
Lama Liana duduk sambil menatap wajahnya dari pantulan cermin yang ada didepannya.
Tak terasa air matanya menetes begitu saja, kala ia ingat dengan apa yang sudah terjadi dalam hidupnya.
Beberapa bulan lalu ia menolak keinginan kakeknya, yang meminta agar ia menerima perjodohan yang sudah kakeknya rencanakan sejak lama dan setelah beberapa minggu berlalu ia dipaksa menikah dengan orang yang tidak ia kenali, hingga kini ia bersetatus sebagai seorang istri.
Liana mengusap pipinya yang basah oleh air matanya, lalu ia berdiri! "mungkin semua ini sudah menjadi takdirku," ucap Liana lalu ia berjalan menuju tempat tidurnya.
Rendy yang sejak tadi berdiri diambang pintu, dengan jelas mendengar ucapan Liana tadi.
"Li, boleh aku masuk?" tanya Rendy yang masih berdiri diambang pintu.
Dengan cepat Liana mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipinya lalu berbalik menghadap kearah suaminya!
Liana tersenyum meski dipaksakan, "Masuk aja. Ini rumahmu kan," ucap Liana.
Rendy berjalan menghampiri Liana lalu duduk disamping istrinya itu.
"Kamu, menangis?" ucap Rendy.
Liana menggelengkan kepalanya, "tidak," ucapnya singkat.
"Aku mendengar ucapanmu tadi. Maaf," ucap Rendy dengan nada lirih.
Liana terdiam, ia tak tahu apa yang harus ia ucapkan.
"Kamu tidak bahagia hidup denganku? jujur aku sudah mencintaimu," ucap Rendy kepada Liana meski sebenarnya masih ada nama Jenny dihatinya.
Liana tersenyum tipis lalu menundukkan kepalanya, "Bukan tidak bahagia. Aku sedang mencoba untuk menerima kenyataan ini. Kenyataan kalau saat itu aku sudah menjadi seorang istri," ucap Liana tanpa menatap suaminya.
Rendy mengangkat dagu Liana dengan jari tangannya!
"Li, aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar yakin kepadaku," ucap Rendy.
Liana tak menjawab ucapan Rendy, ia hanya diam mematung.
"Sudah. Jangan pikiran hal itu, ayo kita makan," ucap Rendy karena sang istri tak kunjung membuka suara.
Rendy menggenggam tangan Liana lalu menariknya! "Mau aku gendong?" tanya Rendy sembari tersenyum.
Liana memukul lengan atas Rendy pelan! "aku bisa jalan sendiri," ucapnya sambil tertawa kecil.
"Gitu dong, ketawa kan jadi cantik," goda Rendy sembari mencolek dagu Liana.
Liana mengusap dagunya dengan punggung tangannya, "emang tadi aku jelek?" ucap Liana sembari melangkahkan kakinya.
"Dih, sampe segitunya. Tanganku gak kotor, Li." Rendy mengekor dibelakang Liana.
"Iya gak kotor, aku cuma gak biasa aja di colak-colek," ucap Liana sembari terus melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
Rendy tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. "Nanti juga terbiasa," ucap Rendy dengan senyuman yang sulit diartikan.
__ADS_1
Liana tak menjawab ucapan Rendy, ia segera mengambil piring kosong lalu mengisinya dengan nasi, "mau makan lauk apa?" tanya Liana pada Rendy.
"Apa aja yang penting gak ada racunnya," saut Rendy.
"Sayangnya semua lauk dan sayur sudah aku bubuhi serbuk sianida," ucap Liana dengan raut wajah serius.
"Apa, sianida?" tanya Rendy, "bukannya sianida itu singkatan dari siap nikah sama duda ya? aku bukan duda Li, serius deh," sambung Rendy lagi.
"Iih, Mas Rendy," Liana mengerucutkan bibirnya.
"Lagian kamu bercanda mulu. Aku makan, mana makanan untuk aku?" ucap Rendy sembari menadahkan tangannya kearah Liana.
Liana segera menambahkan lauk dan sayur tanpa bertanya kepada Rendy, "ini, makan yang banyak ya," ucap Liana sembari memberikan sepiring nasi dan lauknya.
"Terimakasih," saut Rendy lalu segera memakan makanan yang telah diambilkan oleh istrinya itu.
Setelah mereka berdua selesai makan malam. Seperti biasa Rendy selalu pergi ke taman kecil yang ada dibelakang rumahnya untuk sekedar mencari angin. Liana mengekor dibelakang Rendy mengikuti kemana laki-laki itu pergi.
Setelah tiba di taman itu, Rendy duduk di kursi yang tersedia di sana.
"Mas, besok aku ikut ya," ucap Liana dengan nada memelas.
"Li, bukannya aku gak mau ngajak kamu, tapi perjalanan kesana terlalu berbahaya buat kamu, aku takut kamu kenapa-napa nanti," jelas Rendy kepada Liana, "aku gak mau kejadian waktu itu terulang lagi, aku gak mau milikku disentuh orang," sambung Rendy lagi.
Liana menundukkan kepalanya dan berkata, "kalau gitu aku mau pulang ke rumah ibu saja. Boleh kan?" ucap Liana dengan nada lirih ia kecewa karena suaminya tak mengizinkannya ikut pergi dengan suaminya itu.
"Rendy tersenyum, " boleh. Besok aku yang akan mengantarmu," ucapan Rendy.
