkan diri.


Bersambung.


__ADS_2