Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 bab 85


__ADS_3

Setelah beberapa hari, Rio berniat untuk mengenalkan Biani kepada kedua orang tuanya. Meski dia tahun hubungannya dengan Biani tidak akan direstui oleh kedua orang tuanya jika nanti mereka tahu bahwa Biani pernah dipenjara dan juga kakaknya Biani juga sedang dipenjara tapi karena cintanya sangat besar pada Biani, Rio akan mempertahankan cintanya kepada Biani.


Malam itu sekitar jam tujuh malam.


Rio sudah berada di rumah Biani untuk menjemputnya karena Rio akan mengenalkan Biani kepada kedua orang tuanya. Keluarganya Rio juga akan mengajak Biani makan malam bersama dengan mereka.


"Sudah siap?" tanya Rio.


Biani menganggukkan kepalanya.


"Kalau gitu, kita berangkat sekarang!"


"Tante, aku izin membawa Biani sebentar ya," ucap Rio kepada Jenny.


"Iya. Hati-hati ya, Nak, jangan pulang terlalu malam," sahut Jenny.


"Siap, tante."


Rio dan Biani mulai pergi meninggalkan Jenny di rumahnya! Tak lupa sebelum pergi, Rio dan Biani mencium punggung tangan Jenny secara bergantian.


Diperjalanan.


Biani tetap terdiam di tempat duduknya, dengan pandangan lurus ke depan menatap jalanan yang sedang mereka lalui.


"Kenapa diam saja?" tanya Rio.


"Rio aku merasa emas, gugup dan takut," sahut Biani.


"Kenapa? Orang tuaku tidak akan memangsa dirimu."


"Aku tahu tapi tetap saja aku merasa gugup."


"Tenanglah, aku akan selalu bersama dirimu di sana."


Biani tersenyum tipis ke arah Rio. "Janji ya," ucap Biani.


Rio membalas senyum Biani dengan senyuman terbaiknya. Rio menggenggam tangan Biani dengan satu tangannya.


"Jangan cemas gitu. Karena kamu terlihat lebih cantik saat sedang seperti ini."


"Iih kamu malah bercanda. Gak tahu apa aku deg-degan?"


"Gak. Karena aku tidak bisa mendengar detak jantungmu."


Karena asyik mengobrol, akhirnya mereka sampai di halaman rumah keluarganya Rio.


Biani dan Rio turun dari mobil setelah Rio memarkirkan mobilnya!


Rio menggandeng tangan Biani lalu membawanya masuk ke dalam rumahnya!


"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja," ucap Rio.


Entah kenapa dari semenjak mereka masih berada di rumahnya, Biani merasa gelisah. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi, namun ia tidak tahu dengan apa yang akan terjadi.


Rio melangkah memasuki rumahnya dengan berjalan bergandengan dengan Biani!


"Ma, Pa," ucap Rio.


Mama dan Papa nya Rio menoleh ke arah suara!


"Eh, yang ditunggu sudah datang," ucap Athalya.


"Selamat malam, Om, Tante," ucap Biani dengan ramah.


Biani mencium punggung tangan Athalya dan Wijaya secara bergantian.


"Oh, rupanya ini gadis yang sering diceritakan oleh Rio," ucap Wijaya dengan ramah.


Biani menanggapi perkataan Papanya Rio hanya dengan senyuman saja.


"Ayo duduk dulu!" Athalya mengajak calon menantunya untuk duduk di kursi ruang tamu.


Mereka semua duduk di sana dan tak lama seorang asisten rumah tangga membawakan minuman untuk mereka semua dan juga beberapa camilan.


"Sepertinya, kita pernah bertemu? Siapa namamu?" tanya Athalya.


"Namaku Biani, tante. Aku yang pernah ditolong oleh Rio lalu dibawa ke sini dan waktu itu aku menginap di sini," jelas Biani.


"Oh, iya. Tante baru ingat."


Biani tersenyum tipis.

__ADS_1


Saat mereka sedang berbincang. Galang datang dan berjalan begitu saja melewati mereka! Galang memang tidak tahu bahwa Rio akan mengenalkan calon istri nya.


"Galang! Sini dulu. Kenalan dulu sama calon istrinya kakakmu," ucap Athalya.


Galang menghentikan langkahnya, dia mengurungkan niatnya untuk naik ke lantai dua rumahnya.


