
Rendy berlari memasuki kantor polisi!
"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" ucap pak polisi.
"Saya mau melapor pak," ucap Rendy.
"Silahkan duduk," ucap pak polisi lagi.
Rendy duduk di kursi yang ada di depan meja pak polisi itu!
"Pak saya mau lapor, adik saya hilang di jalan xxx." Rendy mulai menceritakan semuanya.
Pak polisi itu mengangguk paham atas laporan yang diberikan Rendy.
"Baik, kami akan mulai menyelidiki kasus ini dan segera mencari adik anda yang hilang," ucap polisi itu.
Setelah selesai dengan laporannya Rendy beranjak dari duduknya lalu segera meninggalkan kantor polisi!
Rendy melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang kali ini bukan kantor yang ia tuju tapi rumah mamanya!
Dua puluh menit berkendara, akhirnya Rendy tiba di rumah mamanya, ia segera turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya disembarang tempat!
Rendy berlari masuk kedalam rumahnya tanpa menghiraukan sapaan dari satpam dan bodyguard mamanya!
"Ma! Mama!" Rendy memanggil Elma dengan suara sedikit kencang.
Shila turun dari kamarnya dengan tergesa-gesa karena mendengar suara teriakan tuan mudanya!
"Ada apa, Pak, kenapa teriak-teriak?" ucap Shila sembari terus menuruni anak tangga.
"Mama mana Shil?" ucap Rendy tanpa basa-basi.
"Ibu sedang istirahat. Beliau sedang kurang sehat," jelas Shila.
"Mama sakit? kenapa tidak memberitahuku?" ucap Rendy.
"Ibu melarang saya memberi tahu anda dan juga pak Kendra," jelas Shila lagi.
"Mau ketemu sama ibu?" tanya Shila.
"Tidak. Saya sedang buru-buru," ucap Rendy.
"Baiklah," ucap Shila singkat lalu ia meninggalkan Rendy ditempat itu.
"Shil tunggu!" ucap Rendy menghentikan langkah Shila.
Shila berhenti melangkah lalu berbalik menghadap Rendy.
"Ada apa, Pak?" ucap Shila.
"Kita bicara di luar!" ucap Rendy sembari melangkahkan kakinya menuju halaman rumah Elma.
Tanpa berucap Shila mengekor dibelakang Rendy mengikuti langkah tuan mudanya!
"Ken hilang," ucap Rendy setelah mereka berada di halaman rumah.
__ADS_1
"Hilang?" Shila kebingungan.
"Saya kesini mau memberi tahu mama tentang hal ini, tapi karena mama lagi sakit lebih baik mama gak perlu tahu dulu tentang ini," ucapan Rendy.
"Maksudnya, hilang bagaimana? pak Ken bukan anak kecil yang bisa hilang karena nyasar gak tahu arah jalan pulang," ucapan Shila yang tidak mengerti dengan perkataan Rendy.
"Mobil Ken terparkir dijalan dan ada darah yang berceceran disana. Aku takut ada orang yang sengaja ingin melukai Ken," jelas Rendy.
"Lapor polisi saja pak," ucap Shila.
"Saya sudah lapor polisi," ucap Rendy.
Shila terdiam tak menjawab lagi perkataan Rendy.
"Shila, bisa kamu bantu saya?" ucap Rendy.
"Bantu apa?" sahut Shila.
"Saya curiga ada orang yang sengaja melukai Ken dan menyembunyikannya. Saya ingin kamu cari tahu siapa dibalik semua ini," jelas Rendy.
"Saya bersedia membantu anda tapi bagaimana dengan tugas saya di rumah ini. Saya bertanggungjawab atas keamanan dan keselamatan ibu Elma jika saya menyelidiki masalah ini saya tidak bisa stanby berada di rumah karena saya harus terjun ke lapangan," jelas Shila.
"Di rumah ada bodyguard lain. Nanti kalau mama udah baikan saya yang akan bicara langsung dengannya," ucap Rendy.
"Baik, Pak." Shila menundukkan kepalanya.
"Kalau gitu saya pergi dulu," ucap Rendy, "jangan kasih tahu mama dulu tentang hal ini," sambung Rendy.
"Saya mengerti," ucap Shila.
Beberapa polisi sedang memeriksa tempat terakhir kali Kendra berada.
