
Di kafe tempat Biani bekerja.
Sore itu saat waktu Biani pulang sudah tiba. Galang yang biasanya terus mengganggu Biani dengan segudang kata-kata rayuan manisnya, kini tidak lagi melakukan kebiasaan itu lagi.
Biani sedang duduk di salah satu kursi, dia sedang menunggu Rio datang menjemputnya.
Galang berjalan menghampiri Biani!
"Lagi nungguin kak Rio ya?" tanya Galang.
"Iya," sahut Biani singkat.
"Dia pasti datang terlambat hari ini. Mau aku antar pulang?"
"Tidak, terimakasih." Biani berucap dengan raut wajah datar tanpa ekspresi apa pun.
"Kamu benci sama aku?"
"Tidak."
"Lalu kenapa, untuk menatap wajahku saja kamu tidak mau?"
"Galang, tolong hentikan semua ini. Kamu tahukan aku ini kekasihnya kakakmu?"
"Aku tahu, tapi apa salahnya aku juga mencintai kamu."
"Apa salahnya ... kamu bilang apa salahnya? Ya jelas salah, Galang tidak seharusnya kami mencintai wanita yang dicintai oleh kakakmu dan lagi usia kita jauh berbeda. Kamu baru berumur sembilan belas tahun sedangkan aku udah dua puluh tiga tahun, kita tidak mungkin cocok."
"Kamu benar, umur kita jauh berbeda tapi tidak ada sesuatu apa pun yang menjadi batasan cinta. Aku mencintai kamu bukan karena usia ataupun penampilan, aku cinta sama kamu tulus dari hatiku yang paling dalam."
"Ak ...." baru Biani akan berucap, Rio datang menghampiri mereka.
"Ada apa ini? Galang, kamu mengganggu Biani?" ucap Rio.
"Tidak. Aku hanya bilang sama dia kalau aku cinta sama dia," sahut Galang.
Rio mengepalkan tangannya erat dan rahangnya mengeras mendengar pernyataan dari Galang.
"Dasar kurangajar!"
Bugh!
Rio melayangkan bogem tepat pada wajah Galang hingga Galang jatuh tersungkur.
"Aaaa!" Biani berteriak melihat kejadian itu.
"Kenapa kamu marah kak? Aku hanya mencoba jujur dengan perasaan aku."
Rio ingin memukul Galang lagi namun dihalangi oleh Biani.
"Stop Rio, jangan sakiti Galang lagi," ucap Biani.
"Dia keterlaluan, Bi. Aku sudah sering memperingati dia agar melupakan kamu tapi dia tetap mencoba mendekati kamu."
"Jika kehadiran aku hanya membuat hubungan kalian renggang, biar aku saja yang mengalah. Aku akan pergi dari kehidupan kalian berdua, tidak kamu Rio dan juga tidak kamu Galang. Aku tidak akan memilih salah satu dari kalian."
"Bi, jangan seperti ini, hubungan kita sudah serius kan? Aku sangat mencintai kamu," ucap Rio.
"Aku juga mencintai kamu, tapi kalau aku menjadi penyebab keretakan hubungan kamu dengan adikmu, aku tidak mau lebih baik aku pergi, kita sudahi saja hubungan kita sampai di sini."
__ADS_1
Biani melangkahkan kakinya meninggalkan Rio dan Galang di dalam restoran milik Rio itu.
"Bi! Biani tunggu!"
"Semua ini gara-gara kamu, tahu gak?" ucap Rio kepada Galang.
Rio berlari mengejar Biani namun Biani keburu naik taksi!
...****************...
"Hai, udah pulang?" ucap Kayla saat melihat Elvan berjalan memasuki rumahnya.
Kayla menghampiri, Elvan lalu mencium punggung tangan sang suami!
"Duduklah! Biar aku bukakan dasi dan sepatumu," ucap Kayla lagi.
"Tidak usah, kamu itu istriku bukan babu di rumah ini. Aku bisa buka sepatuku sendiri," sahut Elvan.
"Aku hanya ingin menjadi istri yang baik untukmu."
"Kamu sudah lebih dari baik bahkan kamu sangat sempurna untuk aku."
"Kamu bisa saja, Mas." Kayla tersenyum manis kepada sang suami.
"Besok hari libur, kita pergi ke rumah Leon dan Shania ya," ucap Elvan.
"Boleh."
...****************...
Malam hari.
Saat itu Rio sedang duduk di kursi taman yang ada didepan rumahnya, dia terlihat murung pasca kejadian tadi sore yang membuat Biani pergi dan tak bisa dihubungi.