Galang berbalik badan! "Ternyata kakak punya pacar juga," ucap Galang.


Biani yang duduk membelakangi Galang merasa suara itu tidak asing baginya, namun karena dia sedang tegang dia lupa dengan suara siapa kah itu.


"Memangnya kalau aku punya pacar harus bilang-bilang dulu sama kamu?" ucap Rio.


"Setidaknya ceritakan sedikit padaku." Galang terus berjalan menghampiri keluarganya!


Deg!


Senyum yang semula menghiasi bibir Galang tiba-tiba hilang begitu saja, raut wajahnya yang semula dipenuhi dengan kebahagiaan kini berubah menjadi penuh kekecewaan sesaat setelah Galang tahu bahwa wanita itu adalah Biani.


Biani menatap Galang tanpa berkedip, dia juga sama terkejutnya dengan Galang.


"M_ma, P_pa aku ke kamar dulu ya. Kalian lanjutkan saja mengobrol nya, aku merasa lelah dan ingin langsung beristirahat," ucap Galang dengan tanpa sedikitpun senyuman di bibirnya.


Galang membalikkan tubuhnya dan mulai melangkahkan kakinya menuju tangga!


"Galang, kenalan dulu sama calon kakak ipar mu," ucap Wijaya.


Galang menghentikan langkahnya, untuk beberapa saat dia berdiri di posisinya yang membelakangi mereka.


Beberapa detik kemudian Galang menghampiri mereka lagi dengan langkah yang terasa mengambang!


Dengan berat hati, Galang mengulurkan tangannya ke hadapan Biani! Sebuah senyuman hambar terukir di bibir Galang.


"Perkenalkan, aku Galang adiknya kak Rio," ucap Galang sembari menahan kekecewaan didalam hati nya.


Galang sengaja berpura-pura tidak mengenali Biani karena tak mau Rio tahu kalau benarnya gadis yang sering diceritakannya itu adalah Biani.


Biani tersenyum tipis yang juga terlihat dipaksakan, dia menjabat tangan Galang untuk yang pertama kalinya!


"Biani," ucap Biani.


Galang langsung menarik tangannya lalu berjalan dengan langkah panjangnya meninggalkan mereka.


"Ada apa dengan dia? Kenapa tiba-tiba berubah menjadi aneh?" ucap Rio sembari menatap kepergian Galang.


"Mungkin karena dia kecapekan," ucap Wijaya.


"Mending sekarang kita makan malam bersama. Bi, kamu belum makan kan?" ucap Athalya.


Biani menggelengkan kepalanya.


"Kalau gitu, ayo kita makan! Papa sudah lapar," ucap Wijaya.


"Galang?" ucap Rio.


"Adikmu pasti sudah makan di luar," ucap Athalya.


Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan!


Di kamar Galang.


Galang duduk di sofa yang ada di kamarnya. Entah perasaan apa yang sedang dirasakannya, dia merasa sedih, kecewa dan benci saat tahu Biani lah gadis yang dicintai oleh kakaknya.


"Dari sekian banyaknya gadis, kenapa Biani yang dicintai oleh kakak," gumam Galang.


Tak terasa Galang meneteskan air matanya. Baru pertama ia merasakan cinta yang begitu luar biasa terhadap seorang gadis namun tiba-tiba dia harus membuang rasa itu karena gadis yang dicintainya adalah orang yang dicintai oleh kakaknya juga.


...****************...


Di kediaman Elvan dan keluarganya.


Semua anggota keluarga itu sedang sibuk menyiapkan berbagai kebutuhan untuk pernikahan Elvan dan Kayla yang akan dilangsungkan satu minggu lagi.


Elvan berjalan menuju ruang tamu rumahnya!


"Masih lama, udah sesibuk ini?" ucap Elvan.


Shila berjalan menghampiri Elvan!


"Iya dong, semua harus disiapkan dari awal agar tidak ada yang ketinggalan," ucap Shila.


"Kan masih satu minggu lagi, Ma. Aku jadi deg-degan nih."

__ADS_1


Ken menghampiri Elvan dan istrinya! Dia mengajak Elvan untuk duduk di kursi yang berada tak jauh dari mereka.


"Papa juga dulu, deg-degan dan merasakan kekhawatiran yang luar biasa disaat-saat seperti ini," ucap Kendra.