Mobil yang dikendarai oleh Ken masih terparkir disana dan genangan darah segar pun masih berceceran di tempat itu.
Seorang polisi memeriksa mobil Ken dengan teliti dan ada polisi lain yang memeriksa area sekitar tempat kejadian itu.
"Kumpulkan semua bukti," ucap salah satu polisi itu.
"Siap. Bukti sudah terkumpul," sahut polisi yang satu lagi.
"Cari korban sampai ketemu dalam keadaan hidup ataupun sudah tiada," ucap komandan polisi itu.
"Siap!"
Beberapa polisi itu langsung menyisir tempat menghilangnya Ken. Namun setelah seharian mencari para polisi itu tak kunjung menemukan Kendra dan mereka juga tak mengetahui pastinya Ken berada dimana.
Waktu menunjukkan pukul 20:30 wib.
Setelah seharian sibuk mengurus kantor dan hilangnya Ken, Rendy baru tiba di rumahnya! tidak ada sambutan hangat dari Liana seperti biasanya.
Rendy berjalan menuju kamarnya! karena lelah ia tak terlalu menghiraukan sikap Liana yang begitu dingin kepadanya.
"Mungkin Liana masih marah padaku," pikir Rendy sembari terus berjalan memasuki kamarnya.
Melihat Rendy yang baru pulang semalam ini, Liana mulai berpikir yang tidak-tidak terhadap suaminya itu karena biasanya Rendy tak pernah pulang sore apalagi sampai malam seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Belum kering lukaku ini, kamu sudah menggores nya lagi, mas," ucap Liana didalam hatinya.
Karena Rendy pulang malam, Liana berpikir kalau suaminya itu habis ketemuan dengan kekasih gelapnya. Air mata Liana mulai menetes membasahi pipinya.
Liana duduk dibibir ranjang sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya,
Liana menangis sesenggukan hingga bahunya terguncang-guncang.
"Kenapa aku sangat mencintaimu, mas meski aku tahu kamu punya wanita lain," lirih Liana.
Liana beranjak dari duduknya lalu membanting pot bunga kecil yang ada diatas meja riasnya!
"Aaah!" teriak Liana.
"Apa cuma aku satu-satunya wanita yang paling bodoh? yang masih mencintai laki-laki yang sudah mengkhianati cinta suciku," lirih Liana yang berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok.
Saat ini waktu menunjukkan pukul 22:00 wib.
Karena kehausan Liana terbangun dari tidurnya ia pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
"Bibik, kenapa belum tidur?" ucap Liana setelah sampai dapur dan mendapati asisten rumah tangganya masih berkutat di dapur.
"Bibik gak bisa tidur jadi ngerjain cucian piring yang numpuk ini deh," sahut Bik Ida.
Saat Liana akan kembali ke kamarnya tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi.
"Bik, itu suara bel bukan sih?" ucap Liana karena takutnya ia salah dengar.
"Iya, betul itu suara bel. Masa ada tamu malam-malam gini," ucap Bik Ida.
"Aneh, bertamu kok malam-malam. Satpam didepan juga ngapain masukin tamu malam-malam gini," ucap Liana.
Karena pintu tak kunjung terbuka orang diluar sana terus memencet bel di rumah Rendy.
"Bibik buka aja kali ya pintunya, daripada mengganggu," ucap Bik Ida.
"Yaudah, buka aja," ucap Liana.
Bik Ida bergegas membuka pintu dan langsung nampak seorang wanita diluar sana.
"Siapa ya?" tanya Bik Ida.
"Saya ingin bertemu dengan pak Rendy. Kami sudah janjian," ucap wanita itu.
"Oh, silahkan masuk," ucap Bik Ida lalu menyuruh wanita itu duduk dan menunggu majikannya.
"Siapa, Bik?" tanya Liana saat bertemu bik Ida didepan kamar Rendy.
"Gak tahu, Nyonya. Tamunya perempuan," ucap Bik Ida.
Deg! bak disambar petir disiang bolong jantung Liana terasa berhenti berdetak, nafasnya pun terasa sesak.
"Berani-beraninya wanita simpanan itu datang ke rumah," ucap Liana didalam hatinya.
Liana yang belum tahu siapa yang bertamu dimalam hari itu, langsung mengira kalau tamu itu adalah Jenny wanita selingkuhannya Rendy.
__ADS_1
Bersambung.