Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 71


__ADS_3

Ken mencoba mencari Liana ke rumah orang tuanya malam itu juga, ia rela menguras tenaganya demi membawa Liana kepada Rendy.


Setelah mencari dan menemukan alamat rumah orang tuanya Liana, Ken segera bergegas menuju alamat tersebut.


Setelah hampir setengah jam mencari rumah orang tuanya Liana akhirnya Ken tiba di rumah yang terlihat sederhana itu.


Ken turun dari mobilnya lalu mengetuk pintu rumah tersebut!


Seorang wanita paruh baya membukakan pintu!


"Siapa ya?" tanyanya setelah melihat Ken berdiri didepan pintu rumahnya.


"Maaf, dengan ibunya Liana?" Ken bertanya balik.


"Iya betul. Ada keperluan apa dengan saya?" ucap Ratih.


"Saya, Kendra adiknya Rendy," ucap Ken.


"Oh, adiknya Rendy. Masuk, Nak," ucap Ratih ramah, "silahkan duduk," sambung Ratih setelah Ken masuk kedalam rumahnya.


"Bu, saya mau tanya. Kak Liana ada disini tidak," ucap Ken tanpa basa-basi.


"Tidak ada. Memangnya ada apa? Liana kabur dari rumah suaminya?" ucap Ratih yang terlihat kaget karena Ken menanyakan putrinya.


"Tidak, Bu." Ken kesulitan mencari alasan.


"Lalu kenapa, Nak Kendra mencari Liana kesini?" tanya Ratih.


"Saya ingin menemui kakak saya tapi kakak saya tidak ada di rumahnya, makannya saya cari mereka kesini," ucap Ken berbohong.


"Sudah coba ditelpon?" ucap Ratih.


"Sudah, Bu tapi tidak bisa dihubungi," sahut Ken.


"Oh gitu. Biar ibu coba telpon Liana semoga saja bisa dihubungi," ucap Ratih sembari berjalan menuju kamarnya untuk mengambil handphonenya.


Tak lama Ratih balik lagi dengan membawa telepon genggamnya.


"Tunggu sebentar ya, Nak," ucap Ratih sembari mengutak-atik handphonenya.


Ken tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


Tak butuh waktu lama, Liana langsung mengangkat telepon dari Ratih.


📞 "Halo, Bu assalamu'alaikum," ucap Liana dari sebrang telepon.


📞 "Wa'alaikumsallam. Sayang apa kabar?" ucap Ratih basa-basi.


📞 "Aku baik, Bu. Ada apa telpon malam-malam gini, Bu?" tanya Liana.


📞 Kamu dimana,sayang? Nak Kendra mencari kamu, katanya kamu gak bisa dihubungi," jelas Ratih.


📞 "Udah dulu ya, Bu. Aku lagi sibuk," ucap Liana lalu memutuskan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Tut! tut! tut!


📞 "Halo! Nak. Halo!" (Ratih)


"Liana mematikan teleponnya sebelum memberitahukan dimana keberadaannya," ucap Ratih sembari menatap Ken penuh tanya.


"Mungkin Kak Liana sedang tidak mau diganggu, Bu. Maaf ya, Bu saya bertamu bukan pada waktunya," ucap Ken.


"Tidak apa-apa, Nak. Apa, Nak Ken mau nginap saja disini?" ucap Ratih kepada Ken.


Sengaja Ratih menawarkan Ken untuk menginap di rumahnya karena malam sudah larut.


"Tidak. Terimakasih, Bu. Saya pulang saja," sahut Ken.


Ken berpamitan kepada ibunya Liana dan segera meninggalkan rumah itu.


Ken mulai berkendara di keheningan malam menyusuri jalanan yang nampak sepi tanpa adanya kendaraan yang berlalu-lalang, hanya beberapa kendaraan saja yang lewat kala itu.


Ken mengendarai mobilnya menuju rumah sakit tempat Rendy dirawat.


Sesampainya di rumah sakit, Rendy sudah dipindahkan ke ruang rawat inap saat itu sudah jam dua belas malam, Ken belum mempunyai waktu istirahat dari pagi hari.


"Gimana, Bik?" ucap Ken kepada asisten rumah tangga yang menjaga Rendy.


"Belum ada perkembangan, Den," sahutnya.