"Galang, kenapa sih? Selalu saja bikin masalah," gumam Rio.
"Aaaah" Rio berteriak lalu mengacak rambutnya frustasi.
...****************...
Di kamar Galang.
Galang duduk di atas ranjangnya dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Apa aku salah karena mencintai Biani?" gumam Galang.
Galang menatap dinding kamarnya dengan tatapan kosong pikirannya melayang memikirkan tentang dirinya, tentang kakaknya, tentang Biani dan semua yang membuat hubungannya dengan Rio menjadi berantakan.
Saat Galang sedang melamun, tiba-tiba muncul bayangan Rania di kepalanya.
"Aah, dari mana dia datang? Kenapa aku terus melihat dia di mana-mana?" gerutu Galang.
"Apa aku jatuh cinta sama Rania? Tapi bagaimana dengan rasa yang aku miliki buat Biani?"
Galang beranjak dari tempat tidurnya, dia berdiri lalu berjalan bolak-balik untuk menjernihkan pikirannya.
"Mungkin benar, Biani bukan untukku. Biani tidak diciptakan untuk aku," gumam Galang.
Galang berjalan keluar dari kamarnya, dia mencari-cari keberadaan kakaknya!
__ADS_1
Karena tak menemukan Rio di kamarnya, Galang turun ke lantai utama rumahnya untuk mencari Rio.
"Ma, lihat kakak gak?" tanya Galang pada Athalya.
"Kayaknya dia di taman deh," sahut Athalya.
"Oke, terimakasih Mam. Aku samperin kakak dulu ya."
Athalya tersenyum tipis menanggapi pernyataan Galang.
Galang langsung berjalan menuju taman yang terdapat di halaman depan rumahnya!
"Kakak di sini, aku cari-cari di dalam rumah gak ada ternyata kakak ada di sini," ucap Galang kepada Rio.
"Ngapain kamu ke sini?" ketus Rio.
"Aku mau minta maaf, aku tahu aku salah."
"Gak ada gunanya kamu minta maaf. Biani udah pergi, dia gak mau berteman dengan aku lagi bahkan dia gak mau menerima telpon dariku."
"Aku akan memperbaiki semuanya, aku sadar ternyata rasa cintaku terhadap Biani tidak benar-benar tulus. Aku sudah mencintai gadis lain lagi, aku baru sadar ternyata ada gadis lain yang aku cintai."
"Bagaimana caranya, Galang? Semua sudah hancur gara-gara kamu."
"Kakak jangan khawatir, aku pasti akan membuat Biani kembali pada kakak."
"Terserah! Lakukan apa yang kamu mau, tolong tinggalkan aku sendiri, aku sedang pusing."
"Aku pastikan besok Biani kembali padamu. Itu janjiku pada kakak."
Galang pergi meninggalkan Rio di taman itu, dia membiarkan kakaknya itu memenangkan pikirannya, dia tahu Rio butuh waktu untuk sendiri.
...****************...
Di kediaman Biani dan keluarganya.
Biani menangis tersedu-sedu, dia tak menyangka hubungannya dengan Rio akan berakhir ditengah jalan. Disaat dia sudah mendapatkan restu dari orang tuanya Rio malah dia harus pergi karena tak ingin membuat hubungan adik dan kakak itu berantakan.
Biani menangis sambil duduk di lantai kamarnya, dia menyandarkan punggungnya didinding dengan tangan yang terkepal kencang.
"Kenapa, Bi?" tanya Jenny yang baru masuk ke dalam kamarnya Biani dan langsung melihat putrinya sedang menangis.
"Ma, kenapa sih hidup aku selalu tidak berhasil?" ucap Biani dengan suara serak khas habis menangis.
"Maksud kamu apa? Mama tidak mengerti."
"Hubungan aku dengan Rio sudah berakhir."
"Kenapa? Bukannya orang tuanya Rio sudah setuju dengan hubungan kalian?"
"Aku memilih pergi karena adiknya Rio juga mencintai aku. Aku lebih baik tidak memilih salah satu dari mereka daripada membuat mereka saling membenci satu sama lain."
Jenny menghela nafasnya panjang lalu membuangnya perlahan.
"Itu keputusan yang tepat, Mama bangga sama kamu. Semoga kamu dapat ganti yang seperti Rio ya, Nak."
Jenny memeluk Biani dengan penuh cinta, dielus nya punggung Biani dengan sangat lembut agar putrinya itu mendapatkan ketenangan dalam dekapannya.
Bersambung
__ADS_1