Liana hanya menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Rendy sendiri.
Tak terasa pagi sudah tiba, Rendy dan Liana kini sudah selesai sarapan. Mereka duduk di ruang keluarga sembari menunggu kedatangan Kendra.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Seorang pelayan membukakan pintu dan langsung nampak sosok Ken didepan pintu itu.
"Udah siap?" tanya Ken, "Liana ikut juga?" tanya Ken lagi karena melihat Liana sudah rapi.
"Nggak. Kita antar Liana dulu ke rumah Ayah dan ibu," ucap Rendy kepada Ken.
"Aku pengen ikut, tapi orang ini melarangku," ucap Liana sembari menempelkan telunjuknya di lengan atas Rendy.
"Rendy benar. Lebih baik kamu tidak ikut jalanan menuju kesana sedikit berbahaya untuk wanita, karena memang kondisi jalan yang sepi," jelas Ken kepada Liana.
Merekapun segera bergegas menuju mobil. Setelah memastikan semua sudah berada didalam mobil, Ken segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, Ken menanyakan dimana alamat rumah Liana karena memang ia tidak tahu dimana rumah kakak iparnya itu.
"kemana arah rumah orang tuanya Liana?" tanya Ken kepada Rendy.
"Lurus aja nanti ada pertigaan belok kiri," saut Rendy mengarahkan Ken.
__ADS_1
Kendra mengikuti arahan Rendy dan akhir mereka sampai didepan rumah orang tuanya Liana.
Liana turun dari mobil lalu segera melangkahkan kakinya menuju rumah orang tuanya!
Sementara Rendy terus memandang Liana dari dalam mobil memastikan Liana masuk kedalam rumah orang tuanya.
Tak lama Liana berlari kembali ke mobil yang masih terparkir dengan dua orang yang terlihat sedang mengejarnya!
"Nona. Nona Liana tunggu," teriak salah satu dari dua orang yang sedang mengejar Liana.
Liana segera masuk kedalam mobil dan meminta Ken segera melajukan kendaraannya.
"Ken, cepatlah. Mereka akan terus mengejar kita," ucap Liana tegang.
Kendra yang tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi dan siapa orang-orang yang mengejar Liana hanya menuruti permintaan Liana.
Ken terus melajukan kendaraannya dengan menambah sedikit kecepatan.
"Ken lebih cepat! jangan biarkan mereka mengejar kita," ucap Rendy yang memang sudah tahu siapa mereka.
Tanpa menjawab ucapan Rendy, Ken melajukan kendaraannya dengan kecepatan diatas rata-rata!
"Kamu tenang, Li. Ada aku disini," ucap Rendy mencoba menenangkan Liana.
Setelah memastikan orang-orang itu tidak lagi mengejar mereka, Ken menurunkan kecepatan mobilnya sedikit demi sedikit.
"Sebenarnya siapa mereka?" tanya Ken.
"Ceritanya panjang. Akan aku ceritakan lain kali," ucap Rendy sembari terus menggenggam tangan Liana.
"Sekarang kita kemana?" tanya Ken lagi.
"Ke perkampungan. Terpaksa Liana harus ikut, aku gak mau meninggalkannya sendiri di rumah, karena bukan tidak mungkin mereka akan terus mencari Liana," jelas Rendy.
Ken terus melajukan kendaraannya menuju perkampungan!
Di jalanan yang sepi. Dari spion mobilnya Ken melihat ada mobil yang tengah mengikutinya dari belakang, Ken menambah kecepatan kendaraan yang ia kemudikan dan terlihat jelas mobil dibelakangnya juga menambah kecepatan.
"Sepertinya kita diserang lagi," ucap Ken karena ia melihat ada dua mobil yang tengah mengejarnya.
Rendy dan Liana menoleh kearah belakang memastikan bahwa ucapan Ken benar adanya.
"Siapa mereka?" ucap Rendy.
"Mereka bukan pesaing bisnis. Mereka orang-orang suruhan kakekku," ucap Liana yang mengenali mobil yang mereka pakai adalah mobil milik kakeknya.
Bersambung.
Rekomendasi novel yang bagus dan seru untuk kalian baca.
Judul: Pernikahan terpaksa Tamara.
__ADS_1
Tamara mendapat hukuman dari Ayahnya untuk pindah sekolah dan dimasukkan ke pesantren. Namun, siapa sangka justru di pondok itu ia bertemu dengan cinta pertamanya dan berlanjut hingga bertunangan tetapi dia harus LDR selama empat tahun untuk menyelesaikan kuliahnya setelah itu baru diberikan restu untuk menikah. Ketika waktu pernikahan tiba, tunangannya yang bernama Reza hilang entah kemana. dia hanya memberikan kabar kalau tidak bisa menikah dengan Tamara. Ayahnya yang sudah menyebar undangan kepada semua rekan kerjanya tentu sangat malu. Pada saat yang bersamaan Tamara mendapat lamaran dari guru ngajinya. Kemudian Ayahnya memaksa dia untuk menerima lamaran ustad tersebut. Hatinya sangat hancur, terluka dua kali. Oleh penghianatan Reza dan pemaksaan ayahnya. Tamara harus menikah dengan orang yang ia tidak cintai demi menyelamatkan nama baik keluarganya dari rasa malu. Bagaimana perasaan Tamara menerima nasibnya?