Ken menghela nafas panjang lalu membuangnya perlahan.


"Tapi, Den."


"Tidak apa, istilah. Besok Bibik yang jaga Rendy karena saya harus ke kantor," jelas Ken.


Ken duduk disamping Rendy yang terbaring lemas dengan selang infus ditangannya.


"Gue udah ingetin lo, tapi lo gak mendengarkan kata-kata gue. Sekarang gini kan jadinya," ucap Ken sembari menatap Rendy yang terbaring lemas.


"Besok gue akan cari Liana lagi buat lo. Lo cepet sembuh ya kalau gak nanti Liana gue ambil," ucap Ken lagi.


Ken terus berbicara kepada Rendy berharap kakaknya itu merespon setiap perkataan yang ia ucapkan namun sepertinya usaha Ken tak membuahkan hasil. Rendy tetap memejamkan matanya dengan tetap mendekap foto Liana didadanya.


"Liana," gumam Rendy.


Ken menatap wajah sang kakak, sekilas senyuman terukir dibibir Ken ada rasa bahagia karena sang kakak sudah mulai membuka suaranya.


"Liana pasti kembali, lo cepet sembuh ya," ucap Ken sembari mengusap tangan Rendy.


"Gue mau Liana kembali." Rendy berucap lagi.


"Besok gue cari Liana," ucap Ken.


"Terimakasih," lirih Rendy.


*** *** ***

__ADS_1


Ditempat yang jauh dari keramaian kota, Liana berdiri menghadap air terjun.


Ditengah gelapnya malam dengan minimnya pencahayaan, Liana meratapi nasib dirinya yang terasa memilukan.


"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku, mas?" ucap Liana lirih.


Tetes demi tetes air mata mulai membasahi pipinya.


"Aaaaaaaaaaaa!" Liana berteriak sekeras suara yang ia miliki, berharap beban pikirannya berkurang walaupun hanya sedikit.


Bersamaan dengan suara gemercik air terjun dihadapannya, Liana menangis sejadi-jadinya meluapkan d sang suami yang telah menduakan cintanya yang begitu tulus.


Waktu menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh menit dinihari. Liana mulai lelah ia pun kembali ke villa nya!


Liana membaringkan tubuhnya di tempat tidur tak lama ia tertidur pulas dengan bekas air mata di pipinya yang belum mengering.


*** *** ***


Ken mengerjapkan matanya dan ia pun terkejut saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Yaampun, Bik kenapa tidak membangunkan aku?" ucap Ken.


"Bibik tidak tega membangunkan, Den Kendra. Den Ken, terlihat lelah jadi Bibik biarkan saja Aden tetap tidur," sahut asisten rumah tangga di rumah Rendy.


"Bik, aku nitip Kak Rendy ya tolong jagain dia dengan baik. Aku mau ke kantor, udah telat ni," ucap Ken sembari beranjak dari duduknya.


"Iya, Den," sahutnya singkat.


Sebelum meninggalkan ruangan itu, Ken menatap wajah sang kakak.


"Gue ke kantor dulu. Lo baik-baik disini ya," ucap Ken kepada Rendy lalu segera meninggalkan Rendy di ruangan tempat ia dirawat.


Ken melajukan kendaraannya menuju rumahnya, karena ia harus membersihkan diri terlebih dahulu sebelum ia pergi ke kantor.


Ken melihat jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 07:30 wib.


"Alamat kesiangan ke kantor kalau seperti ini, aku harus cari Liana juga hari ini. Astaga sibuk banget jadi aku." Ken terus menggerutu disepanjang perjalanan.


Tak butuh waktu lama Ken sudah tiba di rumahnya, ia langsung bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri.


"Baru pulang, mas Ken?" ucap Markonah asisten rumah tangganya Ken.


"Iya, Bik," sahut Ken sambil terus melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Lima belas menit berlalu, Ken sudah selesai dengan semua urusannya.


Ken berjalan cepat ia ingin segera berangkat ke kantor karena ia sudah terlambat.


"Mas sarapan dulu," ucap Markonah.


"Nggak, Bik. Aku sarapan di kantor aja," Sahut Ken tanpa menghentikan langkahnya.


"Mas Kendra kenapa, tidak seperti biasanya?" tanya Markonah pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2