"Papa juga?"


"Iya, karena sesuatu yang dilakukan untuk yang pertama kalinya pasti merasakan hal yang seperti itu. Perasaan bahagia, gelisah, gugup semua bercampur jadi satu."


"Terus gimana cara menghadapi semua rasa itu?"


"Kuncinya adalah tenang dan percaya diri."


Saat mereka sedang berbincang, ponsel Elvan berdering tanda adanya telpon masuk.


Elvan melihat siapa yang menelponnya.


"Mama, Liana," gumam Elvan.


"Liana? Mau Apa dia menelpon kamu?" ucap Shila.


"Angkat telponnya Van," ucap Kendra.


"Iya, Pa. Sabar sedikit apa," ucap Elvan.


📞 "Halo, Mama," ucap Elvan setelah menerima telepon dari Liana.


📞 "Halo, Van kamu lagi dimana?" tanya Liana dari sebrang telepon.


📞 "Di rumah, kenapa, Mam?"


📞 "Mama lagi di jalan, tiba-tiba mobilnya mati. Kebetulan gak jauh dari rumahmu, tolong jemput Mama ke sini ya!"


📞 "Iya, Mam tunggu saja di sana ya, aku langsung berangkat ke sana sekarang."


Elvan mematikan sambungan teleponnya lalu meraih kunci mobilnya dari atas meja.


"Pa, Ma. Mama Liana lagi di jalan dan sekarang mobilnya mogok, aku mau jemput dia sebentar ya," ucap Elvan.


"Mogok dimana?" ucap Shila.


"Katanya gak jauh dari sini, makanya Mama Liana minta tolong, aku yang jemput dia."


"Ya udah, kamu hati-hati ya."


Elvan berjalan keluar dari rumahnya dan langsung memasuki mobilnya!


...****************...


Galang masih belum keluar dari kamarnya, dia tidak ingin keluarganya tahu dengan kesedihan yang sedang ia rasakan.


"Apa aku salah, mencintai gadis yang dicintai oleh kakakku sendiri?" gumam Galang.


Galang meraih ponselnya lalu menatap foto Biani yang masih ia simpan.


"Pantas selama ini kamu selalu menghindari aku, ternyata kamu sudah memiliki kekasih. Hey Biani, apa aku salah karena sudah mencintai dirimu? Apa aku egois karena merasa kecewa setelah tahu kamu adalah pacarnya kakakku? Apa aku Juga egois karena ingin memiliki dirimu?" ucap Galang didalam hatinya.


Galang terus berbicara pada diri nya sendiri. Dia tidak tahu apakah setelah ini dia masih bisa bercanda bersama kakaknya setelah dia harus mengikhlaskan gadis yang dicintainya untuk sang kakak.


Di ruangan utama kediaman keluarga Wijaya.


Rio berpamitan kepada Papa dan Mamanya untuk mengantarkan Biani pulang, karena ia sudah janji kepada Mamanya Biani akan mengantarkan Biani pulang sebelum tengah malam.


Biani berpamitan kepada kedua orang tuanya Rio. Dia harus segera pulang karena tak ingin membuat Mamanya menunggu terlalu lama.


"Om, Tante aku pulang ya. Terimakasih dan maaf karena sudah merepotkan," ucap Biani.


"Tidak, sama-sekali tidak merepotkan justru kami senang bisa bertemu dengan kamu," ucap Athalya.


Biani tersenyum lalu mencium punggung tangan mereka sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan rumah mewah itu.


Rio mulai melajukan mobilnya dengan perlahan.


"Gimana, perasaan kamu setelah bertemu dengan orang tuaku?" ucap Rio.


"Gak gimana-gimana. Keluarga kamu baik dan ramah," sahut Biani.


"Maaf ya, tadi Galang gak bisa ikut makan malam bersama. Bukannya dia tidak menghargai kamu tapi sepertinya anak itu memang sedang kecapekan. Sebenarnya dia orangnya asyik untuk dijadikan teman," jelas Rio.


"Untuk apa kamu harus minta maaf? Lagi pula aku gak merasa gimana-gimana dengan Galang. Aku tidak merasa bahwa Galang tidak menyukai aku atau tidak menghargai aku."


"Iya, tapi aku gak enak sama kamu."

__ADS_1


"Udahlah gak usah dipikirin."


Bersambung


__ADS_2